Injil Lukas

Lukas 14:25-35. Harga Kemuridan

Posted on Updated on


Kemuridan (discipleship) adalah perjalanan mengiring/mengikuti Yesus dengan berdisiplin (disiplin artinya: mengatakan “tidak” kepada hal-hal tertentu atau menyangkal diri, dan mengatakan “ya” kepada hal-hal yang terbaik atau memikul salib). Istilah Kemuridan (discipleship) berbeda dengan Pemuridan (disciple-making). Pemuridan (disciple-making) adalah bagian dari Kemuridan (discipleship). Apabila tema besar dalam kemuridan adalah “mengikut Yesus,” maka pada pemuridan adalah “pelipatgandaan orang-orang yang mengikut Yesus.”

Hidup kemuridan bukanlah hidup yang mudah. Yesus sudah mengingatkan hal itu, sebagaimana dicatat dalam Lukas 14:25-35. Sementara “banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus” dengan berbagai macam motivasi (ayat 25), Yesus mengingatkan tentang “tiga macam orang” yang tidak dapat menjadi murid Yesus:

1. Orang pertama adalah orang yang tidak mencintai Yesus lebih dari segala sesuatunya (ayat 26).

2. Orang kedua adalah orang yang tidak rela menderita demi Yesus (ayat 27).

3. Orang ketiga adalah orang yang tidak mau mempercayakan hidupnya seluruhnya kepada Yesus (ayat 33).

Demikian kita belajar, bahwa untuk menjadi murid Yesus, kita harus memiliki sikap:

1. Hidup Kemuridan berarti tidak mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada Yesus.
Pernyataan di ayat 26 mungkin membingungkan kita. Ini memang termasuk kalimat yang sulit. Bagaimana mungkin, Yesus seolah menantang kita untuk membenci keluarga kita, bahkan diri kita sendiri? Untuk menafsirkan ayat-ayat sulit seperti ini, berlaku prinsip “Scripture intepret scripture” (Alkitab menafsirkan Alkitab). Kita harus membaca ayat-ayat Alkitab lain yang dapat memperjelas pemahaman kita tentang satu ayat yang sulit ini.

Di dalam ayat-ayat lain kita diajarkan oleh Tuhan bahwa:

a. Orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh dan tidak memiliki hidup kekal dalam dirinya (1 Yohanes 3:15).

b. Orang yang membenci saudaranya padahal ia mengaku mencintai Allah adalah seorang pendusta (1 Yohanes 4:20).

c. Yesus mengajarkan untuk mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Matius 22:39).

d. Yesus mengajarkan untuk mengasihi bahkan musuh-musuh kita (Matius 5:43-44).

Jadi, Yesus tidak menghendaki kita membenci sesama kita. Lalu mengapa di tempat lain Dia mengajarkan bahwa jikalau kita tidak membenci keluarga kita dan diri kita sendiri, maka kita tidak layak menjadi muridNya? Apakah Yesus bertentangan dengan diriNya sendiri? Dari ayat-ayat lain yang sudah kita baca, jelas bahwa Yesus tidak menghendaki kita membenci sesama dan diri sendiri. Ini berarti, tantangan untuk “membenci” dalam Lukas 14:26 tentu memiliki makna yang berbeda.

Syukurlah ada Matius 10:37-38 yang memperjelas bagi kita, apa maksud Lukas 14:26. Yesus mengajarkan, “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Jadi ada penekanan “lebih dari pada-Ku.” Dengan kata lain, melalui Lukas 14:26, Yesus hendak mengajar kita untuk lebih mencintai Yesus lebih dari segala sesuatu yang lain.

Hidup kemuridan berarti mencintai Yesus lebih dari segala sesuatu lainnya. Bukan berarti kita harus benar-benar membenci keluarga dan diri kita sendiri, tetapi maksudnya adalah kita harus mengasihi keluarga dan diri kita pada tempatnya, dan harus lebih mencintai Yesus daripada mencintai keluarga dan diri sendiri. Ini artinya, jika keluarga atau diri kita mengarahkan kita untuk hidup melanggar perintah Tuhan, kita harus memilih untuk lebih mencintai Tuhan.

