Biografi Singkat Raymond Lull


Meskipun orang-orang Muslim membencinya, ia mengasihi mereka dengan satu kasih yang ia gambarkan dari hubungannya dengan Allah…. Demikianlah kehidupan Lull yang mengasihi orang-orang Muslim karena Allah telah terlebih dahulu mengasihinya.

Raymond Lull adalah seorang mistikus, filsuf, dan Doktor Pencerahan (Enlightened Doctor), yang juga sering dipanggil Ramon Llull atau Lullus. Melalui tulisan ini penulis memaparkan sedikit kisah hidup Raymond Lull dan kiprahnya terkait dengan misi Kristen.

Ia lahir pada tahun 1232 di Pulau Majorca, Spanyol, dan merupakan penduduk asli pulau itu. Pulau ini telah ditaklukkan kembali dari orang-orang Muslim, tidak lama sebelum kelahirannya. Ia menikah dan memiliki dua orang anak. Ia memperoleh jabatan dan harus melayani di istana Raja Yakobus I (James I) dari Aragon, dan ini memberi kontribusi kepada ketidaksalehannya.

Di awal usianya yang ketigapuluh, Lull menyatakan bahwa ia telah mendapatkan penglihatan tentang Kristus sementara ia sedang menggubah musik imoral. Pada satu malam. Lull duduk memainkan alat musik (lute: semacam kecapi). Jemarinya dengan cekatan melantunkan satu lagu erotis bagi Ambrosia, seorang perempuan yang sudah menikah, yang dengan gigih menolak rayuannya. Padahal Lull sendiri sudah menikah dengan seorang perempuan bernama Blanca; dan bersama mereka telah memiliki dua anak. Demikian pemuda istana ini menghidupi satu kehidupan yang boros, menghabiskan kesadaran artistik dan bakat intelektualnya untuk menggoda/merayu dari satu perempuan ke perempuan lain. Makmur dan terdidik baik, hidupnya yang dangkal dan kosong tidak memiliki tujuan atau ambisi yang signifikan.

Pada malam musim panas itu, dengan pikiran dan imajinasi yang terpusat untuk memacari Ambrosia, Lull tiba-tiba didatangi oleh satu penglihatan yang kuat dan tak terduga. Lull melihat di atas tangan kanannya, Sang Juruselamat tergantung di atas salibNya, darah menetes dari tanganNya dan kaki dan kening, menatap penuh celaan kepadanya. Kesadaran Lull tertampar; ia tidak dapat menyanyi lagi. Ia meletakkan alat musiknya ke samping dan berbaring.

Seminggu kemudian ia mencoba untuk kembali mengkomposisi lagunya, namun sekali lagi penglihatan itu kembali. Kali ini, Yesus berbicara kepadanya, “Raymond, ikutlah Aku.” Penglihatan ini mengejutkan Lull. Ia menatap pada Tuhan yang tersalib baginya. Ia tidak dapat menolong melainkan membandingkan kasih yang dalam dan penuh pengorbanan ini dengan keegoisannya mengejar perempuan. Ia berlutut di hadapan Yesus, mengaku dosanya, memohon pengampunanNya, dan berkata “ya” untuk kasih dan panggilanNya. Pada akhirnya, Lull berbalik kepada Kristus dan menjauh dari kehidupannya yang bermoral bejat.

Langkah berikutnya tidak mudah. “Bagaimana bisa setiap orang yang cemar sebagaimana diriku memasuki kehidupan yang lebih kudus?” timbang Lull. Ia biasa bangun dari malam ke malam, diserang oleh kesedihan dan keraguan. Sedikit demi sedikit ia terhibur oleh perjumpaan dan belas kasihan Kristus. Ia mulai menyadari bahwa sejak ia telah diampuni, ia dapat mencintai Yesus lebih lagi, dan karenanya ia akan memberikan hidupnya sepenuhnya untuk melayani Tuhannya.

Pertobatan Lull dan perubahannya sama radikalnya dengan penglihatan-penglihatan yang telah ia terima. Awalnya, Lull bergabung dengan Golongan Ketiga Santo Francis dan mengikuti satu gaya hidup monastik. Mungkin sebagai satu reaksi atas kehidupan awalnya. Ia mengundurkan diri, menyendiri ke dalam biara monastik untuk memproses apa yang telah ia alami. Ia adalah seorang mistikus yang mendalam dan betul-betul diingat sebagai pendahulu Santa Teresa dari Avila dan Yohanes Salib (John of the Cross).

