0

Keluaran 33:1-14. Bimbingan TUHAN


Nats: Keluaran 33:1–14
Oleh: Ev. NT Prasetyo, M.Div.

Pada bulan ketiga, setelah orang Israel keluar dari Mesir, sampailah mereka di padang gurun Sinai. Mereka berkemah di depan Gunung Sinai/Horeb (Keluaran 19). Lebih dari satu kali, Musa naik ke atas gunung untuk berjumpa dengan TUHAN. Di atas gunung, TUHAN memberikan:
a. Hukum Moral, yaitu: Sepuluh perintah Allah (pasal 20:1 – 17, telah diringkaskan oleh Tuhan Yesus menjadi Hukum Kasih);
b. Hukum Sipil, yaitu: peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan Israel sebagai sebuah bangsa (tentu secara literal tidak berlaku bagi kita saat ini, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya);
c. Hukum Upacara, yaitu: aturan-aturan untuk menyelenggarakan kebaktian, perlengkapan, dan persembahan dalam upacara (ini pun tidak secara literal berlaku bagi kita, namun kita bisa mengambil prinsip-prinsipnya).

Keluaran 24:1 – 11 mencatat bagaimana Allah menjalin ikatan Perjanjian/Kovenan dengan umatNya, Israel. TUHAN memberikan loh batu yang diukir oleh jari Allah sendiri, yang berisi hukum dan perintah Allah. Loh batu ini menjadi semacam naskah/dokumen Perjanjian/Kovenan (Keluaran 24:12; 31:18).

Keluaran 32 kemudian mencatat sebuah tragedi terjadi. Bangsa Israel mendesak Harun untuk melanggar perintah pertama (32:1) dan kedua (32:4) dari sepuluh perintah Allah. Mereka tidak hanya membuat allah, tapi juga menggambarkan Allah yang menuntun mereka keluar dari Mesir sebagai seekor anak lembu emas. Melihat hal ini, Musa sangat marah, lalu membanting dan memecahkan loh batu yang dipegangnya. Ini menunjukkan bahwa bangsa Israel telah menghancurkan Perjanjian/Kovenan antara Allah dengan umatNya, dilambangkan dengan loh batu yang hancur berkeping-keping. TUHAN sendiri pun murka, dan melalui Musa dan Kaum Lewi, Allah menjatuhkan hukuman atas bangsa Israel.

Diskusikan:
1. Apa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan?
Jawab: Ayat 1 menunjukkan bahwa yang menjadi dasar bagi TUHAN untuk memerintahkan agar perjalanan dilanjutkan adalah JANJI-NYA SENDIRI kepada leluhur bangsa Israel. Jadi, TUHAN bertindak di atas dasar KARAKTER-NYA sendiri yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Ini menjadi jaminan iman bagi kita. Apa yang baik yang pernah TUHAN janjikan secara pribadi kepada kita, mungkin belum kelihatan saat ini, namun percayalah bahwa TUHAN itu memiliki karakter yang dapat menjadi jaminan bagi iman kita. Ia adalah Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji.

2. Apa yang menjadi alasan bagi TUHAN sehingga Ia tidak turut berjalan di tengah-tengah bangsa Israel dan hanya mengutus malaikatNya?
Jawab:
Ayat 2 dan 5 menyatakan kesaksian dari pihak TUHAN tentang siapa itu orang Israel, yaitu orang-orang yang tegar tengkuk. Kesaksian ini diulang hingga dua kali, menunjukkan bahwa TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. Bangsa Israel memang menunjukkan tindakan penyesalan (ayat 4 – 5), dan TUHAN sendiri memang memerintahkan tindakan penyesalan semacam itu diperlihatkan (ayat 5). Namun sekali lagi, TUHAN sangat mengetahui kepribadian manusia yang terdalam, terlepas dari aktivitas keagamaan yang kita lakukan. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN hanya mengutus malaikatNya saja untuk berjalan di depan bangsa Israel. Ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

