2 Samuel 15:13-37; 16:1-4. Antara yang Hadir dan Tidak Hadir


Perenungan kita hari ini, sebagian besarnya terambil dari perikop yang berjudul “Daud Melarikan Diri dari Yerusalem.” Ia melarikan diri mendengar Absalom telah menjadi kuat. Kitab 2 Samuel 15:14 (TB), mencatat, “Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pegawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: ‘Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom. Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita dan memukul kota ini dengan mata pedang!’” Pengalaman Daud ini adalah bagian dari penghukuman Tuhan atas dirinya, setelah dosa perzinahannya dengan Batsyeba.

Kehadiran Mereka yang Tidak Diinginkan dan Ketidakhadiran Mereka yang Diharapkan

Tuhan memang telah mengampuni Daud, tetapi konsekuensi dosa harus tetap dijalani oleh Daud. Dan dalam perjalanannya memikul konsekuensi dari dosanya ini, Tuhan menghajar Daud, sehingga Daud tahu bahwa dia bukanlah pengendali hidupnya sendiri. Sebelumnya, sebagai penguasa Daud telah berusaha mengendalikan hidupnya dengan mewujudkan keinginannya tidur dengan Batsyeba; Daud telah mewujudkan harapannya agar Uria mati. Namun melalui hukuman yang Tuhan timpakan kepadanya, Daud dapat belajar bahwa bukan dirinya yang mengendalikan hidupnya. Dalam hukuman yang Tuhan timpakan, Daud belajar, seperti apa keadaan ketika yang tidak diinginkan terjadi, sedangkan yang diharapkan justru tidak terwujud:

a. Sebelumnya, dalam dosanya dengan Batsyeba, Daud telah mewujudkan keinginannya untuk tidur dengan Batsyeba, dan dengan kekuasaannya sebagai raja, keinginan Daud itu terlaksana. Daud mewujudkan keinginannya untuk tidur dengan Batsyeba.

b. Sebaliknya dalam dosanya dengan Batsyeba, Daud tidak mengharapkan Uria dan rakyat banyak, tahu atas perzinahannya dengan Batsyeba, sehingga ia memaksa Uria pulang ke rumahnya dan tidur dengan Batsyeba dengan harapan orang berpikir bahwa Batsyeba hamil oleh suaminya sendiri, dan ketika rencananya itu gagal, ia mengirim Uria berperang “untuk mati,” dan dengan kekuasaannya sebagai raja, harapan Daud itu terwujud. Daud mewujudkan harapannya agar Uria mati dan perzinahannya dengan Batsyeba tidak diketahui oleh siapapun, setidaknya untuk seketika waktu lamanya.

Tuhan menghajar Daud, sehingga Daud tahu, seperti apa keadaan ketika yang tidak diinginkan justru terjadi, sedangkan yang diharapkan justru tidak terwujud.

Berikut ini dua hal yang Daud tidak harapkan untuk ada, tapi justru hadir:

1. Kehadiran Itai (si orang asing) yang ikut Daud ke pengungsian.
Kitab 2 Samuel 15:19-20 (TB), “Lalu bertanyalah raja kepada Itai, orang Gat itu: ‘Mengapa pula engkau berjalan beserta kami? Pulanglah dan tinggallah bersama-sama raja, sebab engkau orang asing, lagipula engkau orang buangan dari tempat asalmu. Baru kemarin engkau datang, masakan pada hari ini aku akan membawa engkau mengembara bersama-sama kami, padahal aku harus pergi entah ke mana. Pulanglah dan bawalah juga saudara-saudaramu pulang; mudah-mudahan TUHAN menunjukkan kasih dan setia kepadamu!’

Mungkinkah kehadiran (dan kesetiaan) Itai, si orang asing itu, mengingatkan dia akan Uria, si orang asing yang juga setia-mengabdi kepadanya? “Baru kemarin engkau datang, masakan pada hari ini aku akan membawa engkau mengembara bersama-sama kami, padahal aku harus pergi entah ke mana,” ujar Daud kepada Itai. Itai telah menjadi wujud kehadiran yang tidak diharapkan oleh Daud.

2. Kehadiran Zadok dan Abyatar (dan Ahimaas dan Yonatan) beserta orang-orang Lewi yang membawa Tabut Perjanjian.
Kitab 2 Samuel 15:25-27 (TB), “Lalu berkatalah raja kepada Zadok: ‘Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya.
Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya.’ Lagi berkatalah raja kepada Zadok, imam itu: ‘Jadi, engkau dan Abyatar, pulanglah ke kota dengan selamat beserta anakmu masing-masing, yakni Ahimaas anakmu dan Yonatan, anak Abyatar.'”

Bukan perkara mudah bagi Daud untuk membawa kembali Tabut Allah ke Yerusalem. Kitab 2 Samuel 6 mencatat kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi:

a. Adanya peristiwa keteledoran Uza yang mengakibatkan Uza mati, dalam hal pengangkutan Tabut Allah, “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu” (2 Samuel 6:7, TB).

b.Jatuhnya hukuman Tuhan atas Mikhal karena memandang rendah ayahnya, Daud, ketika Tabut Allah diangkut ke Yerusalem.  Kitab 2 Samuel 6:16, 23 (TB) mencatat,  “Ketika tabut TUHAN itu masuk ke kota Daud, maka Mikhal, anak perempuan Saul, menjenguk dari jendela, lalu melihat raja Daud meloncat-loncat serta menari-nari di hadapan TUHAN. Sebab itu ia memandang rendah Daud dalam hatinya…. Mikhal binti Saul tidak mendapat anak sampai hari matinya.