Di dalam waktu ini ia berdoa, “KepadaMu, Tuhan Allah, sekarang aku mempersembahkan diriku dan isteriku dan anak-anakku dan semua yang aku miliki; dan sejak aku mendekatiMu dengan kerendahan, melalui pemberian dan pengorbanan, kiranya dengan rendah hati Kau senang menerima semua apa yang sekarang aku berikan dan persembahkan kepadaMu, yaitu bahwa aku dan isteriku dan anak-anakku dapat menjadi budakMu yang rendah.” Lull menyerahkan posisi-jabatannya dan menjual harta miliknya – memberi secukupnya kepada Blanca dan anak-anaknya untuk mendukung kehidupan mereka. Pada mulanya Lull merasa bahwa demontrasi yang terutama dari cintanya kepada Allah adalah dengan mengundurkan diri dari dunia dan segala godaannya. Namun kemudian Tuhan memberinya penglihatan lain, di mana Lull berjumpa dengan seorang musafir di hutan. Ketika pria-musafir ini mendengarkan rencana Lull untuk menarik diri, pria-musafir ini menghardik Lull atas keegoisannya dan menantang Lull untuk pergi ke dalam dunia dengan membawa pesan Kristus. Penglihatan ini memercikkan semangat misi Lull. Pertanyaan yang kemudian diperhadapkan kepadanya adalah kemana dia harus pergi dan kepada siapa ia harus memberitakan tentang Yesus yang kini ia kasihi, yang telah mempengaruhi hidupnya dengan begitu mendalam?

Lull mulai berpikir dan mendoakan Majorca, Pulau Spanyol dimana di hidup. Pulau itu telah menjadi wilayah muslim selama ratusan tahun sampai Raja Yakobus I dari Aragon dan pasukannya (termasuk di dalamnya ayah Lull) menaklukkan orang-orang Moor pada tahun 1229, beberapa tahun sebelum Lull lahir. Pendekatan orang-orang Kristen kepada orang-orang Muslim pada waktu itu bukanlah untuk menginjili mereka, namun untuk menguasai mereka dengan kekerasan.

Sementara Lull berdoa tentang panggilan misinya sendiri, ia mendengar satu kotbah yang tepat pada waktunya, yakni dari rahib Fransiscan yang menggambarkan pendekatan yang berbeda total yang digunakan Francis dari Asisi. Meskipun Francis telah bergabung dengan pasukan salib kelima, Francis pergi tanpa senjata ke perkemahan Muslim untuk membagikan kepada Sultan Mesir tentang kasih Yesus. Sambil menimbang pesan rahib itu, Lull menulis refleksi seperti berikut, “Aku melihat banyak ksatria pergi ke Tanah Suci di seberang lautan…berpikir…mereka dapat mendapatkannya dengan kekuatan bersenjata; namun pada akhirnya semua dihancurkan…Aku melihat bahwa penaklukkan Tanah Suci tidak seharusnya dicoba kecuali di dalam cara yang Ia (Tuhan-pen) dan rasul-rasulNya lakukan, yaitu dengan kasih dan doa-doa, dan dengan mencurahkan air mata dan darah.

Sejak saat itu Lull mulai, dengan doa dan meditasi, membangun satu strategi untuk mengisi pikiran, hati, dan kekuatannya selama sisa hidupnya: Untuk membawa Injil tentang kasih Yesus kepada pengikut-pengikut Islam. Merasa yakin bahwa misinya adalah untuk mempertobatkan orang-orang Muslim, ia mempelajari bahasa Arab dan filsafat Islam dan mengadakan perjalanan ke Afrika Utara dan Asia Kecil. Lull telah berusia lebih dari 40 tahun ketika ia menjadi seorang misionaris dan ia memakai waktu sembilan tahun untuk belajar bahasa Arab.

