Kotbah Efesus 2:1-3. Masa Lalu yang Menipu


Berbicara masa lalu seringkali dianggap menjadi hal yang tidak berguna. Bukankah Paulus mengajarkan bahwa aku melupakan apa yang dibelakangku dan menngarahkan diri pada apa yang dihadapanku? Namun masa lalu ternyata dapat memberi pelajaran mendalam.

Hari ini saya akan berkhotbah dari Efesus 2, lalu berbicara tentang masa lalu Paulus yang dapat memberi pelajaran bagi kita.

Ayat 1, kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Di dalam alkitab terjemahan lain versi firman Allah yang hidup kalimatnya berbunyi demikian, dahulu saudara maksudnya, Jemaat efesus, dikutuk Allah, dan binasa karena dosa. Jadi dalam ayat ini paulus mengatakan bahwa Jemaat efesus memiliki masa lalu kehidupan yang dikutuk Allah, yang binasa karena dosa.

Ayat 2. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja diantara orang-orang durhaka. Dalam versi firman Allah yang hidup, ayat ini berbunyi demikian, saudara ikut dengan orang banyak dan seperti juga orang yang lain, saudara penuh dengan dosa, taat kepada iblis, penguasa kerajaan angkasa, yang sampai sekarang pun masih bekerja dalam hati orang-orang yang melawan Tuhan. Jadi melalui ayat ini, paulus mengingatkan kehidupan masa lalu Jemaat efesus yang penuh dengan dosa, taat kepada iblis. Iblis yang tidak hanya hadir di masa lalu, tetapi yang masih bekerja di dalam hati manusia sampai sekarang, yaitu hati orang-orang yang melawan Tuhan atau durhaka.

Ayat 3. Sebenarnya dahulu Kami semua, ini artinya termasuk Paulus juga, gak terhitung di antara mereka. Maksudnya diantara orang-orang yang dipengaruhi iblis tadi. Lebih lanjut paulus mengatakan di ayat ini, kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging, dan menuruti kehendak daging, dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain, maksudnya mereka yang tadi dikatakan dipengaruhi iblis. Di dalam terjemahan Alkitab versi firman Allah yang hidup, ayat 3 ini berbunyi sebagai berikut, dahulu kita semua sama saja dengan mereka. Maksudnya mereka yang dipengaruhi iblis. Hidup kita menunjukkan kejahatan yang bersarang dalam diri kita. Kita melakukan setiap perbuatan jahat yang kita kehendaki atau yang kita pikirkan. Kita dilahirkan dengan naluri jahat dalam diri kita, dan berada di bawah murka Allah seperti orang lain.

Melalui 3 ayat ini kita dapat belajar beberapa hal. Pertama, tentang iblis. Ternyata markas Iblis bukankah di neraka seperti yang muncul di film-film. Di film-film sering digambarkan kerajaan neraka berperang dengan kerajaan surga, seolah-olah itu adalah Dua kerajaan yang seimbang kekuatannya. Dari ayat ini kita membaca bahwa Markas Iblis adalah di alam semesta ini, di angkasa, dibalik pikiran-pikiran jahat manusia, dibalik sistem-sistem dunia ini. Sedangkan menurut Kitab Wahyu, neraka adalah tempat iblis dihukum. Tentang iblis kita juga belajar, bahwa dia bekerja di balik pikiran jahat manusia. Dan inilah yang berbahaya.

Kedua, tentang kehidupan di masa lalu, ketika seseorang ada di luar Kristus. Kehidupan orang-orang yang ada di luar Kristus, digambarkan dalam 3 ayat ini sebagai kehidupan yang:
1. Dikutuk Allah.
2. Binasa karena penuh dosa.
3. Taat kepada iblis.
4. Hidup di dalam hawa nafsu daging atau menunjukkan kejahatan yang bersarang dalam diri. Hidup menuruti kehendak daging atau melakukan setiap perbuatan jahat yang kita kehendaki.
5. Hidup menuruti pikiran yang jahat atau buatan jahat yang kita pikirkan.
6. Menghidupi naluri jahat yang ada dalam diri kita sejak kita dilahirkan.
7. Hidup kita pantas dimurkai Allah atau berada di bawah murka Allah. Inilah 7 fakta kehidupan masa lalu jemaat Efesus.