Mencintai Yesus lebih dari segalanya juga bukan berarti bahwa kita mengabaikan kepentingan keluarga kita demi alasan “pelayanan.” Jangan sampai kita mengalami pengalaman seorang pendiri lembaga misi Kristen yang mengabaikan keluarganya, sampai akhirnya salah seorang anaknya bunuh diri tanpa perhatian dari seorang ayah Kristen yang baik. Sekali lagi, mencintai Yesus lebih dari segalanya maksudnya adalah mencintai keluarga dan diri kita pada tempatnya, dan jika keluarga atau diri kita mengarahkan kita untuk hidup melanggar perintah Tuhan, kita harus memilih untuk lebih mencintai Tuhan.

2. Hidup kemuridan berarti rela menderita bagi Yesus.
Salib adalah lambang penderitaan. Dan hidup kemuridan berarti hidup yang berani menderita bersama Kristus di tengah-tengah dunia yang sudah rusak oleh dosa ini.

Apakah maksudnya hidup menderita demi Kristus? Apakah kita semua harus meniru tokoh Simeon Stylites (tahun 388–459 Masehi di Siria) yang menderita bagi Kristus dengan cara hidup di sebuah pilar setinggi 1,8 meter. Namun tidak lama, ia membangun pilar yang lebih tinggi sebagai tempat tinggal permanennya, yaitu setinggi 18 meter dari atas permukaan tanah. Di atas tiang itu, Simeon membuat pagar dan mengikatkan dirinya dengan seutas tambang supaya ia tidak jatuh ketika tertidur. Tambang itu berangsur-angsur tertanam dalam dagingnya, membusuk, dan dikerumuni cacing. Saat cacing-cacing jatuh dari barah lukanya, Simeon memungutnya dan memakannya. Ia tinggal di tiang itu selama tiga puluh tahun. Apakah menderita bagi Kristus harus selalu seperti ini?

Simeon Stylite

Hidup kemuridan yang rela menderita berarti hidup kemuridan yang berdisiplin (kata Inggris untuk murid adalah disciple, yang berakar kata sama dengan kata discipline atau disiplin). Menjadi murid berarti hidup dalam disiplin. Mengutip pandangan Tom Yeakley, seorang staf Para Navigator yang pernah melayani di Indonesia, disiplin yang dimaksud disini adalah mengatakan “tidak” untuk hal-hal baik, demi mengatakan “ya” bagi hal-hal yang terbaik. Atau kalau dalam bahasa Alkitab, menyangkal diri (mengatakan “tidak” untuk hal-hal baik) dan memikul salib (mengatakan “ya” demi hal yang terbaik).

Dalam Lukas 14:28-32, Yesus memberikan dua perumpamaan, yaitu:

a. Perumpamaan tentang seseorang yang harus berhitung untuk membangun menara.

b. Perumpamaan tentang seseorang yang harus menimbang-nimbang untuk pergi berperang.

Maksud dari dua perumpamaan ini adalah memberi peringatan kepada setiap kita, karena hidup kemuridan adalah hidup yang menuntut kita rela menderita demi Kristus, maka kita harus mempertimbangkan baik-baik, akankah kita hendak menjadi hidup kemuridan ini? Ataukah kita akan suam-suam (Kata Latin: Mediocre) ? Menurut Tom Yeakley,

Tom Yeakley

istilah “suam-suam” memiliki makna “setengah jalan” dan “gunung.” Jadi, suam-suam artinya mencapai setengah jalan dalam mendaki gunung. Akankah kita menjadi seorang mediocre? Akankah kita menjadi suam-suam? Mendaki gunung kemuridan tetapi hanya mencapai setengah jalannya saja? Ataukah kita hendak setia sampai akhir? Pertimbangkan baik-baik!

3. Hidup kemuridan berarti mempercayakan hidup kita kepada Kristus.
Orang yang dengan pertimbangan baik-baik mengambil keputusan untuk mengikut Yesus, harus belajar mempercayakan hidupnya kepada Kristus. Percaya bahwa Kristus yang akan mencukupi segala kebutuhannya, dan akan memelihara kehidupannya.

Apa maksudnya “melepaskan segala miliknya”? Apakah ini selalu berarti kita harus menjual seluruh harta benda kita? Mempercayakan seluruh hidup kita kepada Kristus maksudnya adalah hati kita tidaklah boleh terikat kepada harta benda atau elemen-elemen dunia yang sementara, melainkan harus mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Kristus.

