Membaca Agora


Apakah Kamu pernah nonton Film Agora yang dibintangi aktris Rachel Weisz? Berlatarbelakang akhir abad ke-4 Masehi, pada masa kekuasaan Kaisar Romawi Flavius Theodosius Augustus dan sesudahnya, film ini menggambarkan orang Kristen sebagai kelompok manusia barbar penganiaya sesama yang berbeda kepercayaan; kelompok manusia picik yang anti ilmu pengetahuan; penghancur salah satu perpustakaan terbesar di dunia pada zaman itu yaitu Museum Alexandria, Mesir.

Di bagian awal film, kita berkenalan dengan anggota terakhir Museum Alexandria, Mesir, bernama Theon, yang memiliki puteri bernama Hypatia. Menurut Ian F. McNeely dan Lisa Wolverton, dalam bukunya berjudul “Para Penjaga Ilmu dari Alexandria sampai Internet” (Tangerang: Literati, 2010), “Theon adalah seorang ahli matematika yang dihormati, ahli astronomi, dan penyair. Dia juga menggemari kimia, astrologi, dan ketuhanan, tiga pengetahuan ‘Hermetis’ yang mencerminkan sejenis sintesis antara ilmu pengetahuan Yunani dengan ilmu gaib rakyat Mesir.

McNeely dan Wolverton lalu menggambarkan tentang tokoh Hypatia (tokoh utama dalam Film Agora) sebagai berikut, “Hypatia yang memimpin mazhab filsafat Neoplatonis bahkan lebih hebat dari ayahnya. Biasa bergaul dekat dengan para pria penguasa, dia terkenal karena kebajikan dan kebijakannya, bukan karena keperempuannya. Dilaporkan suatu kali dia menolak seorang laki-laki yang sangat memujanya yang membuatkan sapu tangan untuknya.”

Lebih lanjut McNeely dan Wolverton menulis, “Namun pada tahun 415 M, lima tahun setelah Romawi diguncang, Hypatia dicabut keanggotaannya secara paksa oleh kekuatan paramiliter haus darah yang sengaja diatur oleh uskup Kristen Alexandria yang bernama Cyril. Cyril telah menghabiskan masa-masa awal jabatannya sebagai uskup untuk melancarkan perlawanan terhadap orang-orang Yahudi Alexandria, sebuah kampanye yang sangat ditentang oleh Hypatia. Dia pun akhirnya menyerang Hypatia karena menolak permainan kekuasaan anti-Semitik ini. Dengan menuduh Hypatia menjalankan ilmu hitam, para pengikut Cyril menyebarkan rumor seputar kesukaan ayahnya pada klenik. Pada kenyataannya, Hypatia kebal terhadap mistisisme gaib yang menandai makin melemahnya Imperium Romawi. Yang membuat marah Cyril sang pengacau adalah bahwa Hypatia merupakan ilmuwan Helenis terakhir yang murni, meskipun elitis, pengikut Plato sejati yang mengabdikan diri pada kebijaksanaan, dialog dan perkumpulan spiritual.

Adakah iman Kristenmu menjadi goncang setelah menyaksikan film tersebut? Tidakkah Kamu tahu bahwa justru film itu -kalaupun detil peristiwa yang digambarkan di dalamnya benar terjadi- makin menegaskan atau membuktikan dua kebenaran Alkitabiah:

1. Ajaran Alkitab bahwa manusia memiliki natur berdosa.

Menjadi Kristen, bahkan menjabat uskup sebagaimana dialami Cyril, tidak menjadikan seseorang kebal dari dosa dan kelemahan. Perjuangan melawan iblis dan hawa nafsu kedagingan justru makin dahsyat terjadi di dalam diri. Setelah kita dilahirbarukan menjadi Kristen, memang kesukaan akan dosa itu dikalahkan, tetapi perjalanan menjadi murid yang hendak menyerupai Kristus masih harus dilalui melalui sebuah disiplin.

