Amanda Berry Smith (1837–1915) – Masa Muda sebagai Masa Pertobatan


Cerita Teladan bagian II

Ayat hafalan : Amsal 1:7, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”

Cerita:

Sekilas Tambahan Cerita Minggu Lalu

Ketika Amanda meninggalkan rumahnya di usia yang ke-13 tahun untuk memasuki dunia pekerjaan, dia tinggal di sebuah lingkungan orang-orang kulit putih. Amanda menjadi satu-satunya orang kulit hitam yang hadir di gereja tersebut.

Dalam upayanya untuk menemukan kedamaian dari Allah, Amanda menghadiri gereja tersebut. Namun, pembina gereja yang bertugas membimbing orang-orang baru, menolak untuk mengajarnya sampai semua anggota gereja yang berkulit putih telah selesai diajar. Karena dia harus lama menunggu giliran, akibatnya dia terlambat menyiapkan makan malam bagi majikannya. Akhirnya, dia berhenti ikut pembinaan di gereja, dan memilih untuk mempertahankan pekerjaannya. Akibatnya, pertumbuhan rohaninya terhambat.

Pernikahan Pertama dan Kisah Pertobatan

Pada usia 17 tahun, Amanda menikahi Calvin Devine, dan memiliki dua orang anak. Calvin, suami Amanda, suka mabuk-mabukkan dan membuat batin dan perasaan Amanda menderita.

Pada masa-masa pernikahannya dengan Calvin ini, Amanda tidak terlalu mempedulikan urusan-urusan rohani sampai suatu hari, ia hampir mati karena suatu penyakit, yaitu ketika ia berusia 20 tahun. Ayahnya, Pak Samuel, mengunjungi Amanda yang terbaring di tempat tidur dan meminta Amanda untuk berdoa. Amanda berdoa dan tertidur. Sementara tertidur, Amanda bermimpi bahwa dia sedang berkotbah di sebuah acara ibadah besar di tenda.

Setelah Amanda sembuh dari sakitnya, Amanda percaya bahwa Allah telah menyelamatkan nyawanya dari kematian demi sebuah tujuan. Suatu malam ketika ia sedang mengunjungi kebaktian di sebuah gereja Baptis setempat, ia merasa terdorong untuk maju ke depan altar (panggung mimbar). Sambil berdoa, ia berteriak, “Oh, Tuhan, selamatkan saya.” Allah mendengar doanya dengan membuatnya merasakan ketenangan yang tidak dapat dijelaskan.

Pada usia 21 tahun, Amanda mengalami pengalaman pertobatan di lantai dasar sebuah rumah, tempat ia bekerja. Selama dua bulan, ia telah berdoa, berpuasa, dan merindukan mendapatkan pengalaman pertobatan pribadi. Akhirnya, pada tanggal 17 Maret 1856, ia pergi ke gudang bawah tanah rumah tempatnya bekerja itu, dan meminta Tuhan mempertobatkan hatinya atau mengambil saja nyawanya sore itu juga. Amanda berlutut bersiap-siap mati, jika Tuhan tidak mempertobatkannya. Namun pada sore itu juga, Amanda mengakui imannya kepada Tuhan, ia bertobat. Ia berseru, “Haleluya, saya telah mendapatkan agama,” ketika ia melihat wajahnya di cermin bersinar dan sebuah pengalaman mengubahkan ia alami di dalam dirinya.

Amanda telah menjadi murid Kristus yang sungguh-sungguh, dan terus berjuang untuk menyucikan kehidupannya dan memberitakannya kepada oranglain. Hidupnya yang indah di dalam Kristus ternyata tidak diiringi dengan kehidupan yang indah dalam pernikahan. Calvin, suaminya tetap saja seorang pemabuk, dan Calvin pun mendaftar menjadi anggota tentara dan pergi berperang, tetapi tidak pernah kembali ke rumah. Anaknya yang kedua, bernama Mazie, adalah satu-satunya anak yang Amanda miliki, yang bertahan hidup.

Pernikahan Kedua dan Panggilan Pelayanan

Ketika Amanda berusia 25 tahun, Amanda bertemu seorang pria yang usianya 20 tahun lebih tua daripada dirinya, namanya James Smith. James adalah seorang pemimpin dan pengkotbah di gereja. Mereka pun menikah, dan pindah ke Kota New York. Melalui pernikahan ini, mereka mendapatkan tiga orang anak, yang ketiganya mati ketika masih bayi.

Pada usia Amanda yang ke-34 tahun, terjadi titik balik dalam kehidupan pelayanan Amanda. Musim dingin memuncak dan anak laki-lakinya yang terakhir yang masih bayi, terkena penyakit paru-paru dan meninggal dunia. Pak James, suami Amanda, tidak punya uang untuk membiayai pemakaman dan tidak hadir di pemakaman anak laki-lakinya itu. Di tahun yang sama, Pak James pun meninggal dunia karena kanker pencernaan. Yang tertinggal, hanyalah Mazie, anak perempuan Amanda. Mazie lalu dititipkan kepada salah seorang teman, dan Amanda sendiri lalu melanjutkan pengejaran rohaninya.

Mamanya AManda

Amanda tidak memiliki kualifikasi yang tepat untuk mengejar panggilan rohaninya sebagai seorang penginjil, karena ia adalah seorang mantan budak, warga negara kelas dua, seorang wanita tukang cuci, seorang pelayan biasa, dan seorang wanita yang tidak berpendidikan. Namun ia mengatasi semua hambatan ini, dan menjadi seorang jurubicara wanita yang dinamis tentang anugerah Allah.

Pelajaran bagi Kita

Tepatlah pernyataan Firman Tuhan dalam Amsal 1:7, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Amanda adalah seseorang yang takut akan Tuhan, meskipun hidupnya sulit dan menderita, meskipun untuk belajar Firman Tuhan ia menghalangi penghambatan dari sesamanya, meskipun pendidikannya kurang, tetapi Tuhan telah memberinya hikmat. Bahkan ia pun menjadi jurubicaranya Tuhan; ia bersaksi kemana-mana tentang Tuhan dan anugerahnya.

Meskipun Amanda tidak berpendidikan, tetapi ia bukan orang bodoh, karena ia tidak menghina hikmat dan didikan. Sebaliknya, ia mau belajar dan ia mau menerima didikan, meskipun itu sulit didapatkan.

(Ev. NT Prasetyo, M.Div.)

Amanda Berry Smith dan Masa Kecilnya Klik Disini

Sumber-sumber:

http://www.biblicalstudies.org.uk/pdf/ashland_theological_journal/37-1_065.pdf
http://docsouth.unc.edu/neh/smitham/ill2.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s