3. Mengapa Kemah Pertemuan, Musa letakkan jauh di luar perkemahan?
Jawab: Kemah Pertemuan dapat menunjuk kepada dua benda berbeda:
a. Tabernakel/Kemah Suci yang saat peristiwa di pasal 33 ini terjadi, masih belum dibuat (bdk. Kel.27:21). Lokasi Tabernakel terletak di pusat perkemahan Israel. Di sini TUHAN bertemu dengan umatNya sesuai petunjuk TUHAN.
b. Tabernakel/Kemah Pertemuan, yang merupakan tenda sementara dimana umat dapat berkonsultasi kepada TUHAN karena Tabernakel/Kemah Suci belum dibuat.
Mengapa Kemah Pertemuan diletakkan di luar perkemahan Israel, alasannya tentunya tidak jauh dari jawaban nomor 2. TUHAN sangat tahu bangsa Israel tegar tengkuk, dan dengan segera dapat membangkitkan amarah TUHAN sehingga TUHAN harus membinasakan mereka, karena itu, TUHAN tidak mau hadiratNya memasuki perkemahan Israel. Sekali lagi, ini sebetulnya juga menunjukkan kesabaran TUHAN.

4. Respon apa lagi yang ditunjukkan bangsa Israel melihat tanda-tanda kehadiran TUHAN?
Jawab: Ayat 8 – 9 menunjukkan bagaimana bangsa Israel berusaha menunjukkan hormatNya kepada TUHAN dengan bersujud di pintu tenda mereka masing-masing, setiap kali melihat tiang awan (lambang kehadiran Allah) berhenti di pintu Kemah Pertemuan, ketika Musa masuk dan ada di Kemah Pertemuan itu.

5. Keluaran 33:11 dicatat bahwa “TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.” Namun dalam ayat 20 dicatat perkataan TUHAN kepada Musa, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Ayat 11 dan 20 nampak bertentangan. Jadi mana yang benar? Musa dapat memandang wajah TUHAN ataukah tidak? Jadi, apa maksudnya “berhadapan muka”?
Jawab: Kedua-duanya benar. Ayat 11 hanya hendak menunjukkan bahwa Allah berkomunikasi dengan Musa secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tanpa memperlihatkan wajahNya secara visual. TUHAN berbicara kepada hamba-hambaNya di dalam derajat kejelasan yang berbeda-beda. Kepada nabi-nabi lain, TUHAN berfirman/memberi nubuat, yang bagi nabi itu sendiri merupakan teka-teki dan misteri. Namun Musa itu termasuk nabi Perjanjian Lama yang unik, karena hanya dengan Musa-lah, TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa. Bilangan 12:6 – 8 dan Ulangan 34:10 menegaskan hal ini. Namun meskipun TUHAN berkomunikasi secara langsung dan dengan kejelasan yang istimewa, Musa tetap tidak dapat melihat wajah TUHAN secara langsung, dan tidak ada seorang pun yang dapat (ayat 20).

6. Apakah TUHAN itu punya anggota tubuh, seperti wajah? Tidakkah ini bertentangan dengan Yohanes 4:24?
Jawab: Yohanes 4:24 adalah benar! TUHAN adalah ROH, dan tidak punya tubuh jasmani seperti manusia. Lalu apa maksudnya, kata “wajah” dan “tangan” dalam Keluaran 33?

a. Bacalah Keluaran 33:14. Kata “Aku sendiri” disitu, dalam bahasa aslinya, secara literal juga berarti “wajahKu.” Jadi, ungkapan seperti misalnya, “wajah Allah,” bisa dimengerti sebagai “kehadiran TUHAN sendiri.” Jadi, kalau ada lagu rohani mengatakan, “dan kupandang wajahMu,” itu artinya: “kusadari kehadiranMu, TUHAN.”
b. TUHAN dapat juga berkata-kata seolah-olah Ia memiliki tubuh fisik, ini disebut gaya bahasa Antropomorfisme (antropo = manusia; morphem = bentuk).
c. TUHAN adalah ROH, namun bisa jadi Ia menampakkan diri kepada Musa dalam wujud-wujud bertubuh seperti manusia. Salah satu bentuknya dalam Perjanjian Lama, disebut Teofani (penampakan Allah dalam wujud manusia/malaikat).

