Belajar dari “Dawn of the Planet of the Apes”


Dawn of The Planet of The Apes

“Dawn of the Planet of the Apes”; menggambarkan bagaimana ulah manusia yang naif dan ulah kera yang terbakar oleh dendam, menghasilkan perang antara keduàbelah pihak. Dan ujung-ujungnya, manusia yang baik dan kera yang baik harus hidup dengan berani menjalani konsekuensi akibat ulah manusia dan kera yang jahat…. Bukankah itu menggambarkan kehidupan kita? Seringkali mereka yang baik harus menjalani konsekuensi akibat ulah si jahat?! Rakyat Palestina yang tidak bersalah harus menanggung konsekuensi dari ulah Hamas?! Rakyat Israel yang cinta damai harus menanggung konsekuensi dari ulah politisi Zionisnya yang haus wilayah?! Bangsa Indonesia yang rindu bersatu harus menanggung konsekuensi dari ulah para politisi yang ambisius?!

Meski demikian, tetap ada hikmah dibalik sebuah ironi! Meskipun peperangan (sebagai konsekuensi) harus dijalani, para kera terbuka matanya bahwa ada juga manusia yang baik; dan manusia terbuka matanya bahwa ada juga kelompok kera yang cinta damai. Kedua kelompok ini belajar untuk tidak lagi berpikir “mereka lawan kita”, melainkan “diantara mereka ada yang jahat; demikian juga diantara kita.”

Bagi para penonton film ini sendiri, ada hikmah yang dapat dipelajari dari -setidaknya- 4 kalimat sindiran dalam film ini:

  1. Caesar, tokoh kera yang baik, berkata: “Apes do not want war!” (Kera tidak menginginkan perang). Bandingkan dengan sifat manusia yang seringkali menginginkan “perang,” sampai-sampai adagium pun muncul, “Homo homini lupus” (Manusia serigala bagi sesamanya).
  2. Caesar berkata tentang Kobe, tokoh kera yang jahat: “From humans, Kobe only learned hate. Nothing else” (Dari manusia, Kobe hanya belajar kebencian. Tak ada yang Lain). Ini sindiran yang lebih keras lagi. Dalam doktrin Kristen jelas, kecenderungan hati manusia kepada kejahatan adalah akibat kejatuhan manusia pertama dalam dosa. Namun kalau sampai kera yang ngomong gitu tentang manusia, wuidihhh…. Betapa parahnya kondisi kejatuhan manusia.
  3. Caesar berujar tentang Koba yang telah mengkhianatinya: “I chose to trust Koba because ape. I always think ape better. Now I see how much like them we are” (Aku memilih untuk percaya Koba karena kera. Aku selalu berpikir kera lebih baik. Sekarang aku melihat betapa kita begitu mirip mereka ). Kalimat ini, “Mak-jleb!” (menusuk hatiku banget); seolah kera benar-benar lebih berintegritas daripada manusia.
  4. Koba berkata kepàdà Caesar: Apes not kill apes (“Kera tidak membunuh kera”). Caesar menjawab: You are no ape (“Kau bukan kera”). Lalu Caesar melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Koba yang telah berkhianat itu jatuh, mati. Dan lagi-lagi, bangsa kera menunjukkan keunggulannya daripada manusia, yaitu kesetiakawanan seekor kera bukanlah kesetiakawanan buta, tapi kesetiakawanan yang memperhitungkan moralitas. Perkataan Caesar seolah hendak menyatakan kepada Koba, bahwa Koba lebih mirip manusia, yaitu dalam hal kejahatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s