Yesus lalu memberikan perumpamaan tentang garam. Tom Yeakley (dalam bukletnya: Living for the World to Come atau Makin Siap, Makin Mantap: Antisipasi Menghadapi Masa Depan) menjelaskan tentang bagian ini sebagai berikut, “Garam yang disebutkanNya di sini bukanlah garam meja, tetapi semacam garam berupa campuran beberapa macam mineral. Ini digunakan sebagai pupuk di ladang atau dalam timbunan kompos untuk mempercepat proses pembusukan. Kalau campuran mineral ini basah, mineral-mineralnya yang berharga akan larut dalam air, dan meninggalkan hanya sebongkah butiran seperti kerikil yang tidak berharga lagi. Maksud Tuhan Yesus ialah mengingatkan bahwa kita diselamatkan supaya menjadi murid-muridNya selama kita masih punya waktu di dunia ini. Bila kita tidak memenuhi tujuan yang sudah dimaksudkan bagi kita itu, kita tidak berguna.

Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div., Manokwari, 22 Februari 2015

Lukas 5:27–32. Panggilan dan Pertobatan Lewi

Posted on


Nats: Lukas 5:27-32. Panggilan dan Pertobatan Lewi
Oleh: Sdr. Tommy Lengkong

Entah kapan, Sdr. Tommy Lengkong berkotbah dari Luk.5:27–32. Ia mengungkapkan tentang penyebab perubahan Lewi: Panggilan Allah untuk hidup bagi Dia (effectual calling). “Ikutlah Aku!” kata Yesus kepada Lewi. Roma 8:30 menyatakan, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Surat 1 Kor.1:9 juga menyatakan, “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.”

Ayat 28 menunjukkan keputusan untuk menanggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Darimana munculnya keputusan ini? Allahlah yang berinisiatif mengubahkan hati orang berdosa. Yehezkiel 36:26–27 mencatat, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Beliau juga menjelaskan pengertian “iman”:
1. Pengetahuan tentang Injil (notitia).
2. Persetujuan tentang Injil (assensus).
3. Komitmen dalam hidup untuk menghidupi Injil (fiducia).
Beliau lalu mengatakan, “mulai dari kesadaran akan dosa, itulah pertobatan.”

(Disampaikan tahun 2005 [?])

Lukas 18:9-14. Dua Respon yang Berbeda

Posted on Updated on


Nats: Lukas 18:9-14. Dua Respon yang Berbeda
Oleh: Sdri. Yen Sin.

Rekanku Yen Sin berkotbah di chapel pagi, dan men-share-kan Lukas 18:9–14. Yen Sin menjabarkan bahwa ada dua hal tentang meresponi Allah:

1. Persamaan: Obyek yang sama; ke tempat yang sama; dan Allah yang sama
2. Perbedaan:

(a). Ahli Taurat:
(1). Datang dengan percaya/puas diri;
(2). Datang dengan perasaan layak/sombong, serta membandingkan diri dengan sesamanya; dan
(3). mengeluarkan kata-kata sembrono dan memandang rendah oranglain;

(b). Pemungut cukai:
(1). Datang dengan hati yang gelisah dan menyesal;
(2). Tidak layak, serta membandingkan diri dengan Allah sendiri; dan
(3). Mengeluarkan kata-kata hormat.

Bahan evaluasi kita:
– Kehidupan spiritual sejati, membawa kita semakin mengenal Allah. Perhatikan bahwa orang Farisi mengeluarkan kata “aku”, hingga lima kali. Ia justru sedang mempraktekkan, “religious activities that devide us from God.
– Kehidupan spiritual sejati, membuat kita semakin humble.
– Sebagai ilustrasi, ada pertanyaan, “have you ever pray for her?” Seorang theolog mengatakan:
– Tidak ada orang yang berbangga, dapat berdoa.
– Tidak ada orang yang mencela oranglain, dapat berdoa.
– Doa yang sejati adalah bagaimana kita menempatkan hidup kita di samping Allah. Tanyakan pada dirimu: Adakah aku sebaik Allah?
– Kehidupan spiritual sejati, semakin membuat kita sadar akan anugerah Allah.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel Pagi STTRI Indonesia, Rabu/19 Januari 2005)