Saya tidak tahu apakah Cyril sudah dilahirbarukan di dalam Kristus. Baiklah kita mencoba berpikir positif saja. Dan sebagai seorang Kristen (lahir baru?), Cyril -seperti juga semua orang Kristen lainnya- memang masih harus terus berjuang mengatasi kelemahan-kelemahan yang bahkan seringkali kita sendiri tidak sadari. Layaklah kita senantiasa berdoa seperti Daud, “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari” (Mazmur 19:12).

Sebagai seorang Kristen, kita harus sadar bahwa “peperangan” rohani (The War) memang telah dimenangkan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui kematianNya di atas kayu salib. Namun sambil menanti tibanya waktu penghukuman sepenuhnya atas musuh-musuh Kebenaran oleh Yang Berhak (yaitu Sang Pencipta sendiri), kita masih harus melalui “pertempuran-pertempuran” (battles) untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Dia (Matius 16:24), sambil terus mengingat bahwa “perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging (sesama kita), tetapi melawan pemerintah-pemerintah (kuasa kegelapan), melawan penguasa-penguasa (iblis), melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini (setan), melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:12), yang senantiasa berusaha memperdaya dengan menggunakan kedagingan kita, demi menjatuhkan kita.

2. Ajaran Alkitab bahwa pemerintah adalah wakil Allah yang membawa ketertiban di dunia milik Allah, yang keberadaannya dibutuhkan dan harus kita hormati.

Poin kedua ini saya sadari setelah membaca buku karya Ian F. McNeely dan Lisa Wolverton. Tanpa bermaksud “untuk menunjukkan keburukan kaum Kristen“, McNeely dan Wolverton bermaksud menjelaskan bahwa Kota “Aleksandria kuno terakhir diwarnai oleh ketegangan keagamaan dan kekerasan komunal di semua pihak; Pagan, Yahudi, Kristen.” Adanya interaksi -yang rawan ketegangan- antara kelompok-kelompok yang berbeda ini menuntut peran aktif para penguasa politik untuk memastikan interaksi-interaksi ini berlangsung tertib. Bagaimana pun wawasan dunia Kristen percaya bahwa bahkan manusia yang sudah dilahirbarukan pun, tetap membutuhkan kepemimpinan masyarakat yang menegakkan disiplin. Pada titik inilah, McNeely dan Wolverton mengkritisi peran para penguasa politik di masa pergolakan yang menjadi latarbelakang film Agora itu.

Memberi penilaian atas apa yang terjadi, McNeely dan Wolverton kemudian menyatakan, “Para penguasa politik tidak lagi mampu menyatukan budaya yang berbeda ini dan keilmuan Yunani telah kehilangan perannya sebagai penengah intelektual di antara mereka. Pengetahuan kini menjadi harta warisan yang diperebutkan oleh penghuni kota multibudaya yang terpecah-pecah.” Lebih tegas lagi McNeely dan Wolverton menulis, “Keilmuan akan subur dan berjaya sepanjang kekuasaan politik, Ptolemy, Romawi, Bizantium, atau Muslim, memberikan paling tidak sedikit stabilitas keamanan. Inilah yang kurang dimiliki oleh imperium Romawi barat“, yang dalam film Agora dinampakkan (sebagai sebuah kegagalan) penguasa semacam Kaisar Flavius Theodosius Augustus dan Prefect Orestes.

Disinilah kita melihat kebenaran Firman Allah di dalam Alkitab semakin bersinar, yaitu bahwa kita sangat membutuhkan adanya pemerintahan yang melakukan perannya dengan sebaik-baiknya untuk memelihara ketertiban hidup bersama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda. Roma 13:1-5 mencatat peringatan Rasul Paulus, “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.  Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita“. Juga Rasul Petrus mengingatkan, “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!” (1 Petrus 2:17). Dan sebagai penyandang pedang yang layak menerima hormat kita, seharusnyalah pemerintah melakukan perannya sebagai pemelihara ketertiban, tentu di dalam satu sikap yang melayani; to govern as public servant and as God’s servant.

(Ev. NT Prasetyo, Jayapura, 8 Mei 2014).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s