0

Keluaran 25:21-22. Tabut KovenanNya


Nats: Keluaran 25:21-22. Tabut KovenanNya
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Keluaran 25:21–22, “Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.

Tuhan yang berbicara dari Tabut Kovenan, menunjukkan bahwa:

1. Allah berbicara dengan umatNya dalam Kovenan dan Pendamaian dengan umatNya.

2. Allah berbicara selaras, namun mengatasi hukum yang telah diberikanNya lewat loh batu yang tersimpan di dalam tabut. Jadi Allah siap diuji perkataanNya.

3. Allah berbicara sebagai penguasa yang mengatasi dan dilayani oleh kerub dan manusia.

4. Allah berbicara dengan perantaraan.

5. Dan sebetulnya, kalau kita mengingat emas yang dipakai untuk menyalut tabut ini, mengingatkan kita kepada kemuliaan dan kesucian Allah yang berbicara itu.

(Rabu/6 Februari 2008)

Iklan
0

Yosua 10. Karakter Allah yang Menuntut Respon Kita


Nats: Yosua 10
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Sebelum saya membahas nats ini saya akan membacakan bagi Bapak/Ibu sekalian, artikel yang saya peroleh dari internet berikut ini:

Bapak Harold Hill adalah presiden direktur dari perusahaan Curtis Engine, di Baltimore Maryland. Perusahaan beliau adalah bergerak di bidang pendidikan ke-antariksaan dan percobaan-percobaan yang berhubungan dengan semua masalah tata surya dan alam semesta.

Salah satu penemuan mereka yang dapat saya katakan menakjubkan adalah ketika mereka melakukan percobaan di Green Belt, Maryland. Percobaan mereka adalah men-cek kebenaran perhitungan manusia dalam sistem penanggalan yang dipakai sekarang ini, men-cek keabsahan dari posisi matahari, bulan, dan planet-planet di tata surya untuk jangka waktu 100 dan 1000 tahun ke belakang dari sekarang.

Sebenarnya inti utama dari percobaan mereka adalah agar mengetahui semua pergerakan alam semesta untuk masa yang akan datang, sehingga jika mereka akan mengorbitkan satelit, maka satelit tersebut akan diletakkan/di orbitkan pada posisi yang hampir tidak mungkin bertabrakkan dengan benda asing di alam semesta. Karena mereka berpikir bahwa sebuah satelit yang memakan biaya jutaan dollar Amerika, alangkah sayangnya jika sewaktu-waktu ditabrak misalnya oleh meteor atau komet.

Mereka menjalankan komputer untuk menghitung mundur untuk beberapa abad, tetapi hasil yang didapat adalah komputer selalu berhenti adalah sama, komputer mereka mengalami masalah penghitungan. Perlu anda ketahui, jika komputer tidak dapat melakukan suatu perhitungan, maka hasil yang didapat adalah aksi diamnya komputer, seperti tidak melakukan apa-apa. Mereka lalu memanggil ahli mekanik komputer, karena para ahli ini berpikir bahwa ini adalah kesalahan yang dibuat oleh komputer mereka.

Ketika para teknisi komputer memeriksa mesin komputer tersebut mereka tidak menemukan sedikit kesalahan pun pada mesin tersebut. Tetapi ketika para ilmuwan itu menunjukkan kesalahan yang dibuat oleh komputer,teknisi komputer juga bingung, “Apa masalahnya ya…”. Mereka terus mencari kesalahan yang dibuat oleh komputer mereka,akhirnya mereka menemukan sesuatu yang membuat komputer itu tidak bekerja. Mereka menemukan adanya HARI YANG HILANG dalam jangka waktu tertentu. Mengapa bisa demikian? Mereka tidak dapat menemukan jawabannya.

