Orangtua

Kisah Para Rasul 13:4-12. Lima Pelajaran bagi Orangtua

Posted on Updated on


Nats : Kisah Para Rasul 13:4-12
Oleh : Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dalam rangka ibadah pengucapan syukur atas terlaksananya upacara gerejawi penyerahan anak atas anak Modesty Lee Prime Sondakh dan Griel Dallen Tan, maka malam ini saya hendak menyampaikan lima pelajaran dari Kisah Para Rasul 13:4-12, yang kiranya dapat memberi manfaat, tidak hanya bagi keluarga yang sedang mengucap syukur, tapi juga bagi anak-anak kita semua.

1. Ada tokoh-tokoh iman yang membangun kehidupan kerohanian anak-anak kita.

Pelajaran pertama dapat kita baca dari konteks yang terdapat dalam ayat 4-5, “Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Dan Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka.” Bagian ini adalah bagian dari perjalanan misi Paulus yang pertama.

Kita membaca ada tokoh-tokoh iman disebutkan dalam kisah ini, yaitu Barnabas dan Saulus. Berangkat dari basecamp mereka, yaitu Kota Antiokhia (Kota pertamakalinya sebutan Kristen dikenakan kepada para pengikut Yesus), mereka berdua menuju ke pesisir Seleukia. Dari situ mereka menyeberang ke sebuah pulau bernama Siprus. Di Siprus, mereka memberitakan Firman Allah, dari mulai ujung Timur pulau itu (yaitu Salamis), hingga ujung Barat (yaitu Pafos).

Barnabas dan Saulus nampak menjadi tokoh utama dalam kisah ini. Namun perhatikan bahwa Roh Kudus disebut lebih dahulu dalam nats ini, “Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat”. Kalau kita perhatikan ayat sebelumnya, yaitu ayat 2, “berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka’.” Jadi Roh Kudus menjadi tokoh utama dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi selanjutnya dalam nats yang kita baca. Ketika Roh Kudus mengutus Barnabas dan Saulus, sebetulnya dalam pikiran Ilahi telah terdapat sebuah rancangan untuk hadirnya keselamatan bagi satu tokoh lainnya lagi yang akan kita baca lebih lanjut.

Ini memberikan sebuah aplikasi bagi kita, orangtua seringkali nampak menjadi tokoh utama dalam kehidupan iman anak-anak. Tokoh utama Modesty adalah Pak Lucky dan ibu, juga tokoh utama Griel Dallen Tan adalah Pak Herbert dan ibu. Namun jangan kita lupa, bahwa dalam kehidupan beriman anak-anak kita, Roh Kuduslah tokoh utamanya. Bahkan ketika tadi pagi, anak-anak kita itu telah diserahkan kepada Tuhan, memang orangtua yang membawa, tetapi sesungguhnya itu semua terjadi tak terlepas dari campur tangan kerja Allah Roh Kudus.

Di dalam ayat 5, nats yang kita baca juga menyebut tokoh lain; seorang tokoh pembantu; yaitu Yohanes Markus, salah satu kemenakan Barnabas. Dalam catatan Alkitab selanjutnya, Yohanes Markus ini akan membelot karena tidak tahan melayani dalam ladang misi, dan sempat membuat Saulus marah dan tidak mau melibatkannya lagi. Barulah nantinya di masa-masa terakhir kehidupan Saulus, Yohanes Markus ini diterimanya kembali menjadi rekan kerja.

Dalam kehidupan anak-anak kita kelak, mungkin ia akan berjumpa dengan tokoh-tokoh iman seperti Barbanas dan Saulus, dan juga tokoh pembantu seperti Yohanes Markus. Bisa jadi tokoh-tokoh itu adalah papa-mamanya, atau pembina rayon di gereja, atau keseluruhan jemaat gereja, yang –sesuai pesan Pak Pendeta dalam upacara penyerahan anak tadi– turut bertanggungjawab mengingatkan dan menegur anak-anak kita yang diserahkan itu. Tetapi di balik mereka semua, ada tokoh paling utama dalam kehidupan rohani anak-anak kita, yaitu Allah Roh Kudus.

