Nabi-Guru Palsu dalam 2 Petrus 2:1-22


Pengantar

D.M. Lloyd-Jones menulis bahwa ketika Petrus menulis surat 2 Petrus ini, Petrus telah berusia lanjut dan menyadari bahwa hidupnya di dunia mungkin tidak akan lama lagi. Petrus pun memperingatkan jemaat yang digembalakannya tentang ancaman yang menanti di masa depan, dan melalui surat ini ia pun menyiapkan domba-dombanya untuk menghadapi ancaman itu.

Ancaman itu tidak lain adalah nabi-nabi dan guru-guru palsu di tengah-tengah gereja, yang datang kepada domba-domba Tuhan dan berbicara dengan mengatasnamakan Tuhan, meskipun sesungguhnya mereka adalah utusan setan.1 Tulisan berikut ini hendak sedikit membahas tentang guru-palsu yang dicatat dalam 2 Petrus 2:1-22.

Mengenali Nabi-Guru Palsu

Richard W. DeHaan2 menulis bahwa berdasarkan pernyataan-pernyataan kenabian dari Petrus, kita dapat menyimpulkan bahwa penyesat-penyesat ini menyatakan pengakuan imannya tapi tidak sungguh-sungguh bertobat. Mereka bergabung dengan orang-orang percaya yang sejati di dalam gereja lokal, dan sekali mereka menyerobot masuk, mereka mendorong lebih jauh dari kebenaran dan keadilan. Mereka mempengaruhi orang lain untuk mengadopsi pangajaran-pengajaran sesat mereka dan jalan-jalan mereka yang jahat. Petrus menyatakan bahwa mereka bahkan melangkah lebih jauh dengan menggunakan agama demi keuntungan keuangan dengan cara memanfaatkan umat Allah.3

D.M. Lloyd-Jones menulis bahwa Petrus memberikan beberapa saran dan nasihat kepada jemaat, bagaimana untuk benar-benar membedakan antara nabi-guru palsu dengan nabi-guru yang benar. Namun pertama-tama, Petrus menuliskan beberapa cara yang salah dalam memperkirakan mana pengajaran atau nabi-guru yang benar dengan yang palsu:4

1. Mengikuti kebaruannya (newness) atau kemodernannya (modernity) untuk menentukan apakah suatu ajaran atau tokoh itu benar atau palsu.
2. Berpandangan bahwa jika suatu ajaran popular, maka ajaran itu pasti benar.
3. Fakta bahwa ajaran itu diajarkan di gereja, tidaklah menjamin bahwa ajaran itu sudah pasti benar.

Kemudian Lloyd-Jones menulis cara yang benar untuk menguji apakah satu ajaran atau nabi-guru adalah benar atau palsu, yaitu dengan melihat kembali kepada Alkitab. Adapun ciri-ciri nabi-guru palsu tersebut adalah sebagai berikut:5

1. Nabi-guru palsu tidak dipanggil oleh Allah.
2. Nabi-guru palsu tidak memiliki pengajaran yang benar.
3. Nabi-guru palsu salah dalam hidup dan kehidupan mereka.

Lloyd-Jones juga menulis alasan mengapa banyak orang tertarik kepada ajaran palsu. Jawabannya adalah karena pengajaran palsu membuat mereka menjadi lebih mudah untuk menghidupi kehidupan yang mereka ingin untuk hidupi. Alasannya adalah karena apabila mereka bisa menyingkirkan Tuhan, mujizat-mujizat, dan hal-hal supernatural, mereka akan dapat menghidupi kehidupan yang mereka ingin hidupi tanpa harus tertuduh oleh nurani mereka. Jadi kehidupan tak bermoral-lah yang menyebabkan pengajaran palsu

Selain ciri di atas, Lloyd-Jones juga menyatakan bahwa ajaran palsu bersifat irelevan (ayat 10-11), mengajarkan suatu pengajaran dengan tidak jujur, tidak takut untuk mengatakan perkara-perkara yang jahat, dan ajarannya merupakan ajaran kosong (ayat 17-19). Lloyd-Jones menyatakan bahwa kita harus menjauhkan diri dari ajaran-ajaran palsu ini, karena ajaran-ajaran ini merusak kebenaran.7

