Kitab Keluaran

Keluaran 1:22-2:10. Ironi Firaun

Posted on


Nats: Keluaran 1:22–2:10. Ironi Firaun.
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Dari mulai matinya Yusuf hingga bangkitnya seorang raja baru, ada rentang waktu ± 200 tahun. Raja baru yang bangkit kemungkinan bernama Ahmose, pendiri dari Dinasti ke-18, yang berhasil mengenyahkan penguasa-penguasa asing di Mesir, yang berkuasa sebelumnya, yaitu orang-orang Semit yang disebut Hyksos. Raja ini bergelar Firaun, yang artinya: Rumah Besar.

Di bawah pemerintahan Firaun baru ini, bangsa Ibrani – yang juga tergolong orang Semit – ditindas dan dipaksa untuk mendirikan kota-kota penyimpanan bahan pangan, salah satunya Kota Rameses. Kota Rameses terletak di dekat pemukiman orang Ibrani. Bangsa Ibrani ditindas dengan kerja paksa yang berat, termasuk diantaranya memompa air Sungai Nil ke ladang-ladang untuk mengairi ladang-ladang.

Karena strateginya tidak berhasil mengurangi populasi bangsa Ibrani, Firaun lalu memerintahkan bidan-bidan – diantaranya bernama Sifrah dan Pua – untuk mengamat-amati (ketika mereka menolong persalinan di atas dua batu persalinan) apakah yang lahir dari seorang ibu Ibrani itu bayi laki-laki ataukah perempuan. Jika laki-laki, mereka harus membunuhnya. Dan Sifrah dan Pua tidak melakukan perintah Firaun, sehingga Allah pun memberkati rumahtangga mereka. Nama Sifrah dan Pua sendiri adalah nama Semitis, bukan nama Mesir.

Ironi:

1. Firaun memanfaatkan sungai Nil untuk membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru melalui sungai Nil pulalah “juruselamat” bangsa Ibrani diselamatkan.

Firaun memerintahkan semua rakyatnya agar setiap anak laki-laki yang lahir, dibuang ke Sungai Nil (1:22). Sungai Nil menjadi sebuah sarana/alat untuk membinasakan semua bayi laki-laki Ibrani. Namun kita mengetahui kisah tentang pasangan Ibrani yang berasal dari Suku Lewi, menyelamatkan anaknya yang sudah disembunyikan selama tiga bulan ini, juga dengan menggunakan sarana/alat: Sungai Nil. Pasangan Lewi ini membuat “peti kecil” (bahasa Ibrani yang digunakan sama dengan yang digunakan untuk kata “bahtera” Nuh). Jadi bayi Musa yang berumur tiga bulan ini, diselamatkan dengan “bahtera mini”. Firaun memanfaatkan Sungai Nil untuk membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru melalui Sungai Nil pulalah “juruselamat” bangsa Ibrani diselamatkan.

2. Firaun hendak membinasakan Bangsa Ibrani; namun justru menjadi orangtua dari “juruselamat” bangsa Ibrani.

Ketika “bahtera mini” itu hanyut, puteri Mesir menemukannya. Kemungkinan puteri yang dimaksud disini adalah puteri terkenal dari Dinasti ke-18, yang dikemudian hari dikenal sebagai Ratu Hatshepsut. Dengan cerdik Maryam, kakak perempuan Musa, yang berusia sekitar 11 tahun lebih tua dari Musa, menawarkan diri untuk mencarikan inang penyusu. Puteri Firaun setuju, lalu Yokhebed (ibu Musa sendiri) dipanggil untuk menjadi penyusu Musa, bahkan diberi upah untuk melakukan tugas itu.

Jadi Musa dari sejak lahir, tetap diasuh oleh keluarganya sendiri di dalam iman Ibrani mereka, bahkan mendapatkan biaya hidup dari Puteri Mesir. Setelah bayi Musa beranjak dewasa, ia dibawa ke Istana Firaun. Lalu puteri Firaun menamainya, “Musa”, dan mendidik Musa kecil ini di dalam seluruh hikmat orang Mesir, juga membesarkan Musa dalam seluruh kemewahan Mesir. Firaun yang tadinya hendak membinasakan Bangsa Ibrani; kini justru menjadi orangtua dari “juruselamat” bangsa Ibrani.