Mengingat kesulitan-kesulitan di atas, dan pentingnya kehadiran Tabut Allah di tengah-tengah umat Allah, maka Daud pun memerintahkan Zadok, Abyatar, dan anak-anak mereka, kembali bersama Tabut Allah ke Yerusalem. Lagipula, dari Ahimaas dan Yonatan, Daud membutuhkan informasi-informasi tentang apa yang terjadi di Yerusalem. Para imam dan orang-orang Lewi, serta Tabut Allah, telah menjadi wujud kehadiran yang tidak diharapkan oleh Daud.

Kehadiran Itai dan para imam Lewi beserta Tabut Perjanjian tanpa Daud harapkan, menunjukkan kepada Daud bahwa dirinya bukanlah pengendali kehidupan ini. Sebaliknya, berikut ini dua hal yang Daud inginkan untuk ada bersamanya, tapi justru tidak hadir:

1. Ketidakhadiran Ahitofel, si penasehat.
Terkesan ada ekspresi kegentaran dari Daud, ketika mendengar bahwa Ahitofel justru memihak kepada Absalom. Kitab 2 Samuel 15:31 (TB) mencatat, “Ketika kepada Daud dikabarkan, demikian: ‘Ahitofel ada di antara orang-orang yang bersepakat dengan Absalom,’ maka berkatalah Daud: ‘Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya TUHAN.’” Wajarlah jika Daud menjadi gentar, karena dalam pasal berikutnya, kita mendapati kehebatan Ahitofel, “Pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom” (2 Samuel 16:23 (TB)). Mengetahui bahwa Ahitofel memihak Absalom, yang keluar dari mulut Daud adalah seruan doa permintaan tolong kepada Tuhan.

2. Ketidakhadiran Mefiboset, si penerima anugerah dari Daud.
Bagian ini dikisahkan di pasal 16, tepatnya di ayat 1-4. Dan tidak jelas, entah Mefiboset benar-benar tidak tahu tentang keadaan politik di Israel, ataukah ia -seperti kata Ziba- berniat mengembalikan kejayaan Kerajaan Saul. Yang pasti ketidakhadiran Mefiboset adalah sesuatu yang tidak Daud harapkan.

Ketidakhadiran Ahitofel dan Mefiboset seperti yang Daud harapkan, menunjukkan kepada Daud bahwa dirinya bukanlah pengendali kehidupan ini. Meski demikian, tetap nyata bagi Daud, kasih sayang Tuhan di tengah-tengah penghukuman.

Pertolongan Tuhan di Tengah-tengah Penghukuman

Di dalam tujuh ayat kita bisa membaca tentang kasih sayang Tuhan kepada umatNya, bahkan di dalam penghukuman. Suatu kenyataan yang kelak kita baca juga dalam kisah pembuangan umat Tuhan di Kerajaan Babilonia. Ketika umat Tuhan merendahkan diri menjalani proses pendidikan yang Tuhan sediakan, justru disitu ada berkat-berkat Tuhan dinyatakan, misalnya dengan munculnya Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, belum lagi tokoh Ratu Esther di zaman Persia. Demikian juga, penghukuman Tuhan harus Daud jalani. Namun seperti apakah bentuk kasih sayang Tuhan bagi Daud?

Dalam konteks penghukuman Daud, diantara kisah Ahitofel dan Mefiboset, muncul anugerah Tuhan melalui sosok Husai. Di ayat 31-32 (TB)  dicatat, “Ketika kepada Daud dikabarkan, demikian: ‘Ahitofel ada di antara orang-orang yang bersepakat dengan Absalom,’ maka berkatalah Daud: ‘Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya TUHAN.’
Ketika Daud sampai ke puncak, ke tempat orang sujud menyembah kepada Allah, maka datanglah Husai, orang Arki, mendapatkan dia dengan jubah yang terkoyak dan dengan tanah di atas kepala.” Di ayat 31 dicatat, mendengar pengkhianatan Ahitofel, Daud hanya bisa berdoa kepada Tuhan; memohon pertolongan Tuhan. Dan luarbiasa anugerah Tuhan, di ayat 32, tepat pada waktunya Tuhan “datanglah Husai,” sebagai jawaban doa Daud.

Kepada Husai, Daud meminta dalam 2 Samuel 15:34, “…engkau dapat membatalkan nasihat Ahitofel demi aku.” Dan memang, dalam pasal berikutnya kita dapat membaca, bahwa hidup Daud dan pengikutnya terselamatkan oleh jasa Husai yang telah Tuhan pakai untuk menjadi jawaban doa bagi Daud. Dan tepat pada waktunya pula, Husai bertemu dengan Absalom, tanpa Absalom menyadari bahwa pada sosok Husai inilah, kehancurannya terjadi.

Dari kisah ini kita belajar:

1. Kita bukanlah pengendali hidup kita sendiri. Bahkan kita tidak menyangka bahwa ada orang-orang bersimpati dengan kita, dan kita tidak sanggup menjamin loyalitas oranglain kepada kita.

2. Di dalam penghukuman Tuhan, kasih Allah tetap nyata tepat pada waktunya. Dalam keadilanNya, Tuhan menghukum, tetapi kasih sayangNya Ia tunjukkan dengan tetap menjadi Pribadi yang layak menjadi sandaran setiap anak-anakNya. TelingaNya tidak pernah kurang tajam untuk mendengar doa anak-anakNya, dan tanganNya tidak kurang panjang untuk menolong anak-anakNya, tepat pada waktunya.

3. Adakah kita menjadi seperti Husai; menjadi jawaban doa bagi oranglain, ataukah kita seperti Ahitofel, yang tidak setia meskipun memiliki karunia menasehati yang luarbiasa.

(Ev. NT. Prasetyo, Pemahaman Alkitab Guru-guru SMAK dan SDK Kalam Kudus Jayapura, Rabu pagi, 4 Juni 2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s