Akhirnya, salah seorang pekerja di perusahaan itu tetapi dari divisi yang berbeda dan seorang Kristen berkata kepada mereka, “Saya ingat ketika saya dulu sekolah minggu, guru sekolah minggu bercerita tentang matahari yang diam tidak bergerak satu hari penuh.” Orang-orang di sekitarnya tidak percaya apa yang dikatakan oleh orang Kristen tadi, kata mereka, “tolong buktikan dan tunjukkan kepada kami.”. Lalu orang tersebut membuka Alkitab dan menunjukkan pada mereka kitab Yosua 10:12-14, “Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.

Alkitab menceritakan ketika pasukan Yosua dikelilingi oleh musuh-musuhnya, ia meminta kepada Tuhan agar tidak terjadi malam. Dan Alkitab mengatakan bahwa matahari, bulan, bintang dan semua tata surya diam tidak bergerak selama satu hari penuh. Setelah pembuktian tersebut, para ilmuwan berkata, “Inilah hari yang hilang itu!” Mereka kemudian melanjutkan penghitungan hari yang hilang itu agar komputer tidak lagi berhenti berproses.

Tetapi setelah program selesai diperbaiki, komputer tersebut tetap mengalami masalah, dan mereka menemukan kembali perhitungan yang baru bahwa hari yang hilang itu adalah 23 jam lebih 20 menit! Tidak 24 Jam atau satu hari penuh seperti yang dikatakan dalam Alkitab.

Berselang beberapa jam, pegawai Kristen tadi berkata kembali,”Saya ingat kejadian yang lain dalam Alkitab dimana matahari BERGERAK MUNDUR.” Ia membuka kitab II Raja-raja dimana Yesaya meminta kepada Tuhan agar matahari bergerak mundur sebanyak 10 derajat! Kitab 2 Raja-Raja 20:8-11, “Dan Hizkia bertanya kepada Yesaya, “Apakah yang akan menjadi tanda bahwa YAHWEH akan menyembuhkan aku dan aku akan pergi ke bait Allah pada hari yang ketiga?” Lalu Yesaya menjawab, “Ini akan menjadi tanda bagimu dari Tuhan, bahwa Tuhan akan melakukan suatu yang telah Dia katakan: Apakah bayang-bayang itu akan maju sepuluh tapak atau mundur sepuluh tapak?” Hizkia berkata, “Itu perkara mudah bagi bayang-bayang itu untuk memanjang sepuluh tapak. Sebaliknya, biarlah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak.” Dan Nabi Yesaya berseru kepada Tuhan. Maka Dia membuat bayang-bayang itu mundur sepuluh tapak ke belakang melalui tapak bayang-bayang yang turun pada penunjuk matahari buatan Ahas.

Mereka terperanjat kaget, karena para ilmuwan tersebut tahu persis bahwa 10 derajat dari pergerakan matahari adalah tepat 40 menit! 24 jam permintaan Yosua kepada Tuhan dan 40 menit permintaan Yesaya kepada Tuhan adalah 24 jam dikurangi 40 menit = 23 jam lebih 20 menit. Hampir satu hari penuh alam semesta kehilangan harinya. Tepat seperti apa yang para ilmuwan hitung dengan komputernya. Artikel lain mengatakan bahwa NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) juga telah melakukan perhitungan serupa, dan membuktikan pandangan serupa.

Entah apakah cerita ini benar atau tidak, namun yang pasti setiap orang memiliki presuposisi, yaitu ide-ide tentang apa yang kita anggap benar. Bagi orang-orang Atheis, kisah dalam Yosua 10 dan banyak cerita spektakuler dalam Alkitab tidak mungkin terjadi. Mereka memiliki prepusosisi bahwa Alkitab tidak dapat dipercaya; mereka tidak mempercayai keberadaan Allah sebagaimana kita percaya. Sebaliknya, kita pun memiliki presuposisi bahwa Alkitab adalah Firman Allah, dan hanya cukup membaca Yosua 10 saja -tanpa harus ada bukti ilmiah- kita dapat percaya dengan apa yang Alkitab beritakan.

