0

Bilangan 11 & Mazmur 106:14-15. Sisi Gelap Jawaban Doa


Nats: Mazmur 106:14-15. Sisi Gelap Jawaban Doa
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, S.Sos.

Penyampaian Firman perdanaku kulakukan dalam Persekutuan Sopir Gereja dan Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura. Temanya kuambil dari Bilangan 11 dan Mazmur 106:14–15, yaitu tentang “sisi gelap jawaban doa”. Sebagai pengantar, aku mengilustrasikan jawaban doa seperti dua sisi koin, bisa merupakan “berkat Allah”, namun bisa juga merupakan “hukuman Allah”. Aku jadi teringat C.S. Lewis pernah menyatakan, ada orang yang kepada Tuhan berkata “KehendakMu yang jadi”, namun ada pula orang yang kepadanya Tuhan berkata, “kehendakmu yang jadi.”

Dalam Bilangan 11:4 dicatat bahwa diantara orang Israel “orang-orang bajingan” (bahasa Ibrani: Asapsup, yang berarti ‘orang-orang asing’) mulai kemasukan nafsu rakus. Mereka merengek-rengek minta makan kepada Tuhan. Tuhan menjawab mereka sebagaimana dicatat dalam ayat 19 dan 20, yaitu bahwa mereka akan makan daging, “Bukan hanya satu hari kamu akan memakannya, bukan dua hari, bukan lima hari, bukan 10 hari, bukan 20 hari, tetapi genap sebulan lamanya, sampai keluar dari dalam hidungmu dan sampai kamu muak–karena kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu dan menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?” Ayat 32 mencatat bagaimana dengan rakusnya seluruh bangsa itu mulai mengumpulkan daging burung puyuh hingga masing-masing mendapatkan 10 homer. Jika 1 homer = 360 liter, berarti 10 homer = 3600 liter. Berapa ukuran tangki truk pengangkut bensin atau minyak tanah, ya?

Bilangan 11 dan Mazmur 106:14 – 15 telah menjadi sebuah catatan, bagaimana sebuah jawaban doa ternyata bisa jadi merupakan hukuman dari Tuhan.

(Disampaikan pada Persekutuan Sopir Gereja dan Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura, Kamis/13 Maret 2008)

Iklan
0

Matius 7:7-11. Tiga Pelajaran tentang Doa


Nats: Matius 7:7-11. Tiga Pelajaran tentang Doa
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, S.Sos.

Dari nats ini aku menarik tiga pelajaran:
1. Berdoa dengan tekun.
2. Dilakukan dalam pengenalan akan kehendak Allah. Artinya: Berdoa sesuai sifat-sifat Allah.
3. Allah memberi yang baik, bdk. dengan Lukas 11:13. Yang baik itu adalah Roh Kudus. So, kita perlu Roh Kudus untuk bisa berdoa dengan tekun dan sesuai dengan sifat-sifat Allah.

(Disampaikan pada Persekutuan Doa Pagi Jemaat di GKI Temanggung, Jawa Tengah, Selasa/31 Mei 2005)

0

Keluaran 17:8-16. Hasil Akhir Doa


Nats: Keluaran 17:8-16. Hasil Akhir Doa.
Oleh: Sdri. Ling-ling.

Entah kapan, Ci Ling-ling berkotbah dari Keluaran 17:8–16. Sebagai ilustrasi awal, dia menyinggung soal film The Lord of The Ring. Ada dua pihak yang perang: Sauron versus aliansi manusia – peri (The fellowship of the Ring). Dalam kehidupan Israel, Israel pernah perang melawan Amalek. Dan ada dua pihak yang bertempur disana: Yosua & pasukan Israel versus Pasukan Amalek, dan ada tokoh yang muncul disana: Musa, Harun, dan Hur.

Menurut Kej.36:12, “Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau,” Amalek adalah cucu Esau. Dan Bilangan 24:20, Amalek adalah bangsa pertama yang melawan Israel, “Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.” Amalek memerangi Israel karena ingin merebut sumber air.

Dalam kasus Musa, Harun, dan Hur, Mazmur 28:2 menyebutkan, “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.” Jadi “mengangkat tangan” adalah ekspresi doa. Komunikasi Musa dengan Allah-lah yang menjadi penentu kemenangan pertempuran secara jasmaniah.

Hal terpenting dalam pergumulan doa kita adalah “Pengenalan akan Allah yang semakin dalam.” Dalam pergumulan doa Musa, kita melihat: Ketergantungan Musa yang mutlak kepada Allah. Bukti penyertaan kuasa Allah adalah tongkat.

Mengapa Musa tidak ikut berperang? Karena karakter pertempuran itu. Pertempuran itu adalah pertempuran dimana Allah sendiri yang berperang melawan Amalek (Ul.25:17–19; Kel.17:14). Amalek jelas-jelas memberontak kepada Allah, sehingga Allah-lah yang berperang. Sehingga Musa naik ke bukit, dan berdoa, dan bukannya membuat mujizat langsung dari tongkat. Hasil doa Musa, Allah dikenal sebagai Jehovah Nissi (Tuhan panji-panji Israel). Satu-satunya tempat dalam Alkitab dimana Tuhan disebut sebagai Jehovah Nissi.

Jehovah Nissi menunjukkan bahwa ketika Israel melangkah menuju Kanaan, Tuhan menyertai. Tuhan menjadi “penunjuk arah” bagi umatNya. Dari pergumulan doa Musa, kita belajar bahwa hasil terakhir dan tertinggi dari pergumulan doa kita adalah “pengenalan akan Allah”.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel STTRI Indonesia, 2005 [?]).

