Metode Penafsiran yang Tepat terhadap Pelbagai Genre Alkitab


A. Pengantar

W. Randolph Tate menulis, “We are constantly faced with the necessity of distinguishing between literary genres.”1 John Stott juga menunjukkan kesamaan pendapatnya dengan Tate. Stott menulis:

It is important to take note of the literary genre of each biblical book. Is it prose or poetry, historical narrative or wisdom literature? Is it law, prophecy, psalm or apocalyptic? Is it a drama, or a letter, or that distinctively Christian form called a “Gospel,” a collection of the words and deeds of Jesus which bear witness to him? How we interpret what we read, not least whether we take it literally or figuratively will depend largely on its form and style.2

Roy B. Zuck menulis bahwa dengan membedakan macam-macam literatur atau beberapa bentuk genre di dalam Alkitab, akan menolong kita untuk menafsirkan Alkitab dengan lebih akurat.3 Zuck menulis:

An awareness of the literary genre or kind of literature of a given Bible book helps more in synthesis than detailed analysis. It helps give a sense of the overall thrust of the Bible book, so that verses and paragraphs can be seen in light of the whole. This helps prevent the problem of taking verses out of context. It also gives insight into the nature and purpose of an entire book…. Structural patterns help us see why certain passages are included where they are. Also attention to literary genre keeps us from making more of the passage than we should or from making less of the passage than we should.4

Tulisan berikut ini mencoba menjelaskan tentang metode penafsiran yang tepat terhadap pelbagai genre Alkitab.

B. Pengertian

Zuck menjelaskan bahwa genre, bahasa Perancis yang berasal dari bahasa Latin, genus, berarti jenis/macam/tipe kesusastraan (literary type). “Literary genre” menunjuk pada macam suatu tulisan yang dibedakan berdasarkan bentuk-bentuknya yang tertentu dan atau berdasarkan isinya.5 Secara sederhana, Tremper Longman III menuliskan definisi genre sebagai berikut, “a group of texts that bear one or more traits in common with each other.”6

Menurut Kevin J. Vanhoozer, genre adalah satu konsep penafsiran yang penting sekali dalam hermeneutik, untuk memberikan kepada seseorang satu pengertian yang tepat akan suatu bagian kesusastraan.7 Randolph Tate berpendapat sama dengan menambahkan penjelasan alasannya, “Inattention to genre ultimately precipitates an inattention to meaning. This means that a consideration of genre is an absolute must for hermeneutics.”8 Menurutnya, “Different genres are capable of different kinds of meaning and offer different kinds of information to a reader.”9

Rabdolph Tate juga menyatakan bahwa, “we read different genres with different expectations and interpret them differently by recognizing the relationship between what is said (content) and how it is said (genre, form).” Kemudian ia menulis bahwa dengan mengetahui genre dari teks atau sub-genre dari unit sastra akan menolong kita untuk mengetahui tipe-tipe pertanyaan apa saja yang dapat diajukan berkenaan dengan tulisan yang ada.10 Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksud, misalnya saja, “What is the author saying and why does he or she say it right here? Having made that point, what is he or she saying next, and why?” Menurut Gordon D. Fee and Douglas Stuart, “This question will vary from genre to genre, but it is always the crucial question.”11

B. Pelbagai Genre Alkitab dan Metode Penafsiran yang Tepat
Zuck memaparkan beberapa genre kesusastraan dalam Alkitab, sebagai berikut:12

1. Legal. Istilah hukum sering menunjuk kepada kelima buku pertama dalam Alkitab. Di dalamnya terdapat dua macam hukum-pokok, yaitu hukum apodiktik, yaitu hukum yang berbentuk perintah langsung yang biasanya didahului dengan kata-kata, “Janganlah kamu,” atau “Jangan,” dan hukum kasuistik/per-kasus, dimana dalam perintah ini, “a condition setting forth a specific situation introduces the laws.”

2. Narrative. Genre narasi berbentuk cerita, namun narasi Alkitab adalah satu cerita yang diceritakan dengan tujuan untuk menyampaikan pesan melalui orang-orang, serta melalui permasalahan dan situasi yang mereka hadapi. Narasi bibilikal bersifat selektif dan ilustratif. Narasi Alkitab tidak dimaksudkan untuk memberikan biografi menyeluruh beserta detil-detil kehidupan seseorang; penulis narasi dengan hati-hati memilih (dibawah inspirasi Roh Kudus) cakupan materi ceritanya demi memenuhi tujuan tertentu. Narasi biasanya mengikuti pola dimana satu masalah muncul di awal narasi, kemudian permasalahan meningkat menuju klimaks. Dan kemudian narasi bergerak turun menuju penyelesaian masalah dan disimpulkan dengan penyelesaian masalah. Bagan berikut menggambarkan pola narasi tersebut:

Narasi ada enam jenis:
(1). Tragedy. Cerita penurunan kehidupan seseorang dari kebenaran menuju kehancuran.
(2). Epic. Narasi panjang dengan satu rentetan kisah yang menjadi satu, disekitar kehidupan seseorang atau kelompok orang.
(3). Romance. Narasi dimana hubungan yang romantis antara seorang pria dan wanita diceritakan.
(4). Heroic. Cerita yang dibangun disekitar kehidupan dan mengungkapkan satu sosok pahlawan atau seorang tokoh jagoan; satu individu yang seringkali mewakili sosok yang lain atau menjadi teladan bagi yang lain.
(5). Satire. Pengungkapan sifat buruk atau kebodohan manusia melalui satu ejekan atan kemarahan.
(6). Polemic. Serangan agresif atau pembuktian kesalahan melawan pandangan pihak lain.

3. Poetry. Kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkotbah, dan Kidung Agung adalah lima kitab puisi yang utama di Perjanjian Lama. Namun, termasuk juga di dalamnya beberapa kitab nabi-nabi.

4. Wisdom literature. Kitab-kitab kebijaksanaan adalah Ayub, Amsal, dan Pengkotbah. Semua kitab-kitab kebijaksanaan ber-genre puisi, namun tidak semua materi kitab yang berbentuk puisi termasuk ke dalam kitab-kitab kebijaksanaan. Ada dua macam kitab-kitab kebijaksanaan, yaitu kesusastraan yang bersifat pepatah, dan kesusastraan yang bersifat refleksi.

5. Gospels. Kitab-kitab Injil berbentuk narasi, tapi sekaligus juga doktrinal.

6. Logical discourse. Genre kesusastraan Alkitab ini juga disebut kesusastraan berbentuk ‘surat’ dan menunjuk pada surat-surat di Perjanjian Baru, dari mulai Kitab Roma sampai Yudas.

7. Prophetic literature. Bahan yang termasuk di dalamnya prediksi tentang masa depan pada saat penulisan, disertai dengan perintah-perintah yang seringkali termasuk di dalamnya, mereka yang mendengar nubuatan menyesuaikan kehidupan mereka di dalam terang nubuatan itu.

