Efesus 1:3-14. Doksologi kepada Tritunggal


Di akhir kebaktian kita selalu menyanyikan doksologi. Apakah itu? Doksologi berasal dari kata Yunani: doxa artinya kemuliaan dan logia artinya perkataan. Jadi doksologi adalah perkataan-perkataan untuk memuliakan Allah. Dalam pembacaan kita hari ini dari Efesus 1:3-14, kita membaca doksologi yang dituliskan penulis Surat Efesus kepada Allah Tritunggal.

Menurut seorang penafsir, dalam teks aslinya, ayat 3 sampai ayat 14 adalah satu kalimat. Dan dalam 12 ayat tersebut, tertulis puji-pujian kepada tiga Pribadi, yaitu Pribadi Allah Bapa atas karyaNya; Pribadi Allah Yesus Kristus; dan Pribadi Allah Roh Kudus. Ketiganya adalah Pribadi yang dapat dibedakan tetapi Esa adanya.

Pujian kepada Allah Bapa (ayat 3-6)
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.
4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Di dalam bagian ini, kita melihat ada struktur berikut ini:

Kiastik Efesus 1 ayat 3-6

Pada bagian ini, penulis Surat Efesus memuji-muji Allah. Perhatikan di ayat 3 dan 6, ia memuji Allah Bapa karena Pribadi dan KaryaNya. Karya Allah Bapa yang dinyatakan di sini adalah karyaNya untuk:
1. Memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kudus dan tak bercacat di hadapanNya;
2. Menentukan kita dari semula untuk (diadopsi) menjadi anak-anakNya.

Dalam kemahatahuanNya, Allah tahu bahwa manusia yang Ia ciptakan akan jatuh dalam dosa (Kejadian 3). Ia tahu bahwa semua manusia akan berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Namun Allah bukanlah Pribadi yang terkejut atau terkaget-kaget karena peristiwa-peristiwa. Dia adalah Allah yang Maha Mengetahui.

Dalam Pra-pengetahuannya, Ia tahu bahwa pribadi yang bernama NT. Prasetyo akan terlahir di keluarga Kristen tetapi akan senantiasa menyakiti Dia. Ia tahu bahwa saya akan memiliki hati dan pikiran yang memusuhi Dia dan kebenaranNya (Kolose 1:21). Ia tahu bahwa saya akan bersembunyi ketika guru sekolah minggu saya datang menjemput untuk pergi ke kebaktian sekolah minggu. Ia tahu bahwa saya akan memaki-maki kakak saya sementara di ruang sebelah -di rumah kami- sedang dilaksanakan kebaktian umum, sehingga akhirnya saya dihukum berdiri di dekat pohon duku. Ia tahu bahwa di masa remaja saya akan menjadi playboy kelas teri, naksir banyak wanita, tetapi tiada satu pun yang berbalas. Ia tahu semuanya. Dalam pra-pengetahuanNya, Ia pun tahu, bahwa pada usia 15 tahun, akhirnya NT. Prasetyo akan bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupnya. Namun bukan berdasarkan pra-pengetahuanNya itulah Ia memilih saya; dan bukan berdasarkan pra-pengetahuanNya itulah Ia menentukan saya dari semula (predestinasi) untuk diadopsi menjadi anakNya. Sama sekali bukan!

Allah Bapa, memilih dan menentukan (predestinasi) saya sebelum dunia dijadikan, untuk hidup kudus sebagai anak-anakNya, bukan karena pra-pengetahuanNya, tetapi -seperti yang dinyatakan di ayat 5- karena “kerelaan kehendakNya.” Allah Bapa memilih dan mempredestinasikan saya bukan karena Ia tahu sebelumnya bahwa saya akan menerima Dia suatu hari kelak. Bukan! Allah Bapa memilih dan mempredestinasikan saya karena Ia kerelaan kehendakNya. Saya tidak layak, tetapi Ia berkehendak dengan rela untuk menerima saya sebagai anakNya, melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.