0

Matius 6:9b–13. Empat Syarat Doa John Calvin dan Doa yang Diajarkan Tuhan Yesus


Nats: Matius 6:9b–13
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Slide1

Saya akan membagikan kepada Bapak/Ibu/Saudara pandangan seorang tokoh Reformasi Gereja abad pertengahan bernama John Calvin tentang doa, lalu mencoba mengaitkan pandangan-pandangan Calvin dengan Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9b–13.

Slide2

John Calvin yang lahir pada tahun 1509 di Perancis, bertobat pada usia sekitar 23 tahun. Dan pada usia yang masih muda itu, ia menjadi terkenal karena menulis satu buku berjudul Institutes of the Christian Religion atau kita sering menyebutnya sebagai institutio saja. Awalnya hanya berwujud buku yang tipis saja, tapi lama-kelamaan menjadi dua jilid buku yang tebal sekali.

Jangan berpikir bahwa buku tebal karya Calvin adalah rangkaian teori-teori agamawi atau doktrin-doktrin Kristen yang sulit dimengerti. Sebaliknya, Calvin menyebut bukunya itu sebagai ‘Sebuah Ringkasan Kesalehan’ (A Sum of Piety). Ketika Calvin menulis bukunya ini, kesalehan adalah suatu perkara yang paling mendominasi pikiran Calvin.

Menurut seorang penulis bernama Mark Shaw, Calvin mengajarkan bahwa agar doa kita efektif, kita perlu memiliki empat syarat, dan saya akan mengaitkannya dengan Doa Bapa Kami. Mungkin istilah yang lebih tepat adalah ‘doa yang diajarkan Tuhan Yesus’ atau ‘doa para murid’, mengingat doa ini menjadi model atau pola doa dari para murid Yesus:

Slide3

1. Syarat pertama: Penghormatan kepada Allah.

Di dalam Matius 6:9b-10 kita membaca “Bapa Kami yang di sorga.” Kita diajar untuk menyebut Allah sebagai Bapa! Sebetulnya, dari sejak zaman kuno, sebutan Bapa untuk dewa atau ilah bukan khas milik orang Kristen saja. Namun demikian, ketika disini Tuhan Yesus mengajar kita untuk memanggil Dia sebagai Bapa, Ia hendak menekankan adanya relasi yang istimewa antara kita dengan Allah. Kita dipandang sebagai anak-anakNya, dan Ia mau menjadi Bapa kita. Ada sebuah relasi yang menuntun kita untuk memiliki suatu perasaan kagum kepada Dia.

Namun selain kekaguman, sikap apa lagi yang layak diterima seorang Bapa manusia? Penghormatan dari anggota keluarganya. Apabila kita sebagai manusia, wajib menghormati Bapa manusiawi kita, terlebih lagi kepada Allah kita. Apalagi dinyatakan dalam ‘doa para murid’ bahwa Ia ada di sorga. Allah begitu berbeda dari kita! Ia adalah Allah yang Transenden. Ia bertahta di sorga, sedangkan kita di bumi. Ia tak terbatas, sedangkan kita terbatas. Ia Mahakuasa, sedangkan kita mendapatkan kekuasaan daripadaNya.

Jadi tidak hanya kita kagum kepada Dia sebagai Bapa, tapi kita pun harus gentar kepada Dia karena Dia ada di sorga dan begitu berbeda dengan kita, dan jauh lebih tinggi melampaui kita dalam segala hal. Itu sebabnya, tepatlah sebutan yang diungkapkan oleh seseorang bernama Rudolph Otto, bahwa Allah itu ‘Mengagumkan sekaligus Menggetarkan.’ Disinilah kita belajar untuk menghormati Allah. Menghormati artinya kita kagum kepada Dia, namun sekaligus gentar kepada Dia; Kita mencintaiNya, namun itu tidak membuat kita bersikap kurang ajar kepada Dia.

Berikutnya, dalam ‘doa yang diajarkan Tuhan Yesus’ termuat tiga permintaan terkait dengan Allah yaitu, “(1) Dikuduskanlah namaMu, (2) datanglah KerajaanMu, (3) jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.” Melalui kalimat ini, bukan berarti kita membuat nama Tuhan menjadi kudus, namun sebaliknya kita mengenali namaNya sebagai nama yang kudus. Dan karena kita mengenal namaNya itu kudus, maka melalui kalimat “dikuduskanlah namaMu”, kita bermaksud menyatakan bahwa memang namaNya itu layak untuk disebut kudus dan layak untuk diperlakukan secara kudus (tidak sembarangan). Salah satu contoh menyia-nyiakan nama Tuhan adalah ketika kita menyebut, “Tuhan, Tuhan” dalam doa kita, namun kita tidak melakukan kehendakNya dalam kehidupan kita. Tuhan mengatakan bahwa pada waktunya, Tuhan akan mengatakan, “Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari padaKu, Kamu sekalian pembuat kejahatan” (Matius 7:21-23).

Dalam doa kita, kita juga harus menghormati Allah mengingat bahwa Dia-lah yang empunya Kerajaan Allah. Dari kalimat “datanglah KerajaanMu”, itu bukan berarti bahwa Kerajaan Allah itu belum datang. Melalui kehadiran Yesus di dunia, Kerajaan Allah itu telah ditegakkan (inaugurated), tapi belum sepenuhnya terwujud (not fully realized yet). Kerajaan Allah itu sudah datang (already), tapi belum (but not yet) terwujud sepenuhnya. Karena itu kita berdoa agar Kerajaan Allah itu segera terwujud sepenuhnya. Dan ketika Kerajaan Allah itu terwujud sepenuhnya, maka “jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga” pun akan terwujud sepenuhnya.