Mempelajari bahasa orang-orang Arab adalah langkah pertama yang Lull lakukan agar bisa berkomunikasi dengan orang-orang Muslim dan dapat memahami pemikiran mereka. Karenanya Lull menetapkan diri untuk menguasai bahasa Arab. Tidak ada Muslim terpelajar yang tertarik untuk menolongnya untuk mempersiapkan diri untuk membagikan Injil, karenanya ia membeli seorang budak Muslim sebagai seorang informan bahasa. Setelah sembilan tahun bekerja keras ia telah mampu membaca teks-teks Arab yang paling rumit sekalipun.

Selanjutnya Lull mencatat peningkatan yang para pemikir dan filsuf Islam telah lakukan, termasuk dalam menterjemahkan karya-karya Aristoteles dan Plato ke dalam bahasa Arab. Avicenna, Algazel, dan Averroes duduk di atas tahta pembelajaran orang-orang Muslim dan menguasai pemikiran Muslim. Lull tahu bahwa presentasi Injil yang sederhana kepada cendekiawan-cendekiawan seperti ini tidak akan cukup untuk meyakinkan mereka.

Lull menetapkan diri untuk membaca dan memahami tulisan-tulisan mereka, dan membangun satu apologetika yang detil. Ia memperlengkapi diri satu sistem filsafat yang kompleks untuk meyakinkan orang-orang non-Kristen akan kebenaran Kekristenan. Ia ingin dapat menjawab secara meyakinkan setiap pertanyaan atau keberatan yang diajukan oleh orang Muslim atau orang kafir, dengan “logika yang tak terbantahkan.” Lull menemukan satu sistem diagram-diagram yang rumit, benar-benar satu ‘komputer awal’ yang ke dalamnya faktor-faktor yang beragam dapat didaftarkan dan jawaban-jawaban yang tepat dapat muncul, dengan demikian dapat berjumpa dengan para intelektual Muslim di atas dasar mereka sendiri.

Dalam hidupnya, Lull menulis 60 buku untuk tema teologi saja (total 290 buku). Ia menetapkan diri untuk menggunakan pengetahuan di zamannya untuk menampilkan iman Kristen di dalam satu cara yang akan meyakinkan orang-orang non-Kristen. Ia menulis di dalam bahasa Latin, Arab, dan Catalan (bahasa ibunya), ia adalah teolog Kristen pertama dari abad pertengahan yang menggunakan bahasa lain selain Latin untuk karya-karya utamanya, namun ia ingin agar karya-karya itu tersedia bagi semua orang. Tujuannya tidaklah hanya bersifat intelektual.

Lull juga menyatakan kebutuhannya untuk membangun “sekolah pelatihan bagi para misionaris” untuk orang-orang Muslim. Ia mengadakan perjalanan yang luas, mencoba untuk meyakinkan Paus-paus dan Kardinal-kardinal untuk menjadikan lembaga-lembaga monastik sebagai tempat belajar bahasa-bahasa. Lull gagal memenangkan dukungan dari Kepausan Kudus dan para pemimpin orang Kristen. Di Roma, ide-idenya dianggap menggelikan atau diabaikan oleh hirarki gereja. Meskipun begitu, untuk memajukan pengetahuannya dan untuk mengumpulkan persetujuan dari gereja dan kerajaan-kerajaan, ia mengadakan perjalanan yang luas, ke Italia, Perancis, Jerman, dan Inggris dan belajar dengan tak henti-hentinya. Karya utamanya adalah Ars Magna (Seni Agung), mencangkup “Buku tentang Menanjaknya dan Menurunnya Intelek” dan “Pohon Pengetahuan“.

Lull telah mendapat sedikit pelatihan dalam teologi Scholastik. Namun ia pun membuktikan dirinya sebagai teolog yang brilian, sementara ia mendemonstrasikan satu kejeniusan dalam bidang-bidang lain, seperti dalam alkimia, ilmu kimia, puisi, dan filsafat. Ia mengunjungi Universitas Paris, pusat terbesar dari studi-studi teologi di zamannya, mempromosikan visinya, dan selama dua tahun menyanggah pengajaran Averrous. Ia mengajar di Universitas Monpellier. Ia mendorong rencananya atas rahib-rahib Dominikan dan Fransiskan.