Penganut teologi Arminian percaya bahwa Allah memilih dan menentukan kita menjadi anak-anakNya karena pra-pengetahuanNya, yaitu karena Ia tahu bahwa kelak kita akan menerima Dia dan tidak menolak Dia ketika Injil diberitakan. Jadi, seolah Allah tidak mau kecewa, maka Ia memilih yang Ia tahu sebelumnya bahwa orang-orang itu akan menerima Dia. Inilah perbedaan teologi Reformed dengan teologi Arminian. Kebalikan dari penganut Arminian, penganut teologi Reformed percaya akan kedaulatan Allah, bahwa Allah memilih dan menentukan kita menjadi anak-anakNya bukan karena pra-pengetahuanNya; bukan karena Ia tahu bahwa kelak kita akan menerima Dia ketika Injil diberitakan, tetapi karena kerelaan kehendakNya.

Perhatikan di ayat 3 dan 6, ada frasa “mengaruniakan” dan “dikaruniakanNya.” Jadi Allah memilih dan menentukan kita menjadi anak-anakNya adalah karena kasih karunia semata. Sesungguhnya tiada satu pun dari antara kita yang berlayak di hadapanNya untuk diadopsi menjadi anak-anakNya. Kita semua ini sepantasnya binasa. Namun di dalam kerelaan kehendak dan kasih karuniaNya, Ia memilih dan menetapkan kita dari sekian juta manusia, untuk menjadi anak-anakNya. Sekali lagi, seharusnya tidak satupun dari kita yang layak menerima perlakukan murah hati semacam ini. Sepantasnyalah kita yang memusuhi Pencipta kita sendiri dalam hati dan pikiran, menerima hukuman. Sama pantasnya seperti seorang anak yang durhaka kepada orangtuanya, sepantasnyalah menerima hardikan bahkan pukulan. Seharusnya kita semua binasa di bawah murka Allah. Sungguh terpujilah kemurahan hatiNya atas kita.

Pujian kepada Yesus Kristus (ayat 7-12)
7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.
9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus
10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.
11 Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan—kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya—
12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

Disini Pribadi Yesus dipuji karena karya PenebusanNya lewat darahNya yang menghasilkan pengampunan dosa. Allah Bapa memilih dan menentukan kita dari semula untuk menjadi kudus sebagai anak-anakNya. Namun itu tidak dapat terjadi jika Pribadi Anak Allah, yaitu Yesus, tidak Ia utus ke dunia untuk mengerjakan karya keselamatan itu.

Ingat, semua manusia berdosa dan ada di bawah murka Allah. Bapa mengutus PutraNya yang Tunggal; yang paling dikasihiNya, untuk menjadi manusia, sama seperti kita. Ia turut dicobai, hanya saja Ia tidak berdosa. Ia adalah Pribadi yang Benar, dan tidak ada manusia yang seperti Dia karena semua manusia telah berdosa. Ia adalah satu-satunya yang suci dan tak bercacat (Ibrani 4:15, “…sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa“).

Yesus menggantikan kita menerima hukuman Allah. Ia yang benar diperhitungkan sebagai orang berdosa, sedangkan kita yang berdosa diperhitungkan sebagai orang benar. Dosa-dosa kita ditimpakan kepada Yesus yang tergantung di kayu salib, sebaliknya kebenaran Kristus diperhitungkan kepada kita, orang berdosa. Di atas kayu salib itulah, terjadi penebusan dosa. Hutang dosa kita kepada Allah Bapa, dibayar oleh Yesus Kristus dengan darahNya yang mahal. Keselamatan, kita terima memang dengan cuma-cuma atau gratis, tapi bukan berarti keselamatan itu murahan dan gratisan, karena harga yang harus dibayar oleh Sang Anak Allah teramatlah sanga mahal, yaitu dengan nyawaNya dan darahNya sendiri (1 Petrus 1:19).

Ini pun -sekali lagi- terjadi karena kasih karunia dan kerelaanNya (ayat 7, 9, dan 11). Semua karya Yesus ini adalah untuk mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala” (ayat 10). Jadi, Kristus adalah otoritas di atas segala sesuatunya. Ia adalah kepala. Yang memegang kuasa atas segala sesuatu. Pada akhirnya, semua akan bertekuk lutut di bawah kakiNya. Dan ketika itu terjadi, melalui penebusanNya, kita telah berstatus sebagai anak-anakNya, yang telah ditebus dengan harga yang mahal.

Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang telah ditebus dengan harga yang mahal. Kita adalah orang-orang yang mahal. Itu sebabnya, tidak ada alasan untuk kita menjadi rendah diri. Sekalipun mungkin orang menghina kita karena kekurangan fisik kita; karena kelemahan mental kita; karena sebab-sebab apapun juga, ingatlah bahwa Yesus Kristus telah menebus kita dengan darahNya yang mahal. Sungguh terpujilah karuniaNya atas kita.