Semua kalimat doa ini mengajarkan kepada kita untuk menghormati Allah. Sekali lagi, karena Dia adalah Bapa kita; Dia ada di sorga; karena namaNya kudus dan layak diperlakukan kudus; karena Dia yang empunya Kerajaan Allah yang sudah datang dan akan terwujud sepenuhnya kelak; dan karena Dia yang empunya kehendak yang pasti terwujud di bumi, sebagaimana itu terjadi di sorga.

2. Syarat kedua: Kebutuhan yang tulus.

Di dalam Matius 6:11-13 kita membaca kalimat, “Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya; dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Melalui kalimat ini kita diajar untuk dengan tulus menyatakan kebutuhan kita. Jangan menganggap TUHAN akan direpotkan dengan permohonan-permohonan kita. Dia tahu kita membutuhkannya. Kalau bukan kepada TUHAN, kepada siapa lagi kita dapat meminta. Ataukah kita harus meminta kepada dukun? Tentu tidak bukan! TUHAN senang ketika kita, anak-anakNya, belajar bergantung kepadaNya, seperti seorang anak yang tulus bergantung kepada Bapa manusiawinya. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk menyatakan dengan tulus kebutuhan jasmani kita; juga kebutuhan emosi dan rohani kita yaitu, pengampunan dosa dan perlindungan dari pencobaan atau hal-hal jahat.

Secara sosial-kemasyarakatan (secara horizontal), semakin tinggi usia kita, kita dituntut untuk semakin mandiri (independen) dalam memenuhi kebutuhan nafkah kita; juga dituntut untuk lebih toleran kepada diri sendiri maupun oranglain (memiliki sikap mutual-dependency atau sikap saling bergantung dengan oranglain secara saling menguntungkan); dan dituntut untuk mampu menjaga diri sendiri. Secara sosial-kemasyarakatan (secara horizontal), memang sewajarnya kita harus demikian! Tapi secara rohani (secara vertikal) , sebagai anak-anak TUHAN, semakin tinggi usia kita, maka semakin kita seharusnya bergantung (dependen) kepada Bapa kita di sorga. Jadi secara sosial-kemasyarakatan (horizontal) kita harus semakin mandiri dan tidak bergantung ada bapa manusiawi kita, tapi secara rohani (vertikal) kita harus makin bergantung kepada Bapa kita di sorga.

Di dalam ketergantungan total kepada Allah Bapa kita di sorga, kita harus belajar menyatakan kebutuhan kita secara tulus kepada Allah. Tulus artinya apa-adanya. Tanpa ada udang di balik batu. Lagipula, berapa banyak udangkah yang dapat kita sembunyikan dari Allah? Tidak seekor pun. Jadi kita nyatakan apa-adanya kepada Allah apa yang menjadi kebutuhan kita, terkait kebutuhan jasmani; maupun kebutuhan emosi dan rohani seperti pengampunan dan perlindungan dari pencobaan.

3. Syarat ketiga: Roh Kerendahan hati dan pertobatan.

Matius 6:11-13 juga menuntut kita untuk berdoa dengan roh kerendahan hati dan pertobatan. Ketika memohon kepada Allah untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kita, kita sedang dengan rendah hati menyatakan kepada Allah bahwa kalau bukan Allah yang memenuhkannya, siapa lagi?! Kita juga dengan rendah hati menyatakan bahwa kalau pun saya bekerja dan mendapat uang atau nafkah daripadanya, itu semata-mata hanya saluran pemberian Tuhan belaka. Amsal 10:22, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Artinya, kalaupun Anda kerja keras, banting tulang, siang dan malam, tapi kalau Tuhan tidak memberkati, maka sia-sialah segala jerih payah kita. Itu sebabnya, kita dengan rendah hati tetap berdoa memohon Tuhan memenuhi kebutuhan kita. Semakin rajin kita bekerja; semakin rajin pula kita berdoa, supaya kerajinan kita tidak sia-sia karena kelewat batas!

Namun secara khusus pada ayat 12, kita diingatkan bahwa kerendahan hati yang harus kita miliki terutama terkait masalah pertobatan. Tuhan mengingatkan kita melalui doa yang diajarkannya bahwa kita memiliki kebutuhan terdalam, yaitu kebutuhan akan pengampunan. Pengampunan dosa itu menjadi sempurna nyata melalui pengorbanan Yesus di kayu salib untuk menggantikan kita menanggung murka Allah atas kita. Status kita sekarang bukanlah lagi orang-orang terhukum. Meski demikian, kita masih hidup di dunia, dan masih melakukan pelanggaran-pelanggaran. Dan atas pelanggaran-pelanggaran itu, kita masih harus tetap memohon ampun kepada Allah, namun statusnya bukan lagi sebagai orang hukuman, melainkan sebagai anak yang meminta ampun dari ayahnya (yang tetap akan menganggapnya sebagai anak dan tidak akan pernah membuangnya).

Jadi kita memohon ampun karena kita mengasihi dan menghormati Bapa kita di sorga. Dahulu ketika masih menjadi orang hukuman, bapa kita adalah iblis. Namun kini sebagai anak-anak Allah, bapa kita adalah Bapa kita di sorga. Dahulu kita bertobat dan mengalami perubahan status, tetapi kini di dalam status baru kita sebagai anak-anak Allah, kita tetap harus bertobat setiap hari memohon pengampunanNya karena kita tidak sempurna dalam mengasihi Dia.

4. Syarat keempat: Iman yang penuh keyakinan.

Matius 13 versi Lembaga Alkitab Indonesia mencantumkan kalimat, “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” Kalimat ini sebetulnya adalah sebuah kalimat pujian. LAI menuliskannya di dalam kurung, karena kalimat yang terakhir ini hanya ditemukan pada beberapa manuskrip yang terakhir ditemukan saja.