Apa yang dapat kita pelajari dari Yosua 10 ini? Yosua 10 diawali dengan kisah tentang Adoni-Zedek, raja Yerusalem yang memprakarsai suatu aksi militer terhadap Gibeon yang telah mengkhianati mereka. Nama Adoni-Zedek ini berarti “Tuhan adalah kebenaranku” mirip dengan nama Melkisedek yang berarti “Raja kebenaran”, seorang tokoh di zaman Abraham. Melkisedek adalah raja Salem, sementara Adoni-Zedek adalah penguasa di Yerusalem pada zaman Yosua.

Menghadapi tekanan dari lima kerajaan, bangsa Gibeon yang memiliki pahlawan-pahlawan itu meminta bantuan kepada bangsa penakluk mereka, Israel. Sudah menjadi hal yang lumrah di zaman itu, apabila satu bangsa membuat sebuah kovenan dengan bangsa taklukkan mereka, maka salah satu kewajiban bangsa penakluk adalah membantu bangsa yang ditaklukkan. Dan kovenan yang berkembang di zaman itu pulalah yang digunakan Allah untuk menjalin relasi dengan umatNya, sehingga kita mengetahui adanya kovenan antara Tuhan dan umatNya. Yosua pun datang berbondong-bondong dengan pasukanNya untuk membantu Gibeon.

Di dalam kisah ini, kita dapat membaca tindakan-tindakan yang menurut ukuran orang modern di zaman ini, nampak sebagai sebuah tindakan yang kejam. Misalnya dalam Yosua 10:24-26, “Setelah raja-raja itu dikeluarkan dan dibawa kepada Yosua, maka Yosuapun memanggil semua orang Israel berkumpul dan berkata kepada para panglima tentara, yang ikut berperang bersama-sama dengan dia: “Marilah dekat, taruhlah kakimu ke atas tengkuk raja-raja ini.” Maka datanglah mereka dekat dan menaruh kakinya ke atas tengkuk raja-raja itu. Lalu berkatalah Yosua kepada mereka: “Janganlah takut dan janganlah tawar hati, kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab secara itulah akan dilakukan TUHAN kepada semua musuhmu, yang kamu perangi.” Sesudah itu Yosua membunuh raja-raja itu, dan menggantung mereka pada lima tiang, dan mereka tinggal tergantung pada tiang-tiang itu sampai matahari terbenam.” Tidak ada orang modern yang mungkin mau melakukan tindakan sekejam ini, kecuali orang-orang garis keras.

Meski demikian, Tuhan ternyata mendukung pemusnahan yang Israel lakukan terhadap bangsa Amori (Kanaan) itu. Kalau kita membacanya hanya sudut pandang Kitab Yosua ini saja, maka akan jelas nampak bahwa Tuhan adalah Allah yang kejam. Namun kalau kita melihatnya dari perspektif keseluruhan Alkitab, maka kita akan menemukan bahwa seringkali itu menjawab “sense of justice” (perasaan keadilan) di dalam batin manusia.

Tuhan pernah berfirman kepada bangsa Israel dalam Kejadian 15:13-16, “Firman TUHAN kepada Abram: ‘Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap’.” Jadi, setelah 400 tahun, keturunan Abram, yaitu Israel akan kembali ke negeri Kanaan, dan pada waktu itu, kedurjanaan atau kejahatan orang Amori menjadi genap atau mencapai puncaknya.