Sedangkan DeHaan menulis bahwa para rasul mendeskripsikan bidat (heresy) sebagai sesuatu yang ‘merusak’, ‘merusak/mencemarkan,’ dan ‘bersifat memfitnah.’ Dalam ayat pertama dari pasal ini, para rasul menggunakan bentuk kata ‘merusak’ dua kali, yang mengindikasikan bahaya bidat terhadap gereja. Apa yang seseorang percaya dapat membawanya kepada kehidupan kekal atau sebaliknya, menghancurkan dia. Kepercayaan-kepercayaan keagamaan tidak hanya susunan abtraksi intelektual untuk diskusi teologis atau stimulasi mental. Kepercayaan-kepercayaan keagamaan adalah masalah yang sangat penting yang konsekuensinya dapat membawa seseorang kepada kekekalan. Doktrin yang palsu, meskipun berisi elemen kebenaran Kristus, memimpin kepada kerusakan.8

Bahaya kedua dari bidat adalah sifatnya yang ‘merusak/mencemarkan’ (2 Petrus 2:2). Kata Yunani yang digunakan, ‘aselgeia,’ yang diterjemahkan menjadi ‘jalan-jalan yang jahat,’ adalah istilah yang menyampaikan ide tentang penyelewengan yang ekstrim. Ini mengekspresikan kesembronoan hidup dan rendahnya derajat dari satu nafsu yang tak terkendalikan dan kehidupan yang tak bermoral.9

Kita tidak tahu pasti apa dosa spesifik yang ada dalam jemaat yang dilayani Petrus, namun kita tahu pasti bahwa ajaran palsu dibantu perkembangannya di dalam beberapa gereja mula-mula,yang menghasilkan kehidupan yang tidak bermoral. Bagaimanapun, ketika seseorang menyangkal kebenaran-kebenaran dasar seperti keilahian Kristus, darah penebusan, penghakiman orang berdosa, atau insipirasi Alkitab, seseorang itu adalah bidat, dan melanggar kekudusan Allah yang menjadi dasar bagi semua moralitas.10

Bahaya ketiga dari bidat adalah karena ‘bersifat memfitnah’ (2 Petrus 2:2). Kehadiran bidat sebagai bagian dari kekristenan telah memberi alasan bagi orang-orang di luar gereja untuk memburukkan dan menghujat nama Kristus. Kata Yunani yang digunakan, ‘blasphemeo,’ yang diterjemahkan sebagai ‘pembicaraan jahat.’ Bahasa Inggris blasphemy (hujat/fitnah) berasal dari kata Yunani ini.11

DeHaan juga menjelaskan bahwa Petrus telah memberikan satu deskripsi yang hidup tentang cara hidup nabi-guru palsu, yaitu cara hidup dengan ‘perilaku yang menghina’ (2 Petrus 2:10-11), ‘menjijikkan/memuakkan’ (2 Petrus 2:13-14), dan ‘memperdayakan’ (2 Petrus 2:14). Satu pandangan kehidupan yang bertentangan dengan kebenaran Allah yang seringkali menghasilkan tata perilaku yang paling rendah.12

DeHaan menulis bahwa untuk menggambarkan nasib nabi-guru palsu, Petrus kembali melihat kepada sejarah Perjanjian Lama. Ia mengingatkan pembacanya tentang tiga kelompok berbeda yang tidak taat kepada Allah dan dihukum karenanya:13

1. Malaikat-malaikat yang berdosa (2 Petrus 2:4). Malaikat-malaikat ini dihukum Allah, dan peristiwa kejatuhan mereka digambarkan dalam Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Yesaya 14 memang ditujukan kepada raja Babel, namun penggunaan bahasa yang digunakan juga menunjuk kepada satu mahluk yang melebihi manusia dalam sejarah, tepatnya ditujukan kepada pemimpin kejahatan dari seluruh alam semesta. Yesaya menyatakannya sebagai ‘Lucifer,’ yang disebutnya ‘Putra Fajar’ (Yesaya 14:12). Sedangkan nubuatan Yehezkiel 28, meskipun ditujukan untuk menentang raja Tirus, namun ia juga dengan jalan tertentu ditujukan kepada mahluk malaikat yang satu itu, yang disebut sebagai, ‘kerubim yang diurapi-yang menutupi’ (Yehezkiel 28:14). Baik Yesaya maupun Yehezkiel mencatat bahwa mahluk malaikat ini dibuang dari sorga. DeHaan juga menambahkan bahwa malaikat-malaikat buangan ini telah dikalahkan oleh Kristus melalui peristiwa salib, dan dirantai dalam kegelapan.