Melalui kalimat ini, Tuhan sedang mengajar kita untuk menyatakan iman yang penuh keyakinan dalam wujud pujian, yaitu bahwa karena Allahlah yang memiliki Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan selama-lamanya, maka kita layak menghormati Dia; maka kita pun sudah sewajarnya menyatakan dengan tulus kebutuhan kita kepadaNya dan Ia pasti akan menjawabNya sesuai waktu dan kehendakNya; dan bahwa kita memang sudah sepantasnya rendah hati karena hanya dari Dia saja kita beroleh pengampunan dosa. Inilah iman keyakinan yang harus kita miliki.

Dan diakhir kalimat pujian ini, dituliskan “Amin”, yang artinya “Pasti” atau “Sungguh benar”. Seorang dosen saya, R. Dean Anderson, yang berkebangsaan Belanda, menekankan bahwa kata “Amin” dalam Matius 6:13 ini diletakkan pada ‘akhir sebuah pujian’, bukan pada akhir sebuah doa. Dosen saya itu telah menulis sebuah artikel berbahasa Inggris, dan menjelaskan bahwa sebetulnya penggunaan kata “Amin” untuk mengakhiri sebuah doa, tidak Alkitabiah.

Dia menjelaskan panjang lebar tentang penggunaan kata “Amin” dalam Alkitab, misalnya sebagai peneguhan sebuah kutukan atau sebagai penutup sebuah surat atau cerita, dan sebagainya. Lalu bagaimana orang bisa tahu kapan suatu doa itu berakhir kalau tidak ada ‘kode’ “Amin” diucapkan? Dalam tulisannya ia menjelaskan bahwa pada zaman Alkitab, orang selalu berdoa dengan mata terbuka, sambil menengadahkan kepala ke langit dan mengangkat tangan ke atas. Sehingga ketika ia mengakhiri doanya, orang itu akan menurunkan tangannya, sehingga orang pun tahu kapan doa itu berakhir. Tapi sekarang ini, orang terbiasa berdoa dengan mata tertutup, sehingga perlu ada kode untuk tahu, kapan doanya selesai. Karena itu, untuk kepentingan praktis, orang kemudian menggunakan kata “Amin”.

Apabila kita mau Alkitabiah, ketika kita mengakhiri doa kita, kita tambahkan kalimat pujian kepada Allah lebih dahulu, misalnya “Haleluya” atau “terpujilah Engkau, ya, Tuhan” atau “sungguh mulia dan agung Engkau, ya, Allah”, barulah kemudian kita mengakhirinya dengan “Amin.” Jadi kata “amin” itu mengakhiri pujian, bukan mengakhiri doa. Dan pujian yang kita naikkan kepada Tuhan itu, mengekspresikan sebuah keyakinan iman. Iman yang penuh keyakinan inilah syarat keempat yang harus kita miliki ketika kita berdoa kepada Allah.

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi Getsemani, GK Kalam Kudus Jayapura, Sabtu/5 April 2013).

1

1 Korintus 10:11. Belajar dari Sejarah


Nats: 1 Korintus 10:11
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Surat 1 Korintus 10:11 mencatat perkataan, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba“. Apa yang ditunjuk dengan frasa “semuanya ini”? Semua peristiwa yang dicatat dalam ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-10), yaitu kisah Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir lalu menuntun mereka melintasi padang gurun menuju Tanah Perjanjian, tetapi umat Israel memberontak kepada TUHAN sehingga sebagian besar dari mereka binasa di padang gurung.

Apa yang terjadi di masa lalu, menjadi catatan sejarah sebagai contoh yang memberikan peringatan bagi umat Tuhan pada generasi-generasi berikutnya. Pada waktu Paulus menuliskan Surat 1 Korintus ini, ia menyadari bahwa zaman dia hidup adalah zaman akhir. Dan catatan sejarah menjadi sebuah peringatan bagi mereka yang hidup di zaman akhir. Apabila zaman Paulus sudah disebut zaman akhir, apalagi zaman kita sekarang ini! Zaman ini sudah lebih akhir lagi!

Kita yang hidup di zaman ini, harus belajar dari catatan-catatan sejarah dan kesaksian-kesaksian para pendahulu kita di dalam iman. Itu sebabnya mempelajari sejarah Alkitab dan sejarah gereja sangat penting! Ada orang yang kemudian lebih memilih untuk mempelajari Alkitab, tapi mengabaikan aspek sejarah, karena mereka berpikir, catatan sejarah atau tradisi adalah hasil karya manusia belaka. Tapi Charles Haddon Spurgeon, seorang Calvinis yang disebut sebagai “raja pengkotbah”, hidup dari tanggal 19 Juni 1834 – 31 Januari 1892 di Inggris, pernah menyatakan bahwa orang yang tidak mau membaca isi otak oranglain, menunjukkan bahwa dirinya sendiri tidak punya otak.

Kita semua mungkin pernah dengar tentang “kotak hitam”. Sebuah benda yang sebetulnya tidak berwarna hitam, yang terdapat di dalam pesawat komersil untuk merekam kinerja dan kondisi pesawat selama penerbangan; juga merekam percakapan awak pesawat dengan petugas pengendali lalu lintas udara yang ada di darat; bahkan dapat merekam pembicaraan di dalam kokpit pesawat itu sendiri. Ketika terjadi kecelakaan, misalnya, para regu penyelamat pasti mencari kotak hitam tersebut untuk menyelidiki, apa kira-kira penyebab kecelakaan tersebut. Ketika sudah mengetahuinya, pengetahuan itu tidak kemudian didokumentasikan untuk sekedar menjadi koleksi museum, tapi menjadi bahan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang masih ada, agar dilain waktu peristiwa serupa tidak terulang kembali.