Pujian kepada Roh Kudus (ayat 13-14)
13 Di dalam Dia kamu juga—karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu—di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.
14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Disini Pribadi Roh Kudus dipuji karena dua karyaNya:
1. Memeteraikan orang percaya (ayat 13);
2. Menjadi jaminan bagi orang percaya (ayat 14).

Roh Kudus sebagai meterai. Jangan bayangkan meterai disini seperti meterai di zaman kita. Meterai yang dimaksud disini adalah cairan lilin panas untuk menutupi bagian tengah gulungan kertas, lalu di atas cairan lilin panas itu dicetakkan sebuah alat cetak (stempel). Hasilnya, lilin itu akan menjadi cetakan dari stempel tersebut. Lilin itu menjadi ‘karakter’ dari stempel tersebut.

Gulungan surat bermeterai

Meterai mengindikasikan bahwa isi surat itu dilindungi; tidak boleh sembarangan memperlakukan surat itu, karena meterai juga mengindikasikan kepemilikan. Apabila Roh Kudus memeteraikan kita, itu berarti kita ini ada yang punya; ada yang memiliki. Siapa yang memiliki itu? Tentu Allah sendiri. Dan sebagai milik Allah, kita dilindungi olehNya. Oleh sebab itu, iman orang percaya akan terpelihara oleh Tuhan. Yesus berjanji, “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:28).

Roh Kudus juga menjadi jaminan kita. Jaminan disini berasal dari kata Yunani Arrabon, atau uang muka (down-payment). Atas iman kita, kita akan menerima sesuatu yang besar, yaitu hidup kekal bersama Allah Pencipta. Namun selama kita masih hidup di dunia ini, Roh Kudus diberikan kepada setiap anak-anak Tuhan sebagai pembayaran di muka. Artinya, kita pasti akan menerima yang selebihnya.

Ketika saya kredit rumah, uang muka yang diberikan cukup besar. Namun saya bersyukur, ada fasilitas yang diberikan sehingga kami bisa mencicil uang muka untuk kredit rumah. Roh Kudus yang hadir dalam hidup kita, adalah uang muka yang luarbiasa. Bayangkan, uang mukanya adalah salah satu Pribadi Allah Tritunggal sendiri. Hanya saja bedanya dengan kredit rumah, Roh Kudus tidak datang dalam bentuk cicilan. Ia hadir sepenuhnya dalam kehidupan kita, menjadi jaminan bahwa berkat yang teramat besar akan kita terima kelak.

Berkat besar apa yang salah satunya akan kita terima? Kebangkitan dari antara orang mati. Yesus Kristus telah dibangkitkan Allah dengan kuasa Roh Allah dan mendapatkan tubuh kemuliaan. Ia disebut sebagai buah sulung. Sebagaimana tanaman di perkebunan pada musim panen, ketika sudah ada buah sulung yang muncul, akan dilanjutkan dengan buah-buah selanjutnya. Kebangkitan Yesus dari kematian oleh Roh Kudus, akan disusul dengan kebangkitan orang percaya dari antara orang mati (1 Korintus 15:20; Kolose 1:18). Roh Kudus akan membangkitkan kita dari kematian (Roma 8:11).

Kehadiran Roh Kudus sebagai meterai dan jaminan ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mudah putus asa dalam perjuangan iman kita. Kita harus bertekun di dalam iman, meskipun cobaan dan tantangan kita hadapi. Karena janji Allah bagi kita sangatlah luarbiasa. Ia memelihara iman kita. Ia juga menyediakan warisan yang luarbiasa bagi kita di kemudian hari. Sungguh terpujilah karya Allah Roh Kudus dalam hidup kita.

Pelajaran ini membuat kita makin memaknai doksologi ketika kita menyanyikannya. Kita sadar bahwa kita yang tak berlayak ini sungguh telah memperoleh karunia Allah yang luarbiasa. Dan karena itu, selayaknyalah kita memuji-muji Dia:

Puji Allah Bapa, Putera,
Puji Allah Rohol Kudus,
Ketiganya yang Esa,
Pohon s’lamat sumber berkat,
Amin.

(Ev. NT. Prasetyo, M.Div. Disampaikan dalam Ibadah GKKK Pos Pelayanan Doyo Baru, Minggu, Juni 2015).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s