2. Orang-orang tidak percaya yang musnah karena air bah (2 Petrus 2:5). Generasi setelah Adam telah menjadi begitu berdosa, dan kecenderungan hatinya senantiasa jahat semata-mata. Tuhan menetapkan penghukuman atas seluruh bumi. Nuh memperoleh kasih karunia Tuhan, sehingga Tuhan pun kemudian memerintahkan dia untuk membangun bahtera sebagai perlindungan dari penghukuman Allah. Selama 120 tahun, Nuh dan keluarganya membangun bahtera. Hukuman Allah atas pelaku kejahatan adalah pasti, namun ada pembedaaan dalam penghakimanNya. Mereka yang percaya di dalam Dia akan selamat, sementara mereka yang menolak Dia akan dimusnahkan.

3. Warga kota Sodom dan Gomora yang musnah karena penghancuran yang terjadi (2 Petrus 2:6-7). Menurut Yehezkiel, warga Kota Sodom bersalah karena sombong dan imoralitas (Yehezkiel 16:50). Dalam penghakimanNya atas Sodom dan Gomora, lagi-lagi Allah melakukan pembedaan. Ia membedakan antara orang benar dan yang tidak benar.

Demikianlah –pada hari-hari ini di tengah-tengah meningkatnya kesesatan– adalah penting untuk mengingat tiga ilustrasi yang Petrus berikan untuk menggambarkan bagaimana Allah menghukum guru-nabi palsu. Peristiwa-peristiwa sejarah yang nyata ini menjadi peringatan akan murka Allah atas ketidaktaatan. Keselamatan, dan bukannya penghukuman, menanti semua mereka yang menaruh kepercayaannya kepada Allah, dan bukan kepada nabi-guru palsu.

Keberadaan Nabi-Guru Palsu Kontemporer

Lloyd-Jones menulis bahwa Filsafat, Psikologi, perbandingan agama, dan kritik tinggi adalah bentuk-bentuk nabi-guru palsu kontemporer.14 Ia menulis bahwa Filsafat adalah ide manusia yang menurutnya telah menggantikan wahyu Allah melalui Alkitab. Dan salah satu filsafat yang merupakan nabi palsu itu adalah teori evolusi yang berpendapat bahwa nenek moyang manusia adalah seekor monyet.15 Sedangkan DeHaan juga mencantumkan ideologi Nazi yang dianut Hitler, ideologi Marx dan Lenin dengan ateistik dan komunisme-nya, juga agama-agama besar dunia sebagai ajaran-ajaran palsu yang akan menghadapi kematian kekal.16

Tentang Psikologi sebagai nabi-guru palsu, Lloyd-Jones menulis bahwa orang banyak percaya Psikologi telah meledakkan sama sekali Kekristenan dan agama. Namun menurut Lloyd-Jones, Psikologi hanyalah teori dari sekolah-sekolah Psikologi yang berbeda-beda, dimana satu sama lain saling menggugurkan teori-teori Psikologi yang berlawanan. Dan di atas teori-teori dan anggapan-anggapan dasar ini, kita diajak untuk menolak Alkitab dan tidak mempercayai Injil. Teori-teori yang mengagumkan ini menyatakan bahwa dengan menerapkan Psikologi kita dapat menyingkirkan semua penyakit pribadi, penyakit nasional, bahkan penyakit internasional.17

Menghadapi Nabi-Guru Palsu

DeHaan menjelaskan bahwa peringatan Petrus tentang nabi-guru palsu di dalam surat 2 Petrus dapat diringkas ke dalam tiga prinsip yang ia berikan untuk mengatasinya juga:
1. Kenali bahwa nabi-guru palsu berbahaya.
2. Ketahui bahwa nabi-guru palsu akan dihakimi Allah.
3. Tanggalkan dan tolak keberdosaannya dan cara hidupnya yang berpusat pada diri.18