3. Firaun membinasakan semua anak laki-laki Ibrani, dan mempertahankan anak perempuan saja; namun justru melalui figur-figur perempuanlah, ia dikalahkan.

Figur-figur perempuan itu diantaranya:
1. Bidan-bidang (1:17)
2. Para Ibu Ibrani (1:19)
3. Ibu dan kakak perempuan Musa (2:3–4, 7–9).
4. Puteri Firaun (2:5).
Firaun membinasakan semua anak laki-laki Ibrani dan mempertahankan anak perempuan saja; namun justru melalui figur-figur perempuanlah, ia dikalahkan.

Pelajaran buat kita: Roma 8:28, “Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Dia; bagi setiap orang yang terpilih seturut rencanaNya.” Dan unik, karena TUHAN menyingkapkan kebenaran ini melalui ironi dalam kehidupan Firaun.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon II GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/23 Mei 2008).

Keluaran 3-4. Yang Lebih Membuat Musa Takut

Posted on


Nats: Keluaran 3-4. Yang Lebih Membuat Musa Takut
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, S.Sos.

Menarik karena ketika di Midian, Tuhan mengutus Musa, lima kali Musa menjawab Tuhan dengan nada enggan dan mengekspresikan ketidakpercayaan dirinya. Dan menariknya lagi, dari lima kali ekspresi keengganan itu, empat yang terakhir menyiratkan ketidakpercayaan diri Musa untuk menghadapi bangsanya sendiri. Kalau kubaca Ibrani 11, jelas bahwa Musa tidak takut kepada Firaun. Namun ternyata yang paling ia takuti adalah bangsanya sendiri.

Musa sudah mengalami trauma, dimana dahulu pada 40 tahun awal kehidupannya, ia – di dalam segala background pendidikan, pelatihan, status sosial, kompetensi yang cemerlang di mata dunia – telah mengalami penolakan dari bangsanya sendiri, ketika ia bermaksud membela saudara sebangsanya sendiri dari orang Mesir yang menindas mereka.

Kisah Para Rasul 7 menjelaskan bagaimana Musa mengira bahwa saudara-saudara sebangsanya akan mengerti bahwa dirinyalah yang telah ditetapkan Allah untuk membebaskan mereka. Tetapi ternyata Musa mengalami penolakan, sehingga ketika Tuhan mengutus ia kembali, yang paling membuatnya enggan, bukanlah tugas itu sendiri; bukan Firaun maupun orang Mesir; melainkan bangsanya sendiri!

(Disampaikan pada Persekutuan Wanita GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/16 Mei 2008)

Keluaran 25:21-22. Tabut KovenanNya

Posted on


Nats: Keluaran 25:21-22. Tabut KovenanNya
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Keluaran 25:21–22, “Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.

Tuhan yang berbicara dari Tabut Kovenan, menunjukkan bahwa:

1. Allah berbicara dengan umatNya dalam Kovenan dan Pendamaian dengan umatNya.

2. Allah berbicara selaras, namun mengatasi hukum yang telah diberikanNya lewat loh batu yang tersimpan di dalam tabut. Jadi Allah siap diuji perkataanNya.

3. Allah berbicara sebagai penguasa yang mengatasi dan dilayani oleh kerub dan manusia.

4. Allah berbicara dengan perantaraan.

5. Dan sebetulnya, kalau kita mengingat emas yang dipakai untuk menyalut tabut ini, mengingatkan kita kepada kemuliaan dan kesucian Allah yang berbicara itu.

(Rabu/6 Februari 2008)

Keluaran 16-17. Beberapa Pelajaran bagi Umat

Posted on Updated on


Nats: Keluaran 16-17. Beberapa Pelajaran bagi Umat
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Dari Keluaran 16:4 kita dapat belajar bahwa ”berkat”, pada saat yang sama adalah juga ”ujian” dari Tuhan. Karenanya dalam Keluaran 20:20 dicatat, ”supaya ada takut akan Tuhan dan tidak berbuat dosa.