Dengan bantuan Raja Yakobus II (James II) dari Spanyol, pada tahun 1276 ia membuka satu pusat pelatihan misionaris di Majorca dengan tigabelas rahib Fransiscan dan satu kurikulum yang mencangkup kursus-kursus di dalam bahasa Arab dan dalam “geografi di dalam misi.” Pada Konsili Vienne (1311) di dekat akhir hidupnya, ia telah sukses dalam mempromosikan adanya studi bahasa Arab di universitas-universitas Eropa, yang ia harapkan akan menstimuli dialog antara orang-orang Kristen dan Muslim. Demikian penjangkauan misi Lull menyangkut tiga cabang: Apologetika, pendidikan, dan penginjilan.

Hasrat yang menguasai Lull adalah untuk melihat gereja dibarui, dibebaskan dari kemewahan dan pluralisme, dan bersedia menyiapkan pengkotbah-pengkotbah terbaiknya sebagai misionaris-misionaris, yang terlatih dalam ilmu bahasa-bahasa dan didukung oleh satu bagian sumber-sumber daya gereja. Ia menginginkan kesatuan antara Gereja Roma dan Gereja-gereja Timur (Orthodox, Nestorian, dsb.), yang memiliki satu posisi yang lebih baik ketimbang Gereja Roma untuk memenangkan orang-orang Muslim dan orang-orang Mongol penyerbu, orang-orang berkuda yang ganas yang siap untuk memilih antara Kekristenan atau Islam. Visi terutamanya adalah untuk melihat semua orang, dimana saja, dibawa bersama-sama di dalam kesatuan melalui Kristus.

Akhirnya, Lull sendiri menjadi misionaris terbesar pertama kepada orang-orang Muslim dan membuka bab baru di dalam sejarah hubungan Muslim-Kristen – satu pendekatan yang hati-hati dalam mengorganisir misi-misi, untuk memenangkan dengan sarana-sarana damai. Ia mengadakan perjalanan yang luas di dunia Mediteranian, pergi sampai Siprus dan Armenia untuk menguatkan orang-orang Kristen di sana dalam iman mereka. Mereka mewakili kubu terakhir dari Kekristenan di area dunia itu, yang dengan putus asa berjuang untuk menyelamatkan diri di hadapan orang-orang Muslim.

Lull juga menjangkau orang-orang Yahudi, yang mungkin adalah kelompok yang paling dihina di abad pertengahan Eropa, yang dituduh sebagai penyebab dari segala tragedi dan permasalahan, dan disebut sebagai “pembunuh Kristus.” Lull memperlakukan mereka dengan kasih dan menengok untuk meyakinkan mereka bahwa Yesus adalah Mesias yang mereka nanti-nantikan. Namun pengalaman-pengalaman Lull yang paling dramatis adalah di Afrika Utara. Dalam tiga kesempatan ia mengadakan perjalanan ke sana untuk menyajikan Injil di dalam konteks Muslim. Kesempatan pertama, tahun 1293, pada usia 61 tahun, ia membuat rencana untuk mengadakan perjalanan ke Tunis. Pelayanan utamanya adalah di Kota Tunis yang berbahaya dimana ia telah digerakkan.

Pada saat itu, Tunis adalah pusat dunia Muslim di sebelah Barat. Tunis telah berhasil dan dengan membanggakan menghadapi usaha pendudukan yang berulang-ulang dari kekuatan Frankish di sepanjang Perang Salib ketujuh. Di tempat di mana tentara-tentara besar telah gagal, Lull pergi sendiri di atas perang salib rohaninya, untuk melihat apakah ia dapat memenangkan orang-orang Muslim dengan kasih dan ajakan. Semua telah siap, buku-bukunya telah di kapalkan. Namun kemudian pada saat-seat terakhir, keberaniannya luntur. Mungkin ia memikirkan tentang lima orang rahib Fransiskan yang telah menjadi martir di Moroko kira-kira 100 tahun sebelumnya. Ia diliputi dengan ketakutan terkait dengan pikiran-pikiran tentang apa yang mungkin menimpanya (di Tunis).

