Matius 25:31-46. Anak-Anak Kerajaan: Sebuah CIRI dan Bukan CARA


Renungan khotbah kali ini terambil dari Matius 25:31-46. Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia versi terjemahan baru, memberi judul perikop, “Penghakiman Terakhir.”

Ayat 31 mencatat demikian, “apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaanNya.” Perikop ini diawali dengan pernyataan tentang kedatangan Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus, atau yang biasa kita sebut dengan istilah kiamat. Kata Takhta dalam perikop ini mengindikasikan bahwa yang datang itu adalah sosok raja.

Menarik, apabila kita memperhatikan ayat-ayat sebelumnya, kita akan menemukan adanya 2 perumpamaan, yaitu:

  1. Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh di Matius 25:1-13, dan
  2. Perumpamaan tentang talenta di Matius 25:14-30.

Kedua perumpamaan ini memperingatkan kita akan TANGGUNGJAWAB. Dalam perumpamaan pertama, manusia harus bertanggung jawab untuk berjaga-jaga menyambut kedatangan Tuhan, secara khusus bertanggung jawab dengan waktu mereka. Dalam perumpamaan kedua, manusia harus bertanggung jawab mengelola apa yang Tuhan percayakan, sebelum Tuhan datang kembali. Hal yang dipercayakan itu disebut ‘talenta,’ yang dalam konteks kehidupan kita merupakan apapun yang Tuhan percayakan untuk kita kelola, bisa berupa bakat, harta, atau apapun. Intinya, kedua perumpamaan diatas mengingatkan kita tentang TANGGUNGJAWAB. Demikianlah perikop yang kita bahas kali ini, harus kita baca dalam kaitannya dengan kerajaan Allah atau kerajaan surga, dan tanggungjawab. Dan di ayat 31, kita bertemu dengan Raja kerajaan tersebut, yang dicatat akan datang dan bertakhta, dan meminta pertanggungjawaban.

Tanggung jawab apa yang diminta? Sebelum menjawab hal itu, kita berjumpa dengan ayat 32, yang memberitahukan kepada kita siapakah anak-anak kerajaan dan siapa yang termasuk anak-anak kebinasaan. Anak-anak kerajaan dan anak-anak kebinasaan berasal dari suku-suku bangsa. Ayat 32 mencatat kalimat, “semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya.” Dan terhadap bangsa-bangsa itu akan diadakan pemisahan. Anak-anak kerajaan akan dipisahkan dari anak-anak kebinasaan, dan keduanya berasal dari bangsa-bangsa tersebut.

Ayat 32 mencatat bahwa sang raja itu bagaikan gembala yang memisahkan domba dari kambing. Ayat 33 menjelaskan bahwa domba-domba ditempatkan di sebelah kanannya, sedangkan kambing-kambing ditempatkan di sebelah kirinya. Ayat 34 menjelaskan kepada kita bahwa yang di sebelah kanan adalah mereka yang diberkati oleh Tuhan dan menerima kerajaan surga. Artinya anak-anak kerajaan itu digambarkan sebagai domba domba. Dan ayat 32 telah mencatat tindakan Tuhan adalah memisahkan domba atau anak-anak kerajaanNya dari kambing atau dari mereka yang bukan terhitung sebagai anak-anak kerajaanNya. Dari suku-suku bangsa yang menghadap Tuhan, Ia memisahkan domba-domba kepunyaanNya dari kumpulan besar manusia yang dikumpulkan dihadapanNya.

Ayat 34 menjelaskan keadaan anak-anak kerajaan, dan dapat kita kontraskan dengan keadaan anak-anak kebinasaan di ayat 41:

  1. Pada ayat 34, dicatat bahwa tentang keadaan anak-anak kerajaan itu, mereka adalah orang-orang yang diberkati oleh Bapa di surga, dan kepada mereka diberikan oleh Tuhan, kerajaan yang telah disediakan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Kalimat terakhir ini menarik, karena ternyata bagi anak-anak kerajaan, kerajaan surga ternyata telah disediakan bagi mereka, bahkan dari sejak sebelum mereka ada. Jadi, ternyata Tuhan dari sejak mulanya sudah mengetahui siapa milik kepunyaanNya. Dia telah menyediakan kerajaan surga, bahkan sebelum anak-anak kerajaan itu ada. Jadi tentang anak-anak kerajaan, kita membaca adanya Anugrah pemilihan Allah.
  2. Namun berbeda ketika Alkitab berbicara tentang anak-anak kebinasaan. Ayat 41 tidak mengatakan, “hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” Kalimat dalam ayat ini hanya berkata bahwa “api yang kekal itu telah tersedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya.” Ini berbeda dengan bunyi ayat ke 34.

Jadi, tentang anak-anak kerajaan, Tuhan menggunakan kalimat yang bersifat Anugerah, bahwa kerajaan Allah itu tersedia bagi mereka, dari sejak dunia dijadikan; jauh sebelum anak-anak kerajaan itu sendiri ada.

Namun berbeda halnya dengan anak-anak kebinasaan, Tuhan menggunakan kalimat yang bernada tanggung jawab, yaitu bahwa api kekal itu tersedia bagi iblis dan malaikat-malaikatnya, tetapi bukan bagi manusia ciptaanNya. Sehingga apabila realitanya ada manusia yang masuk neraka, maka itu adalah tanggung jawab manusia itu pribadi.