7. Dari dialog TUHAN dengan Musa pada ayat 12 – 14, kita dapat belajar tentang cara TUHAN mewahyukan kehendakNya kepada umatNya! Bagaimana cara TUHAN mewahyukan kehendakNya itu?
Jawab: Meskipun kepada Musa, TUHAN berkomunikasi dengan kejelasan yang istimewa (special clarity), namun tetap Ia memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa. Ayat 12 menunjukkan pengakuan Musa bahwa TUHAN belum juga memberitahukan siapa (malaikat?) yang akan TUHAN utus untuk mendampingi Musa. Dan meskipun Musa mengungkapkan hal itu, jawaban TUHAN pun hanyalah “Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapanKu.” Dan ayat 13 mencatat permohonan Musa berikutnya, “beritahukanlah kiranya jalanMu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau.” Dan atas permintaan ini pun, TUHAN hanya berkata, “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketentraman kepadamu.” Demikian, TUHAN memberikan bimbinganNya secara bertahap (tidak sekaligus) kepada Musa.

8. Dari semua pelajaran di atas, prinsip-prinsip apa saja yang harus kita jaga dan pahami tentang BIMBINGAN TUHAN?
Jawab: Prinsip-prinsip yang perlu kita pahami tentang bimbingan TUHAN:
a. TUHAN membimbing kita berdasarkan karakter dan janjiNya sendiri (bukan berdasarkan atas apa yang manusia inginkan atau apa yang manusia ingin capai). TUHAN akan membimbing kita kepada tujuan hidup yang selaras dengan karakter Allah sendiri. Mungkin kita sebagai orangtua ingin agar anak kita kelak menjadi dokter dan dapat uang banyak, namun “dapat uang banyak” tidaklah mencerminkan karakter Allah dan janji Allah kepada umatNya, sehingga Allah akan membimbing anak kita, seturut tujuan hidup (visi hidup) yang Allah telah tanamkan di dalam batin anak kita (termasuk melalui bakat dan minatnya). Tugas kita sebagai orangtua adalah membimbing anak mengarahkan diri kepada tujuan Allah yang telah Allah tanamkan dalam diri mereka.
b. TUHAN membimbing kita dengan menuntut kehidupan kudus dari pihak kita. Kehidupan yang tidak kudus, merintangi bimbingan TUHAN atas kita. Pertama-tama, kita menjadi tidak peka dengan arahan dari TUHAN; Kedua, kehidupan kita sendiri jadi terseok-seok karena harus menanggung akibat-akibat dari ketidakkudusan kita sendiri.
c. TUHAN membimbing kita secara bertahap dan tidak sekaligus. TUHAN mengendaki kesabaran dan ketekunan kita untuk terus bersekutu dengan TUHAN. Apabila Allah ingin cepat-cepat mencapai tujuan-tujuanNya, Ia dapat dengan mudah menyuruh malaikatNya. Namun Allah memilih untuk mencapai tujuan-tujuanNya melalui umatNya, dan karenanya Ia menghendaki ketekunan kita untuk bersekutu denganNya, serta kesabaran kita.
d. TUHAN membimbing kita dengan memberikan ketentraman/damai sejahteranya. Salah satu petunjuk bahwa kita masih berjalan di jalan-jalan yang sesuai bimbingan TUHAN adalah adanya damai sejahtera Allah yang menguasai hati kita. Apabila hati kita mulai tidak sejahtera, evaluasi diri, jangan-jangan kita sudah menyimpang.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon Filadelfia, 2012)

Iklan