Pikiran bahwa ia akan mengalami penganiayaan dan dipenjara seumur hidup hadir dengan kekuatan yang sedemikian sehingga Lull tidak mampu mengontrol emosinya. Ia membatalkan perjalanannya, namun ia kemudian dipenuhi rasa bersalah, sehingga ia mengadakan perjalanan itu dengan menggunakan kapal lain. Satu saat ia tiba, ia melihat cendekiawan-cendekiawan Muslim dan mengundang mereka untuk mengadakan konferensi, untuk memperdebatkan manfaat-manfaat relatif dari Kekristenan dan Islam. Ia memberitakan bahwa ia telah mempelajari argumen-argumen dari kedua sisi pertanyaan dan akan membuat satu perbandingan yang adil.

Sebagai tambahan, ia bahkan berjanji bahwa jika mereka dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan argumennya, ia akan memeluk Islam. Gayanya tidaklah bersifat polemik, melainkan apologetis – mencoba menunjukkan superioritas teologi Alkitab sebagai satu sistem. Setelah satu diskusi yang panjang, beberapa orang berhasil dimenangkan melalui presentasinya, sementara yang lainnya berespon secara fanatik dan mengatakan bahwa Lull berbahaya dan harus dibunuh. Sebagai satu kompromi, ia ditahan di penjara sampai ia dapat dideportasikan, dengan ancaman bahwa jika ia kembali, ia akan dirajam. Dipenuhi dengan semangat untuk menggembalakan mereka yang telah berespon kepada presentasinya, ia melarikan diri ke satu daerah dekat pelabuhan dan menyembunyikan dirinya, memberi instruksi kepada para petobat dan melanjutkan memberitakan Injil.

Dalam dua kesempatan yang lain, ia kembali ke Afrika Utara. Terakhir kali pada tahun 1314, ketika ia berusia lebih dari 80 tahun. Ia menghabiskan 10 bulan di dalam persembunyian, mengajar, menguatkan, dan berdoa dengan beberapa orang yang telah pimpin kepada Kristus pada kunjungan-kunjungan sebelumnya. Meskipun orang-orang Muslim membencinya, ia mengasihi mereka dengan satu kasih yang ia gambarkan dari hubungannya dengan Allah. Mungkin bagi Lull, kasih Allah adalah perbedaan terbesar dari Kekristenan dan Islam, sebagaimana ia nyatakan, “Orang-orang Kristen … bahwa Allah sangat mengasihi manusia maka Ia bersedia menjadi manusia, untuk memikul kemiskinan, dipermalukan, dianiaya, dan mati, dimana orang-orang Yahudi dan orang-orang Saracen tidak mengajarkan tentangNya; karenanya agama orang-orang Kristen, yang menyatakan satu kasih yang mengatasi semua kasih lainnya, lebih tinggi daripada semua agama yang menampilkan kasih itu dalam derajat yang lebih rendah.

Setelah satu bulan berlalu, capek bersembunyi, dan gelisah untuk memberitakan Injil kepada mereka yang belum juga memberi respon, Lull keluar dari persembunyian dan menyatakan dirinya di pasar terbuka dan mulai mengkotbahkan Injil. Ia memohon dengan kasih, namun mengatakan dengan sederhana dan terus terang semua kebenaran. Konsekuensinya dapat dengan mudah ditebak. Dipenuhi dengan kegeraman atas keberanian Lull, dan ketidakmampuan untuk menjawab kembali argumennya, penduduk menangkap Lull dan memaksanya pergi ke luar dari kota; di sana melalui suatu perintah –atau setidaknya melalui perintah rahasia– raja, ia dirajam batu pada tanggal 30 Juni 1315.

Umumnya ada tradisi (yang tidak banyak memperoleh dukungan) yang menyatakan bahwa Lull dirajam sampai mati oleh orang-orang Muslim di Kota Bugia, Afrika Utara, kota dimana Lull telah memenangkan beberapa petobat. Jenasahnya dibawa dengan kapal kembali ke Majorca, tempat kelahirannya, dimana ia dibaringkan untuk beristirahat di dalam gereja San Fransisco. Demikianlah kehidupan Lull yang mengasihi orang-orang Muslim karena Allah telah terlebih dahulu mengasihinya.

(Oleh NT. Prasetyo, S.Sos., untuk memenuhi tugas matakuliah Misiologi yang diampu oleh Dr. Suh Sung Ming, STTRI, 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s