Untuk hal-hal jasmaniah, manusia berupaya untuk tidak jatuh ke dalam lobang yang sama. Namun ironisnya, seringkali dalam perkara-perkara rohani, manusia menjadi seperti “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya” (2 Petrus 2:22).

Dalam perkara doa, misalnya. Tuhan Yesus pernah memperingatkan Petrus dan kedua muridNya yang lain, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Petrus dan kedua murid itu gagal memperhatikan peringatan Yesus. Akibatnya, mereka tidak dapat bertahan ketika pencobaan itu datang! Bagaimana dengan kita? Sementara kita menghadapi pencobaan-pencobaan dalam hidup ini, adakah kita “berdoa”? Ataukah kita cenderung mengandalkan diri kita sendiri?

Kita lebih cenderung mengandalkan diri kita sendiri. Karena sulit bagi kita untuk mempercayakan hidup kita kepada oranglain, termasuk kepada Tuhan yang tidak kelihatan. Seorang rohaniwan di GK Kalam Kudus Jayapura pernah mengkotbahkan tentang manusia yang lebih senang menggunakan sarana transportasi darat ketimbang naik pesawat. Mengapa? Karena meskipun angka kecelakaan di darat lebih tinggi, tapi ketika mengendarai kendaraan transportasi darat kita dapat mengendalikannya sendiri. Berbeda dengan naik pesawat dimana kita harus menyandarkan nasib kita kepada oranglain. Adalah lebih nyaman bagi kita untuk mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Namun disini kita belajar! Belajar dari kesalahan para pendahulu kita! Belajar dari sejarah! Belajar dari Simon Petrus dan kawan-kawan! Berdoalah! Berdoalah ketika menghadapi pencobaan! Jangan mengandalkan kekuatan kita sendiri.

(Dikotbahkan dalam Persekutuan Doa Pagi Getsemani GK Kalam Kudus Jayapura, Sabtu/16 Maret 2013)

0

Matius 26:36-46. Berdoa dan Hadapilah Tantangan!


Nats: Matius 26:36-46
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Bahan Diskusi hari ini saya ambil dari Santapan Harian. Taman Getsemani adalah taman di mana pergumulan Tuhan Yesus untuk menerima cawan pahit hukuman Allah atas dosa mencapai puncaknya. Keputusan “YA” atau “TIDAK” dari Tuhan Yesus untuk meminum dari cawan itu akan menentukan apakah anugerah pengampunan dosa akan dicurahkan.

Di sisi lain kita prihatin menemukan para murid justru terlena, tidak sanggup bersyafaat bahkan untuk kesiagaan mereka sendiri bersama pergumulanNya. Apa yang bisa diharapkan dari mereka?

Apa saja yang Anda baca? Apa yang hendak Tuhan Yesus lakukan di taman Getsemani? Berdoa (ayat 36). Apa perasaan Yesus saat itu yang terungkap dalam doa-doaNya? Ia merasa sedih dan gentar; bahkan sangat sedih, seperti mau mati rasanya; Kalau boleh Ia menghendaki cawan itu tidak Ia terima, tapi Ia mau taat kepada BapaNya. Berapa kalikah doa yang sama itu diungkapkan? Tiga kali. Siapa yang Yesus ajak untuk menemaniNya berdoa? Simon Petrus dan kedua anak Zebedeus, yaitu Yohanes dan Yakobus (ayat 37). Apakah yang mereka lakukan saat menemani Yesus? Tidur (ayat 40 dan 43). Apa teguran Yesus kepada para muridNya itu? Mengapa tidak sanggup berjaga-jaga satu jam saja, mengingat roh kuat, tetapi daging lemah (ayat 40-41). Namun akhirnya dengan empati memberikan kesempatan kepada para murid itu tidur (ayat 45-46).

Apa pesan yang Anda dapat?

1. Mengapa Tuhan Yesus perlu berdoa seperti itu? Karena sebagai manusia sejati, Yesus menyadari bahwa daging lemah. Karena itu, rohNya memperoleh kekuatan melalui sarana persekutuan dengan Bapa, yaitu doa.

2. Untuk apa Tuhan Yesus mengajak tiga murid-Nya menemani-Nya berdoa? Memberikan teladan kepada para muridNya bagaimana kekuatan rohani dapat mereka peroleh, dan secara tidak langsung mempersiapkan para murid itu, mengingat di kemudian hari, ketiganya harus mengalami tantangan terkait iman mereka.

3. Mengapa mereka tidak sanggup melakukannya? Karena rasa kantuk, dan di dalam Lukas 22:45, mereka tidur karena dukacita.

4. Di manakah kunci kemenangan Tuhan Yesus di dalam doaNya? Kuncinya adalah kesediaanNya untuk taat kepada rencana BapaNya di sorga.

5. Menurut Anda, dengan sikap seperti apakah Tuhan Yesus membangunkan para muridNya yang tidur itu? Dengan empati dan maklum.

Apa respon Anda?

1. Oleh karena kemenangan Tuhan Yesus di Getsemani, respon apa yang harus kita tunjukkan? Respon bersyukur karena Tuhan telah menyediakan sarana untuk kita beroleh kekuatan rohani, dan mau memakai sarana itu sesuai kehendak Bapa dan di dalam ketaatan kepada rencana Bapa di sorga.

2. Apa yang harus kita lakukan tatkala kita menghadapi “Getsemani” kita masing-masing? Berdoa, memanfaat sarana yang Tuhan sediakan untuk memperoleh kekuatan rohani.