Sedangkan Gordon D. Fee and Douglas Stuart mengajukan prinsip-prinsip tentang bagaimana untuk menafsirkan Alkitab dengan tepat, sebagai berikut:13

1. Genre surat. Zuck memakai istilah logical discourse. Menurut Fee dan Stuart, untuk menafsirkan genre surat, perlu diperhatikan beberapa hal:

a. Surat-surat kiriman itu bukanlah surat-surat yang serba sama. Fee dan Stuart menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian atas papirus-papirus yang telah ditemukan, Adolf Deissmann membedakan antara surat-surat biasa (surat-surat sebenarnya) dan surat-surat kiriman. Kelompok yang pertama tidak bersifat sastra, artinya surat itu tidak ditulis untuk umum dan generasi-generasi yang akan datang, tetapi hanya dimaksudkan untuk orang atau kelompok orang yang disurati itu. Sementara kelompok yang kedua, adalah suatu bentuk sastra yang artistik atau suatu jenis sastra yang dimaksudkan untuk umum.

b. Satu hal yang umum terdapat dalam semua Surat Kiriman ini, yaitu bahwa semua tulisan itu disebut secara teknis, “dokumen-dokumen tak-berkala” (yaitu, yang muncul karena dan dimaksudkan untuk suatu peristiwa khusus). Kebanyakan persoalan kita dalam menafsirkan Surat-surat Kiriman disebabkan oleh kenyataan ini, yaitu sifatnya yang tak berkala. Dalam surat-surat itu kita mempunyai jawabannya, tetapi kita tidak selalu mengetahui apa masalah atau persoalannya, atau jikalau ada persoalan. Keadaan ini seperti mendengarkan pembicaraan di telepon secara sepihak dan coba mengetahui siapakah pihak pembicara yang lain, dan apakah yang dikatakan oleh pihak yang tidak kelihatan itu. Namun dalam banyak kasus, penting sekali bagi kita untuk berusaha mendengar “pihak lain” itu, supaya kita mengetahui apa yang sudah terjawab dalam ayat-ayat yang kita baca.

c. Surat-surat itu berasal dari abad pertama. Walaupun surat-surat itu diilhamkan oleh Roh Kudus dan karenanya berlaku sepanjang waktu, surat-surat itu mula-mula ditulis dari konteks si penulis ke konteks penerima yang mula-mula.

d. Surat-surat itu bukanlah risalah teologis, ataupun ringkasan teologi Paulus atau Petrus. Ada teologi yang tersirat dalam surat-surat itu, tetapi itu selalu merupakan ‘teologi tugas’, yaitu teologi yang ditulis untuk atau diarahkan pada tugas yang ada. Surat-surat itu tidak terutama ditulis untuk menguraikan teologi Kristen secara terinci. Yang diketengahkan selalu merupakan teologi untuk memenuhi kebutuhan tertentu.

Setelah mengingat beberapa poin di atas, maka kita perlu melakukan eksesgesis dengan pertama-tama membuat rekonstruksi sementara tentang situasi yang sedang dihadapi oleh penulis. Misalnya, apa yang sedang terjadi di Korintus sehingga Paulus menulis Surat 1 Korintus? Bagaimana Paulus sampai mengetahui keadaan mereka? Bagaimana hubungannya dengan mereka, dulu dan saat ia menulis suratnya? Sikap apakah yang ditunjukkan Paulus dan yang mereka tunjukkan, yang nampak melalui isi surat ini?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita memerlukan kamus Alkitab ataupun Pengantar kepada buku tafsiran untuk mengetahui sebanyak mungkin mengenai Kota Korintus dan penduduknya. Kita perlu sedikit berimajinasi dengan membayangkan kira-kira kondisi Kota Korintus dibandingkan dengan kondisi kota-kota modern di zaman kita.

Kita pun perlu membaca seluruh surat sekaligus untuk mendapatkan gambaran umum. Kita perlu juga membaca berulang-ulang. Setelah membagi surat itu ke dalam bagian-bagian yang logis, kita pelajari setiap bagian dengan cara yang tepat sama, yaitu membaca berulang-ulang dan memperhatikan dengan baik-baik.

Saat kita membaca surat hingga selesai, perlu membuat catatan-catatan singkat disertai ayat-ayatnya, apalagi bagi kita yang daya ingatnya kurang kuat. Beberapa hal yang perlu dicatat, yaitu:

a. Apa yang kita perhatikan mengenai para penerima surat; misalnya: Suku apa mereka? Kaya atau miskin? Apa sikap dan persoalan mereka?
b. Sikap-sikap Paulus.
c. Hal-hal khusus apa saja yang disebut sebagai alasan untuk menulis surat itu.
d. Pembagian yang wajar dan logis dari surat itu. Kita juga perlu mencatat kata-kata kunci dari surat itu. Kemudian saat kita mendekati setiap bagian yang lebih kecil dari suatu surat, kita perlu mengulangi hal-hal di atas.

Langkah berikut dalam mempelajari Surat-surat Kiriman adalah belajar menurut penjelasan Paulus sebagai suatu jawaban atas persoalan yang untuk sementara dikemukakan. Penting juga bagi kita untuk berpikir secara paragraf, dan bukan hanya sebagai kesatuan-kesatuan pemikiran yang wajar, tetapi sebagai kunci yang mutlak perlu untuk mengerti uraian yang terdapat dalam Surat-surat Kiriman.

Kita perlu mengajukan pertanyaan, “Apakah maksudnya?” secara berulang-ulang. Karenanya, kita hendaknya dapat melakukan dua perkara: (1). Secara ringkas dapat menyatakan isi setiap paragraf. (2). Mencoba menjelaskan mengapa penulis surat menulis “topik ini” pada “bagian ini.”

Kemudian, kita sampai pada persoalan hermeneutik (belajar mendengar arti dalam konteks zaman kita). Kita perlu mengajukan pertanyaan, “Apakah maksud teks-teks ini bagi kita?” Dalam hal ini, kita perlu mengingat peraturan dasar pertama, yaitu bahwa suatu teks tidak dapat memiliki arti yang tidak pernah dimaksudkan oleh penulis dan para pembacanya. Itu sebabnya, eksegesis harus selalu diutamakan. Peraturan dasar kedua, kapan saja kita mengalami fakta-fakta yang sebanding (yaitu, situasi kehidupan khusus yang serupa) dengan keadaan abad pertama, maka Firman Allah kepada kita adalah sama dengan FirmanNya kepada mereka.

Lalu bagaimana agar jawaban terhadap masalah-masalah yang bukan abad kedua puluh ini berbicara kepada orang-orang Kristen abad kedua puluh? Hermeneutik harus mengambil dua langkah: (1). Kita harus melakukan eksegesis dengan teliti sekali, supaya kita kita dapat mendengar apa Firman Allah kepada original readers sebenarnya. (2). Prinsip itu harus diterapkan pada situasi-situasi yang benar-benar sebanding.

Persoalan lain yang mungkin timbul adalah tentang bagaimana kita membedakan hal yang penting dengan yang tidak penting. Berikut ini beberapa pedoman:
a. Apa yang dinyatakan secara khusus oleh Surat-surat Kiriman sebagai perkara-perkara yang tidak penting bisa tetap dianggap begitu.
b. Perkara-perkara yang tidak penting ini, bukan bersifat moral, tetapi bersifat budaya – sekalipun itu terbit dari kebudayaan agama.
c. Dosa yang terdaftar dalam Surat-surat Kiriman tidak pernah memasukkan padanan abad pertama dari hal-hal yang kita daftarkan di atas.

