Yeremia 1:4-10. Assigned by God to Impact Others


Pernahkah kita merasakan penyesalan mengapa kita harus ada sebagaimana adanya kita saat ini? Kita menyesali keberadaan orangtua kita; kita menyesali mengapa saya ada dalam situasi dan lingkungan dimana kita hidup saat ini. Kita menjadi ragu dan bertanya, terlepas dari kesalahan kita sendiri, apakah Tuhan bermain dadu atas hidup kita? Apakah Allah menempatkan kita saat ini karena Dia berjudi? Dari kisah pemanggilan Yeremia kita hendak belajar, melampaui keterbatasan masa hidup kita, kita tidak pernah tahu sejauhmana Allah bekerja menjadikan hidup kita memberi dampak bagi oranglain.

Kitab Taurat diketemukan pada tahun ke-18 pemerintahan Raja Yosia. Setelah mendengar perkataan Taurat Taurat itu, Yosia mengadakan pembaruan kehidupan keagamaan di Negeri Yehuda. Namun sebelum tiba tahun ke-18 itu, sebelumnya di tahun ke-13, Yeremia menerima panggilan Tuhan utk menjadi nabi.

Secara politis, negeri tempat Yeremia hidup adalah sebuah negeri yang terpecah. Pecahan negara Yehuda adalah Negara Israel, yang saat itu sudah lenyap karena serangan Kerajaan Asyur. Sedangkan di Negara Yehuda, situasi rohani ketika Yeremia dipanggil menjadi nabi (tahun ke-13 pemerintahan Yosia) tergambar dari keadaan yang dicatat dalam 2 Raja-raja 22-23 (tahun ke-18 pemerintahan Yosia).

  • Rumah TUHAN dalam kondisi rusak (2 Raj. 22:5-6).
  • Paskah sudah lama tidak dirayakan (2 Raj. 23:21-23).
  • Kitab Taurat tidak diketahui keberadaannya (22:8).
  • Raja Yosia belum pernah mendengar pembacaan Firman TUHAN (22:11).
  • Yehuda meninggalkan TUHAN dan membakar korban kepada allah lain dengan maksud menimbulkan sakit hati-NYA dengan segala pekerjaan tangan mereka (22:17).
  • Di bait TUHAN diletakkan segala perkakas yang telah dibuat untuk Baal dan Asyera dan untuk segala tentara langit (23:4); juga terdapat tiang-tiang berhala (23:6); petak-petak pelacuran bakti tempat orang-orang perempuan bertenun sarung untuk Asyera (23:7). Suatu tempat yang baik, kini berkonotasi tidak baik. Seperti orang zaman ini ketika mendengar istilah “panti pijat” dan “hotel”, konotasinya langsung negatif, karena tempat-tempat itu dipakai untuk berzinah. Orang masuk ke panti pijat, lalu melihat daftar foto pemijat yang bisa dipesan, lalu ia memesan jasa mereka dan melakukan zinah dengan mereka. Bagaimana saya bisa tahu? Apakah saya sudah pernah ke panti pijat? Tidak, saya tidak pernah ke panti pijat; saya hanya nonton di TV. Namun saya punya tempat makan siang yang letaknya di halaman depan sebuah hotel. Apabila saya masuk ke lingkungan kantin itu untuk makan siang bersama isteri, terus terang saya agak khawatir dengan penilaian negatif orang tentang “hotel”. Bayangkan juga kalo di gereja kita juga dijadikan tempat pelacuran. Bukankah tidak lucu, kalau suatu hari orang bertanya kepada kita, “Mau kemana?” Lalu kita jawab, “Mau ke gereja!” Dan orang pun langsung berpikir, “Wah, dia ke gereja hendak berzinah dengan pelacur.” Tidak lucu bukan? Namun bayangkan ini terjadi di masa hidup Yeremia. Bait Allah menjadi tempat pelacuran.
  • Kuda-kuda ditaruh oleh raja-raja Yehuda untuk dewa matahari di pintu masuk ke rumah TUHAN, juga kereta-kereta dewa matahari (23:11); mezbah-mezbah dibangun oleh Raja Ahas di kedua pelataran rumah TUHAN, dan juga di sotoh istana raja (23:12).
  • Raja-raja Yehuda yang sebelumnya telah mengangkat para imam dewa asing untuk membakar korban di bukit pengorbanan di kota-kota Yehuda dan di sekitar Yerusalem, juga orang-orang yang membakar korban untuk Baal, untuk dewa matahari, untuk dewa bulan, untuk rasi-rasi bintang dan untuk segenap tentara langit (23:5). Mereka mempraktekkan ramal-meramal.
  • Di Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh (23:10). Bukankah ini suatu kegilaan? Bagi beberapa orang, tidak mudah mendapatkan anak. Namun ternyata kegilaan macam ini pun terjadi di zaman modern. Saya pernah menyaksikan sebuah film tentang hari-hari terakhir Adolf Hitler. Ketika Kota Berlin, Jerman, telah dikepung tentara Rusia, dan kedudukan Hitler makin terancam. Kekalahan Jerman sudah di depan mata. Hitler yang bersembunyi di sebuah bunker telah mempersiapkan kapsul untuk bunuh diri. Ternyata beberapa orang yang merupakan pengikut fanatik Hitler juga bersiap melakukan hal yang sama; mereka bersiap bunuh diri bersama Hitler. Seorang ibu, membawa kelima anaknya yang masih kecil (keponakan Hitler) untuk menghibur Hitler di masa-masa terakhir Hitler di dalam bunker. Sang ibu tidak dapat membayangkan anaknya dapat hidup di sebuah dunia tanpa Sosialisme Jerman ala Hitler. Ia lalu memasukkan kapsul bunuh diri ke dalam mulut anaknya satu demi satu ketika anak-anaknya tertidur karena obat bius. Ia membunuh anak-anaknya sendiri lalu bersama suaminya bunuh diri. Sebuah aksi gila demi sebuah ideologi. Namun itu terjadi. Kegilaan yang sama terjadi di zaman Yeremia. Demi sebuah agama palsu, anak-anak disembelih dan dikorbankan kepada dewa yang tidak hidup.
  • Terdapat bukit-bukit pengorbanan di sebelah timur Yerusalem di sebelah selatan bukit Kebusukan yang didirikan oleh Salomo, raja Israel, untuk Asytoret, dewa kejijikan sembahan orang Sidon, dan untuk Kamos, dewa kejijikan sembahan Moab, dan untuk Milkom, dewa kekejian sembahan orang Amon (23:13).
  • Para pemanggil arwah, dan para pemanggil roh peramal, juga terafim, berhala-berhala dan segala dewa kejijikan terlihat di tanah Yehuda dan di Yerusalem (2 Raj. 23:24).
  • Terdapat kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria yang dibuat oleh raja-raja Israel untuk menimbulkan sakit hati TUHAN, dijauhkan oleh Yosia dan dalam hal ini ia bertindak tepat seperti tindakannya di Betel (23:19).