2. Ada tokoh-tokoh antagonis yang berusaha membelokkan iman anak-anak kita.

Barnabas dan Saulus dicatat di ayat 6, “Mereka mengelilingi seluruh pulau itu sampai ke Pafos. Di situ mereka bertemu dengan seorang Yahudi bernama Baryesus. Ia seorang tukang sihir dan nabi palsu.” Ketika saya membaca kata Baryesus, saya teringat beberapa nama lain dengan kata depan “bar”. Bar itu artinya anak. Jadi, Barabas artinya anak Bapa (dan kita ingat Barabas, si anak Bapa, ditukar dengan Yesus, Anak Bapa yang sesungguhnya); Barnabas artinya anak Penghiburan; kemudian dalam Sejarah Yahudi ada tokoh pejuang Yahudi bernama Barkhokhba yang meninggal tahun 135 Masehi, yang arti namanya adalah anak sebuah Bintang. Lalu apa artinya Baryesus? Ingat, kata Yesus berakar dari kata Yosua atau Hosea yang artinya YHWH Penyelamat. Jadi Baryesus artinya kira-kira Anak YHWH.

Tapi Alkitab mencatat bahwa orang yang mengaku-ngaku sebagai Anak YWHW ini ternyata adalah nabi palsu. Tidak heran dia menyandang nama itu, karena dia memang ingin menipu orang dengan mengaku-ngaku sebagai Putera TUHAN. Alkitab mencatat pula bahwa ia adalah seorang tukang sihir atau mungkin bisa disebut juga seorang ahli nujum/peramal. Mungkin zaman itu belum ada Astronomi yang bersifat ilmiah, tapi ada Astrologi yang dengannya orang melakukan ramal-meramal. Dan dengan praktek sihirnya –yang sebetulnya sangat dikecam dalam Alkitab– ia juga berusaha membuktikan bahwa ia sungguh Anak YHWH.

Di ayat 10 dicatat bahwa Baryesus berusaha membelokkan orang dari jalan yang lurus. Dan orang-orang semacam ini pula, mungkin akan dijumpai oleh anak-anak kita dalam perjalanan kehidupan iman mereka. Akan ada orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai anak Tuhan, tetapi sesungguhnya hendak membelokkan iman anak-anak kita dari jalan TUHAN yang lurus. Pada zaman dahulu, pengikut Kristus disebut sebagai penganut jalan TUHAN.

Iblis tidak selalu bekerja untuk memindahkan iman anak kita kepada iman yang sama sekali berbeda. Ia seringkali bekerja secara halus, misalnya hanya dengan membelokkan saja atau menyimpangkan saja iman anak-anak kita. Misalnya, ada orang-orang yang tetap mengaku Kristen, tetapi tidak mau mengakui Allah Tritunggal.

Demikianlah, akan muncul Baryesus-Baryesus yang sebetulnya Bar-iblis, yang akan menyimpangkan jalan anak-anak kita. Tidak hanya tokoh-tokoh iman yang baik yang hadir dalam kehidupan mereka, namun juga akan muncul tokoh-tokoh penyesat yang berniat menyimpangkan iman mereka dari jalan TUHAN.

3. Orangtua memiliki tanggungjawab mendidik anak-anak kita agar dapat bersikap kritis dan mencari kebenaran.

Di dalam Kisah Para Rasul 13:7 dicatat tentang Baryesus ini, “Ia adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, yang adalah orang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah.” Disinilah kita berjumpa dengan salah satu tokoh utama dalam kisah kita, yaitu Sergius Paulus.

Ia dicatat sebagai orang cerdas. Dan dalam kecerdasannya, ia tidak mau percaya begitu saja dengan kata-kata temannya, Baryesus, si penyihir. Memang Baryesus melakukan mujizat-mujizat dengan sihirnya, tapi Sergius Paulus bukanlah orang yang mudah terlena dengan mujizat-mujizat. Ia tidak mau percaya begitu saja ajaran-ajaran yang Baryesus sampaikan. Ia bersikap kritis, dan ketika Barnabas dan Saulus muncul memberitakan Firman Allah, ia mau mendengar demi mencari kebenaran.