Persoalan yang lain terkait dengan persoalan relativitas kebudayaan. Masalah itu terdiri atas langkah-langkah berikut: (1). Surat-surat Kiriman adalah dokumen-dokumen tak-berkala dari abad pertama, disesuaikan dengan bahasa dan kebudayaan abad pertama, yang menghadapi situasi khusus di gereja abad pertama. (2). Banyak dari situasi-situasi khusus dalam Surat-surat Kiriman itu begitu dipengaruhi oleh lingkungan abad pertamanya sehingga semua orang menyadari bahwa surat-surat itu hanya sedikit atau tidak mempunyai penerapan pribadi sebagai Firman Allah untuk masa kini, kecuali barangkali dalam arti yang sangat jauh, yaitu mengambil suatu prinsip dari surat-surat itu. (3). Teks-teks lain juga sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan abad pertama, tetapi Firman Allah kepada mereka dapat dialihkan ke dalam lingkungan yang baru tetapi sebanding. (4). Oleh karena itu, tidakkah mungkin bahwa masih ada teks-teks lain, yang walaupun kelihatannya mempunyai fakta-fakta yang sebanding, juga disesuaikan dengan lingkungan abad pertamanya dan perlu dialihkan ke dalam lingkungan-lingkungan yang baru, atau hanya dibiarkan dalam abad pertama.

Fee dan Stuart menyarankan garis-garis pedoman yang berikut untuk membedakan di antara pokok-pokok yang berhubungan dengan kebudayaannya, pada satu pihak, dan pokok-pokok yang melampaui lingkungan aslinya, pada pihak lain, dan merupakan norma bagi semua orang Kristen pada segala zaman: (1). Kita harus lebih dahulu membedakan di antara pokok inti berita Alkitab dan apa yang bergantung pada pokok itu atau yang tak mengenai pokok itu. Hal ini tidak mengusulkan kanon di dalam kanon. (2). Membedakan di antara apa yang oleh Perjanjian Baru sendiri dianggap sebagai bersifat moral dan yang tidak bersifat moral. Maka pokok-pokok yang bersifat moral, mutlak dan tetap berlaku untuk semua kebudayaan, namun yang tidak bersifat moral, bisa berubah dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. (3). Mencamkan secara khusus pokok-pokok yang Perjanjian Baru sendiri saksikan secara seragam dan tetap, dan juga yang Perjanjian Baru perlihatkan perbedaan-perbedaannya. (4). Membedakan prinsip dan penerapan khusus di dalam Perjanjian Baru. (5). Menetapkan pilihan-pilihan kebudayaan yang terbuka kepada setiap penulis Perjanjian Baru. (6). Berjaga-jaga terhadap perbedaan-perbedaan kebudayaan yang mungkin ada di antara abad pertama dan abad kedua puluh, yang kadang tidak segera nampak. (7). Mempraktekkan kemurahan hati Kristen pada saat ini.

Terakhir untuk bagian ini, Gordon D. Fee dan Douglas Stuart memberikan beberapa peringatan saat seseorang melakukan tugas teologi, peringatan yang menjadi hasil langsung sifat tak berkala dari Surat Kiriman itu: (1). Oleh karena sifat tak berkala dari Surat-surat Kiriman itu, maka kadang-kadang kita harus puas dengan keterbatasan pengertian teologis kita. Karena itu, kita hanya menegaskan bahwa di dalam Alkitab, Allah telah memberikan kepada kita semua yang kita butuhkan, tetapi bukanlah berarti semua yang kita inginkan. (2). Kadang-kadang persoalan teologis kita mengenai Surat-surat Kiriman timbul dari kenyataan bahwa kita menanyakan pertanyaan kita pada teks-teks yang karena sifat tak berkalanya hanya menjawab pertanyaan mereka sendiri, dan tidak menjawab permasalahan-permasalahan modern kita. Karena itu, satu-satunya cara kita dapat menghadapi persoalan itu ialah atas dasar seluruh teologi Alkitabiah, yang meliputi pengertian kita mengenai penciptaan, kejatuhan manusia ke dalam dosa, penebusan, dan penyempurnaan terakhir. Yaitu, kita harus berusaha membawa pandangan dunia yang Alkitabiah atas persoalan-persoalan modern kita.

2. Genre narasi. Kita akan tertolong ketika membaca dan mempelajari narasi Perjanjian Lama, bila kita menyadari bahwa cerita itu diceritakan pada tiga tingkat: (1). Tingkat atas. Berhubungan dengan seluruh rencana Allah untuk semesta alam, yang dilaksanakan melalui ciptaanNya. (2). Tingkat menengah. Berpusat kepada Israel. (3). Tingkat bawah. Terdapat ratusan cerita tersendiri yang membentuk dua tingkat yang lain.

Tidak salah untuk mempelajari cerita-cerita tersendiri itu secara terpisah, bahkan sebaliknya, hal itu sangat diperlukan. Tetapi untuk memperoleh arti sepenuhnya, kita akhirnya harus melihat cerita tersendiri itu di dalam konteksnya yang lebih besar. Fee dan Stuart menjelaskan tentang hal-hal yang bukan merupakan narasi

Fee dan Stuart menjelaskan tentang hal-hal yang bukan merupakan narasi:
a. Narasi Perjanjian Lama bukan hanya cerita tentang orang-orang yang hidup dalam zaman Perjanjian Lama, namun juga mengenai apa yang Allah lakukan kepada dan melalui orang-orang itu. Allah-lah yang menjadi tokoh utama dalam cerita.
b. Narasi Perjanjian Lama bukan alegori atau cerita yang penuh dengan arti yang tersembunyi. Narasi-narasi itu tidak menjawab semua pertanyaan kita tentang pokok persoalan yang ada, misalnya: bagaimana dan mengapa Allah berbuat sesuatu. Fokus narasi-narasi itu terbatas dan hanya memberikan satu bagian dari keseluruhan gambar tentang apa yang Allah lakukan dalam sejarah. Kita harus belajar merasa puas dengan pengertian yang terbatas dan mengendalikan rasa ingin tahu akan banyak hal, jika tidak akhirnya kita akan mencoba membaca apa yang tersirat sehingga kita akan mengintepretasikan hal-hal yang sebenarnya merupakan catatan sejarah.
c. Narasi-narasi Perjanjian Lama tidak selalu mengajar secara langsung. Narasi-narasi itu menekankan kodrat dan wahyu Allah dalam cara-cara khusus, yaitu dengan mengijinkan kita seolah-olah mengalami peristiwa dan pengalaman itu daripada hanya belajar tentang pokok persoalan yang terlibat dalam peristiwa dan pengalaman itu.
d. Setiap narasi atau episode tersendiri di dalam suatu narasi tidak perlu selalu berisikan suatu nasihat.