Inilah kondisi Israel ketika Yeremia muda dipanggil oleh TUHAN untuk menjadi nabi-Nya. Dan ada pelajaran bagi kita, yaitu bahwa kita “Dirancang untuk Tujuan-tujuan Allah”. Dan dari ayat 4-5 kita belajar:

1. Ia menyatakan dalam FirmanNya (v.4, “Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya”). Untuk suatu ciptaan mengetahui maksud dan tujuan atau alasan keberadaannya di dunia, ia harus mencari tahu dari Pembuatnya atau Penciptanya. Sang Pencipta menciptakan kita dengan tujuan, dan Ia menyatakan itu melalui FirmanNya. Kalau kita hendak mengetahui apa tujuan atau alasan keberadaan kita, kita harus bergumul dengan FirmanNya.

2. Bahwa kita diciptakan unik (v.5a, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau”). Sebelum Yeremia berbentuk embrio dan fetus, Tuhan telah mengenal Yeremia. Ia mampu mengenal kita juga, bahkan dari sejak saat kita masih berwujud sperma; bahkan jauh sebelum itu, yaitu ketika papa-mama kita masih pacaran, atau bahkan masih belum mengenal satu sama lain -karena papamu masih berjuang dengan kuliahnya yang tidak selesai-selesai, dan mamamu masih belajar mencuci piring- Allah telah dan mampu mengenal kita. Di dalam Allah, tidak ada kemarin, hari ini, dan besok. Bagi Allah, semua adalah “sekarang”. Ia ada di dalam kekekalan, dan di dalam kekekalan, Ia mengenal kita.

3. Ditentukan untuk sebuah tugas (v.5b, “dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau”). Ketika Yeremia masih dalam kandungan mamanya, ia telah dipisahkan atau dikhususkan oleh Allah untuk melakukan suatu pekerjaan. Allah mampu memisahkan dan mengkhususkan kita untuk melakukan rencanaNya. Allah tidak menetapkan kita di dunia ini seperti orang melempar dadu. Apabila kita ada sebagaimana kita ada sekarang ini; dengan latarbelakang keluarga seperti apa adanya saat ini; dengan kondisi orangtua seperti saat ini; dengan status ekonomi dan sosial seperti apa adanya saat ini, semuanya bukanlah sebuah kebetulan. Kita hadir di dunia membawa maksud dan rencana Allah yang harus digenapi melalui kehidupan kita.

