Surat bagi Seorang Teman yang Bergumul dengan Ketidakhadiran Anak dalam Kehidupannya!


(Semoga ini menguatkanmu sobat; dan menguatkan sobat-sobat yang lain juga!)

Riuh-rendah manusia mengawal hasil sidang MK ternyata tidak mengurangi riuh-rendah hatimu, hai, teman!
Tubuhku terbaring lelah ketika pesan singkatmu terbaca, dan mengungkapkan kegelisahanmu hatimu!
Ah, seandainya di sorga pun sedang berlangsung sidang mahkamah tertinggi, mungkin kau pun akan berdemonstrasi menuntut keadilan saat ini!
Sedikit menggodamu: “Mungkin massa yang mengikutimu tidaklah sedikit jika engkau benar-benar berdemo di pintu sorga!”

Enam tahun usia pernikahanmu (yang jelas lebih panjang dari usia pernikahanku),
dan enam tahun itu menjadi tahun-tahun yang panjang bagimu….
Diwarnai oleh -mereka yang Ayub sebut sebagai- penghibur-penghibur sialan…,
yang mengungkapkan tanpa empati -apa yang C.S. Lewis sebut sebagai- “penghiburan agama”.

Engkau begitu sedih, karena penghibur-penghibur sialan itu menuduh engkau kena kutuk karena ketiadaan anak dalam pernikahanmu!
Celakanya lagi…mereka berjubah pendeta, si ahli “penghiburan agama”.
Kepadaku engkau menulis “udah eneg sama pendeta yang dlm kotbahnya menyatakan bahwa jawaban doa itu harus selalu, ya!”
Dan engkau pun mengharapkan penghiburan dariku; penghiburan dari mereka yang juga bergumul….

Well, dari kitab Ayub kini kita menemukan jelas bahwa memang ada “penghibur sialan”,
yang mengklaim apa yang dianggap seharusnya, tanpa mengetahui bahwa ada misteri Ilahi dan sidang Ilahi yang tak kasat mata.
Sama seperti dirimu, aku pun tidak tahu apa yang Allah pikirkan saat ini dalam sidang IlahiNya,
dan enggan aku mengungkapkan kalimat klasik di hadapanmu bahwa “Tuhan tahu waktu yang terbaik.”

Kenyataannya, Ayub menggugat Allah! Imannya adalah iman yang menggugat!
Gugatan yang begitu Asli! Tulus! Keluar dari hati! Otentik! Otentik menyatakan keterbatasan kita untuk memahamiNya;
bahkan meski manusia -seperti halnya Imam Eli yang dianggap rohani- menyalahpahami kita.
Ya, bahkan Hana pun dianggap mabuk -disalahpahami- oleh mereka yang dianggap rohani; oleh rohaniwan.

Dan mereka -para rohaniwan- yang berkotbah bahwa jawaban doa harus selalu, “ya”….
Jiwa mereka tidak ubahnya bagaikan jiwa kanak-kanak yang menguasai salah satu capres kita,
yang menganggap hidup itu seperti mainan miliknya,
dan ketika hidup tidak berpihak kepadanya, Ia pun menangis, merengek, menuntut, seperti kanak-kanak!

Keluarga batakmu mungkin tidak sedang berpihak padamu, hai, teman! Apalagi bagi orang batak, anak itu begitu bernilai!
Hidup seolah tidak berpihak padamu saat ini! Bahkan keluarga Ilahi pun seolah tidak berpihak pada kita!
Namun kita bukan anak-anak gampang! Meskipun saat ini…hidup memaksa kita kekanak-kanakkan….
Namun biarlah kekanak-kanakkan itu tidak permanen; karena kita hidup; bergerak; dinamis; beriman; dan…kuat!

Benar katamu “Justru orang-orang yang tidak dikaruniai anak oleh Tuhan adalah orang-orang pilihan….”
Seketika waktu…banyak orang masuk deretan orang-orang pilihan….
Perspektif kitalah yang harus dibongkar….! Dan tertarik aku membahasakan kembali perkataan Dr. Andik Wijaya bagimu! (Sebetulnya kalimatnya ditujukan utk mereka yg melajang)
“Mereka yang menikah dan belum dikaruniai anak adalah ‘Special Edition‘!”

Sementara seorang penginjil pernah berkata, BUKAN KEHADIRAN ANAK YANG MENJADIKAN PERNIKAHAN SEMPURNA.
Pernikahan kita telah “sungguh amat baik” sejak awal; anak adalah milik Allah yang Tuhan titipkan hanya seketika waktu lamanya!
Pada saatnya…anak-anak pun akan meninggalkan kita! Mereka harus cleaving for leaving
Bukankah sudah menjadi rancangan mula-mula bahwa anak-anak harus tinggalkan orangtuanya dan menjadi satu dengan pasangannya?!

Ya, kita yang tidak -atau belum- dikaruniai anak adalah Special Edition!
Special edition untuk mengerjakan misi Tuhan dengan cara yang berbeda dan unik!
Special edition untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pernikahan kita tetap sempurna karena memang demikian!
Dan bagiku pribadi…kondisi ini adalah kondisi special edition karena aku dapat berbagi kuk dan menguatkan dirimu dalam perahu yang sama.

Ya, benar katamu….”terkadang Tuhan serasa gak adil.”
Aku pun speechless tentang itu…
Yang aku tahu…justru disini pertempuran besar kita…
untuk tetap percaya bahwa TUHAN ITU TETAP BAIK bagi kita!

Salam, N T Prasetyo, temanmu senasib-sepenanggungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s