Prinsip-prinsip untuk menafsirkan narasi:
a. Narasi Perjanjian Lama biasanya tidak secara langsung mengajar suatu doktrin.
b. Narasi Perjanjian Lama biasanya menjelaskan doktrin-doktrin yang diajarkan sebagai suatu dasar pikiran di tempat lain.
c. Narasi mencatat apa yang terjadi. Karena itu, tidak semua narasi mengandung suatu nasihat tersendiri yang dapat dikenal.
d. Apa yang orang lakukan di dalam narasi tidaklah selalu menjadi contoh yang baik bagi kita. Seringkali justru sebaliknya.
e. Kebanyakan tokoh dalam narasi Perjanjian Lama, sama sekali tidak sempurna, demikian juga tindakan mereka.
f. Tidak selalu diberitahukan pada akhir narasi bahwa apa yang terjadi itu baik atau buruk. Diharapkan bahwa kita mampu menilai hal itu berdasarkan apa yang telah Allah ajarkan kepada kita secara langsung dan pasti di dalam Alkitab.
g. Semua narasi bersifat selektif dan tidak lengkap. Tidak semua seluk beluk yang relevan selalu diberikan. Yang muncul dalam narasi itu adalah segala hal yang menurut pendapat pengarang yang diilhami itu penting untuk diketahui.
h. Narasi itu tidak ditulis untuk menjawab semua pertanyaan kita yang berhubungan dengan teologi. Narasi-narasi itu memiliki tujuan-tujuan khusus yang terbatas dan membicarakan pokok-pokok tertentu, serta membiarkan pokok-pokok lain untuk dibahas di tempat lain, dalam cara yang lain.
i. Narasi bisa mengajar secara eksplisit (dengan menyatakan sesuatu secara jelas) atau secara implicit (dengan menunjukkan sesuatu dengan jelas tanpa benar-benar menyatakannya).
j. Dalam analisa terakhir, Allah menjadi pahlawan dalam semua narasi Alkitabiah.

Satu hal yang perlu diingat, implisit (arti yang tersirat), tidak berarti rahasia. Tugas kita bukan untuk menemukan perkara-perkara yang tidak dapat dimengerti semua orang, melainkan memperhatikan semua hal yang benar-benar diberitahukan oleh narasi itu kepada kita –secara langsung dan tidak langsung, tetapi tidak pernah secara mistik atau hanya kepada kita saja. Jika kita tidak sanggung menyatakan dengan yakin kepada orang lain sesuatu yang diajarkan secara implisit sehingga mereka dapat mengerti itu dan menangkap maksudnya juga, maka barangkali kita salah membaca teks itu. Apa yang diilhamkan oleh Roh Kudus adalah berfaedah bagi semua orang percaya. Temukan dan sampaikan apa yang ada dalam narasi –jangan membuat suatu cerita baru.

Fee dan Stuart memaparkan enam kesalahan penafsiran, terutama dalam menafsirkan narasi:
a. Meng-alegori-kan.
b. Meniadakan hubungan konteks. Tidak memperhatikan konteks historis dan sastra yang penuh, dan sering narasi itu sendiri, orang memusatkan perhatian kepada unit-unit kecil saja dan dengan demikian tidak melihat petunjuk-petunjuk untuk penafsiran.
c. Memilih dan menyaring. Memilih kata-kata dan ungkapan khusus untuk dijadikan pusat perhatian, mengabaikan yang lain dan tidak menghiraukan luasnya jangkauan yang menyeluruh dari bagian Alkitab yang sedang dipelajari.
d. Penggabungan yang salah. Menggabungkan unsur-unsur dari sini dan sana dalam suatu pasal dan mementingkan gabungan itu, walaupun unsur-unsur itu sendiri tidak berhubungan secara langsung dalam pasal itu sendiri.
e. Menjelaskan kembali. Bilamana arti yang jelas dari teks kurang menarik, tidak membangkitkan kesenangan rohani atau mengatakan sesuatu yang orang tidak suka dengar, mereka sering tergoda untuk menjelaskan kembali teks itu sehingga mempunyai arti yang lain.
f. Otoritas di luar kanon. Teologi Sistematika dan tafsiran-tafsiran para ahli dapat menolong kita untuk memperoleh tafsiran yang baik.

Peringatan terakhir bagi kita yang mempelajari narasi ialah: Jangan menjadi seorang pembaca Alkitab yang sekadar membaca tanpa menerapkan kebenaran itu. Kita bisa belajar banyak dari narasi-narasi ini, dan dari semua narasi Alkitab, tetapi jangan sekali-kali menganggap bahwa Allah mengharapkan kita melakukan perbuatan-perbuatan yang tepat sama dengan apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Alkitab itu, atau mengharapkan hal-hal yang sama terjadi atas kita.

Tugas kita adalah mempelajari firman Allah dari narasi para tokoh itu, bukannya melakukan segala sesuatu yang dilakukan di dalam Alkitab. Hanya karena seorang dalam suatu cerita Alkitab melakukan sesuatu, tidaklah berarti bahwa kita juga diizinkan atau diwajibkan untuk melakukan hal itu juga. Apa yang kita dapat dan harus lakukan adalah mentaati apa yang Allah benar-benar perintahkan kepada kita di dalam Alkitab. Narasi-narasi itu sangat indah bagi kita karena mendemonstrasikan dengan hidup, kegiatan Allah dalam dunia dan menggambarkan prinsip-prinsip dan panggilanNya. Narasi-narasi itu mengajar banyak kepada kita, tetapi apa yang diajarkannya secara langsung kepada kita tidak mencangkup etika perseorangan.

Berkenaan dengan narasi dalam Perjanjian Baru, yaitu Kisah Para Rasul, kita perlu memperhatikan eksegese, yaitu pada apa dan mengapa dalam Kisah Para Rasul. Kisah Para Rasul adalah satu hasil karya tabib Lukas (non-Yahudi), yang merupakan satu contoh yang baik tentang apa yang disebut sebagai histiografi helenis (semacam penulisan sejarah yang berasal dari Thucydides [±460-400 SM] dan berkembang selama masa Helenistis [±300-200 M]. Sejarah yang demikian itu tidak hanya ditulis untuk mencatat kejadian-kejadian di masa lampau, melainkan hanya untuk mendorong dan menyenangkan dan memberi informasi, menyatakan ajaran, atau menawarkan suatu apologetika.

Langkah-langkah yang bisa kita tempuh: (1). Bacalah Kitab Kisah Para Rasul seluruhnya sekali atau dua kali. (2). Sewaktu kita membaca camkanlah hal-hal seperti orang dan tempat utama, tema yang muncul berulang-ulang (apa sebenarnya yang menarik bagi Lukas?). (3). Baca kembali sepintas lalu dan catatlah dengan keterangan ayatnya semua pengamatan sebelumnya. (4). Tanyakan pada diri kita mengapa Lukas menulis kitab ini.

Persoalan hermeneutik yang sangat penting saat kita menafsirkan Kisah Para Rasul adalah apakah narasi-narasi Alkitabiah yang menggambarkan apa yang terjadi pada gereja mula-mula juga berfungsi sebagai norma yang dimaksudkan untuk menggariskan apa yang harus terjadi dalam gereja yang terus berlangsung. Pada umumnya, pernyataan-pernyataan doktrin yang diambil dari Alkitab dikelompokkan dalam tiga kategori: (1). Teologi Kristen (apa yang dipercauai umat Kristen). (2). Etika Kristen (bagaimana orang Kristen harus berkelakuan). (3). Pengalaman atau praktek Kristen (apa yang dilakukan orang Kristen). Di dalam kategori ini kita dapat membedakan selanjutnya dua tingkat pernyataan, yaitu: pernyataan primer (pernyataan doktrin yang berasal dari perintah atau saran yang tegas dalam Alkitab) dan pernyataan sekunder (pernyataan yang diperoleh secara kebetulan, melalui implikasi atau melalui contoh).