4. Untuk memberi “impact” atas oranglain, bagi Tuhan (v.5c, “Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa”). Yeremia telah ditentukan Tuhan untuk memberi dampak bagi bangsa-bangsa. Sebuah lingkup pengaruh yang luas sekali. Mungkin Yeremia sendiri berpikir, “Menjadi nabi bagi bangsa-bangsa? Ah, yang benar saja, Tuhan?! Berbicara kepada bangsa sendiri saja, aku belum tentu didengarkan. Apalagi kepada bangsa-bangsa lain?” Ketakutan Yeremia bukanlah tanpa pertimbangan. Dibandingkan Kerajaan Asyur, Babilonia yang baru mulai bangkit, Mesir, dan banyak kerajaan lain, Kerajaan Yehuda hanyalah kerajaan yang kecil saja. Masakkah seseorang dari kerajaan yang kecil akan didengarkan oleh dunia? Yeremia pun dipanggil untuk menjadi nabi Tuhan. Akankah ia yang masih muda ini akan didengarkan bangsanya sendiri yang sedang jauh dari Tuhan, bahkan melawan Tuhan? Tetapi Firman Tuhan jelas, Yeremia ditetapkan untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.

Tidak semua kita dipanggil oleh Tuhan untuk memiliki lingkup pengaruh yang mendunia seperti Yeremia. Mungkin akan ada yang ruang lingkup pengaruhnya hanya kecil saja, yaitu di lingkup keluarga; ada juga yang ruang lingkup pengaruhya lebih luas, yaitu lingkungan pergaulannya; ada juga yang ruang lingkup pengaruhnya lebih luas lagi, yaitu Indonesia; bahkan ada yang ruang lingkup dampaknya mendunia. Tuhan telah menetapkan kita untuk menggenapi rencana Tuhan di ruang lingkup pengaruh masing-masing.

Kita harus gumuli sungguh-sungguh, sampai sejauhmana ruang lingkup yang Tuhan ingin kita berkarya di dalamnya. Jangan iri dengan mereka yang dipercayakan ruang lingkup pengaruh yang mendunia. Namun sebaliknya jangan juga bersikap skeptis atau pesimis tentang kemungkinan Tuhan meletakkanmu di ruang lingkup pengaruh yang sangat luas. Kamu harus gumuli, dan berani mencoba ketika ada kesempatan.

Saya pribadi pernah punya ambisi untuk menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin, bahkan menempuhnya di luarnegeri, lalu menjadi penulis buku yang memberkati banyak orang. Namun sejalan dengan waktu, saya menemukan bahwa Tuhan menutup pintu kesempatan bagi saya untuk bisa ke luarnegeri. Memang bisa ke luar negeri, apalagi studi di sana, memberikan suatu gengsi tersendiri yang membanggakan. Namun seorang teman yang kuliah di luarnegeri, baru-baru ini menceritakan bahwa untuk tiket pesawat saja, ia dapat menghabiskan biaya Rp. 20 juta; untuk biaya makan dan keperluan merawat diri per bulannya, dapat menghabiskan biaya minimal Rp. 10 juta; belum termasuk biaya akomodasi dan transportasi. Kalau kita tidak memiliki kemampuan keuangan yang betul-betul kuat, maka nampak mustahillah untuk kita bisa ke luarnegeri. Memang ada cara, misalnya dengan beasiswa, tetapi apabila Anda hendak menerima itu, Anda juga harus berani berjuang untuk rajin belajar dan berprestasi baik. Dosen-dosen saya yang pernah studi di luarnegeri juga menceritakan betapa di negeri orang mereka harus tetap bekerja sambil kuliah. Ada yang kuliah sambil bekerja menjadi petugas maintenance; ada juga yang merangkap sebagai ibu rumahtangga, menjadi mahasiswa, dan sekaligus juga menjadi pegawai perpustakaan. Jadi tinggal di luarnegeri jangan bayangkan semua serba enak. Di sama pun kondisinya tidak sempurna. Mendengar itu semua -ditambah pengalaman Tuhan menutup jalan untuk saya ke luarnegeri, setidaknya untuk saat ini- membuat saya belajar untuk berpikir, mungkinkah sampai level ini ruang lingkup kehidupan dan pelayanan saya? Saat ini, setidaknya nyata bahwa ruang lingkup pengaruh saya hanya sebatas lingkungan Gereja Kristen Kalam Kudus Jayapura. Puji Tuhan. Saya ingin belajar mensyukuri hal itu dan menikmati hidup saya, sementara teman-teman saya yang lain, saat ini Tuhan beri kesempatan untuk menulis buku, bahkan kuliah lanjut di luarnegeri. Jadi gumulilah, sampai sejauh mana Tuhan menghendaki Engkau memberi dampak? Berani mencoba segala kemungkinan, tetapi tetap bergumul di hadapan Tuhan! Dan mengucapsyukurlah dalam segala hal.