Dari Keluaran 16:28, ”Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintahKu dan hukumKu?” kita membaca teguran yang TUHAN tujukan kepada umatNya, karena:

1. Ayat 20: Ada jemaat yang bersikeras menyimpan manna sampai besok paginya, akibatnya berulat dan berbau busuk. Ini disebabkan karena dalam hati jemaat itu ada ”semak duri”, yaitu kekhawatiran dan keserakahan.

2. Ayat 27: Ada jemaat yang mencari manna di Hari Sabat. Tentang ini, ayat 30 mengajarkan: Beristirahatlah! Jangan gila kerja!

Sementara dari Kel.17:21, ada prinsip Yitro tentang kriteria pemimpin:

1. Membangun kompetensi.
2. Memiliki takut akan Allah.
3. Membangun akuntabilitas.
4. Memiliki kejujuran atau benci suap.

Untuk kelompok yang besar maupun yang kecil, kriterianya sama! Dengan demikian, selebihnya dari kepemimpinan adalah ”karunia” alias pemberian Tuhan, baik langsung maupun melalui oranglain.

(Senin/4 Februari 2008)

Keluaran 14. Pemeliharaan TUHAN bagi UmatNya

Posted on Updated on


Nats: Keluaran 14. Pemeliharaan TUHAN bagi UmatNya
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Anak-anak Sekolah Minggu di Gereja Kristen Jakarta aktif-aktif, berani dan cerdas! Tentang nats Firman Tuhan yang kubagikan buat mereka, aku sendiri mendapat suatu kebenaran menarik:

1. Karya Allah” membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (gambar: Bangsa Israel melintasi laut Merah yang airnya tersibak dua) – Keluaran 14.

Bandingkan

Kita dilepaskan dari perbudakan dosa – Roma 8:15

2. Tuhan “memelihara” melalui Manna – Keluaran 16.

Bandingkan

Tuhan “memelihara” melalui Firman Allah, yaitu Alkitab – Ulangan 8:3

3. Tuhan “memelihara” dengan memberi air dari batu karang – Keluaran 17.

Bandingkan

Tuhan “memelihara” melalui doa kepada Yesus, sumber air hidup – 1 Kor.10:4 & Yoh.4:10

4. Tanah Kanaan

Bandingkan

Kehidupan kekal dan sukacita sorgawi.

Ayat hafalan dari Mazmur 100:5.

(Disampaikandi di Sekolah Minggu Gereja Kristen Jakarta, Minggu/21 Agustus 2005)

Keluaran 17:8-16. Hasil Akhir Doa

Posted on Updated on


Nats: Keluaran 17:8-16. Hasil Akhir Doa.
Oleh: Sdri. Ling-ling.

Entah kapan, Ci Ling-ling berkotbah dari Keluaran 17:8–16. Sebagai ilustrasi awal, dia menyinggung soal film The Lord of The Ring. Ada dua pihak yang perang: Sauron versus aliansi manusia – peri (The fellowship of the Ring). Dalam kehidupan Israel, Israel pernah perang melawan Amalek. Dan ada dua pihak yang bertempur disana: Yosua & pasukan Israel versus Pasukan Amalek, dan ada tokoh yang muncul disana: Musa, Harun, dan Hur.

Menurut Kej.36:12, “Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau,” Amalek adalah cucu Esau. Dan Bilangan 24:20, Amalek adalah bangsa pertama yang melawan Israel, “Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.” Amalek memerangi Israel karena ingin merebut sumber air.

Dalam kasus Musa, Harun, dan Hur, Mazmur 28:2 menyebutkan, “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.” Jadi “mengangkat tangan” adalah ekspresi doa. Komunikasi Musa dengan Allah-lah yang menjadi penentu kemenangan pertempuran secara jasmaniah.