Orangtua perlu mendidik anak-anaknya untuk memiliki sikap kritis seperti Sergius Paulus. Orangtua perlu membimbing anak-anaknya menjadi anak-anak yang cerdas. Namun bagaimana itu bisa terjadi jika seringkali kita mematikan motivasi anak? Ketika anak kita bertanya, “Apa itu?” Kita langsung memarahinya, “Masih kecil, jangan banyak tanya!” Ketika anak kita bertanya, dan kita tidak tahu, apakah kita sebagai orangtua berani jujur mengakui dan mengatakan, “Nak, Bapak tidak tahu jawabannya, tapi mari kita cari kebenarannyanya bersama!”? Kemudian Anda bersama-sama anak Anda mencari jawaban dari internet atau bertanya kepada orang-orang yang lebih mengerti.

4. Peperangan rohani terjadi dalam kehidupan rohani anak-anak kita.

Ayat 8-10 mencatat, “Tetapi Elimas—demikianlah namanya dalam bahasa Yunani—,tukang sihir itu, menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya. Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: ‘Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?’

Ayat 8 mencatat nama lain Baryesus, yaitu Elimas, artinya orang yang bijaksana. Ia dengan kebijaksanaan palsunya berusaha terus membelokkan iman Sergius Paulus dari jalan TUHAN. Tetapi Saulus, yang untuk pertamakalinya disebutkan dengan nama lainnya, yaitu Paulus, mengecam perbuatan Elimas. Perlu dicatat bahwa nama Saulus, setelah pertobatannya tidak diganti menjadi Paulus. Paulus adalah nama lainnya. Saulus adalah nama Ibrani, sedangkan Paulus adalah nama Yunani-Romawi. Karena dalam konteks ini, Saulus sedang berhadapan dengan orang non-Yahudi, yaitu Sergius Paulus, ia memakai nama Yunani-Romawinya, yaitu Paulus. Apalagi nama keduanya sama-sama Paulus, dan ini mempermudah komunikasi. Semakin banyak yang identik dalam diri kedua belah pihak yang berkomunikasi, semakin mudah komunikasinya terjadi. Orang Manado lebih mudah berkomunikasi dengan orang Manado jo; orang Jawa lebih mudah berkomunikasi dengan orang Jawa, Mas; dan orang Batak lebih mudah berkomunikasi dengan orang Batak.

Paulus mengecam Elimas dan menyebut Elimas “anak iblis.” Ini sebuah ungkapan yang penting. Kalau kita mengingat, Elimas memiliki nama Baryesus, yang artinya Anak YHWH. Tapi Paulus, sekali lagi dalam kuasa Roh Kudus, menelanjangi kepalsuan Elimas dan menyebutnya Anak Iblis. Baryesus mengaku-ngaku sebagai Anak TUHAN, tetapi sesungguhnya, ia adalah Anak Iblis.

Dan Paulus menyebutkan ada tiga ciri anak iblis:
a. Penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan.
b. Musuh segala kebenaran.
c. Berusaha membelokkan jalan TUHAN yang lurus.

Dari bagian ini, kita membaca ada sebuah peperangan dan pertempuran rohani terjadi antara Baryesus dan Paulus; antara iblis dan Allah. Peperangan rohani semacam ini akan juga terjadi dalam kehidupan anak-anak kita. Ada iblis yang selalu berusaha menyesatkan anak-anak kita dari jalan TUHAN, dan Roh Kudus yang selalu bekerja menopang kehidupan kerohanian anak-anak kita.

5. Orangtua memiliki tanggungjawab untuk mendidik dan mendoakan anak-anaknya menjadi orang yang rendah hati.

Ayat 11 dan 12 mencatat, “‘Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari.’ Dan seketika itu juga orang itu merasa diliputi kabut dan gelap, dan sambil meraba-raba ia harus mencari orang untuk menuntun dia. Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan.” Dalam bagian ini kita melihat tangan TUHAN atas Elimas.

Tangan TUHAN atas Elimas yang dicatat dalam ayat 11 ini sebetulnya masih menunjukkan kemurahan dan belaskasihan TUHAN. Kalau TUHAN mau, Elimas bisa saja langsung mati dan tidak punya kesempatan bertobat. Tapi kita membaca, TUHAN berbelaskasihan hanya membutakan mata jasmani Elimas.

Kalau kita ingat kisah pertobatan Saulus, Saulus pernah dibutakan oleh TUHAN, namun di dalam kebutaan itu, mata rohaninya pun tercelik sehingga ia melihat kebenaran. Sebelumnya Saulus sangat jahat kepada pengikut jalan TUHAN; ia menganiaya orang-orang Kristen; ia bahwa menganiaya Kristus sendiri. Tapi ketika ia buta secara fisik, mata rohaninya dicelikkan TUHAN, dan ia pun menjadi salah satu rasul TUHAN yang paling radikal memberitakan Injil kepada orang-orang yang dizamannya disebut kafir.

