Paradoks Maleficent: Sebuah Dongeng Disney


Poster film, “Maleficent”, yang dirilis Mei 2014 ini, memang memperlihatkan wajah sesosok peri yang mengerikan; berwajah pucat dengan dagu runcing; memiliki sepasang mata yang bengis; sepasang tanduk panjang yang aneh; dan berjubah gelap layaknya seorang penyihir. Namun siapa sangka bahwa jalinan kisah tentang tokoh peri perkasa yang sukses diperankan Angelina Jolie ini, tidak melepas kita pergi meninggalkan gedung bioskop dengan sebuah perasaan ketakutan, melainkan dengan banyak pelajaran yang dalam.

Film yang disutradarai Robert Stromberg ini menceritakan sisi lain dari seorang tokoh jahat bernama Maleficent, yang terdapat dalam dongeng Disney terkenal berjudul “Sleeping Beauty” (Puteri Tidur). Selama ini dalam dongeng Puteri Tidur, Maleficent dilukiskan sebagai sesosok wanita penyihir yang sangat jahat; yang sama seperti tokoh jahat pada umumnya, harus berakhir kisahnya dalam kekalahan.

Akhir kisah yang berbeda dan – yang menurut seorang teman – “unexpected” (tidak diperkirakan sebelumnya) dari film ini, telah meninggalkan jejak-jejak kenangan berisi kekaguman dan perenungan sekaligus. Setidaknya ada tiga hal penting yang menjadi bahan perenungan kita.

1. Terkait Doktrin Kristen:
Mark Shaw menulis, “Jangan pernah abaikan kebenaran ini: Jika hari ini saya ingin memahami Alkitab, maka saya harus belajar berpikir secara paradoks.” Bukan hal yg mudah utk memahami paradoks bahwa Yesus sepenuhnya Allah, tetapi sepenuhnya manusia; bukan hal mudah memikirkan paradoks bahwa Tuhan itu Esa, tetapi menyatakan diri dalam tiga Pribadi; bukan hal mudah untuk menerima paradoks bahwa salib yg hina adalah merupakan kemenangan dan kemuliaan, tetapi Anda dapat sedikit mengecap seperti apa itu paradoks dengan menyaksikan Film Disney terbaru MALEFICENT…dimana si jahat pada saat yang sama adalah sang pahlawan…. “But, as many thought whenever they saw the graceful figure soaring through the air, it took a great hero and a terrible villain to make it all come about. And her name was Maleficent.

Bagaimana bisa begitu? Well, paradoks sulit dijelaskan dengan beberapa patah kata…kecuali Anda mengalami (dan menontonnya) sendiri…. Seusai menonton film ini, Anda tidak dijanjikan untuk dapat mendefinisikan apa itu paradoks, tetapi Anda dapat mengerti bahwa paradoks sering hadir dalam hidup kita; menjadi sebuah realita; nyata kita alami, tanpa mampu kita jabarkan dengan beberapa patah kata yang sederhana. Demikian halnya dengan doktrin-doktrin Kristen.

2. Terkait praktek hidup berkeluarga:
Seorang pengulas film menulis dan dimuat di Harian Kompas, yaitu bahwa film-film Disney masih menggunakan pendekatan dongeng sebelum tidur, yaitu dengan adanya narator dalam film: “Sang narator mengingatkan kita kepada ibu, ayah, kakek, nenek, paman, atau orang dewasa yang biasa mengantar tidur anak-anak dengan dongeng-dongeng tentang negeri peri. Mungkin kebiasaan mendongeng itu telah pergi, dan pendongeng itu kini diambil (alih) oleh Disney” (Kompas, 8 Juni 2014, p. 29). Sebuah sindiran bagi para orangtua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s