Matius 5:1-11. Paralel dalam Ucapan Berbahagia


Nats: Matius 5:1-11. Paralel dalam Ucapan Berbahagia
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya….” (ayat 1-2). Berangkat dari narasi singkat ini, maka penulis Matius pun kemudian memaparkan Ucapan Berbahagia yang pernah Yesus ucapkan.

Ketika aku membaca dan mendengarkan penjelasan salah seorang rekanku akan nats ini, mataku menyelidik, pikiranku pun mencari, dan aku pun menemukan…paralel-paralel dalam ucapan berbahagia sebagaimana didaftarkan oleh penulis Injil Matius:

Dalam paralel di atas, orang yang miskin dipasangkan dengan orang yang murah hati. Jadi, kemiskinan tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk bersikap tidak murah hati. Sebaliknya, justru di dalam karunia Allah, kemiskinan menjadi modal bagi seseorang untuk bersikap murah hati, karena dua hal:
1. Karena orang yang miskin di hadapan Allah memiliki segala-galanya, yaitu Kerajaan Sorga. Orang yang memiliki Kerajaan Sorga, memiliki segalanya yang ia perlukan. Dan karena ia telah memiliki segalanya, maka ia pun memiliki modal untuk memberikan segalanya. Ia punya modal untuk bermurah hati.
2. Karena orang yang memiliki Kerajaan Sorga, memiliki apa yang sebetulnya menjadi milik Allah. Jadi, yang ia punya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Allah. Orang yang miskin di hadapan Allah menyadari, bahwa segala sesuatu dalam hidupnya adalah milik Allah, dan dirinya hanyalah saluran berkat (the channel of God’s blessings) dan seorang penatalayan (God’s steward). Sebagai saluran dan penatalayan, ia hanya meneruskan apa yang Allah punya.
Dan kepada orang yang miskin namun murah hati ini, Allah menjanjikan bahwa ia pun akan beroleh kemurahan. Ketika dalam kemiskinan kita memberi, kita justru diperkaya oleh tindakan itu. Sungguh sebuah paradoks yang tak terselami, hingga kita sendiri mengalaminya.

Paralel berikutnya, orang yang berdukacita dipasangkan dengan orang yang suci hatinya. Dukacita berbicara tentang sebuah keadaan hati, yang dapat disebabkan karena hal-hal yang baik (contoh: dukacita karena gagal memuaskan hawa nafsunya), atau sebaliknya, oleh hal-hal yang buruk (contoh: dukacita karena melihat keadilan ditindas). Ayat 4 keluar dari mulut Yesus yang kudus, itu berarti dukacita disini menunjuk pada dukacita yang disebabkan oleh terjadinya hal-hal buruk di dunia. Kepada orang-orang yang berdukacita melihat kejahatan dunia, Yesus berjanji bahwa akan tiba saatnya mereka memperoleh penghiburan sejati dari Tuhan. Orang-orang yang berdukacita melihat kejahatan dunia ini adalah orang-orang yang berusaha menjaga hatinya tetap suci. Dan kepada mereka ini, Tuhan memberikan janji yang lebih puncak lagi, yaitu bahwa mereka akan melihat Allah. Jadi, penghiburan puncak mereka adalah karena mereka akhirnya akan melihat Allah.

Paralel yang ketiga, orang yang lemah lembut dipasangkan dengan orang yang membawa damai. Kelemah lembutan adalah satu sikap hati, tapi sikap hati pun perlu diejawantahkan menjadi tindakan konkret, yaitu membawa damai. Jadi ada peningkatan disini. Janji Allah kepada orang-orang ini, pertama-tama mereka akan memiliki bumi (artinya memenangkan hati banyak orang), tapi tidak berhenti disitu saja, mereka pun akan disebut anak-anak Allah. Artinya, nama Tuhan pun akan dipermuliakan. Sekarang ini banyak orang yang dapat memiliki bumi tapi tidak merasa penting untuk memproklamasikan identitasnya sebagai anak-anak Allah yang telah beroleh penebusan dari Kristus. Mereka membiarkan kemuliaan Tuhan tersembunyi di balik kemuliaan diri mereka sendiri. Pada akhirnya, banyak orang di sekitarnya mati terhilang dengan mengenal sesamanya yang Kristen sebagai orang baik, tapi mereka tidak pernah mengenal Yesus Kristus, Pribadi yang sempurna kebaikannya itu.

Paralel yang terakhir, orang yang lapar dan haus akan kebenaran dipasangkan dengan orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran. Kebenaran tidak hanya boleh berhenti sampai tahap dirindukan dan dinikmati sendiri. Kebenaran juga harus dinyatakan dan diberitakan. Ini berarti harus ada peningkatan aksi. Dan itu berarti orang harus meresikokan dirinya untuk menderita aniaya demi kebenaran. Janji Allah, Ia tidak hanya akan memuaskan kita dengan kebenaran, tapi ketika kita berani teraniaya oleh karenanya, maka terbukti bahwa memang kita ini adalah pemilik Kerajaan Sorga.

Ayat 11 dan 12 tidak memiliki pasangan. Ayat ini menjadi puncak yang memusatkan pandangan kita kepada Kristus. Kebenaran yang disebut-sebut pada ayat-ayat sebelumnya, semua berpusat dan menunjuk pada Kristus. Jadi kebenaran yang karenanya kita dianiaya, bukan sekadar kebenaran yang berwujud prinsip-prinsip hidup, melainkan berwujud Pribadi. Kali ini, Kristus mengkaitkan aniaya yang kita terima, dengan diriNya sendiri; dengan PribadiNya sendiri. Dan kita tidak hanya dinyatakan berbahagia, tetapi juga diperintahkan untuk bersukacita dan berbahagia. Mengapa? Karena upah kita besar di sorga. Melalui penganiayaan yang kita alami, kita tidak lagi terbukti hanya sebagai pemilik Kerajaan Sorga saja, tetapi lebih dari itu, kita juga adalah pemilik yang beroleh upah yang besar. Dan karena itu, kita tidak perlu merasa terlalu heran akan apa yang kita semua alami, karena para nabi sebelum kita pun telah mengalami apa yang kita alami, dan akan berbagian dengan kita menerima upah yang besar di sorga.

Membaca, merenungkan, dan menemukan semua kebenaran ini, mengajak kita untuk menghidup satu hal, yaitu “berbahagialah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s