Apabila kita membaca 7 fakta kehidupan di atas, kita langsung membayangkan, bahwa hidup masa lalu jemaat Efesus rusak benar, dan Kita langsung membayangkan kehidupan seseorang pemabuk, pelacur, zinah, koruptor, pencuri, penjahat, sampah masyarakat, terpidana yang hidup di balik teralis penjara. Itulah yang kita bayangkan, ketika kita membaca 7 ciri kehidupan masa lalu di atas.

Namun yang menarik adalah perkataan Paulus di ayat 3. Paulus menyatakan bahwa dirinya terhitung sebagai orang yang masa lalunya memiliki 7 ciri yang buruk itu. Mengapa perkataan Paulus menjadi menarik?

Coba kita bandingkan dengan pernyataan Paulus dalam surat Filipi pasal 3 ayat 5-6. Dalam nats ini kita membaca tentang masa lalu Paulus. Mari kita mendaftarkannya. Inilah masa lalu Paulus:
1. Disunat pada hari ke-8 mengikuti hukum agama Yahudi, sesuai firman Tuhan dan perjanjian Tuhan.
2. Berasal dari bangsa Israel artinya terhitung sebagai umat pilihan Allah.
3. Dari suku Benyamin, artinya dia satu garis keturunan dengan raja pertama Israel yaitu saul. Bahkan nama Ibrani Paulus adalah saulus, mirip seperti nama raja pertama Israel. Dalam hal ini paulus adalah nama romawinya, karena juga memiliki kewarganegaraan Romawi. Kasus penggunaan nama Paulus ini mirip apa yang dilakukan orang Tionghoa masa kini. Nama Paulus akhirnya banyak dipakai mengingat konteks hidupnya adalah lingkungan helenisme, dan juga karena arah khusus pelayanan Paulus adalah menginjili orang-orang Non-Yahudi.
4. Orang Ibrani asli, artinya dia termasuk pewaris kitab Perjanjian Lama, firman Allah yang ditulis dalam bahasa Ibrani. Atau dalam terjemahan Alkitab versi firman Allah yang hidup, dikatakan oleh Paulus bahwa saya orang Yahudi tulen.
5. Pendiriannya terhadap hukum Taurat, menggolongkan Paulus sebagai orang Farisi, artinya paulus itu orang yang termasuk dalam kumpulan masyarakat Yahudi yang dengan ketat menjaga dan memelihara pelaksanaan hukum-hukum agama dan adat istiadat Yahudi. Farisi adalah salah satu partai dalam masyarakat Yahudi, yang bersifat konservatif. Mereka mempercayai Perjanjian Lama, dan berita tentang kebangkitan orang mati. Berbeda dengan partai saduki, yang lebih bersifat liberal, karena tidak mempercayai kebangkitan orang mati.
6. Bahkan aktivitas Paulus adalah penganiaya jemaat. Atau dalam alkitab versi firman Allah yang hidup, di ayat 6 ini paulus sedang berbicara tentang ketulusannya beragama. Dikatakan bahwa, saya demikian tulusnya, sehingga saya menganiaya Sidang Jemaat kristen.
7. Tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat, paulus tidak bercacat. Atau dalam versi firman Allah yang hidup dikatakan bahwa saya berusaha menaati setiap peraturan dan adat istiadat Yahudi sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya.

Saudara-saudara, apakah saudara melihat seperti ada ketidakkonsistenan dalam berita Alkitab, seolah ada ketidakkonsistenan dari pernyataan Paulus. Di dalam surat efesus, paulus menggolongkan hidup masa lalunya sebagai orang yang dikutuk Allah. Namun di surat filipi, ia memperlihatkan kehidupan masa lalu yang penuh prestasi keagamaan.

Apa yang bisa kita pelajari, dari 2 fakta yang nampak tidak konsisten ini. Sebetulnya keduanya Bukannya tidak konsisten. Paulus justru hendak menunjukkan, bahwa prestasi keagamaannya di masa lalu justru adalah kehidupan di bawah kutuk dan murka Allah. Karena kehidupan keagamaannya itu, adalah kehidupan keagamaan di luar Kristus, bahkan menganiaya Kristus.