Hal terpenting dalam pergumulan doa kita adalah “Pengenalan akan Allah yang semakin dalam.” Dalam pergumulan doa Musa, kita melihat: Ketergantungan Musa yang mutlak kepada Allah. Bukti penyertaan kuasa Allah adalah tongkat.

Mengapa Musa tidak ikut berperang? Karena karakter pertempuran itu. Pertempuran itu adalah pertempuran dimana Allah sendiri yang berperang melawan Amalek (Ul.25:17–19; Kel.17:14). Amalek jelas-jelas memberontak kepada Allah, sehingga Allah-lah yang berperang. Sehingga Musa naik ke bukit, dan berdoa, dan bukannya membuat mujizat langsung dari tongkat. Hasil doa Musa, Allah dikenal sebagai Jehovah Nissi (Tuhan panji-panji Israel). Satu-satunya tempat dalam Alkitab dimana Tuhan disebut sebagai Jehovah Nissi.

Jehovah Nissi menunjukkan bahwa ketika Israel melangkah menuju Kanaan, Tuhan menyertai. Tuhan menjadi “penunjuk arah” bagi umatNya. Dari pergumulan doa Musa, kita belajar bahwa hasil terakhir dan tertinggi dari pergumulan doa kita adalah “pengenalan akan Allah”.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel STTRI Indonesia, 2005 [?]).

Keluaran 33:1-14. Bimbingan TUHAN

Posted on


Nats: Keluaran 33:1–14
Oleh: Ev. NT Prasetyo, M.Div.

Pada bulan ketiga, setelah orang Israel keluar dari Mesir, sampailah mereka di padang gurun Sinai. Mereka berkemah di depan Gunung Sinai/Horeb (Keluaran 19). Lebih dari satu kali, Musa naik ke atas gunung untuk berjumpa dengan TUHAN. Di atas gunung, TUHAN memberikan:
a. Hukum Moral, yaitu: Sepuluh perintah Allah (pasal 20:1 – 17, telah diringkaskan oleh Tuhan Yesus menjadi Hukum Kasih);
b. Hukum Sipil, yaitu: peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan Israel sebagai sebuah bangsa (tentu secara literal tidak berlaku bagi kita saat ini, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya);
c. Hukum Upacara, yaitu: aturan-aturan untuk menyelenggarakan kebaktian, perlengkapan, dan persembahan dalam upacara (ini pun tidak secara literal berlaku bagi kita, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya).

Keluaran 24:1 – 11 mencatat bagaimana Allah menjalin ikatan Perjanjian/Kovenan dengan umatNya, Israel. TUHAN memberikan loh batu yang diukir oleh jari Allah sendiri, yang berisi hukum dan perintah Allah. Loh batu ini menjadi semacam naskah/dokumen Perjanjian/Kovenan (Keluaran 24:12; 31:18).

Keluaran 32 kemudian mencatat sebuah tragedi terjadi. Bangsa Israel mendesak Harun untuk melanggar perintah pertama (32:1) dan kedua (32:4) dari sepuluh perintah Allah. Mereka tidak hanya membuat allah, tapi juga menggambarkan Allah yang menuntun mereka keluar dari Mesir sebagai seekor anak lembu emas. Melihat hal ini, Musa sangat marah, lalu membanting dan memecahkan loh batu yang dipegangnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Israel telah menghancurkan Perjanjian/Kovenan antara Allah dengan umatNya, dilambangkan dengan loh batu yang hancur berkeping-keping. TUHAN sendiri pun murka, dan melalui Musa dan Kaum Lewi, Allah menjatuhkan hukuman atas bangsa Israel.

Diskusikan:
1. Apa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan?
Jawab: Ayat 1 menunjukkan bahwa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan adalah JANJI-NYA SENDIRI kepada leluhur bangsa Israel. Jadi, TUHAN bertindak di atas dasar KARAKTER-NYA sendiri yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Ini menjadi jaminan iman bagi kita. Apa yang baik yang pernah TUHAN janjikan secara pribadi kepada kita, mungkin belum kelihatan saat ini, namun percayalah bahwa TUHAN itu memiliki karakter yang dapat menjadi jaminan bagi iman kita. Ia adalah Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji.