Pernyataan di atas tentu menimbulkan ketidak selarasan di dalam pikiran kita yang terbatas. Adalah lebih mudah untuk mengatakan bahwa, jika ada orang-orang yang masuk surga, maka surga itu telah menjadi tempat yang Allah siapkan bagi mereka sejak dunia dijadikan, dan sebaliknya jika ada orang-orang yang masuk neraka, maka neraka itu telah menjadi tempat yang Allah siapkan bagi mereka sejak dunia dijadikan. Pernyataan yang satu, dengan tegas mengimplikasikan pernyataan yang lain.

Namun tidak demikian adanya dengan pernyataan Alkitab. Alkitab malah menimbulkan ketidak selarasan dalam pikiran kita yang terbatas. Alkitab hanya menyatakan, bahwa tentang kerajaan sorga, itu telah disediakan dari sejak dunia ada bagi anak-anak kerajaan, sedangkan tentang api kekal, apabila sampai ada manusia yang masuk ke tempat itu maka itu adalah tanggung jawabnya pribadi, karena sebetulnya tempat itu adalah untuk iblis dan malaikat-malaikat-nya.

Ayat 35-36 mengungkapkan ciri-ciri dari anak-anak kerajaan. Dan di ayat 37 dinyatakan bahwa anak-anak kerajaan yang memiliki ciri-ciri tersebut berstatus sebagai orang-orang benar. Jadi tindakan memperhatikan sesama yang paling hina ternyata adalah ciri orang-orang benar. Orang-orang benar itu sendiri tidak menyangka bahwa perhatian mereka kepada sesama yang paling hina adalah pelayanan kepada sang raja sendiri. Mereka melakukan pelayanan itu dengan setulus hatinya, tanpa bermaksud menyogok sang raja, atau menjilat sang raja, demi mendapatkan hak masuk kerajaan itu. Ini tersirat dari ayat 37-40. Singkatnya, perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan anak-anak kerajaan sebagaimana yang didaftarkan dalam ayat-ayat diatas adalah CIRI anak-anak kerajaan, dan bukan CARA untuk mendapatkan kerajaan surga. Sekali lagi, perhatikan perbedaan antara CIRI dan CARA, karena perbedaan ini adalah perbedaan yang membedakan kita dengan mereka yang tidak seiman.

Ayat 41-45 menjadi ciri dari anak-anak kebinasaan. Orang dengan ciri ini, dinyatakan dalam ayat 46a, bahwa mereka akan masuk ke tempat siksaan yang kekal alias neraka. Namun, orang benar, yang memiliki ciri-ciri berbeda masuk ke dalam hidup yang kekal. Sekali lagi kita menemukan frasa ‘orang benar.’ Singkatnya, orang-orang benar dicirikan dengan perbuatan-perbuatan baik, dan bukannya dicirikan dengan perbuatan-perbuatan yang sebaliknya.

Perikop ini hanya berhenti sampai pada titik ini. Namun apabila kita terus melanjutkan pembacaan kita sampai kepada surat-surat Paulus, maka kita akan menemukan bahwa status ‘benar’ kita bukankah karena jasa-jasa atau kebaikan kita sendiri, melainkan status ‘benar’ disini diperoleh karena Kristuslah yang membenarkan kita. Kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, sebaliknya dosa-dosa kita diperhitungkan ke atas Kristus. Di atas kayu salib Kristus menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, dan sebaliknya kita dipandang benar oleh Allah, karena kebenaran Kristus diperhitungkan ke atas kita.

Apa implikasi dari pelajaran kita hari ini:

1. Evaluasi diri Anda.

Apabila saya mengaku diri saya adalah anak-anak kerajaan, sudahkah saya menampilkan ciri-ciri sebagai anak-anak kerajaan?

2. Marilah kita berjuang sebagai anak-anak kerajaan untuk memperluas kehadiran nilai-nilai kerajaan itu ke dalam berbagai bidang kehidupan, melalui profesi kita masing-masing.

Mungkin kita tidak bisa, secara literal, mempraktekkan ciri-ciri yang tercantum diatas. Mungkin kita tidak bisa, betul-betul menampung orang asing di rumah kita, atau memberi makan orang yang kelaparan, atau mengunjungi orang-orang di penjara, tapi kita bisa menciptakan kondisi-kondisi dimana itu dimungkinkan untuk terjadi. Contohnya seperti apa yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di DKI Jakarta (Maaf, saya pakai contoh ini, karena, toh, kita di Jayapura, tidak sedang dalam masa Pilkada untuk memilih dia sebagai salah satu calon).

Ahok mungkin tidak bisa, secara literal, menampung orang-orang miskin di rumahnya, karena bisa-bisa rumahnya tidak cukup bila orang miskin se-DKI Jakarta menginap di rumahnya. Namun melalui jabatannya dan pengaruhnya, ia dapat mengupayakan terciptanya kondisi agar keadilan sosial dapat diwujudkan. Jadi bukan sekedar bantuan sosial, melainkan keadilan sosial. Demikian juga kita, melalui profesi, harta, tenaga, pikiran, waktu, dan segala sumber daya lain yang kita miliki, kita bisa mengupayakan terciptanya kondisi-kondisi dimana nilai-nilai Kerajaan Allah hadir dan meluas dalam berbagai bidang kehidupan.

Dua hal ini adalah tanggungjawab kita sebagai anak-anak kerajaan. Siapkah kita?

(Pdt. NT. Prasetyo, M.Div. Persekutuan Rayon Petra, Jumat, 7 April 2017, di kediaman Pak Rocky dan Bu Siane).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s