Nilai teologis pernyataan-pernyataan sekunder itu dapat dihubungkan dengan bagaimana baiknya pernyataan itu memelihara integritas pernyataan-pernyataan yang primer. Hampir segala sesuatu yang diperoleh orang Kristen dari Alkitab melalui contoh, berada dalam kategori yang ketiga, yaitu pengalaman atau praktek orang Kristen, dan selalu berada pada tingkat sekunder.

Suatu peribahasa yang umum di bidang heremenutik adalah bahwa Firman Allah dapat ditemukan dalam maksud Alkitab. Ini merupakan hal yang sangat penting bagi hermeneutik narasi-narasi sejarah. Berikut ini prinsip-prinsip berkenaan dengan narasi sejarah:

1. Firman Allah dalam Kisah Para Rasul yang dapat dipandang sebagai suatu norma bagi orang-orang Kristen terutama berhubungan dengan apa yang dimaksudkan untuk diajarkan oleh suatu narasi tertentu.
2. Apa yang bersifat insidentil pada maksud utama narasi itu sebenarnya dapat mencerminkan pengertian pengarang yang diilhami itu mengenai berbagai hal, tetapi itu tidak dapat memiliki nilai didaktik yang sama seperti apa yang dimaksudkan untuk diajarkan oleh narasi itu. Apa yang bersifat insidentil jangan dijadikan primer, walaupun itu bisa selalu berguna sebagai bantuan tambahan kepada apa yang diajarkan dengan tegas di tempat lain.
3. Agar contoh sejarah memiliki nilai normatif maka contoh itu harus berhubungan dengan maksud. Yaitu, jika dapat ditunjukkan bahwa tujuan suatu narasi tertentu adalah untuk menetapkan sesuatu sebagai contoh, maka contoh itu seharusnya dianggap sebagai norma. Namun jika penetapan contoh bukan menjadi maksud narasi itu, maka nilainya sebagai contoh bagi orang-orang Kristen yang kemudian harus diperlakukan menurut prinsip-prinsip khusus yang disarankan pada bagian berikut:

a. Barangkali tidak pernah dianggap sah untuk menggunakan analogi yang didasarkan pada contoh Alkitabiah untuk tindakan-tindakan masa kini.
b. Walaupun mungkin itu tidak menjadi tujuan utama penulis, namun narasi-narasi Alkitab bernilai sebagai contoh yang membantu menjelaskan dan kadang-kadang sebagai „pola.‟ Namun contoh itu tidak menetapkan suatu norma untuk tindakan yang khusus. Jika sebuah contoh Alkitabiah hendak membenarkan suatu tindakan yang sekarang ini, maka prinsip yang menyangkut tindakan itu harus diajarkan di tempat lain yang terutama bermaksud untuk mengajarkan prinsip itu.
c. Dalam perkara-perkara pengalaman Kristen, dan bahkan lebih lagi dalam perkara praktek Kristen, contoh-contoh Alkitabiah, kadang-kadang dapat dipandang sebagai pola yang dapat diulangi –walaupun itu tidak dipandang sebagai sesuatu yang normatif. Hal ini benar sekali, bila praktek itu sendiri bersifat perintah, tetapi caranya tidak. Keputusan mengenai apakah praktek atau pola tertentu dapat diulang harus dituntun oleh pertimbangan-pertimbangan berikut:

(1). Kasus yang mungkin paling kuat dapat dibentuk bilamana hanya terdapat satu pola (walaupun kita harus berhati-hati agar jangan terlalu membesarkan keheningan), dan bila pola itu diulang di dalam Perjanjian Baru sendiri. (2). Bila pola-pola itu tidak pasti atau bila suatu pola hanya diberikan sekali saja, maka pola itu dapat diulangi bagi orang-orang Kristen yang kemudian, jikalau ternyata disetujui oleh Tuhan atau selaras dengan apa yang diajarkan di tempat lain di Alkitab. (3). Sesuatu yang bersifat budaya, atau yang disesuaikan dengan kebudayaan, tidak dapat diulangi sama sekali atau hal itu harus dipindahkan kepada kebudayaan yang baru atau yang berlainan.

3. Genre Injil atau Gospels menurut Zuck. Hampir semua kesulitan yang kita hadapi dalam menafsirkan kitab-kitab Injil berasal dari dua fakta yang nyata: (1). Yesus sendiri tidak menulis kitab Injil; kitab-kitab Injil itu datang dari orang lain, bukan dari Dia. (2). Ada empat kitab Injil. Keempatnya memiliki nilai dan wibawa yang sama, karena dalam setiap kasus minat terhadap Yesus berada pada dua tingkat: (1). Ada minat historis yang murni bahwa tokoh inilah Yesus itu dan inilah yang dilakukan dan dikatakanNya. (2). Ada minat eksistensial untuk menceritakan kembali narasi ini demi kebutuhan jemaat-jemaat yang kemudian yang tidak berbahasa Aram, tetapi bahasa Yunani.

Oleh karena itu, dalam arti tertentu, kitab-kitab Injil itu telah berfungsi sebagai contoh-contoh hermeneutik bagi kita, yang mendesak melalui sifat contoh-contoh itu sendiri supaya kita juga menceritakan kembali cerita yang sama dalam konteks abad kedua puluh ini.

Keempat Injil pun bukan biografi dan berdiri berdampingan oleh karena pada waktu yang sama mencatat fakta-fakta tentang Yesus, mengingat ajaran Yesus dan masing-masing memberi kesaksian tentang Yesus. Eksegesis terhadap keempat kitab Injil menuntut kita untuk berpikir dari segi lingkungan sejarah Yesus maupun lingkungan sejarah para penulisnya.

Tugas utama eksegesis adalah menyadari akan konteks historis. Ini berarti mengetahui konteks historis secara umum dan membentuk suatu rekonstruksi sementara. Ini cukup sulit karena sifat keempat Injil sebagai dokumen yang bertingkat dua, yaitu: Konteks historis tentang Yesus sendiri; dan konteks historis tentang penulis kitab.

Karena sifat unik kitab-kitab Injil, maka kita harus melakukan dua perkara: (1). Berpikir secara horizontal. Bilamana mempelajari satu perikop dalam salah satu Injil, kita harus mengingat akan pararelnya dalam kitab Injil-Injil lain. Alasan mengapa hal ini dilakukan: (a). Bagian-bagian paralel itu sering akan membuat kita menghargai perbedaan-perbedaan khusus yang terdapat dalam setiap kitab Injil. (b). Bagian-bagian paralel itu akan membantu kita mengenal bermacam-macam konteks bagi materi yang sama atau yang serupa yang ada dalam gereja yang berlangsung terus. (2). Berpikir secara vertikal. Bila kita membaca atau mempelajari suatu narasi atau pengajaran dalam kitab-kitab Injil kita harus berusaha untuk mengetahui kedua konteks historis, yaitu konteks mengenai Yesus dan mengenai penulis kitab Injil itu.

Ada dua prinsip yang berlaku dalam penyusunan keempat Injil, yaitu selektivitas dan penyesuaian. Pada satu pihak, para penulis Injil sebagai pengarang yang diilhami, memilih narasi-narasi serta ajaran-ajaran yang sesuai dengan tujuan mereka. Pada saat yang sama, para penulis Injil itu dan gereja mereka memiliki minat khusus yang juga menyebabkan mereka menyesuaikan apa yang sudah terpilih.