Seperti Paulus, Elimas pun beroleh kemurahan TUHAN. Ia buta mata jasmaninya, agar mata rohaninya dapat dicelikkan. Seringkali, TUHAN harus menghukum kita secara fisik, agar kerohanian kita dihidupkan. Seringkali, TUHAN harus membutakan mata jasmani kita, agar mata rohani kita menjadi hidup [Seringkali, TUHAN harus membutakan kita sehingga kita tidak dapat melihat matahari di langit, agar mata rohani kita dapat celik dan melihat Sang Matahari Kebenaran].

Alkitab memang tidak mencatat bahwa Elimas bertobat seperti halnya Paulus, tetapi Alkitab mencatat bahwa Elimas, “mencari orang untuk menuntun dia.” Marilah kita berdoa agar anak-anak kita menjadi orang-orang yang rendah hati, mau mencari orang untuk menuntun dia, bukan setelah dipukul terlebih dahulu, melainkan dari sejak sebelumnya. Percayalah Bapak/Ibu, kerendahan hati adalah kunci sukses dalam kehidupan ini. Orang yang rendah hati mudah dibentuk oleh TUHAN; orang yang rendah hati mau dituntun oleh TUHAN.

Ada dua anak SD, yang satu dijanjikan akan dibelikan sepeda, dan ia pun termotivasi sehingga belajar rajin dan nilai-nilainya meningkat. Sedangkan yang satu lagi, juga dijanjikan akan dibelikan sepeda, namun tetap saja ia malas belajar dan nilai-nilainya tidak mengalami peningkatan. Ini pengalaman nyata, tepatnya terjadi dalam diri siswa-siswa isteri saya. Jadi, satu janji yang sama; satu tantangan yang sama; tapi mendapatkan respon yang berbeda. [Ada anak yang harus mengalami tidak naik kelas dulu, baru sadar untuk belajar].

Orangtua memiliki tanggungjawab untuk mendoakan dan mendidik anak-anaknya, agar mereka menjadi orang-orang yang rendah hati. Mereka mau meneladani Sergius Paulus, yang dalam kecerdasannya, tetap mau rendah hati mencari kebenaran, tanpa harus menerima pukulan lebih dahulu. Bahkan di bagian akhir nats kita dicatat, “Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan.” Sergius Paulus, percaya kepada TUHAN, tanpa harus menunggu dibutakan lebih dahulu, karena sejak awal dia sudah rendah hati mencari kebenaran.

Demikian, dari renungan Firman TUHAN malam ini, kita belajar lima poin:
1. Ada tokoh-tokoh iman yang membangun kehidupan kerohanian anak-anak kita.
2. Ada tokoh-tokoh antagonis yang berusaha membelokkan iman anak-anak kita.
3. Orangtua memiliki tanggungjawab mendidik anak-anak kita agar dapat bersikap kritis dan mencari kebenaran.
4. Peperangan rohani terjadi dalam kehidupan rohani anak-anak kita.
5. Orangtua memiliki tanggungjawab untuk mendidik dan mendoakan anak-anaknya menjadi orang yang rendah hati.
Kira ini bermanfaat bagi orangtua yang baru saja menyerahkan anak-anaknya, dan juga bagi kita semua. Amin.

(Disampaikan dalam Ibadah Rayon Filadelfia GK. Kalam Kudus Jayapura, Kamis/9 Mei 2013)

Ingin Jadi Musuh

Posted on Updated on


Ibu: ”Kalau sudah besar, engkau ingin jadi apa?”
Anak: ”Budi ingin menjadi tentara agar bisa melawan musuh.”
Ibu: ”Apa budi tidak takut, musuhnya kan banyak?!”
Anak: ”Ibu benar. Kalau begitu Budi ingin jadi musuh saja.”