Lukas 14:25-35. Beri yang Terbaik

Posted on Updated on


Nats: Lukas 14:25-35. Beri yang Terbaik
Oleh: Sdr. Dandung

Pada intinya Mas Dandung hendak mengajarkan agar kita untuk memberikan yang terbaik kepada Kristus. Letakkan Kristus di pusat untuk mengendalikan sisi lemah kita. Kristus adalah penyeimbang. Di dalam Kristus, kita menemukan ukuran/standar yang benar.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel Pagi STTRI Indonesia, Rabu/12 Januari 2005)

Lukas 2:8-20. Damai Sejahtera para Gembala

Posted on Updated on


Nats: Lukas 2:8-20. Damai Sejahtera para Gembala
Oleh
:

Dalam Ibadah II Minggu di Gereja Kristus Cibinong, dikotbahkan Lukas 2:8–20 dan Efesus 2:14–18. Diawal kotbah, pengkotbah memberikan ilustrasi tentang Kaisar Agustus yang tidak bisa tidur nyenyak, sedangkan seorang pedagang yang sedang pailit malah tidur dengan nyenyak sekali. Kaisar kemudian berusaha membeli ranjang pedagang itu. Ini ilustrasi yang menggambarkan betapa orang mengejar damai sejahtera.

Bagi kita, bagaimana mendapatkan damai sejahtera? Kristus. Di zaman Perjanjian Lama, pekerjaan gembala dianggap sangat penting. Raja Daud dulunya adalah gembala. Namun di zaman Perjanjian Baru, pekerjaan gembala dipandang rendah. Salah satu perendahan mereka adalah bahwa di pengadilan mereka tidak bisa bersaksi. Namun kepada mereka, malaikat memberitakan berita damai sejahtera.

(Disampaikan pada Ibadah II Minggu Gereja Kristus Jemaat Cibinong, Minggu/26 Desember 2004)

Lukas 11:27-28. Berbahagia karena Firman Allah

Posted on Updated on


Nats: Lukas 11:27-28. Berbahagia karena Firman Allah
Oleh: Bpk. Chandra

Pak Chandra mengkotbahkan dari Lukas 11:27–28. Sebagai ilustrasi awal diceritakan bahwa ikan mas habitatnya di air. Saat dibiarkan kekeringan di darat, ia kemudian disiram dengan air, dan ia langsung menggelepar. Seolah ia mau berkata, “Aku baru sadar air itu berharga/membahagiakan sekali.” Apakah ini menjadi gambaran kita, yang menerima limpahan Firman Tuhan, namun tidak berbahagia di dalamnya?

Pak Chandra menceritakan bahwa ada tiga orang RRC tumbuh di kampung. Orang pertama adalah pejabat baik; orang kedua adalah mahaguru baik; dan orang ketiga adalah petani biasa. Mereka suka filsafat dan suatu hari berkumpul. Sang pejabat ingin cangkir porselen dengan teh yang wangi dan seekor kuda. Sang mahaguru ingin cangkir coklat manis dan mata yang baik. Sedangkan petani, ingin yang biasanya tetap ada. Kemudian terjadi gempa berkekuatan delapan skala richter. Akibatnya, seekor kuda mati dan sebuah cangkir teh pecah. Sebuah mata cacat dan sebuah cangkir coklat pecah. Sedangkan bagi si petani, yang biasa-biasa tiap hari masih ada. Ini mengajarkan kita untuk bersyukur dan berbahagia untuk hal-hal yang biasa. Biarlah kita memfokuskan diri kepada Firman Allah.

(Disampaikan dalam Ibadah Chapel pagi STTRII, Rabu/3 November 2004)

Lukas 16:10. Karakteristik Orang yang Dapat Diandalkan

Posted on Updated on


Nats: Lukas 16:10
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Berikut ini adalah pengembangan materi Pengembangan Karakter (Character Building) yang telah disiapkan oleh Ev. Evi. Topik yang kita bahas adalah tentang ‘karakteristik orang yang dapat diandalkan’, dan melalui materi ini saya mengajak kita belajar dari beberapa tokoh Alkitab, dan meneladani mereka terkait sikap ‘dapat diandalkan’.