Sesudah kita melakukan eksegesis dengan teliti, ajaran-ajaran dan perintah-perintah Yesus di dalam kitab-kitab Injil harus dipindahkan ke abad ke-20 dalam cara yang sama dengan yang kita lakukan dengan ajaran dan perintah Paulus, Petrus, atau Yakobus yang terdapat dalam surat-surat kiriman.

Di dalam keempat Injil, narasi-narasi cenderung memiliki lebih dari satu fungsi. Menggunakan narasi-narasi ini dalam cara yang tepat sama adalah praktek hermeneutis yang sepatutnya. Orang tidak berani berpikir bahwa ia dapat menafsirkan dengan semestinya kitab-kitab Injil itu tanpa pengertian yang jelas mengenai konspsi Kerajaan Allah dalam pelayanan Yesus. Kita harus mengetahui bahwa kerangka teologis dasar dari seluruh Perjanjian Baru bersifat eskatologis.

Berkenaan dengan perumpamaan, tidak semua perumpamaan adalah sejenis. Ada yang merupakan “perumpamaan yang sebenarnya” dan ada yang berupa “tamsil.” Perumpamaan bisa jadi mirip alegori, namun perumpamaan bukanlah alegori, dan tidak bisa senantiasa di-alegori-kan. Fungsi perumpamaan pun berbeda-beda dan bagaimana fungsinya bagi pendengar mula-mula, itu penting untuk dicari tahu. Dan inilah yang kita lakukan dalam eksegesis kita.

Penting pula bagi kita untuk menetapkan siapa pendengar perumpamaan, sebab arti perumpamaan berhubungan dengan bagaimana perumpamaan itu mula-mula didengar. Tugas penafsiran terdiri atas tiga hal: (1). Duduk serta mendengarkan perumpamaan itu berulang-ulang. (2). Mengenali pokok-pokok acuan yang dimaksudkan oleh Yesus yang pasti telah ditangkap oleh pendengar yang mula-mula. (3). Mencoba menentukan bagaimana para pendengar mula-mula telah menempatkan diri dalam cerita itu dengan demikian menetapkan apa yang telah mereka dengar.

Tugas hermeneutis yang diajukan oleh perumpamaan-perumpamaan itu adalah unik. Keunikan itu berkenaan dengan fakta bahwa perumpamaan itu jarang memerlukan penafsiran ketika itu mula-mula diucapkan. Berikut saran-saran agar kita dapat menafsirkan dengan tepat: (1). Kita perlu memikirkan perumpamaan-perumpamaan itu dalam konteks Alkitab yang sekarang ini. (2). Perlu bagi kita untuk menyelami arti kerajaan itu dalam pelayanan Yesus.

4. Genre Taurat. Zuck memakai istilah legal. Ada enam garis pedoman awal untuk mengerti hubungan orang Kristen dengan Taurat Perjanjian Lama: (1). Taurat Perjanjian Lama adalah suatu kovenan. (2). Perjanjian Lama bukanlah wasiat kita. (3). Jelaslah ada beberapa ketentuan Perjanjian Lama yang tidak diperbaharui dalam Perjanjian Baru. (4). Sebagian Perjanjian Lama diperbaharui dalam Perjanjian Baru. (5). Semua hukum Perjanjian Lama masih merupakan Firman Allah bagi kita, walaupun hukum itu tidak lagi merupakan perintah Allah bagi kita. (6). Hanyalah bagian yang dengan tegas diperbarui dari Taurat Perjanjian Lama dapat dianggap sebagai bagian dari Hukum Kristus di Perjanjian Baru.

Kita keliru apabila menyimpulkan bahwa Taurat tidak lagi merupakan bagian yang bermanfaat dari Alkitab. Alkitab berlaku dalam pengertian sebagai model pola. Taurat memberi contoh tentang makna berlaku setia kepada Allah. Sebagai intisari, berikut pedoman hermeneutik untuk membantu membaca Taurat Pentateukh Perjanjian Lama:

a. Lihatlah Taurat Perjanjian Lama sebagai Firman Allah yang diilhamkan sepenuhnya bagi kita. Jangan memandang Taurat Perjanjian Lama sebagai perintah Allah yang langsung kepada kita.
b. Lihatlah Taurat Perjanjian Lama sebagai dasar untuk Perjanjian Lama dan karenanya dasar untuk sejarah Israel. Jangan memandang Taurat Perjanjian Lama sebagai hal yang mengikat orang Kristen dalam Perjanjian Baru kecuali bila hal itu diulang secara khusus.
c. Lihatlah keadilan, kasih, serta norma-norma yang tinggi dari Allah yang dinyatakan dalam Taurat Perjanjian Lama. Jangan lupa melihat bahwa rahmat Allah sepadan dengan kekerasan kaidah-kaidah itu.
d. Jangan memandang Taurat Perjanjian Lama sebagai sesuatu yang lengkap. Secara teknis Taurat itu tidak meliputi segala hal. Pandanglah Taurat Perjanjian Lama sebagai suatu model pola –memberi contoh-contoh untuk seluruh perilaku yang diharapkan.
e. Janganlah mengharapkan Taurat Perjanjian Lama untuk dikutip seringkali oleh para nabi atau Perjanjian Baru. Ingat bahwa inti Taurat (sepuluh Firman dan dua hukum yang utama) diulang dalam kitab nabi-nabi dan dibarui dalam Perjanjian Baru.
f. Pandanglah Taurat Perjanjian Lama sebagai suatu karunia yang dermawan kepada orang Israel, yang membawa banyak berkat bila ditaati. Jangan pandang Taurat Perjanjian Lama sebagai sekelompok peraturan yang sewenang-wenang serta menyebalkan dan membatasi kebebasan orang.

5. Genre Nabi-nabi. Zuck memakai istilah Prophetic literature. Nabi-nabi memang mengumumkan tentang masa yang akan datang. Tetapi biasanya masa depan yang sangat dekat bagi bangsa Israel, Yehuda, dan bangsa-bangsa lain yang ada di sekitar mereka, dan bukan masa depan kita. Fungsi pokok mereka adalah berbicara atas nama Allah kepada orang-orang yang sezaman dengan mereka sendiri. Dalam kitab-kitab nubuat, kita mendengar dari Allah Firman dari Allah melalui para nabi dan sangat sedikit mengenai nabi-nabi itu sendiri. Satu hal yang menyulitkan dari kitab nabi-nabi adalah masalah jarak sejarah.

Untuk memahami apa yang Allah hendak katakan kepada kita melalui kitab-kitab yang diilhami itu, pertama-tama kita harus mengerti dengan jelas apa peranan dan fungsi nabi di Israel. Ada tiga hal yang harus ditekankan: (1). Nabi-nabi itu merupakan pengantara dalam pelaksanaan perjanjian. Saat kita membaca kitab nabi-nabi, carilah pola yang sederhana ini: (a). Penyebutan dosa Israel atau kasih Allah terhadap Israel. (b). Nubuat tentang kutuk atau berkat bergantung pada keadaan. (2). Berita para nabi bukanlah berasal dari mereka sendiri, tetapi dari Allah. Para nabi yang sejati menanggapi suatu panggilan Ilahi, dan bukan memberanikan dirinya mengaku sebagi nabi demi kepentingan dirinya sendiri. Kata Ibrani untuk nabi sebenarnya berasal dari dari kata kerja bahasa Semit nabu (memanggil). Kita akan memperhatikan bila membaca kitab nabi-nabi itu, bahwa mereka mengawali dan mengakhiri, atau secara konsisten menitikberatkan berita mereka itu dengan peringatan seperti, “Demikianlah Firman TUHAN” atau “Firman TUHAN.” (3). Berita para nabi tidak berasal dari dirinya sendiri. Para nabi diilhami oleh Allah untuk memberitakan isi pokok dari peringatan serta janji (kutuk dan berkat) yang terdapat dalam perjanjian dengan Allah.