Mazmur 51:19, Mrk. 7:21-23. Kitorang Pu Anak, Pewaris Harta atau Pewaris Kehidupan

Posted on Updated on


Nats: Mazmur 51:19, Mrk. 7:21-23
Oleh: Bpk. Doddy Pramono dan isteri dari Tim Eunike

Slide1

Slide2

Slide3

Slide4

Slide5

Slide6

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Slide11

Slide12

Slide13

Slide14

Slide15

Slide16

Slide17

Slide18

Slide19

Slide20

Slide21

(Disampaikan dalam Pembinaan Orang tua Sekolah Negeri Kampung Harapan 19 September 2012)

My Son

Posted on Updated on


I Will Love You Forever “My Daughter”

Posted on Updated on


Bagaimana Berbicara sehingga Remaja Mendengarkan & Bagaimana Mendengarkan sehingga Remaja Berbicara

Posted on Updated on


Bagaimana kita mempraktekkan ’listening’ atau ’mengakui perasaan anak remaja kita’?
Misalkan ada kasus:
Remaja: ”Gawat! Apa yang harus saya lakukan? PR Matematika harus dikumpulkan besok, tapi sekarang Susan – gadis yang kusukai – mengajakku makan bersama!”

Daripada menepis perasaan anak remaja kita & segera menguliahinya, lebih baik bagi kita untuk mempraktekkan seni ’listening’ sebagai berikut….
a. Identifikasi pemikiran & perasaannya (membahasakan lagi perasaan anak itu dengan kata-kata kita sendiri).
”Kedengarannya kamu tertarik kedua arah yang berlawanan. Kamu ingin mengerjakan PR-mu, tetapi kamu juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk makan bersama Susan, gadis yang kamu sukai.”
b. Mendengarkan sambil mengeluarkan suara/gumaman.
”Ooo…” atau ”Hmmm…”.
c. Berimajinasi.
”Menyenangkan, ya, seandainya kamu bisa mengkloning dirimu!? Yang satu bisa mengerjakan PR; dan yang satu lagi bisa pergi makan bersama dengan Susan.”
d. Menerima perasaannya sambil mengarahkan kembali perilakunya.
”Dari nadamu, Bapak/Ibu menangkap betapa kamu lebih memilih untuk makan bersama Susan. Masalahnya, kamu sudah berjanji kepada bapak/ibu guru Matematika. Mengumpulkan PR besok sudah menjadi tanggungjawabmu.”

Kita juga harus belajar untuk ’mendorong kerja sama anak remaja kita’, ketimbang terlalu cepat ’main perintah’:
Misalkan ada kasus: Anak remaja kita menyetel musik keras-keras.
Kita bisa melakukan beberapa langkah berikut….
a. Menggambarkan masalahnya.
”Bapak/ibu tidak bisa berpikir atau bercakap-cakap kalau musiknya terlalu keras.”
b. Menggambarkan perasaan Anda.
”Telinga ayah/ibu menjadi sakit karenanya”.
c. Memberikani informasi.
”Sering-sering mendengarkan suara yang keras bisa merusak pendengaran.”
d. Menawarkan pilihan.
”Yang mana lebih baik: Mengecilkan volumenya atau menutup pintunya?”
e. Menyatakan secara langsung.
”Volumenya!”
f. Menyatakan nilai-nilai dan/atau harapan Anda.
”Kita semua perlu menghormati ambang-batas kemampuan masing-masing orang, terhadap musik dengan suara yang keras.”
g. Melakukan yang tidak diduga.
Menutup kedua telinga Anda, memberikan isyarat agar volumenya diturunkan, merapatkan kedua belah tangan, dan membungkuk sebagai ungkapan terimakasih.
h. Menuliskannya.
Menuliskan: Musik sekeras ini mungkin seru kalau banyak orang, namun karena kita hanya berdua, musik ini terlalu KERAS!

Mengingat Mereka Semua

Posted on Updated on


Sebagai orangtua, kita tidak boleh menggunakan anak-anak atau para remaja kita sebagai penasehat, tempat untuk menangis, dukungan emosional, atau rekan. Tentu saja, kita dapat meminta pendapat atau nasehat mereka pada saat-saat tertentu, selama kita tidak melakukannya dengan cara yang akan mendesak mereka untuk memelihara keadaan emosional kita. Kita tak dapat meminta mereka untuk membuat kita merasa lebih baik. Tak ada cara lain untuk dapat terus bersikap tegas kepada anak-anak remaja kita bila kita tergantung kepada mereka dalam hal dukungan emosional” (Ross Campbell, M.D.)