3. Sikap apa yang harus kita teladani dari Tuhan Yesus? Mau belajar taat kepada kehendak BapaNya yang di sorga.

4. Maukah Anda menjadi teman doa bagi orang yang sedang bergumul? Ya, karena Tuhan Yesus sendiri memberikan teladan bagaimana menghadapi suatu pergumulan bersama-sama; di dalam dukungan Saudara seiman.

Pelajaran:

Melalui bagian ini kita diingatkan bagaimana Tuhan Yesus setia dengan panggilanNya – yang juga adalah kehendak BapaNya di sorga – yaitu untuk menuju salib. Yesus datang ke dunia untuk mati menebus dosa umatNya. KematianNya adalah untuk menggantikan kita menanggung murka Allah Bapa, dan kebenaranNya diperhitungkan/dikenakan kepada kita. Dan untuk setia pada panggilan dan kehendak BapaNya itu, Yesus memakai sarana yang Bapa sediakan untuk kita bisa beroleh kekuatan rohani, yaitu melalui doa.

Dan kalau kita perhatikan, oleh kekuatan yang Ia peroleh dari Bapa karena berdoa, Yesus sanggup tidak hanya bertahan dalam pencobaan, tapi bahkan Ia menyongsong tantangan yang ada di depanNya. Kalau kita perhatikan dalam Matius 26:46, Yesus mengajak murid-muridNya bangun dan pergi karena para penangkapNya sudah dekat. Apakah Yesus pergi melarikan diri? Tidak? Ia pergi untuk menyongsong para penangkapNya (bandingkan dengan peristiwa Yesus ditangkap dalam Yohanes 18). Salah satu ciri kedewasaan seseorang dilihat dari apakah dia melarikan diri atau berani menghadapi tantangan.

Pengalaman seorang guru Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura berikut ini, kiranya dapat menguatkan kita. Saya telah meminta ijin kepadanya untuk menceritakan pengalamannya ini. Dahulu, semasa ia kecil, ia senang melihat gurunya mengajar di sekolah. Dan terbersit dalam hatinya, bahwa ia ingin sekali menjadi seorang guru. Ketika dewasa, ia justru bekerja dalam bidang kontraktor. Ia memiliki gaji cukup lumayan untuk ukuran waktu itu. Sekitar Rp. Lima juta dalam satu bulan. Namun ia terus merasakan panggilan untuk menjadi guru. Lalu ia pun mulai melamar ke Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura. Cukup lama ia menanti sampai akhirnya lamarannya diresponi dan ia dipanggil. Ia pun diterima bekerja di Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura sebagai guru. Tapi gaji pertama yang diterimanya hanyalah Rp. 750.000,- per bulan. Ia sampai menangis di hadapan Tuhan ketika ia berdoa. Tapi ia tahu bahwa ini panggilan Tuhan. Meski ia merasa kehidupannya bangkrut secara ekonomi, tapi ia tetap setia dengan panggilannya. Ia berdoa dan mendapatkan kekuatan dari Tuhan.

Karena itu berdoalah! Itulah sarana kita memperoleh kekuatan dari Tuhan. Lalu majulah menghadapi tantangan!

(Disampaikan dalam diskusi Rayon Filadelfia, Sabtu/16 Maret 2013).

1

Nehemia 1. Berdoa dan Berusaha


Nats: Nehemia 1
Oleh: Rike

Mari, kita sekali lagi tundukkan kepala dan berdoa.

Doa: Bapa kami di dalam surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga,…

Pembukaan

Kita bersama-sama membuka Kitab Nehemia, Nehemia pasal 1, akan menjadi bahan renungan kita di pagi hari ini. Saya akan membacakannya dan saudara/I bisa mengikutinya, di dalam alkitabnya masing-masing.

Baca: secara perlahan-lahan

Nehemia 1 : “Doa Nehemia bagi orang Israel”

Bapak/Ibu/Saudara/I, setelah kematian Salomo, kerajaan Israel terpecah menjadi dua_kerajaan utara dan selatan. Ibukota kerajaan utara ialah Samaria. Dalam tahun 722 SM kota itu direbut oleh bangsa Asyur dan banyak rakyatnya dijadikan tawanan. Hal yang hampir sama terjadi juga terhadap kerajaan selatan, Yehuda, ketika Yerusalem direbut oleh bangsa Babel pada tahun 586 SM. Dalam tahun 539 SM bangsa Babel sendiri dikalahkan oleh bangsa Persia_dan raja Persia mendorong sebagian orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka. Kira-kira 50.000 orang kembali dan memulai tugas untuk membangun kembali Rumah Tuhan, tetapi kemudian mereka menjadi kecil hati dan hanya mampu membangun fondasinya saja.

Sejarah selanjutnya agak ruwet, tetapi rupanya kira-kira 16 tahun kemudian Allah mengirimkan dua orang nabi, Hagai dan Zakharia, untuk menggugah semangat rakyat. Mereka sudah menempati rumah mereka masing-masing, tetapi mengabaikan pembangunan kembali Rumah Tuhan. Sebagai akibatnya, pekerjaan pembangunan dimulai lagi dan kali ini Rumah Tuhan dapat diselesaikan.

Dalam tahun 486 serombongan lagi orang Yahudi kembali ke Yerusalem di bawah pimpinan Ezra. Ezra berusaha sebaik mungkin untuk membangun semangat bangsanya dan mengangkat moral serta kehidupan rohani mereka, tetapi ia banyak menemui kekecewaan. Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 445 SM Allah berbicara kepada seorang lain, yaitu Nehemia dan menugaskannya untuk secara khusus menekuni pembagunan kembali tembok kota yang sudah hancur itu.