Pagi tadi pukul 04.30 WIT, sementara saya tidur-tidur ayam, tiba-tiba tetangga berteriak, “Tolong, tolong!” Saya mengira ada pertengkaran, karena lingkungan tempat saya tinggal sudah biasa melihat adanya pertengkaran. Namun kali ini, ternyata tetangga saya itu berteriak-teriak karena kemalingan. Maling itu memakai penutup wajah dan dengan pisau terhunus bersiap menusuk yang empunya rumah. Untunglah dia mengurungkan niatnya dan lari ke luar. Menghadapi kejahatan macam itu saja, kami tetangga-tetangga terpancing untuk memukuli maling itu seandainya tertangkap. Perasaan keadilan kita mendorong kita untuk membalas atau menghukum perbuatan jahat oranglain. Demikian, tindakan Allah untuk menghukum bangsa Kanaan akibat kejahatan mereka yang sudah mencapai puncaknya itu, justru menjawab perasaan keadilan kita [minimal perasaan keadilan dari korban-korban tindak kejahatan bangsa Kanaan].

Dukungan Allah untuk Israel menjadi alatNya menghukum kejahatan bangsa Kanaan, menjadi jelas dari dua bagian ayat-ayat berikut ini:

1. Ayat 11, “Sedang mereka melarikan diri di depan orang Israel dan baru di lereng Bet-Horon, maka TUHAN melempari mereka dengan batu-batu besar dari langit, sampai ke Azeka, sehingga mereka mati. Yang mati kena hujan batu itu ada lebih banyak dari yang dibunuh oleh orang Israel dengan pedang.” Disini dikisahkan bahwa yang mati akibat bebatuan lebih besar jumlahnya daripada yang dibunuh orang Israel. Jadi sebetulnya Tuhan dapat saja menghukum orang-orang Kanaan, cukup dengan melempari mereka bebatuan besar dari langit. Tapi tidak demikian adanya! Tuhan berkenan memakai umatNya untuk menjadi alat pekerjaanNya. Apabila murid-murid kita di sekolah bersikap bebal, Tuhan bisa saja turunkan batu dari langit untuk “menjitak” kepala mereka. Saat isteri yang kecil, kepalanya pernah terbentur, dan menurutnya ini bisa berakibat dua, yaitu bertambah pintar atau sebaliknya mengalami keterbelakangan mental. Puji Tuhan, isteri saya bertambah pintar. Demikian bisa juga Tuhan lakukan kepada murid-murid kita di sekolah. Namun tidak! Tuhan memakai cara lain. Ia berkenan memakai kita untuk menjadi alat kemuliaanNya, mendidik anak-anak itu!

2. Ayat 12-14, “Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh. Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN.” Disini dikisahkan bagaimana Tuhan mengijinkan Yosus melakukan “mujizat” terbesar di dunia, melebihi mujizat yang dilakukan Musa dengan membelah laut Merah. Meskipun bagi Israel, mujizat Musa tetaplah yang terpenting karena itu memiliki signifikansi langsung dengan Paskah atau penebusan.

Disini kita bisa belajar dua hal:

1. Tuhan sangat membenci kejahatan, dan Ia mau memakai kita menghambat pembusukkan dunia.
Cara Tuhan pada zaman Yosua untuk menghukum kejahatan adalah menggunakan bangsa lain. Tentu cara yang demikian tidak lagi berlaku pada zaman ini, dimana kini semangat dari hukum itulah yang lebih ditekankan. Bagi kita sebagai orang Kristen, Tuhan Yesus mengajarkan untuk menjadi “garam dan terang”. Menjadi terang artinya menjadi teladan, sedangkan menjadi garam, salah satu artinya adalah menjadi orang-orang yang Tuhan pakai untuk mencegah pembusukkan. Mungkin kita tidak mencegah pembusukan tidak lewat dunia militer, melainkan melalui dunia pendidikan. Disini kita harus belajar bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan masih berkenan memakai kita.

2. Tuhan sangat menepati janjiNya, dan Ia mau anak-anakNya juga setia pada janji mereka.
Pada Yosua 9, kita membaca bagaimana Yosua membuat perjanjian dengan bangsa Gibeon. Dan ketika di kemudian hari, Saul melanggar perjanjian itu, maka Tuhan pun murka dan menimpakan bencana kelaparan selama tiga hari kepada Israel. [Sampai kemudian Daud melakukan tindakan penebusan. Sebuah konsep yang mengingatkan kita bahwa atas kejahatan kita pun, kita memerlukan seorang Penebus untuk menyelamatkan kita, dan itu digenapi melalui peristiwa penyaliban Yesus].