Kemarin saya melalaikan tugas saya di Kelas Yohanes (kelas untuk anak-anak yang tinggal di lingkungan sekitar gereja) untuk mengajar Bahasa Inggris. Sore hari, ketika pelaksanaan kelas itu hampir berlangsung, saya ditelepon oleh ibu koordinator Kelas Yohanes. Waktu itu posisi saya sudah ada di tempat tinggal isteri saya yang terletak 26 km dari gereja, dan sedang bersiap bersama isteri saya untuk mengunjungi anggota jemaat yang sakit. Mengingat jarak yang jauh itu, tidak mungkin saya bisa datang mengajar di Kelas Yohanes tepat waktu.

Isteri saya menegur saya agar lain kali lebih teliti dengan jadwal. Saya merasa bertanggungjawab, karena itu saya berpikir-pikir, apa yang harus saya lakukan. Saya pun teringat dengan rekan guru saya, Pak Pical, yang biasanya mengajar Matematika. Lalu saya menelepon beliau, dan meminta tolong kepada beliau untuk bertukar jadwal dengan saya. Beliau menyanggupi, saya dan isteri pun lega, karena setidaknya saya telah berusaha bertanggungjawab untuk tidak membiarkan kelas itu kosong. Dalam kasus ini, Pak Pical menunjukkan sikap ‘sangat dapat diandalkan’.

Berikut ini beberapa karakteristik sikap yang dapat diandalkan beserta tokoh-tokoh –yang menurut pikiran saya– dapat kita teladani:

1. Selaras dengan hati dan pikiran Allah.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Imam Zadok. Dalam 1 Samuel 2:35 kita membaca Firman TUHAN melawan keluarga Imam Eli, “Dan Aku (TUHAN) akan mengangkat bagiKu seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hatiKu dan jiwaKu”. Imam kepercayaan yang dimaksud dalam ayat ini, di kemudian hari digenapi dalam pribadi imam Zadok. Ia adalah imam yang melayani di masa Daud (lihat 2 Samuel 8:17; 15:24, 35; 20:25). Di masa Raja Salomo, Zadok menggantikan Abyatar menjadi Imam Besar (lihat 1 Raja-raja 2:35; 1 Tawarikh 29:22). Kepada Zadok yang setia, TUHAN berjanji untuk membangunkan baginya sebuah keluarga/dinasti imamat yang bertahan/setia.

Dalam realitanya, TUHAN menggenapi janjiNya kepada Zadok ini. Garis keimaman Zadok diteruskan oleh anaknya, Azarya (lihat 1 Raj. 4:2), dan tetap bertahan dalam pemandangan sejarah pada masa pembuangan dan kembalinya umat Allah dari pembuangan (lihat 1 Taw. 6:8-15; Ezra 3:2). Garis keimaman itu terus berlanjut pada periode intertestamental (antara Perjanjian Lama hingga masa Perjanjian Baru). Di masa intertestamental ini, seorang tokoh anti-Kristus bernama Antiokhus IV Epifanes (175-164 SM) menjual jabatan keimaman itu kepada Menelaus (dapat dibaca dalam Kitab Apokrifa, yaitu 2 Makabe 4:23-50). Sebagai catatan, Menelaus ini bukan berasal dari garis imam.

Alkitab menggambarkan Zadok sebagai tokoh yang dapat diandalkan karena hidup selaras dengan hati dan pikiran Allah. Meskipun Zadok hidup jauh sebelum zaman Nabi Yesaya, namun nampaknya ia telah hidup mencerminkan sikap orang yang memahami Firman ini, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganMu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah Firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu” (Yesaya 55:8, 9). Orang-orang yang dapat diandalkan adalah orang-orang yang mengikuti rancangan dan jalan-jalan TUHAN; orang yang seperti Zadok, berlaku sesuai hati dan jiwa TUHAN.