2. Apa yang menjadi alasan bagi TUHAN sehingga Ia tidak turut berjalan di tengah-tengah bangsa Israel dan hanya mengutus malaikatNya?
Jawab:
Ayat 2 dan 5 menyatakan kesaksian dari pihak TUHAN tentang siapa itu orang Israel, yaitu orang-orang yang tegar tengkuk. Kesaksian ini diulang hingga dua kali, menunjukkan bahwa TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. Bangsa Israel memang menunjukkan tindakan penyesalan (ayat 4 – 5), dan TUHAN sendiri memang memerintahkan tindakan penyesalan semacam itu diperlihatkan (ayat 5). Namun sekali lagi, TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN hanya mengutus malaikatNya saja untuk berjalan di depan bangsa Israel. Ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

3. Mengapa Kemah Pertemuan, Musa letakkan jauh di luar perkemahan?
Jawab: Kemah Pertemuan dapat menunjuk kepada dua benda berbeda:
a. Tabernakel/Kemah Suci yang saat peristiwa di pasal 33 ini terjadi, masih belum dibuat (bdk. Kel.27:21). Lokasi Tabernakel terletak di pusat perkemahan Israel. Di sini TUHAN bertemu dengan umatNya sesuai petunjuk TUHAN.
b. Tabernakel/Kemah Pertemuan, yang merupakan tenda sementara dimana umat dapat berkonsultasi kepada TUHAN karena Tabernakel/Kemah Suci belum dibuat.
Mengapa Kemah Pertemuan diletakkan di luar perkemahan Israel, alasannya tentunya tidak jauh dari jawaban nomor 2. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN tidak mau hadiratNya memasuki perkemahan Israel. Sekali lagi, ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

4. Respon apa lagi yang ditunjukkan bangsa Israel melihat tanda-tanda kehadiran TUHAN?
Jawab: Ayat 8 – 9 menunjukkan bagaimana bangsa Israel berusaha menunjukkan hormatNya kepada TUHAN dengan bersujud di pintu tenda mereka masing-masing, setiap kali melihat tiang awan (lambang kehadiran Allah) berhenti di pintu Kemah Pertemuan, ketika Musa masuk dan ada di Kemah Pertemuan itu.

5. Keluaran 33:11 dicatat bahwa “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Namun dalam ayat 20 dicatat perkataan TUHAN kepada Musa, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Ayat 11 dan 20 nampak bertentangan. Jadi mana yang benar? Musa dapat memandang wajah TUHAN ataukah tidak? Jadi, apa maksudnya “berhadapan muka”?
Jawab: Kedua-duanya benar. Ayat 11 hanya hendak menunjukkan bahwa Allah berkomunikasi dengan Musa secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tanpa memperlihatkan wajahNya secara visual. TUHAN berbicara kepada hamba-hambaNya di dalam derajat kejelasan yang berbeda-beda. Kepada nabi-nabi lain, TUHAN berfirman/memberi nubuat, yang bagi nabi itu sendiri merupakan teka-teki dan misteri. Namun Musa itu termasuk nabi Perjanjian Lama yang unik, karena hanya dengan Musa-lah, TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa. Bilangan 12:6 – 8 dan Ulangan 34:10 menegaskan hal ini. Namun meskipun TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa, Musa tetap tidak dapat melihat wajah TUHAN secara langsung, dan tidak ada seorang pun yang dapat (ayat 20).

6. Apakah TUHAN itu punya anggota tubuh, seperti wajah? Tidakkah ini bertentangan dengan Yohanes 4:24?
Jawab: Yohanes 4:24 adalah benar! TUHAN adalah ROH, dan tidak punya tubuh jasmani seperti manusia. Lalu apa maksudnya, kata “wajah” dan “tangan” dalam Keluaran 33?