[Melalui poin ini kita belajar bahwa sebagai pendidik, ketika kita memasuki institusi pendidikan tertentu, kita telah dengan tanpa paksaan mengikatkan diri pada komitmen atau perjanjian tertentu. Disinilah kita belajar untuk hidup konsekuen dengan komitmen yang telah kita buat. Demikian kita belajar dua karakter Allah, yaitu kemurahan hati dan kesetiaan Allah yang perlu kita teladani].

(Disampaikan pada Persekutuan Pagi Guru-guru SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura).

0

Keluaran 33:1-14. Bimbingan TUHAN


Nats: Keluaran 33:1–14
Oleh: Ev. NT Prasetyo, M.Div.

Pada bulan ketiga, setelah orang Israel keluar dari Mesir, sampailah mereka di padang gurun Sinai. Mereka berkemah di depan Gunung Sinai/Horeb (Keluaran 19). Lebih dari satu kali, Musa naik ke atas gunung untuk berjumpa dengan TUHAN. Di atas gunung, TUHAN memberikan:
a. Hukum Moral, yaitu: Sepuluh perintah Allah (pasal 20:1 – 17, telah diringkaskan oleh Tuhan Yesus menjadi Hukum Kasih);
b. Hukum Sipil, yaitu: peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan Israel sebagai sebuah bangsa (tentu secara literal tidak berlaku bagi kita saat ini, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya);
c. Hukum Upacara, yaitu: aturan-aturan untuk menyelenggarakan kebaktian, perlengkapan, dan persembahan dalam upacara (ini pun tidak secara literal berlaku bagi kita, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya).

Keluaran 24:1 – 11 mencatat bagaimana Allah menjalin ikatan Perjanjian/Kovenan dengan umatNya, Israel. TUHAN memberikan loh batu yang diukir oleh jari Allah sendiri, yang berisi hukum dan perintah Allah. Loh batu ini menjadi semacam naskah/dokumen Perjanjian/Kovenan (Keluaran 24:12; 31:18).

Keluaran 32 kemudian mencatat sebuah tragedi terjadi. Bangsa Israel mendesak Harun untuk melanggar perintah pertama (32:1) dan kedua (32:4) dari sepuluh perintah Allah. Mereka tidak hanya membuat allah, tapi juga menggambarkan Allah yang menuntun mereka keluar dari Mesir sebagai seekor anak lembu emas. Melihat hal ini, Musa sangat marah, lalu membanting dan memecahkan loh batu yang dipegangnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Israel telah menghancurkan Perjanjian/Kovenan antara Allah dengan umatNya, dilambangkan dengan loh batu yang hancur berkeping-keping. TUHAN sendiri pun murka, dan melalui Musa dan Kaum Lewi, Allah menjatuhkan hukuman atas bangsa Israel.

Diskusikan:
1. Apa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan?
Jawab: Ayat 1 menunjukkan bahwa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan adalah JANJI-NYA SENDIRI kepada leluhur bangsa Israel. Jadi, TUHAN bertindak di atas dasar KARAKTER-NYA sendiri yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Ini menjadi jaminan iman bagi kita. Apa yang baik yang pernah TUHAN janjikan secara pribadi kepada kita, mungkin belum kelihatan saat ini, namun percayalah bahwa TUHAN itu memiliki karakter yang dapat menjadi jaminan bagi iman kita. Ia adalah Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji.