Di dalam ayat-ayat kesimpulan dalam 2 Petrus 2, Petrus menambahkan empat bimbingan untuk menangani bidat-bidat. Ia mengintruksikan kita untuk mengingat di dalam pikiran kita tentang kondisi mereka yang sebenarnya, dimana akhir hidup mereka tidaklah bahagia. Kita harus berdoa minta hikmat untuk menolong mereka. Namun pada saat yang bersamaan, kita harus yakin untuk menjaga jangan sampai mereka merusak kepercayaan kita sendiri. Orang-orang percaya yang belum dewasa harus diperingatkan tentang mereka. Kontak sosial yang dapat membawa kepada kesesatan harus dihindari. Dan akhirnya, kita pun harus meminta Roh Kudus untuk menjaga kita.19

DeHaan juga menulis bahwa jika kita mengkonfrontasikan kebenaran dengan pengajar-pengajar palsu di dalam gereja, kita harus berurusan dengan beberapa pertanyaan yang tak terhindarkan:
1. Dapatkah seseorang mengakui imannya di dalam Kristus namun tetap terhilang?
2. Apa elemen-elemen dasar keselamatan?
3. Apa puncak yang terjadi kepada satu bidat?20

Lloyd-Jones juga menuliskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri:
1. Apa pandanganku tentang dunia hari ini dan tentang masa depannya?
2. Siapa Kristus menurutku?21
Pertanyaan-pertanyaan ini akan menolong kita untuk menjadi lebih aware dengan kondisi dan posisi kita di hadapan Allah, sehingga kita pun dapat terjaga dari kesesatan, dan menolong kita untuk mengambil keputusan yang tepat dalam meresponi Firman Tuhan.

(Oleh NT. Prasetyo, S.Sos., untuk memenuhi tugas matakuliah Studi Perjanjian Baru III yang diampu oleh Pdt. Andreas Simeon, M.Th., STTRI, 2004)

Endnotes
1 D.M. Lloyd-Jones, Expository Sermons on 2 Peter (Edinburgh/Pennsylvania, The Banner of Truth Trust, 1983), 123-126.
2 Pengajar di Radio Bible Class, Grand Rapids, Michigan, Amerika Serikat.
3 Richard W. DeHaan, Studies in Second Peter (Wheaton, Illionis: Victor Books, 1977), 63.
4 D.M. Lloyd-Jones, 126-128
5 D.M. Lloyd-Jones, 129-133.
6 D.M. Lloyd-Jones, 140.
7 D.M. Lloyd-Jones, 141-144.
8 Richard W. DeHaan, 65-67.
9 Richard W. DeHaan, 67.
10 Richard W. DeHaan, 68.
11 Richard W. DeHaan, 69
12 Richard W. DeHaan, 85-89.
13 Richard W. DeHaan, 74-81.
14 Rick Warren dalam Kata Pengantar buku Dan Kimball, The Emerging Church,: Vintage Christianity for New Generations (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003), 7, menulis bahwa kata ‘kontemporer’ secara literal berarti ‘bersifat sementara.’ Secara natur, hal yang kontemporer tidak akan ada yang bertahan selamanya. Sesuatu yang hanya berlaku efektif sementara waktu, dan hanya relevan pada waktu tertentu itu saja. Itulah yang membuatnya menjadi kontemporer. Apa yang saat ini dianggap kontemporer dan relevan, pada sepuluh tahun ke depan akan menjadi tampak kuno.
15 D.M. Lloyd-Jones, 130.
16 Richard W. DeHaan, 70-71.
17 D.M. Lloyd-Jones, 130.
18 Richard W. DeHaan, 70-71.
19 Richard W. DeHaan, 94.
20 Richard W. DeHaan, 94.
21 D.M. Lloyd-Jones, 130.

Bibliografi
DeHaan, Richard W. Studies in Second Peter. Wheaton, Illionis: Victor Books, 1977.
Kimball, Dan. The Emerging Church,: Vintage Christianity for New Generations. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2003.
Lloyd-Jones, D.M. Expository Sermons on 2 Peter. Edinburgh/Pennsylvania, The Banner of Truth Trust, 1983.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s