Selanjutnya, kita harus ingat bahwa dipanggil untuk memberi dampak bukanlah merupakan hal yang mudah? Setidaknya ini berlaku bagi Yeremia. Bahkan akhir pelayanan Yeremia pun tidak nampak sukses. Umat yang dilayaninya tetap jauh dari Tuhan, melawan kehendak Tuhan, bahkan kematian Yeremia pun menjadi tidak jelas kabar beritanya, di suatu negeri yang tidak Yeremia kehendaki untuk ada di sana, yaitu Mesir. Yeremia meninggalkan dunia ini dalam ketidakjelasan kondisi.

Namun semua yang Yeremia alami bukanlah sebuah kebetulan. Tuhan menetapkan Yeremia untuk hadir dalam situasi dan konteks sebagaimana adanya yang ia alami. Bukan kebetulan Yeremia hadir dalam konteks kehidupan berbangsa yang pecah dan korup secara moral dan rohani. Kita dapat membaca kisah Yeremia yang ironis dalam Kitab Yeremia -kitab terbesar kedua di Perjanjian Lama. Kita juga dapat merasakan apa yang Yeremia rasakan melalui kitab lain yang ia tulis, yaitu Kitab Ratapan.

Bukan kebetulan Yeremia mengalami penolakan dan “ketidakefektifan” dalam pelayanannya. Kisah hidup Yeremia menjadi sebuah pelajaran bagi kita, bahwa melampaui keterbatasan masa hidup kita, kita tidak pernah tahu sejauhmana Allah bekerja menjadikan hidup kita memberi dampak bagi oranglain. Bagi Yeremia, dampak pelayanannya kelihatan kecil saja, bahkan kelihatan “tidak ada dampak sama sekali,” tetapi siapa menyangka, ia betul-betul menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Pengalaman dan peringatan-peringatannya menjadi pelajaran bagi banyak orang percaya dari berbagai bangsa dan suku bangsa di dunia ini.

Keadaan yang Yeremia juga dialami banyak anak Tuhan dari berbagai penjuru dunia, bahkan di zaman modern. Bukankah kita sudah sering mendengar tentang misionaris Barat ke Tanah Papua, yaitu Ottow dan Geisler? Bagaimana mereka melayani di ladang misi dengan setia dan harus mengakhiri pelayanannya dengan melihat seolah pelayanannya tidak berbuah, atau berbuah kecil saja. Sampai kita mati “bisa jadi” situasi nampak tidak berubah; seolah pelayanan kita ada dampaknya, tetapi siapa sangka, sebagaimana dialami Yeremia, di zaman modern ini kita masih dapat mendengar kisah-kisah seperti yang dialami oleh alm. Ottow-Geisler, dan juga … alm. Dr. William Leslie dan isterinya berikut ini:

Missionary died thinking he was a failure; 84 years later thriving churches found hidden in the jungle.

image

In 1912, medical missionary Dr. William Leslie went to live and minister to tribal people in a remote corner of the Democratic Republic of the Congo.

image

After 17 years he returned to the U.S. a discouraged man – believing he failed to make an impact for Christ. He died nine years after his return.

image

But in 2010, a team led by Eric Ramsey with Tom Cox World Ministries made a shocking and sensational discovery. They found a network of reproducing churches hidden like glittering diamonds in the dense jungle across the Kwilu River from Vanga, where Dr. Leslie was stationed.

image

With the help of a Mission Aviation Fellowship pilot, Ramsey and his team flew east from Kinshasa to Vanga, a two and a half hour flight in a Cessna Caravan. After they reached Vanga, they hiked a mile to the Kwilu River and used dugout canoes to cross the half-mile-wide expanse. Then they hiked with backpacks another 10 miles into the jungle before they reached the first village of the Yansi people.