a. Bacalah Keluaran 33:14. Kata “Aku sendiri” disitu, dalam bahasa aslinya, secara literal juga berarti “wajahKu.” Jadi, ungkapan seperti misalnya, “wajah Allah,” bisa dimengerti sebagai “kehadiran TUHAN sendiri.” Jadi, kalau ada lagu rohani mengatakan, “dan kupandang wajahMu,” itu artinya: “kusadari kehadiranMu, TUHAN.”
b. TUHAN dapat juga berkata-kata seolah-olah Ia memiliki tubuh fisik, ini disebut gaya bahasa Antropomorfisme (antropo = manusia; morphem = bentuk).
c. TUHAN adalah ROH, namun bisa jadi Ia menampakkan diri kepada Musa dalam wujud-wujud bertubuh seperti manusia. Salah satu bentuknya dalam Perjanjian Lama, disebut Teofani (penampakan Allah dalam wujud manusia/malaikat).

7. Dari dialog TUHAN dengan Musa pada ayat 12 – 14, kita dapat belajar tentang cara TUHAN mewahyukan kehendakNya kepada umatNya! Bagaimana cara TUHAN mewahyukan kehendakNya itu?
Jawab: Meskipun kepada Musa, TUHAN berkomunikasi dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tetap Ia memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa. Ayat 12 menunjukkan pengakuan Musa bahwa TUHAN belum juga memberitahukan siapa (malaikat?) yang akan TUHAN utus untuk mendampingi Musa. Dan meskipun Musa mengungkapkan hal itu, jawaban TUHAN pun hanyalah “Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapanKu.” Dan ayat 13 mencatat permohonan Musa berikutnya, “beritahukanlah kiranya jalanMu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau.” Dan atas permintaan ini pun, TUHAN hanya berkata, “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu.” Demikian, TUHAN memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa.

8. Dari semua pelajaran di atas, prinsip-prinsip apa saja yang harus kita jaga dan pahami tentang BIMBINGAN TUHAN?
Jawab: Prinsip-prinsip yang perlu kita pahami tentang bimbingan TUHAN:
a. TUHAN membimbing kita berdasarkan karakter dan janjiNya sendiri (bukan berdasarkan atas apa yang manusia inginkan atau apa yang manusia ingin capai). TUHAN akan membimbing kita kepada tujuan hidup yang selaras dengan karakter Allah sendiri. Mungkin kita sebagai orangtua ingin agar anak kita kelak menjadi dokter dan dapat uang banyak, namun “dapat uang banyak” tidaklah mencerminkan karakter Allah dan janji Allah kepada umatNya, sehingga Allah akan membimbing anak kita, seturut tujuan hidup (visi hidup) yang Allah telah tanamkan di dalam batin anak kita (termasuk melalui bakat dan minatnya). Tugas kita sebagai orangtua adalah membimbing anak mengarahkan diri kepada tujuan Allah yang telah Allah tanamkan dalam diri mereka.
b. TUHAN membimbing kita dengan menuntut kehidupan kudus dari pihak kita. Kehidupan yang tidak kudus, merintangi bimbingan TUHAN atas kita. Pertama-tama, kita menjadi tidak peka dengan arahan dari TUHAN; Kedua, kehidupan kita sendiri jadi terseok-seok karena harus menanggung akibat-akibat dari ketidakkudusan kita sendiri.
c. TUHAN membimbing kita secara bertahap dan tidak sekaligus. TUHAN mengendaki kesabaran dan ketekunan kita untuk terus bersekutu dengan TUHAN. Apabila Allah ingin cepat-cepat mencapai tujuan-tujuanNya, Ia dapat dengan mudah menyuruh malaikatNya. Namun Allah memilih untuk mencapai tujuan-tujuanNya melalui umatNya, dan karenanya Ia menghendaki ketekunan kita untuk bersekutu denganNya, serta kesabaran kita.
d. TUHAN membimbing kita dengan memberikan ketentraman/damai sejahteranya. Salah satu petunjuk bahwa kita masih berjalan di jalan-jalan yang sesuai bimbingan TUHAN adalah adanya damai sejahtera Allah yang menguasai hati kita. Apabila hati kita mulai tidak sejahtera, evaluasi diri, jangan-jangan kita sudah menyimpang.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon Filadelfia, 2012)