2. Apa yang menjadi alasan bagi TUHAN sehingga Ia tidak turut berjalan di tengah-tengah bangsa Israel dan hanya mengutus malaikatNya?
Jawab:
Ayat 2 dan 5 menyatakan kesaksian dari pihak TUHAN tentang siapa itu orang Israel, yaitu orang-orang yang tegar tengkuk. Kesaksian ini diulang hingga dua kali, menunjukkan bahwa TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. Bangsa Israel memang menunjukkan tindakan penyesalan (ayat 4 – 5), dan TUHAN sendiri memang memerintahkan tindakan penyesalan semacam itu diperlihatkan (ayat 5). Namun sekali lagi, TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN hanya mengutus malaikatNya saja untuk berjalan di depan bangsa Israel. Ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

3. Mengapa Kemah Pertemuan, Musa letakkan jauh di luar perkemahan?
Jawab: Kemah Pertemuan dapat menunjuk kepada dua benda berbeda:
a. Tabernakel/Kemah Suci yang saat peristiwa di pasal 33 ini terjadi, masih belum dibuat (bdk. Kel.27:21). Lokasi Tabernakel terletak di pusat perkemahan Israel. Di sini TUHAN bertemu dengan umatNya sesuai petunjuk TUHAN.
b. Tabernakel/Kemah Pertemuan, yang merupakan tenda sementara dimana umat dapat berkonsultasi kepada TUHAN karena Tabernakel/Kemah Suci belum dibuat.
Mengapa Kemah Pertemuan diletakkan di luar perkemahan Israel, alasannya tentunya tidak jauh dari jawaban nomor 2. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN tidak mau hadiratNya memasuki perkemahan Israel. Sekali lagi, ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

4. Respon apa lagi yang ditunjukkan bangsa Israel melihat tanda-tanda kehadiran TUHAN?
Jawab: Ayat 8 – 9 menunjukkan bagaimana bangsa Israel berusaha menunjukkan hormatNya kepada TUHAN dengan bersujud di pintu tenda mereka masing-masing, setiap kali melihat tiang awan (lambang kehadiran Allah) berhenti di pintu Kemah Pertemuan, ketika Musa masuk dan ada di Kemah Pertemuan itu.

5. Keluaran 33:11 dicatat bahwa “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Namun dalam ayat 20 dicatat perkataan TUHAN kepada Musa, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Ayat 11 dan 20 nampak bertentangan. Jadi mana yang benar? Musa dapat memandang wajah TUHAN ataukah tidak? Jadi, apa maksudnya “berhadapan muka”?
Jawab: Kedua-duanya benar. Ayat 11 hanya hendak menunjukkan bahwa Allah berkomunikasi dengan Musa secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tanpa memperlihatkan wajahNya secara visual. TUHAN berbicara kepada hamba-hambaNya di dalam derajat kejelasan yang berbeda-beda. Kepada nabi-nabi lain, TUHAN berfirman/memberi nubuat, yang bagi nabi itu sendiri merupakan teka-teki dan misteri. Namun Musa itu termasuk nabi Perjanjian Lama yang unik, karena hanya dengan Musa-lah, TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa. Bilangan 12:6 – 8 dan Ulangan 34:10 menegaskan hal ini. Namun meskipun TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa, Musa tetap tidak dapat melihat wajah TUHAN secara langsung, dan tidak ada seorang pun yang dapat (ayat 20).

6. Apakah TUHAN itu punya anggota tubuh, seperti wajah? Tidakkah ini bertentangan dengan Yohanes 4:24?
Jawab: Yohanes 4:24 adalah benar! TUHAN adalah ROH, dan tidak punya tubuh jasmani seperti manusia. Lalu apa maksudnya, kata “wajah” dan “tangan” dalam Keluaran 33?

a. Bacalah Keluaran 33:14. Kata “Aku sendiri” disitu, dalam bahasa aslinya, secara literal juga berarti “wajahKu.” Jadi, ungkapan seperti misalnya, “wajah Allah,” bisa dimengerti sebagai “kehadiran TUHAN sendiri.” Jadi, kalau ada lagu rohani mengatakan, “dan kupandang wajahMu,” itu artinya: “kusadari kehadiranMu, TUHAN.”
b. TUHAN dapat juga berkata-kata seolah-olah Ia memiliki tubuh fisik, ini disebut gaya bahasa Antropomorfisme (antropo = manusia; morphem = bentuk).
c. TUHAN adalah ROH, namun bisa jadi Ia menampakkan diri kepada Musa dalam wujud-wujud bertubuh seperti manusia. Salah satu bentuknya dalam Perjanjian Lama, disebut Teofani (penampakan Allah dalam wujud manusia/malaikat).