Based on his previous research, Ramsey thought the Yansi in this remote area might have some exposure to the name of Jesus, but no real understanding of who He is. They were unprepared for their remarkable find.

“When we got in there, we found a network of reproducing churches throughout the jungle,” Ramsey reports. “Each village had its own gospel choir, although they wouldn’t call it that,” he notes. “They wrote their own songs and would have sing-offs from village to village.”

They found a church in each of the eight villages they visited scattered across 34 miles. Ramsey and his team even found a 1000-seat stone “cathedral” in one of the villages. He learned that this church got so crowded in the 1980s – with many walking miles to attend — that a church planting movement began in the surrounding villages.

image

“There is no Bible in the Yansi language,” Ramsey says. “They used a French Bible, so those who taught had to be fluent in French.”

Apparently, Dr. Leslie crossed the Kwilu River once a year from Vanga and spent a month traveling through the jungle, carried by servants in a sedan chair.

“He would teach the Bible, taught the tribal children how to read and write, talked about the importance of education, and told Bible stories,” Ramsey notes. Dr. Leslie started the first organized educational system in these villages, Ramsey learned.

It took some digging for Ramsey to uncover Leslie’s identity. “The tribal people only knew him by one name and I didn’t know if that was a first or last name. They knew he was a Baptist and he was based in that one city and they knew the years.”

When Ramsey returned home he did some additional investigation and discovered Dr. Leslie was affiliated with the American Baptist Missionary Union. The American Baptist Missionary Union was founded in 1814 by Adoniram Judson, who led a pioneering work in Burma.

Born in Ontario, Canada, William H. Leslie followed his intended profession as a pharmacist until his conversion in 1888. He moved to the Chicago area, where God began to grip his heart with the desire to become a medical missionary.

Dr. Leslie initiated his Congo service in 1893 at Banza-Manteke. Two years later he developed a serious illness. A young missionary named Clara Hill took care of him until he recovered. Their budding friendship ripened into love and a marriage proposal. They were wed in 1896.

In 1905 William and Clara pioneered a work in Cuilo, Anglola, where they overcame a hurricane that struck the night before one of their children was born, and more mundane obstacles like charging buffaloes and armies of ants.

Seven years later they cleared enough of the leopard-infested jungle along the Kwilu River at Vanga for a new mission station perched on a small plateau. Some of the villages surrounding Vanga were still practicing cannibalism at that time.

They spent 17 years at Vanga, but their service ended on a rocky note. “Dr. Leslie had a relational falling out with some of the tribal leaders and was asked not to come back,” Ramsey says. “They reconciled later; there were apologies and forgiveness, but it didn’t end like he hoped.”

“His goal was to spread Christianity. He felt like he was there for 17 years and he never really made a big impact, but the legacy he left is huge.”

May 19, 2014. By Mark Ellis.
http://blog.godreports.com/2014/05/missionary-died-thinking-he-was-a-failure-84-years-later-thriving-churches-found-hidden-in-the-jungle/

Mari kita berjalan di dalam ruang-lingkup yang Tuhan kehendaki bagi kita masing-masing dalam suatu sikap yang penuh ucapan syukur. Kita ada sebagaimana adanya kita sekarang, bukanlah sebuah kebetulan. Tuhan tidak sedang bermain dadu atas kehidupan kita. Ia menetapkan kita untuk hidup dalam situasi tertentu; bertemu orang-orang tertentu; lahir di tengah-tengah keluarga tertentu, dibalik yang kelihatan ternyata segala sesuatu dalam kehidupan kita bukanlah kebetulan. Marilah kita menjalani segala sesuatu dengan penuh ucapan syukur.

Mari kita melihat bahwa meskipun pelayanan kita kelihatannya tidak berdampak sama sekali, serahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Kita tidak akan pernah tahu, bahkan hal terkecil yang kita katakan atau lakukan, itu dapat mengubahkan kehidupan seseorang secara total. Ada kalanya kita tidak menyangka bahwa ucapan penguatan yang kita ucapkan kepada oranglain mencegah orang itu bunuh diri; kita tidak pernah bisa menyangka bahwa ucapan atau tindakan kita menuntun orang untuk percaya kepada Kristus dan beroleh keselamatan. Sekali lagi, melampaui keterbatasan masa hidup kita, kita tidak pernah tahu sejauhmana Allah bekerja menjadikan hidup kita memberi dampak bagi oranglain.

(Disampaikan oleh Ev. NT. Prasetyo dalam Ibadah OSIS SMA Kristen Kalam Kudus, Jayapura, Jumat/23 Mei 2014).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s