Bapak Ibu Saudara saudara, apa yang Paulus Tuliskan dalam dua suratnya ini, menjadi peringatan bagi kita, yang bergiat di dalam aktivitas dan perilaku perilaku keagamaan. Perilaku keagamaan kita, tidak menjamin bahwa kita sedang hidup dalam kebenaran Allah. Menyedihkan sekali, karena di Papua ini, saya pernah mendengar ada pelayan gerejawi yang mengancam kepada Jemaat bahwa keselamatan hanya kita peroleh ketika kita menjadi anggota gereja tertentu, karena menurutnya visi gereja tersebut adalah mempersiapkan Jemaat masuk surga, sehingga disimpulkan nya apabila ada orang di luar gereja tersebut maka orang tersebut tidak masuk surga. Bukankah ini sebuah kesesatan yang parah, yang hadir dalam kehidupan bergereja kita? Belajar dari pengalaman Paulus, fakta bahwa kita menjadi anggota Jemaat dari gereja tertentu, bahkan fakta bahwa kita aktif melayani, tidak menjamin bahwa kita sudah lolos dari murka Allah, bahwa kita sudah hidup di dalam pembenaran dari Allah.

Bukankah bangsa kita hari ini, sedang menjadi saksi mata betapa keagamaan itu justru menganiaya kebenaran. Bukankah negeri kita hari ini, sedang diramaikan dengan aksi-aksi keagamaan yang justru menindas kebenaran. Namun, sama seperti Paulus di masa lalu, kaum beragama ini betul-betul tulus berpikir bahwa dirinya sedang membela Allah, sedang membela kebenaran, sedang membela kitab suci.

Paulus justru menelanjangi kaum beragama. Jika kita tidak Waspada, iblis justru bekerja dibalik prestasi keagamaan manusia, persis seperti kehidupan masa lalu Paulus. Ia mengatakan dirinya terhitung sebagai orang-orang yang mentaati iblis, mentaati di dalam kehidupan keberagamaannya. Mengerikan sekali bukan? Ternyata manusia bisa tertipu. Prestasi keagamaan, perilaku keagamaan, justru dapat menjadi penghalang kita menemukan kebenaran sejati. Kita tertipu, dan tidak perlu heran, karena iblis adalah bapa segala dusta (Yohanes 8:44).

Pesan ini menjadi penting bagi kita yang hidup di timur Indonesia. Mungkin kita sudah dari lahir beragama Kristen, aktif sekolah minggu, mengenal pelayanan Kristen dari sejak muda, tetapi semua religiusitas itu tidak menjamin bahwa kita telah sungguh-sungguh mengalami kehidupan dimana Allah membenarkan kita melalui iman kita kepada Karya Kristus di kayu salib.

Di dalam masa menjelang Minggu paskah, kita diingatkan untuk berhati-hati terhadap jebakan religiusitas, yang justru berpotensi membuat kita merasa diri kita baik-baik saja, sudah cukup aman, tidak ada masalah, padahal kita belum hidup didalam Kristus dan kebenarannya. Kehidupan yang di luar Kristus dan kebenarannya, apabila mengacu dari Roma 8 ayat 5 sampai ayat 16, dicirikan setidaknya oleh dua hal: 1. Hidup dalam hawa nafsu daging, dalam konteks ini, hidup mengandalkan kebaikan sendiri untuk memperoleh hidup kekal. 2. Tidak hidup di dalam pimpinan Roh Kudus. Orang yang sudah jelas-jelas milik Kristus adalah orang-orang yang hidup oleh roh, dipimpin oleh Roh Kudus, roh itu bersaksi di dalam batin kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ini biasa disebut the internal testimoni of The Holy spirit. Kesaksian roh kudus di dalam batin kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Dari semua kebenaran ini, apa yang perlu kita lakukan:

Pertama, berseru kepada Allah seperti yang pemazmur lakukan dan dicatat dalam mazmur 19:13, siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. Jangan sampai kita tulus beragama, tetapi ketulusan yang sesat. Karena ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12).

Kedua, bersandar pada fakta Efesus 2 ayat 4 sampai 10 melalui iman kita. Ayat 8 secara khusus menunjukkan kepada kita istilah diselamatkan oleh Anugerah melalui iman (saved by Grace through faith). Percaya artinya bersandar, yaitu kepada apa yang Kristus kerjakan bagi kita melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitanNya. Kalau memang Allah Bapa telah menetapkan Dia menjadi jalan bagi kita, iman berarti bersandar pada penyataan dan kenyataan itu. Tidak mengandalkan kebaikan kita untuk beroleh pembenaran Allah, melainkan pada kebaikan Kristus.

(Oleh Pdt. NT. Prasetyo, M.Div., Ibadah BPUK Perum. Jaya Asri, Jayapura, Papua, Kamis/6 April 2017)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s