7. Dari dialog TUHAN dengan Musa pada ayat 12 – 14, kita dapat belajar tentang cara TUHAN mewahyukan kehendakNya kepada umatNya! Bagaimana cara TUHAN mewahyukan kehendakNya itu?
Jawab: Meskipun kepada Musa, TUHAN berkomunikasi dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tetap Ia memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa. Ayat 12 menunjukkan pengakuan Musa bahwa TUHAN belum juga memberitahukan siapa (malaikat?) yang akan TUHAN utus untuk mendampingi Musa. Dan meskipun Musa mengungkapkan hal itu, jawaban TUHAN pun hanyalah “Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapanKu.” Dan ayat 13 mencatat permohonan Musa berikutnya, “beritahukanlah kiranya jalanMu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau.” Dan atas permintaan ini pun, TUHAN hanya berkata, “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu.” Demikian, TUHAN memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa.

8. Dari semua pelajaran di atas, prinsip-prinsip apa saja yang harus kita jaga dan pahami tentang BIMBINGAN TUHAN?
Jawab: Prinsip-prinsip yang perlu kita pahami tentang bimbingan TUHAN:
a. TUHAN membimbing kita berdasarkan karakter dan janjiNya sendiri (bukan berdasarkan atas apa yang manusia inginkan atau apa yang manusia ingin capai). TUHAN akan membimbing kita kepada tujuan hidup yang selaras dengan karakter Allah sendiri. Mungkin kita sebagai orangtua ingin agar anak kita kelak menjadi dokter dan dapat uang banyak, namun “dapat uang banyak” tidaklah mencerminkan karakter Allah dan janji Allah kepada umatNya, sehingga Allah akan membimbing anak kita, seturut tujuan hidup (visi hidup) yang Allah telah tanamkan di dalam batin anak kita (termasuk melalui bakat dan minatnya). Tugas kita sebagai orangtua adalah membimbing anak mengarahkan diri kepada tujuan Allah yang telah Allah tanamkan dalam diri mereka.
b. TUHAN membimbing kita dengan menuntut kehidupan kudus dari pihak kita. Kehidupan yang tidak kudus, merintangi bimbingan TUHAN atas kita. Pertama-tama, kita menjadi tidak peka dengan arahan dari TUHAN; Kedua, kehidupan kita sendiri jadi terseok-seok karena harus menanggung akibat-akibat dari ketidakkudusan kita sendiri.
c. TUHAN membimbing kita secara bertahap dan tidak sekaligus. TUHAN mengendaki kesabaran dan ketekunan kita untuk terus bersekutu dengan TUHAN. Apabila Allah ingin cepat-cepat mencapai tujuan-tujuanNya, Ia dapat dengan mudah menyuruh malaikatNya. Namun Allah memilih untuk mencapai tujuan-tujuanNya melalui umatNya, dan karenanya Ia menghendaki ketekunan kita untuk bersekutu denganNya, serta kesabaran kita.
d. TUHAN membimbing kita dengan memberikan ketentraman/damai sejahteranya. Salah satu petunjuk bahwa kita masih berjalan di jalan-jalan yang sesuai bimbingan TUHAN adalah adanya damai sejahtera Allah yang menguasai hati kita. Apabila hati kita mulai tidak sejahtera, evaluasi diri, jangan-jangan kita sudah menyimpang.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon Filadelfia, 2012)

