Hidup Bersama dengan yang Lain


dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3-4).

Sementara mengunjungi sebuah jemaat di Kishabpur sub-district (di Bangladesh), saya telah diberitahukan tentang satu titik setempat yang menarik. Meskipun ini adalah sebuah wilayah pertanian dengan populasi yang sangat padat, namun ini juga merupakan habitat dari populasi langur abu-abu yang sangat besar, atau biasa disebut juga Langur Hanoman.

Ini adalah satu mahluk hitam yang menarik, monyet berekor panjang, dengan rambut abu-abu panjang yang hidup dalam kelompok berukuran sedang. Mereka makan dedaunan, buah-buahan, dan sayur-mayur lainnya.

Saya bertanya pada penduduk lokal, “Apakah monyet-monyet tidak menimbulkan kerusakan besar kepada tanaman pertanian disini?” Jawaban mereka sangatlah menarik. “Kami memberi mereka makan. Selama kami memberikan kepada mereka sesuatu, mereka tidak akan mengganggu tanaman pertanian. Jika mereka datang dan kami menolak, mereka akan membuat kekacauan di malam hari dan menghancurkan ladang dan buah-buahan.”

Melalui diskusi kami selanjutnya, saya menemukan bahwa para petani telah belajar bahwa monyet-monyet akan sedikit-banyak dipuaskan jika sesuatu diberikan dengan sukarela kepada mereka. Jika mereka datang dan mengambil langsung dari ladang, mereka akan mengambil lebih, dan bahkan lebih dari yang mereka butuhkan.

Saya meninggalkan tempat itu dengan kesan yang berbeda, bahwa baik monyet-monyet maupun manusia sama-sama puas dengan relasi mereka. Monyet-monyet cukup tenang dan jelas merasa aman. Penduduk lokal pun merasa bangga dengan harta milik mereka berupa satu sumberdaya alamiah yang unik.

Yang lebih menarik lagi bagi saya adalah bahwa kedua spesies yang berbeda ini telah belajar untuk hidup bersama (to get along together), lebih baik daripada yang manusia dapat lakukan. Rahasia mereka adalah bahwa -setidaknya- satu pihak dalam relasi itu bersedia untuk hidup dengan prinsip mencari kesejahteraan pihak lain.

Manusia menyadari bahwa mereka lebih baik menolong monyet-monyet ketimbang secara egois mencoba menyimpan segala sesuatu bagi diri mereka sendiri. Monyet-monyet juga telah belajar untuk menerima apa yang dengan sukarela manusia berikan kepada mereka. Tidak ada tindakan egois ataupun tamak.

(by Michael E. Brooks @ http://www.forthright.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s