Untuk menafsirkan kitab Nabi-nabi ada tiga macam bantuan: (1). Berbagai kamus Alkitab. (2). Kitab-kitab tafsiran. (3). Buku penuntun ke dalam Alkitab. Untuk mengerjakan eksegesis dengan baik, kita perlu mengerti kedua jenis konteks historis: (1). Konteks yang lebih besar. Keenam belas kitab nubuat dalam Perjanjian Lama berasal dari suatu bidang yang agak sempit dala keseluruhan Panorama sejarah Israel, yaitu sekitar 760-460 SM. (2). Konteks Khusus: Suatu Contoh. Dalam perantaraan para nabi Allah bersabda kepada orang-orang pada suatu masa dan tempat tertentu, dan dalam keadaan tertentu.

Kita harus berpikir dari segi nubuat-nubuat. Penting bagi kita untuk mengetahui sesuatu tentang beragam bentuk yang digunakan oleh para nabi untuk menyusun firman nubuat mereka. Kami telah memilih tiga bentuk yang paling lazim untuk menolong menyiagakan kita terhadap pentingnya hal mengenal dan menafsirkan dengan tepat teknik-teknik sastra yang ada di situ: (1). Penuntutan perkara. (2). Malapetaka. (3). Janji.

Prosa puitis yang kadang digunakan oleh para nabi adalah suatu gaya formal yang khusus, yang menggunakan sifat-sifat khas yang sama ini, walaupun tidak tetap. Sebelum kita membaca kitab-kitab nubuat itu, akan sangat berguna bagi kita jika membaca suatu kata pengantar puisi Ibrani. Ada tiga sifat khas gaya berulang puisi Perjanjian Lama, yaitu: (1). Paralelisme yang Sinonim (yang searti). (2). Paralelisme Antitesis (yang bertentangan). (3). Paralelisme Sintesis (yang terpadu).

Berkaitan dengan tugas Hermeneutis terhadap genre ini, ada tiga jenis penerapan yang harus dibicarakan: (1). Peringatan: Nabi sebagai Peramal Masa Depan. Untuk melihat penggenapan nubuat-nubuat mereka kita harus menoleh ke belakang, kepada masa yang bagi mereka masa depan, tetapi bagi kita adalah masa lampau. (2). Perhatian: Nubuat dan Arti Kedua (sensus plenior) atau arti yang lebih lengkap. (3). Keuntungan akhir: penekanan dwirangkap pada ortodoksi dan ortopraksi. Ortodoksi adalah kepercayaan yang benar. Ortopraksi adalah tindakan yang benar.

6. Genre Mazmur. Zuck memakai istilah Poetry. Untuk menafsirkan genre ini, kita perlu memahami sifatnya, jenisnya, bentuknya, dan fungsinya. Perlu kita ingat bahwa Mazmur-mazmur itu adalah syair-syair yang dilagukan. Tiga pokok tambahan yang perlu kita ketengahkan: (1). Perlu kita sadari bahwa puisi tersebut seakan-akan ditujukan kepada pikiran melalui hati, yaitu sebagian besar bahasanya sengaja bersifat menyentuh perasaan. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati agar jangan menafsirkan kitab Mazmur secara berlebihan dengan menemukan arti-arti khusus di dalam setiap kata atau ungkapan, padahal penulis sama sekali tidak bermaksud demikian. (2). Kita perlu ingat bahwa kitab Mazmur tidak merupakan sembarang jenis syair, tetapi Mazmur-mazmur itu adalah syair-syair yang dilagukan. (3). Penting diingat bahwa kosakata puisi dengan tegas bersifat kiasan. Kita harus berhati-hati mencari maksud kiasan itu.

Kita perlu mengenali beberapa ciri sastra dalam Kitab Mazmur sewaktu kita membaca atau menelaahnya: (1). Mazmur terdiri dari beberapa jenis yang berbeda-beda. (2). Tiap-tiap Mazmur dapat juga dibedakan dari bentuknya. (3). Setiap jenis Mazmur juga dimaksudkan untuk memiliki suatu fungsi tertentu dalam kehidupan orang Israel. (4). Kita juga harus belajar mengenal berbagai pola di dalam kitab Mazmur. (5). Akhirnya, setiap Mazmur harus dibaca sebagai suatu unit sastra.

Mazmur adalah nyanyian-nyanyian yang berfungsi untuk mengadakan hubungan antara penyembah dengan Allah yang disembah. Jenis-jenis Mazmur: (1). Ratapan. (2). Mazmur Pengucapan Syukur. (3). Kidung Puji-pujian. (4). Mazmur sejarah keselamatan. (5). Mazmur Perayaan dan Pengukuhan. (6). Mazmur narasi. (7). Nyanyian kepercayaan.

Secara hermeneutis, Mazmur kita gunakan sebagai kesempatan-kesempatan untuk berbicara kepada Allah dengan menggunakan kata-kata yang Dia ilhamkan pada orang lain untuk mereka utarakan kepadaNya pada masa lampau. Sebagai peringatan, Mazmur-mazmur tidak dimaksudkan untuk memberikan jaminan akan kehidupan yang menyenangkan.

7. Genre Kebijaksanaan. Zuck memakai istilah Wisdom literature. Kebijaksanaan adalah disiplin dalam menerapkan kebenaran pada kehidupan seseorang dipandang dari segi pengalaman. Jadi kebijaksanaan mempunyai segi pribadi. Di zaman Israel dulu, beberapa orang mengabdikan dirinya tidak hanya untuk beroleh hikmat, tetapi juga untuk mengajarkannya. Beberapa hal tentang kebijaksanaan: (1). Ada kebijaksanaan untuk lingkup keluarga. (2). Ada kebijaksanaan untuk lingkup rekan-rekan sekerja. (3). Kebijaksanaan diungkapkan melalui puisi. (4). Tidak semua kebijaksanaan di dunia zaman kuno bersifat saleh atau ortodoks. (5). Ada kebijaksanaan yang sinis. (6). Ada kebijaksanaan dalam kitab Ayub dan Amsal. (7). Ada penggunaan dan penyalahgunaan kitab Amsal.

Beberapa garis pedoman Hermeneutis: (1). Amsal bukanlah jaminan yang sah dari Allah. Kitab ini menyatakan suatu cara yang bijaksana untuk mendekati berbagai tujuan praktis yang terpilih, tetapi hal itu dilakukannya sedemikian rupa hingga tidak dapat diperlakukan seperti suatu jaminan Ilahi akan keberhasilannya. (2). Amsal harus dibaca sebagai satu koleksi. Setiap Amsal yang diilhami harus diimbangi dengan yang lain dan dimengErti dalam perbandingan dengan ayat-ayat lain di Firman Allah. (3). Kata-kata Amsal disusun agar mudah diingat, bukan supaya tepat secara teori. (4). Beberapa Amsal perlu “diterjemahkan” supaya dapat dimengerti.