Siapakah Nehemia? Nehemia adalah seorang juruminum raja, Nehemia mencicipi lebih dahulu anggur yang akan disajikan kepada raja untuk membuktikan bahwa minuman itu tidak mengadung racun. Hanya orang yang paling dipercaya dapat menduduki posisi tertinggi ini dalam istana raja Persia. Namun demikian, hati Neheia lebih cenderung untuk melakukan tugas yang Allah bebankan kepadanya. Ia digambarkan sebagai seorang pengusaha yang hidup dalam doa.

Bapak/Ibu/Saudara/I, masih dalam nuansa memasuki tahun baru, 2013, mungkin diantara kita masih ada yang ragu untuk menjalani hari-hari ini kedepan, mungkin mulai muncul keragu-raguan akan keadaan dan kondisi yang akan datang. Sebuah anugrah kita dapat melewati satu hari, namun berjuta misteri dan rahasia Allah, mengapa kita dapat melewatinya.
Kedepan mungkin akan ada banyak masalah yang akan datang disekitar kita, yang membuat kita tidak mampu mengubahnya, baik melalui strategi, metode, kemampuan, maupun melalui potensi kita. Bahkan mungkin melalui keberhasilan dan pengalaman di masa lampau, hal itu pun juga tidak dapat mengubah keadaan kita. Masalah disekitar kita selalu berkembang sesuai tuntutan perkembangan zaman, baik itu masalah ekonomi, keamanan, kesehatan, keluarga, study, dll. Apakah ada peluang bagi kita untuk mengubah keadaan?

Masalah

Pada saat Nehemiah hidup, bangsa Yehuda manjadi bangsa yang terbuang atau di tawan di negri asing. Sekitar 70 tahun bangsa Yehuda menjadi tawanan bangsa Babel, Media, Media Persia. Tak ada kekuatan untuk membebaskan diri. Kondisinya bagaikan berada di jalan buntut. Tetapi, melalui doa yang dipanjatkan oleh Nehemia, ternyata, dapat menjadi alat untuk mengubah keadaan.

Jikalau kita berada dalam kondisi tidak bisa mengubah keadaan, satu-satunya cara terbaik adalah berdoa, sebab doa bisa mengubah keadaan, Bagaimana hal itu bisa terjadi ? Nehemia memberikan kita contoh dan langkah-langkahnya.

Ada 3 poin yang saya renungkan dan dapat saya bagikan bagi saudara/i sekalian.

Poin yang pertama adalah:

1. Doa dengan terbeban

Dalam ayatnya yang ke 4, Nehemia berkata: “Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit (Neh 1:4).

a. Nehemia adalah seorang yang sukses

Sebagai orang buangan, kedudukannya sangat terhormat, yaitu menjadi juru minum raja (Kita bisa lihat itu di ay. 11 dan pasal 2:1). Ia termasuk golongan orang buangan yang berhasil, seperti Ester, Daniel, Sadrak, Mesak, Abednego, dll. Dalam keberhasilan pribadinya, ia mendengar dari Hanani (seorang dari Yehuda yang terluput dari penawanan), situasi yang sangat kontras dengan kondisi Nehemia, bahwa kondisi di Yerusalem sangat menyedihkan. Orang-orangnya menderita, tembok terbongkar, pintu-pintunya terbakar (ay.3)

b. Nehemia juga adalah seorang yang terbeban

Sikap, Nehemia yang demikian bisa kita lihat dari, tindakannya yang ketika mendengar, apa yang telah disampaikan oleh Hanani, Nehemia kemudian “…menangis…, berkabung (ay.4). Nehemia sangat, “terbeban” atas penderitaan bangsanya, keruntuhan kota, bahkan rusaknya kota Yerusalem.

Sebenarnya, Nehemia bisa berpikir egois: “yang penting aku sudah sukses” atau “yang penting tempatku aman, berkelimpahan”, atau “urusan Yerusalem adalah urusan Tuhan atau urusan para politikus dan bukan urusanku”.
Tetapi, Nehemia bukanlah orang yang demikian, Nehemia adalah orang yang peduli terhadap penderitaan umat Allah. Ia memikirkan masalah bangsanya dengan sangat serius, sangat terbeban. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sehingga sikap dan raut mukanya terbaca oleh Raja Arthasastra (Neh. 2:2)

Hebatnya, Nehemia mengungkapkan sikap terbebanya dengan doa. Dan pada saat ditanya oleh sang Raja, apa keinginannya, Nehemia tidak langsung menjawab atau meminta kepada raja, tetapi kembali berdoa. “Lalu kata raja kepadaku: “Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit” (Neh 2:4)

Orang yang sungguh-sungguh terbeban akan tampak di dalam kehidupan doanya. Mustahil kita terbeban akan penderitaan orang lain, namun membiarkan orang tersebut tetap menderita.

Nehemia memiliki sikap terbeban dengan hati yang murni. Terbeban karena terpanggil bukan karena pamrih. Zaman sekarang mungkin kita sering melihat atau mendengar berita tentang seorang tokoh terkenal yang peduli kepada sekelompok orang, tetapi ujung-ujungnya ada pamrih politik, pamrih ekonomi, pamrih popularitas. Nehemia tidaklah demikian, dia terpanggil untuk membangun Yerusalem, karena terbeban.

