Yohanes 7:10. Diam-diam


Yohanes 7:10, “Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam.

Orang-orang Yahudi di Yerusalem hendak membunuh Yesus. Namun sebagai laki-laki Yahudi dewasa, Yesus harus mengikuti perayaan Pondok Daun di Yerusalem. Dilema!

Akhirnya, Yesus pergi ke Yerusalem diam-diam, bukan karena Ia takut dibunuh (sebab selanjutnya Yesus mengajar di Bait Allah secara terbuka, dan bahkan menjelaskan siapa diri-Nya kepada orang banya). Ia pergi diam-diam untuk menunjukkan bahwa Ia tidak bermaksud mendapatkan pengakuan orang banyak, seperti yang dituduhkan oleh saudara-saudara-Nya (Yoh.7:3-4).  Yesus tetap melaksanakan tanggung jawab-Nya sebagai laki-laki Yahudi, meskipun dengan diam-diam.

Bukankah ini sikap yang berani dan bijaksana dalam menghadapi ancaman? Diam-diam tidak selalu berarti takut. Terkadang sesuatu harus dikerjakan diam-diam untuk mencapai kebaikan yang lebih besar (greater good) di dalam kebenaran. Resikonya? Disalahpahami; dikatakan pengecut; dsb. Satu hal yang pasti, seperti Yesus, kita mengerjakan ‘yang diam-diam’ itu sesuai kehendak dan waktunya Bapa di Sorga (alias di dalam kebenaran).

(Ev. NT. Prasetyo dari Santapan Harian, Kamis/16 Januari 2014).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s