0

Refleksi tentang Kovenan


Satu kalimat yang berkesan buat saya melalui pelajaran Grace in The Old Testament ini adalah bahwa “Allah mengejar manusia demi menjalin relasi dengan ciptaanNya.” Luarbiasa! Sementara manusia mengejar banyak hal – termasuk sebagaimana tercantum dalam konstitusi Negara Amerika Serikat bahwa setiap manusia berhak untuk mengejar kebahagiaan – ternyata Allah paling tahu apa yang terbaik dan dibutuhkan manusia, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan Allah berinisiatif “mengejar” ciptaanNya, demi bisa berelasi dengan ciptaanNya.

Dalam menjalankan relasi dengan umatNya, Allah memakai bentuk kovenan; suatu praktek relasi yang sudah umum dikenal oleh bangsa-bangsa di zaman Bapak Patriakh, Abraham. Dan di sepanjang Sejarah Penebusan, Allah menjalin kovenan anugerah dengan umatNya, diantaranya dengan:

1. Bapak Abraham. Saya sangat bersyukur membaca bagaimana Allah tidak berputus asa dengan ciptaanNya yang senantiasa memberontak kepadaNya. Namun yang membuat saya heran adalah: Mengapa Allah begitu “sabar” (kalau tidak boleh dikatakan: Lamban) untuk melakukan segala rencana penebusanNya bagi umatNya. Dengan perlahan namun pasti, Allah menjalin relasi kovenan anugerah, pertama-tama secara personal, atas keluarga Abraham. Allah masih menjanjikan hal-hal yang sifatnya masih sangat konkret, seperti tanah, keturunan, dan berkat. Disini saya melihat bahwa Allah nampak betul-betul “tahu apa yang Ia sedang lakukan”. Ia tidak bertindak gegabah; Ia melakukan secara perlahan namun pasti. Allah bukan manusia yang ingin melakukan segala sesuatu dengan instan! Suatu sifat Allah yang dalam konteks Sejarah Penebusan, sulit saya pahami, namun memberikan semacam perasaan, “Yah, memang Dia tahu pasti apa yang Ia lakukan! Such a confident God!”

2. Nabi Musa. Membaca kovenan antara Allah dengan Israel di zaman Musa, cenderung memberikan kepada saya perasaan takjub dan bangga. Pertunjukkan kehebatan yang Allah tunjukkan begitu mengagumkan dan luarbiasa. Kepada suatu bangsa “budak” yang kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding bangsa-bangsa sekitarnya, Allah menjalin sebuah relasi kovenan yang lingkupnya adalah nasional. Janji dari kovenan ini adalah sebuah relasi. Dan kewajiban yang harus dikerjakan umat hanyalah: Taat! Dalam poin ini saya melihat bagaimana Allah itu seperti seseorang yang sedang jatuh cinta! Begitu dalamnya kerinduan Allah untuk berelasi dengan Israel, sampai-sampai Ia memamerkan segala kehebatan kuasaNya yang mengatasi segala kekuasaan yang ada di alam semesta; demi supaya umatNya melihat; dan segala bangsa pun mendengar, betapa hebatnya Allah Israel itu!

3. Raja Daud. Kovenan Allah dengan Daud adalah sebuah kovenan dalam lingkup dinasti, yang menyediakan bagi Israel sebuah dinasti yang berkuasa terus-menerus, bahkan hingga kekal. Janji Allah dalam kovenan ini adalah takhta yang kekal selamalamanya, dan kewajiban umat adalah melanjutkan ketaatan mereka kepada Tuhan! Disini saya melihat bahwa Allah mulai bergerak di dalam satu cara yang lebih
terkonsentrasi. Apabila suatu perjanjian sudah melibatkan alam politik, saya melihatnya sebagai sesuatu yang betul-betul serius, karena politik memiliki

(Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Grace in the Old Testament yang diajar oleh David L. Talley, Ph.D.)