Orang-orang yang mengikuti rancangan dan jalan-jalan TUHAN ini, akan bergembira terutama karena TUHAN, dan bukan hanya karena perkara-perkara yang sementara. Tapi paradoksnya, justru ketika kita bergembira karena TUHAN, hal-hal yang kita inginkan itu justru mengikuti (tentu karena telah terlebih dahulu diluruskan oleh TUHAN). Mazmur 37:4 menjadi janji TUHAN bagi kita yang hidup selaras dengan hati dan pikiran Allah, seperti Zadok, “dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”

2. Memiliki rasa hormat yang besar kepada Allah.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Panglima Benteng, Hananya. Kisahnya bermula dari tokoh Nehemia, yang sebagai juru minum Raja Arthasasta I (Artaxerxes I), diijinkan oleh raja untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kembali reruntuhan Yerusalem. Nehemia bersama beberapa orang Israel pun kembali Yerusalem dan berjuang membangun kembali tembok-tembok dan pintu-pintu gerbang Yerusalem.

Setelah pembangun tembok dan pintu-pintu gerbangnya terselesaikan, Nehemia lalu mempercayakan pengawasan atas Yerusalem kepada Hanani, saudaranya, dan juga kepada Hananya, panglima benteng yang dapat dipercaya (berintegritas) dan takut akan TUHAN, melebihi yang kebanyakan oranglain lakukan. Demikian Nehemia 7:2 mencatat pesan Nehemia, “Pengawasan atas Yerusalem aku serahkan kepada Hanani, saudaraku, dan kepada Hananya, panglima benteng, karena dia seorang yang dapat dipercaya dan yang takut akan Allah lebih dari pada orang-orang lain.”

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang berintegritas dan takut akan TUHAN melebihi yang kebanyakan oranglain lakukan. Orang yang dapat diandalkan adalah orang seperti Hananya, si Panglima Benteng.

3. Setia dalam perkara-perkara yang kecil juga dalam perkara-perkara yang besar.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Hamba-hamba yang setia. Dalam Lukas 16:10, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Dalam Lukas 19:17 dan Matius 25:21, peringatan serupa juga Yesus ucapkan ketika menyampaikan perumpamaan tentang hamba-hamba yang setia dan hamba yang jahat.

Hamba-hamba yang setia, mengelola dan mengembangkan apa yang tuannya percayakan. Seberapa pun yang tuannya percayakan, bahkan meskipun hanya satu mina (ukuran berat yang kira-kira setara dengan 0,6 kg) atau bahkan dua talenta (ukuran berat yang kira-kira setara dengan 68 kg atau jumlah uang yang besarnya kira-kira setara dengan upah pekerja harian dalam satu hari dikalikan 6000), mereka tetap mengelolanya dan mengembangkannya.

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang setia dalam perkara-perkara yang dipercayakan kepadanya. Bahkan dimulai dari perkara-perkara yang kecil, orang yang dapat diandalkan akan setia untuk mengelolanya.

4. Memiliki sikap hati yang setia.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Abraham. Nehemia 9:8 mencatat kesaksian bahwa Abraham adalah orang yang, “Engkau (TUHAN) dapati bahwa hatinya setia terhadapMu dan Engkau mengikat perjanjian dengan dia”. Orang yang dapat diandalkan memiliki sikap hati yang setia seperti Abraham.

5. Menjaga rahasia.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Ketiganya telah diajak oleh Yesus untuk naik ke sebuah gunung. Dan di gunung itu, Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan (transfigurasi), ditemani oleh Musa dan Elia. Lalu turunlah awan dan dari awan itu terdengar suara keras, “Inilah AnakKu yang telah Kupilih, dengarkanlah Dia” (Lukas 9:35). Apa yang kemudian terjadi, “Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu” (Lukas 9:36). Mengapa mereka merahasiakannya?

Para murid Yesus merahasiakan hal itu, karena Yesus sendiri memerintahkan mereka! Dalam Matius 17:9 dicatat, “Pada waktu mereka turun dari gunung itu,Yesus berpesan kepada mereka: ‘Jangan kamu ceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati’” (Lihat juga Markus 9:9-10). Setelah kebangkitan Yesus dari antara orang mati, para murid pun kemudian memberitakan kepada semua orang apa yang telah mereka alami, karena karya Yesus yang sudah selesai akan mendemonstrasikan kebenaran dan kepenuhan karakterNya sebagai Mesias.

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang dapat menjaga rahasia, sampai pada saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Orang yang dapat diandalkan belajar mempraktekkan Amsal 9:13, “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara.

