Yohanes 19:16. Menerima Yesus Macam Siapa?


Kita sering mendengar ungkapan bahwa orang Kristen adalah orang yang telah menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya. Atau kita juga sering mendengar tantangan penginjilan untuk seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Namun adakah kita mengucapkan itu semua hanya sebagai sebuah kelatahan, tetapi tidak sungguh-sungguh memikirkan apa maksudnya?

Dalam Yohanes 19:16, kita belajar bahwa frasa “menerima Yesus” juga dapat bermakna negatif. Dalam nats ini kita membaca bagaimana Pontius Pilatus “menyerahkan” Yesus kepada mereka. Siapa “mereka” yang dimaksudkan dalam nats ini? Apabila kita membaca ayat-ayat sebelumnya, yaitu ayat 14 dan 15, kita dapat menemukan bahwa “mereka” disini menunjuk kepada orang-orang Yahudi, khususnya imam-imlam.

Kita membaca bahwa Pontius Pilatus “menyerahkan” Yesus kepada para imam Yahudi. Di tempat lain, kita juga menemukan sosok Yudas Iskariot yang “menyerahkan” Yesus, juga kepada para imam Yahudi, yaitu dalam Markus 14:10-11 dsb. Kematian Yesus di atas kayu salib nampak seperti sebuah kecelakaan sejarah. Yesus kelihatan seperti seseorang yang kalah, baik dari Pilatus maupun Yudas, dan tidak dapat menyelamatkan diriNya sendiri. Namun sebetulnya, kematian Yesus sama sekali bukan kecelakaan sejarah. Yesus mati, karena memang itu tujuan kedatanganNya (Matius 20:28). Selain itu, kematianNya terjadi karena Dia sendiri yang memberikan atau menyerahkan nyawaNya (Matius 20:28; Lukas 23:46; Yohanes 19:30; 1 Yoh.3:16). Di satu sisi ada Yesus yang menyerahkan nyawaNya, dan di sisi lain ada respon manusia untuk menerima Dia. Namun menerima macam apa?

Lukas 19:6 mencatat tentang tokoh Zakheus yang juga “menerima” Yesus. Namun berbeda dengan para imam Yahudi yang menerima Yesus untuk mempermalukan Yesus, menyalibkanNya, dan mendatangkan celaka/hukuman ke atas diri mereka sendiri, Zakheus sebaliknya, ia menerima Yesus untuk bersekutu dengan Dia.

Zakheus menerima Yesus di rumahNya. Kata Yunani untuk “menerima” disini bermakna “berada di bawah satu atap“. Perkara menerima seseorang masuk ke dalam rumah tentu bukan hal sepele. Rumah adalah area private setiap orang. Seberapa pun senangnya seseorang untuk menerima tamu, tetapi tentu ia tidak akan merasa nyaman jika tiba-tiba tamunya membuka kulkas atau kamar tanpa ijin, atau bahkan merebahkan dirinya ke atas ranjang kamar kita tanpa ijin. Rumah adalah area privasi seseorang. Jadi Zakheus telah mengundang Yesus untuk masuk ke area paling private dalam hidupnya, apalagi dalam konteks Zakheus digambarkan juga adanya perjamuan makan. Dan dalam tradisi Yahudi, makan bersama menyiratkan adanya persekutuan. Tidak heran, keputusan Zakheus menerima Yesus dan keputusan Yesus santap bersama dengan Zakheus menimbulkan pergunjingan negatif. Bagaimana bisa, seorang guru agama seperti Yesus bersekutu dengan seorang pemungut cukai? Pemungut cukai dipandang sebagai orang berdosa; kaki tangan penjajah yang seringkali memeras bangsanya sendiri demi kepentingan material pribadi.

Kita melihat sebuah kontras antara para imam dan Zakheus. Para imam Yahudi menerima Yesus dalam anggapan bahwa diri mereka adalah kelompok orang suci yang sedang menghukum orang berdosa, sedangkan Zakheus menerima Yesus dalam pengakuan bahwa dirinya adalah orang berdosa. Namun kita semua mengetahui akhir dari semuanya. Para imam Yahudi itu akhirnya mendatangkan hukuman ke atas diri mereka sendiri, sedangkan tentang Zakheus, Yesus berkata, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun Anak Abraham” (Lukas 19:9).

Bagaimana dengan Anda? Menerima Yesus macam apakah Anda? Menerima Yesus untuk mempermalukan Dia? Ataukah menerima Yesus untuk membuka ruang private kita yang paling pribadi bagi Dia, untuk Dia masuk dan bersekutu dengan kita; menghadirkan keselamatan atas hidup kita?

Bagi kita orang Kristen sebetulnya berlaku Firman dari Kolose 2:6. Kita adalah orang-orang yang telah menerima Kristus Yesus, dan di atas penerimaan itu, kita membangun kehidupan iman kita.

Ayat 11-15 penting untuk kita renungkan. Orang-orang yang menerima Kristus disini adalah orang-orang yang telah mengalami sunat hati. Sehingga sunat jasmaniah tidak lagi menjadi sebuah persyaratan rohani. Sunat hati ini adalah penanggalan kehidupan yang berdosa (ayat 11). Orang-orang yang menerima Kristus disini adalah orang-orang yang menerima dirinya dibaptis atau ditenggelamkan KE DALAM NAMA BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS (ayat 12). Orang-orang yang menerima Kristus disini adalah orang-orang yang surat hutang dosanya telah dipakukan Kristus di atas kayu salib (ayat 14). Jadi peristiwa salib adalah peristiwa kemenangan Kristus atas iblis. Pada detik Yesus mati, pada detik itulah iblis dilucuti kuasanya dan menjadi tontonan yang dipermalukan, karena bagi orang-orang pilihan telah tersedia korban penebusan (ayat15). Nampak sebuah ironi disini, para imam sebagai kaki tangan iblis bermaksud menjadikan Yesus tontonan, tetapi secara rohani, justru iblislah yang menjadi tontonan.

Karena itu penggambaran dalam film Passion of Christ karya Mel Gibson sangat tepat, yaitu ketika digambarkan iblis berteriak kalah pada detik Yesus mati. Jadi, sendratari Korea berjudul Redeemer kurang akurat karena menggambarkan iblis tertawa pada detik Yesus mati. Padahal momen kemenangan Kristus bukan hanya pada saat Ia bangkit saja, melainkan juga pada detik kematianNya.

Dari semua pelajaran ini kita ditantang, menerima Yesus macam apakah yang menjadi respon kita kepada Yesus Kristus yang telah memberikan nyawaNya? Macam Zakheus, ataukah macam para imam?

(Oleh Ev. NT. Prasetyo, M.Div. Disampaikan dalam Persekutuan Youth GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/17 April 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s