Untuk memudahkan, kami memberikan secara ringkas beberapa peraturan yang akan membantu kita menggunakan Amsal dengan tepat, dan mengikuti maksudnya yang diilhamkan secara Ilahi:
1. Amsal sering bersifat parabolis, yaitu bersifat kiasan, menunjuk pada sesuatu yang melampaui lingkungan persoalan yang disebut di dalam Amsal itu.
2. Amsal sangat praktis, dan bukan mengemukakan teori-teori yang teologis.
3. Amsal disusun sedemikian rupa agar mudah diingat, dan bukanlah agar menyatakan sesuatu yang tepat secara teknis.
4. Amsal tidak dimaksudkan untuk mendukung perilaku yang mementingkan diri sendiri, tetapi justru sebaliknya.
5. Amsal yang mencerminkan kebudayaan kuno memerlukan „terjemahan‟ yang bijaksana supaya tidak kehilangan maksudnya.
6. Amsal bukanlah jaminan-jaminan dari Allah, tetapi merupakan garis pedoman yang puitis untuk kelakukan yang baik.
7. Amsal mungkin saja menggunakan bahasa yang sangat khusus, pernyataan yang dilebih-lebihkan, atau salah satu dari bermacam-macam teknik sastra untuk menerangkan waktunya.
8. Amsal memberikan nasihat yang baik untuk mengadakan pendekatan yang bijaksana terhadap segi-segi tertentu dalam kehidupan, namun tidak mengulas segala sesuatu secara lengkap.
9. Bila disalahgunakan, maka Amsal seolah-olah membenarkan cara hidup materialistis yang bodoh. Bila digunakan dengan tepat, maka Amsal akan memberikan nasihat praktis bagi kehidupan sehari-hari.

8. Genre Wahyu atau apokaliptik. Kitab Wahyu unik karena merupakan suatu kombinasi tiga jenis sastra yang terpadu dengan baik, yakni wahyu (penyingkapan), nubuat, dan surat. Tambahan pula, jenis dasar, yaitu wahyu adalah bentuk sastra yang tidak ada lagi dalam zaman kita.

Kitab Wahyu adalah sebuah kitab apokaliptis atau penyingkapan. Sifat Kitab Wahyu adalah: (1). Sumber utama materi apokaliptis ialah kepustakaan nubuat Perjanjian Lama, khususnya sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Yehezkiel, Daniel, Zakharia, dan di beberapa bagian kitab Yesaya. (2). Berb
eda dengan kebanyakan kitab nubuat, maka dari mulanya kitab-kitab apokaliptis adalah karya sastra. (3). Seringkali materi apokalitis disampaikan dalam bentuk vision dan mimpi, dan bahasanya tidak jelas (memiliki arti tersembunyi) dan simbolis. (4). Gambaran dari materi apokalipsis itu sering berbentuk khayalan bukan kenyataan. (5). Oleh karena apokalipsis itu adalah karya sastra maka kebanyakan kitab apokalipsis sangat formal gayanya. Selain itu, Kitab Wahyu juga adalah surat kiriman dan nubuat.

Ada beberapa prinsip eksegisis dasar sebagai berikut:
a. Tugas utama eksegesis Kitab Wahyu adalah mencari maksud mula-mula dari pengarang, dan maksud mula-mula dari Roh Kudus.
b. Kita harus terbuka bagi kemungkinan adanya arti kedua, yang diilhami Roh Kudus, tetapi tidak kelihatan sepenuhnya oleh penulis atau pembacanya.
c. Kita harus sangat hati-hati agar jangan secara berlebihan menggunakan konsepsi „analogi ayat Alkitab‟ dalam eksegesis Kitab Wahyu.
d. Oleh karena sifat nubuat/apokaliptis dari buku itu, ada beberapa kesulitan tambahan pada taraf eksegesis, terutama yang berkaitan dengan perumpamaan dan perbandingan. Berikut beberapa saran:
– Kita harus peka terhadap latar belakang gagasan yang banyak sekali yang telah terlibat dalam penulisan Kitab Wahyu.
– Ada beberapa jenis perumpamaan dan perbandingan apokaliptik.
– Ketika Yohanes sendiri menafsirkan lambang-lambangnya, lambing-lambang yang sudah ditafsirkan itu harus dipegang teguh dan harus berlaku sebagai titik tolak untuk mengerti lambing-lambang lainnya.
– Kita harus melihat vision itu sebagai suatu keseluruhan dan bukan menerangkan setiap seluk-beluk secara alegoris.
– Materi apokaliptis umumnya dan Kitab Wahyu khususnya, jarang bermaksud untuk memberikan laporan kronologis yang terinci tentang masa depan

Kita harus memperhatikan konteks sastra dan historis, juga segi-segi hermeneutis berikut: (1). Kita perlu tahu bahwa gambaran-gambaran mengenai masa depan hanya merupakan gambaran, tidak lebih dari itu. (2). Beberapa gambaran terutama dimaksudkan untuk mengungkapkan kepastian hukuman Allah. (3). Gambaran di mana hal-hal „masa kini‟ berhubungan erat dengan hal-hal yang eskatologis janganlah dipandang sebagai sesuatu yang akan terjadi secara serempak. (4). Kita tidak diberikan kunci bagaimana agar kita menerangkan kitab ini dengan tepat. (5). Gambaran-gambaran yang dimaksudkan untuk bersifat eskatologis sama sekali, masih dianggap demikian.

(Oleh NT. Prasetyo, S.Sos. untuk memenuhi tugas matakuliah Hermeneutika yang diampu oleh Yohanes Budhi, M.Div., STTRI, 2004)

Endnote:
1 W. Randolph Tate, Biblical Interpretation: an Intergrated Approach (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1997), 69.
2 John Stott, Understanding the Bible (Sydney: Scripture Union Publishing, 1984), 172.
3 Roy B. Zuck, Basic Bible Interpretation (Wheaton, Illinois: Victors Books, 1991), 126.
4 Ibid., 135.
5 Roy B. Zuck, 126.
6 Tremper Longman III, Literary Approaches to Biblical Interpretation (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1987), 76.
7 Kevin J. Vanhoozer, Is There a Meaning in This Text? (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1998), 336.
8 W. Randolph Tate, 69.
9 Ibid., 70.
10 Ibid.
11 Gordon D. Fee & Douglas Stuart, How to Read the Bible for All Its Worth: A Guide to Understanding the Bible (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1982), 24. Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: Hermeneutik: Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat! (Malang: Gandum Mas, 1989).
12 Roy B. Zuck, 127-134.
13 Gordon D. Fee dan Douglas Stuart, 37-73.

Bibliografi:
Fee, Gordon D. & Douglas Stuart. How to Read the Bible for All Its Worth: A Guide to Understanding the Bible. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1982.
_____. Hermeneutik: Bagaimana Menafsirkan Firman Tuhan dengan Tepat! Malang: Gandum Mas, 1989.
Longman III, Tremper. Literary Approaches to Biblical Interpretation. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1987.
Stott, John. Understanding the Bible. Sydney: Scripture Union Publishing, 1984.
Tate, W. Randolph. Biblical Interpretation: an Intergrated Approach. Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1997.
Vanhoozer, Kevin J. Is There a Meaning in This Text? Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1998. Zuck, Roy B. Basic Bible Interpretation. Wheaton, Illinois: Victors Books, 1991.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s