6. Tidak menceritakan kehebatan kepada oranglain.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Paulus. Dalam Amsal 20:6 dikatakan, “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” Dalam Kisah Para Rasul 20:17-38 dicatat kisah perpisahan yang mengharukan antara Paulus dengan para penatua Efesus. Dalam kata-kata perpisahannya, kita membaca kalimat-kalimat seolah-olah Paulus menceritakan kehebatan pelayanan yang telah dilakukannya selama ini, kepada para penatua.

Namun kalau kita berusaha meneliti dan merasakan konteks situasi saat itu, kita dapat memahami bahwa penekanan Paulus adalah untuk memberi pertanggungjawaban kepada para penatua (sebagai wakil jemaat) bahwa Paulus “tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah” kepada jemaat (ayat 27). Paulus menulis, “aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu” (ayat 20). Artinya, Paulus telah setia sampai akhir dalam melaksanakan tanggungjawabnya untuk memberitakan Injil dan membangun jemaat TUHAN. Jadi Paulus tidak bermaksud menceritakan kehebatan pelayanannya selama ini, melainkan memberikan pertanggungjawaban.

Selain itu, melalui kesaksian terakhirnya, Paulus juga bermaksud meninggalkan teladan. Dalam ayat 35 dicatat kalimat Paulus, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu….” Jadi ia tidak bermaksud memamerkan kehebatan pelayanannya selama ini. Yang ia lakukan adalah untuk memberikan teladan.

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang setia dengan panggilan TUHAN atas hidupnya, dan dapat memberi pertanggungjawaban serta teladan untuk ditiru. Orang yang dapat diandalkan bukanlah orang yang hanya bisanya sesumbar menceritakan kehebatan dirinya kepada oranglain tanpa bukti pertanggungjawaban dan keteladanan.

7. Menyegarkan hati orang yang dilayaninya.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah pesuruh yang setia. Amsal 25:13 mencatat, “Seperti sejuk salju di musim panen, demikianlah pesuruh yang setia bagi orang-orang yang menyuruhnya. Ia menyegarkan hati tuan-tuannya.” Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang menyegarkan hati tuannya seperti pesuruh yang setia itu.

8. Tidak bercela dalam pekerjaannya.

Tokoh yang dapat kita teladani adalah Daniel. Dalam Daniel 6:5 dicatat, “Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapatkan alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya”. Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang tidak bercela dalam pekerjaannya.

9. Menangani dengan Bijak Setiap Sumber Daya dan Hubungan.

Tokoh yang sikapnya dapat kita teladani adalah Bendahara tidak jujur yang cerdik. Dalam Lukas 16:1-9 dicatat kisah tentang bendahara tidak jujur yang cerdik itu. Dia tahu bahwa di masa-masa yang akan datang dia akan menghadapi kesulitan karena relasinya dengan atasannya buruk. Karena itu, dia menangani dengan bijak setiap sumber daya dan hubungan yang ada, supaya di masa depan dia dapat memperoleh apa yang baik dari sumber daya dan hubungan itu.

Bendahara tidak jujur yang cerdik itu melunasi semua hutang dari orang-orang yang berhutang kepada tuannya dengan membayari hutang mereka, tapi ia membuat orang-orang itu kini berhutang kepada dirinya dengan angka yang lebih kecil (artinya, tidak hanya berhutang uang, tapi juga berhutang budi karena hutang mereka telah di-discount). Tujuan si bendahara tidak jujur yang cerdik ini adalah, agar ketika ia benar-benar dipecat tuannya, ia memiliki kolega-kolega “yang akan menampung aku di rumah mereka” (ayat 4).

Orang yang dapat diandalkan adalah orang yang dapat menangani dengan bijak setiap sumber daya dan hubungan demi kesejahteraan hidup di masa depan. Orang yang dapat diandalkan tidak boleh bersikap tidak jujur seperti bendahara itu, tapi harus meneladani sikap cerdiknya dalam mengantisipasi kemungkinan buruk di masa depan.

(Disampaikan dalam bentuk kuis tebak tokoh dalam Persekutuan Doa Pagi Guru Unit TKK Kristen Kalam Kudus Jayapura, Kamis/11 April 2013)