Membaca buku berjudul ‘Bagaimana Sungguh-sungguh Mencintai Anak Remaja Anda‘ yang ditulis Ross Campbell membuatku merasa benar-benar bodoh! Apa yang kutahu selama ini tentang bagaimana berelasi dengan remaja, ternyata hanyalah setengah saja, bahkan mungkin tidak mencapai setengahnya! Selebihnya, terlalu banyak yang aku belum ketahui! Tidak heran jika ada orang yang mengatakan bahwa pengetahuan yang setengah-setengah adalah jauh lebih berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali.

Selain mengkoreksi kekeliruanku, buku ini juga menyadarkanku akan pola-pola yang tanpa kusadari telah kuhidupi selama ini, dan apa akarnya. Terutama poin tentang bagaimana sebagai orangtua, seseorang itu memang harus bersikap ‘bersahabat’ atau ‘terbuka sampai kepada hal-hal pribadi’ kepada anak-anak remajanya, namun hanya berhenti sampai pada batas ‘untuk mendidik’! Karena apabila lebih dari itu, misalnya bila sampai pada tahapan ‘menjadikan anak remaja sebagai tempat pemenuhan kebutuhan emosional kita’, maka hal itu telah menjadi kelewatan batas dan menghasilkan kegelisahan dalam diri si anak.

Apabila aku mencoba menengok ke belakang, kini aku mulai menyadari apa sebabnya sehingga aku seringkali merasa gelisah tanpa mengetahui apa sebabnya. Dan sedihnya, pola yang kuserap dalam diriku itu kuterapkan kembali pada generasi-generasi selanjutnya yang ada di bawahku. Aduh, kalau kukenang bagaimana remaja-remaja itu menggeliat karena perhatianku yang berlebihan, sehingga menimbulkan kesan ‘selalu mau tau urusan orang'; menggeliat karena penjagaanku yang terkesan terlalu protective dan possesive, sehingga membuat mereka bagaikan pasir yang keluar dari sela-sela jemari yang menggenggam erat; menggeliat karena keakraban-keakrabanku yang tidak berhikmat…, aku jadi sedih sendiri! Seandainya waktu bisa diulang untuk memperbaiki kesalahan! (namun ketika aku mengeluh seperti ini, seorang teman pernah berkelakar, “Wah, kalau waktu bisa diulang, belum tentu isterimu yang sekarang akan mau sama kamu!” Hehehe! Benar juga, ya?! Kalau begitu gak jadi deh, mengulang waktu!).

Banyak hal lain yang kudapatkan dari buku Campbell, meskipun aku belum tuntas membaca bukunya. Misalnya tentang:
1. Mempraktekkan cinta tanpa syarat kepada para remaja;
2. Memahami bahwa dalam diri remaja ada periode-periode dimana mereka mencoba mandiri, namun ketika tangki emosionalnya kembali kosong, mereka akan kembali mencari kita, orangtua;
3. Bagaimana remaja utamanya belajar dari tindakan kita, lebih daripada ucapan-ucapan verbal kita;
4. Bagaimana remaja sangat peka dengan penolakan dan sikap reaktif kita, karena itu orangtua harus bersikap tidak meremehkan pergumulan mereka, tetap tenang, dan tidak segera mengkritik mereka;
5. Juga tentang dua emosi menonjol dalam kehidupan remaja, yaitu iri hati dan kebalikannya, yaitu perasaan bersalah.

Pembacaanku masih terus berlanjut…dan aku percaya, aku akan belajar banyak, karena aku mau belajar dan mau dibentuk! Semoga aku berkesempatan memperbaiki apa yang salah dengan remaja-remaja terkasih yang dengannya aku pernah berinteraksi, dan semoga aku bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak remajaku kelak! Dan di dalam semua itu, aku rindu untuk dapat berkata seperti Rasul Paulus kepada anak-anak remajaku, “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku” (2 Tim.3:10). Hmmm, benar kata Lily, dimana pun aku berada, para remaja itu akan selalu menganggap aku (pak) guru; di sekolah (pak) guru; di gereja (pak) guru; dan di mana pun, tetaplah seorang (pak) guru (Meskipun secara jabatan organisasi, aku adalah seorang rohaniwan, bukan guru).

Doa: Tolong aku terus belajar, ya, Tuhan!