Poin kedua, dari bagian firman Tuhan ini adalah:

2. Doa dengan merendahkan diri

duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa …,(Neh 1:4 ITB)
…dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa (Neh 1:6). Nehemia memiliki hati yang terbeban, kemudian disampaikan kepada Allah dengan sikap merendahkan diri. Ayat 4, mengambarkan, Nehemia duduk menangsi dan berkabung, bedoa puasa selama beberapa hari.

a. Nehemia berkabung(tidak dibaca)

Berkabung atau meratap merupakan puncak kesedihan bagi orang Yahudi. Biasanya diperagakan dengan mengoyakan pakaian atau memakai pakaian khusus perkabungan berwarna hitam yang bahannya seperti “karung”. Masa perkabungan selama 7 hari, dengan menangis,meratap. Yang lebih demonstrative lagi dengan mencarik-carik pakaian, memukul dada,menyiram abu diatas kepala, berjalan dengan kaki telanjang,menarik dan menguting rambut (Kej. 37:29-34 Ruben_kembali ke sumur dan melihat bahwa Yusuf adiknya telah tiada dan Yakub_berkabung berhari-hari sebab anak yang dikasihinya telah tiada; 2 Samuel 13:19Tamar; Imamat 10:6). Inilah cara merendahkan diri dengan berkabung seperti itu. Yang kita ambil prinsipnya, bahwa doa pemohonan Nehemia ini sungguh-sungguh digumuli dengan meredahkan diri di hadapan Tuhan. Ia berdoa “siang dan malam” (Neh. 1:6). Bukan hanya doa secara pribadi, melainkan juga melibatkan orang-orang lain (ay. 1).

b. Nehemia adalah orang yang rendah diri

Nehemia sebenarnya layak sombong, karena dinegri orang lain ia bisa berprestasi. Ada kesempatan untuknya pamer membandingkan dengan sesamanya karena sebagai orang tawanan, ia bisa memiliki jabatan penting di istana. Namun, semua prestasi dan kejayaan harus ditinggalkan tatkala ia berhadapan dengan Allah. Nehemia merendahkan diri. Dalam doanya, ia memohon pengampunan dosa-dosa, baik dosa secara pribadi maupun dosa bangsanya (ay. 6). Nehemia percaya pada firman Tuhan bahwa orang yang berbalik kepada Tuhan, akan mendapatkan pertolongan dari-Nya (ay.7)

Poin ke tiga, yang menjadi poin terakhir saya, adalah:

3. Doa dengan berusaha.

Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini.” Ketika itu aku ini juru minum raja. (Neh 1:11). Nehemia mengharapkan satu hal: berhasil. Untuk berhasil, diperlukan doa dan usaha. Dalam rangka berusaha, maka Nehemia menggunakan potensi dan strategi yang didukung doa.

Usaha yang dilakukan oleh Nehemia adalah:

a. Pertama, Berusaha memanfaatkan potensi

… Ketika itu aku ini juru minuman raja. (Neh 1:11 ITB)
Kedudukan dan jabatan adalah potensi yang bisa digunakan untuk lobi akses hubungan yang lebih luas. Dalam proyek membangun negara memang sangat diperlukan lobi dan akses tingkat pejabat karajaan, seperti Nehemia.

b. Kedua, Berusaha menggunakan strategi.

Setelah raja memberi kesempatan kepada Nehemia, ia memakai strategi memohon surat rekomendasi atau surat jalan agar bupati-bupati yang wilayahnya akan dilewati memperlancar tujuannya. Juga, meminta surat pengatar agar Asaf, pengawas taman raja memberikan bantuan kayu-kayu dengan kualitas terbaik untuk pembangunan kota Yerusalem dan pintu gerbang Bait Allah (Neh. 2:7-8). Semua permohonan Nehemia ini dikabulkan oleh raja. Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku (Neh 2:8).

c. Ketiga, Nehemia berusaha dengan kerja keras.

Doa dan berpuasa, bukan berarti tanpan tantangan. Dalam perjalanan Nehemia dan rombongan ke Yerusalem banyak tantangan. Sanbalat menolak Yerusalem dibangun kembali, yang akhirnya memimpin perlawanan melawan Nehemia (Neh.2:10,19; 16:1-19). Perlawanannya dimulai dengan olok-olok, sampai akan dikacaukan dengan perang. Karena itu, Nehemia dan rakyatnya membangun Yerusalem, dengan siap berperang. Memang, Nehemia tetap mengandalkan doa (Neh. 4:9). Namun, juga ada pembagian tugas: sebagian membangun, sebagian siap siaga perang. Bahkan, sebagian lagi membangun dengan tangan kanan berpegang senjata untuk siap perang. (Neh. 4:1-23). Inilah berdoa dengan berusaha. Akhirnya, pekerjaan selesai (Neh. 6:15), dan seluruh cita-cita berhasil (Neh. 7:1).

Kesimpulan/Aplikasinya dalam kehidupan kita:
Doa dapat mengubah keadaan, sudah terbukti dalam kesaksian Nehemia. Ia berdoa dengan terbeban atas keadaan bangsanya, disertai sikap merendahkan diri dihadapan Tuhan, dan berusaha menggunakan potensi serta strategi secara maksimal. Pada akhirnya, segala cita-citanya berhasil.

Doa kita juga dapat mengubah keadaan. Mungkin saat ini kita ragu melewati semester ini dengan baik,bertemu kembali dengan rekan-rekan pelayanan yang tidak selamanya dapat menjalin kerjasama dengan baik, keluarga yang tak kunjung henti-hentinya memiliki masalah, dan mungkin masih banyak masalah yang lainnya. Namun, mari, masih dalam nuansa memasuki tahun yang baru, dengan Iman kita mau belajar berharap sebagaimana yang telah digambarkan oleh Nehemia, bahwa dengan doa dan usaha, maka keadaan yang saat ini kita meragukannya, itu akan kita lihat hasilnya, sebagaimana mengutip perkataan rasul Paulus kepada jemaat di Filipi

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus (Fil. 4:6-7). AMIN.

(Dikotbahkan dalam Ibadah Chapel Pagi STTRII Jakarta, Jumat/18 Januari 2013).