Amanda Berry Smith (1837–1915) – Masa Kecilnya sebagai Masa Melihat Keteladanan


Cerita Teladan bagian I

Ayat hafalan : Efesus 6:2a, “Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting.”

Cerita:

Amanda lahir sebagai budak di Maryland, daratan Amerika, pada tanggal 23 Januari 1837. Ayahnya bernama, Samuel Berry, dan ibunya bernama, Miriam Matthews Berry. Mereka ditahan sebagai budak, di peternakan yang lokasinya berdekatan.

amanda smith

Bapak Samuel Berry memiliki sifat yang setia, sehingga ia disenangi oleh majikan perempuannya. Majikan perempuan Bapak Samuel lalu memberi kesempatan bagi Bapak Samuel untuk mendapatkan upah lebih agar ia bisa membeli kemerdekaan bagi keluarganya sendiri. Bapak Samuel bekerja tanpa kenal lelah demi mendapatkan upah, agar ia bisa membeli kemerdekaan bagi isterinya dan kelima anaknya. Ia bekerja keras membuat membuat sapu dan tikar kulit dan membawa barang-barang itu ke pasar untuk dijual. Ia berjalan beberapa mil jauhnya untuk bekerja di ladang-ladang sampai pukul satu atau dua malam (dini) hari. Ia tidur selama sejam atau dua jam, lalu ia bangun lagi. Dengan demikian, ia secara bertahap mendapatkan upah agar bisa membeli kemerdekaan bagi setiap anggota keluarganya. Pada akhirnya Bapak Samuel berhasil memiliki uang cukup untuk membeli kemerdekaan bagi dirinya, dan kemudian bagi isterinya.

samuel berry, ayahnya Amanda

Upaya Amanda untuk mendapatkan pendidikan formal di masa kanak-kanaknya, selalu gagal karena sekolah tidak tersedia, atau kalaupun ada, terlalu sulit bagi anak Amerika keturunan Afrika untuk mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah orang-orang berkulit putih. Pada saat Amanda berusia delapan tahun, ia dan saudaranya pernah mendatangani sebuah sekolah Metodis untuk anak-anak kulit hitam. Namun sayangnya, sekolah itu hanya berlangsung enam minggu saja, karena gurunya pindah keluar kota. Lima tahun kemudian, Amanda dan saudara laki-lakinya mencoba untuk bersekolah lagi. Kali ini, sekolah yang mereka kunjungi bukanlah khusus untuk kulit hitam. Setiap hari, mereka harus berjalan 10 mil bolak-balik demi pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah pun, mereka belum tentu akan mendapatkan pengajaran, karena mereka harus menunggu dahulu sampai gurunya punya waktu untuk mengajar mereka. Akhirnya, akibat mereka harus berjalan jauh melintasi musim dingin yang berat, dan lagi sikap gurunya yang tidak terlalu menyambut kehadiran mereka, akhirnya, mereka hanya bertahan dua minggu saja di sekolah itu. Amanda Smith hanya mengikuti pendidikan formal, kurang dari tiga bulan, tetapi orangtuanya menolongnya untuk belajar membaca dan menulis. Untung juga ada orang-orang tertentu di dalam hidup Amanda yang menolongnya untuk bisa memiliki cara berpakaian yang baik, dan menolongnya bergaul dengan orang-orang kulit putih di zamannya.

Amanda dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang mencintai Tuhan. Selalu pada hari Minggu pagi setelah sarapan, Bapak Samuel akan memanggil anak-anaknya untuk berkumpul disekitarnya dan membacakan Alkitab kepada mereka. Seberapa pun sedikit makanan yang ada, tetapi Bapak Samuel selalu berdoa memohon berkat Tuhan sebelum makan. Ibu Miriam, adalah seorang Kristen yang tulus, beriman kuat kepada Allah, sangat bijaksana dan hati-hati dalam mengelola keuangan keluarga. Ia bisa membuat makan malam terbaik bagi keluarganya. Sedangkan neneknya Amanda juga seseorang yang beriman kuat, dan berdoa dengan tekun agar cucu-cucunya akan mendapatkan kemerdekaan dan tidak lagi menjadi budak.

Akhirnya mereka sekeluarga berhasil pindah ke kota lain, yaitu ke York County, Pennsylvania. Disana, Bapak Samuel Berry mendapatkan tujuh orang anak lagi, bahkan pada akhirnya, Bapak Samuel akan mempunyai anak, seluruhnya berjumlah 13 orang anak. Amanda sendiri adalah anak sulung. Rumah baru mereka di Pennsylvania ini sering menjadi tempat persembunyian dari budak-budak yang melarikan diri dari majikan mereka. Dan setiap budak yang telah melarikan diri ke rumah keluarga Bapak Samuel ini, tidak ada yang pernah kembali lagi ke dalam perbudakan majikannya yang semula.

Pada usia 13 tahun, karena Amanda tidak bisa lagi sekolah, akhirnya ia meninggalkan rumah dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga di Pennsylvania. Pekerjaan yang dilakukannya diantaranya membersihkan, mencuci, menyetrika, menjaga bayi, dan memasak.

Doa sang nenek dijawab Tuhan ketika Amanda berusia 15 tahun. Berkat doa sang nenek dan kerja keras sang ayah, akhirnya pada usianya yang ke-15, Amanda mendapatkan kemerdekaan dan bukan lagi budak.

Sampai pada akhirnya, di usianya yang masih muda (17 tahun), Amanda pun menikah.

Dari kisah masa kanak-kanak Amanda ini, kita belajar peran orang-orang tua dalam kehidupan Amanda. Nenek dan ibunya yang beriman kepada Tuhan dan tekun berdoa. Ayahnya Amanda, Pak Samuel, yang sangat setia dan giat bekerja demi bisa membeli kemerdekaan bagi keluarganya, Sudah sepantasnya bagi Amanda untuk menghormati orangtuanya. Terlebih lagi karena itu adalah perintah Tuhan bagi setiap anak-anak, seperti tercatat dalam Efesus 6:2a, “Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting

(Oleh Ev. NT. Prasetyo, M.Div.)

Amanda Berry Smith-Masa Muda sebagai Masa Pertobatan Klik Disini

Sumber:

http://www.biblicalstudies.org.uk/pdf/ashland_theological_journal/37-1_065.pdf
http://todayinafricanamericanhistory.com/

Shrewsbury black man was conductor on Underground Railroad

http://docsouth.unc.edu/neh/smitham/ill2.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s