Kerja Keras Petani


Dalam 2 Timotius 2, Paulus mengingatkan Timotius untuk mengerjakan tanggungjawab yang telah dipercayakan kepadanya dengan memiliki fokus seperti seorang prajurit; disiplin seperti seorang atlit; dan kerjakeras seperti seorang petani. Dalam ayat 6 secara khusus dicatat, “Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.”

Kehidupan seorang petani digambarkan Paulus sebagai sebuah kehidupan yang penuh kerjakeras. Kata ‘petani’ berasal dari kata ‘tani’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘tani’ artinya “mata pencaharian dalam bentuk bercocok tanam; mata pencaharian dalam bentuk mengusahakan tanah dengan tanam-menanam.” Jadi, petani berarti orang yang yang mata pencahariannya dalam bentuk bercocok tanam atau mengusahakan tanah dengan tanam-menanam.

Mengapa petani yang bergelut dengan usaha bercocok tanam atau mengusahakan tanah, dikaitkan dengan ‘kerja keras’ oleh Paulus? Secara theologis, Alkitab menyatakan dalam Kejadian 3:17, TUHAN Allah telah mengutuk tanah akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. TUHAN Allah menyatakan, “terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:17-19).

Jangan salah paham! Ayat ini tidak menunjukkan kepada kita bahwa ‘kerja’ adalah kutukan TUHAN Allah! Bukan demikian! Sesungguhnya ‘kerja’ adalah bagian dari kepercayaan yang TUHAN Allah berikan kepada manusia segera setelah manusia pertama diciptakan (Baca Kejadian 1:26-28; 2:15). Jadi, perintah untuk manusia ‘bekerja’ sudah diberikan sebelum peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa. Richard Pratt, Jr. Menulis, “God commisioned Adam and Eve to work before sin and hardship came into the world. The job of exercising dominion was a privilege, not a curse.”

Hanya saja setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ‘kerja’ menjadi suatu aktivitas yang harus dilakukan dengan:
a. ‘Susah payah’;
b. Hasil tanah berupa ‘semak duri dan rumput duri’ (apabila merujuk pada Matius 13:22 dan Lukas 8:14, ini menggambarkan juga kekhawatiran dan ketamakan);
c. ‘Tumbuhan di padang menjadi makanan’ (apabila merujuk pada Kejadian 2:5, ini mengisyaratkan kondisi hadirnya dosa dalam kehidupan manusia);
d. ‘Berpeluh’.
Singkatnya, ‘kerja’ dalam pengertian yang menyenangkan menjadi ‘kerja’ dalam pengertian yang tidak menyenangkan, namun sampai derajat tertentu memang harus demikian.

Dari sudut pandang theologis semacam ini, tidak heranlah jika kemudian Paulus mengkaitkan pekerjaan petani dengan ‘kerja keras’. Karena ini memang realita kehidupan wajar dari seorang petani, paska kejatuhan manusia ke dalam dosa. Para petani harus bekerja keras mengolah tanah yang telah dikutuk TUHAN Allah. Dan tidak ada pilihan lain alias harus demikian, karena manusia (yang berasal dari tanah) memerlukan hasil tanah untuk hidup dan/atau menjalankan kehidupannya seperti apa adanya sekarang.

Manusia memang dapat memperoleh kebutuhan pangannya dari hasil laut, tapi mungkinkah segala kebutuhan gizi manusia hanya dapat diperoleh dari hasil laut saja? Dan apa pula indahnya dari hal itu? Kita juga menginginkan (kalau bukan ‘membutuhkan’) beras; kentang; rempah-rempah; dan hasil pertanian lainnya. Belum lagi kalau membayangkan buah-buahan! Oh, betapa kurang segarnya hidup ini tanpa ada buah-buahan?

Bagaimana juga dengan bunga-bunga nan indah berwarna-warni? Apakah mata kita tidak akan menjadi kelaparan jika tidak dapat melihat keindahan warna-warni bunga itu? Bahkan tumbuhan dari marga paku-pakuan (tumbuhan berspora dari dunia Pteridophyta, yang tidak memiliki bunga yang indah seperti pada tumbuhan berbunga atau angiospermae), juga dapat mengenyangkan kita dengan keindahan bermacam bentuk daunnya (J.J. Afriastini, 1991).

Belum lagi jika kita membicarakan betapa dibutuhkannya rerumputan hijau bagi domba-domba (yang dari bulunya kita mendapatkan wol untuk memenuhi kebutuhan sandang kita, yaitu pakaian) dan batang besar pohon aras yang diperlukan Salomo untuk membangun istana dan Bait Allah (mewakili kebutuhan kita semua akan tanaman demi memenuhi kebutuhan papan kita). Bagaimanakah kita dapat hidup seperti apa adanya sekarang tanpa tanaman; tanpa tanah yang diolah; tanpa kelompok petani yang mengelola sawah; kebun; taman; dan hutan?

Tidakkah kita dapat melihat sebuah ironi disini? Tanah dikutuk karena keberdosaan manusia sendiri. Namun manusia tidak dapat melepaskan ketergantungannya pada tanah. Dan petani-lah yang mengambil peran penting untuk menolong manusia dapat mengolah apa yang telah dikutuk TUHAN Allah akibat keberdosaan manusia sendiri. Petani-lah yang memikul tanggungjawab untuk bekerja keras menopang kemanusiaan yang tidak dapat lepas dari tanah ini. Betapa mulianya kehidupan para petani!

Dan yang lebih membuat tugas petani menjadi lebih mulia lagi adalah jika kita mengingat bahwa semua kerja keras yang petani lakukan ini bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan manusia agar busa survive. Tapi lebih dari itu, agar mandat yang Tuhan telah berikan kepada manusia untuk manusia menaklukkan bumi dapat terwujud; menaklukkan bukan untuk mengeksploitasi bumi, melainkan untuk mengembangkannya hingga mencapai kepenuhannya sehingga Allah dimuliakan. Richard Prat, Jr. menulis demikian, “We don’t labor simply to survive – insects do that. Our work is an honor, a privileged commision from our great King. God has given each of us a portion of his kingdom to explore and to develop to its fullness.” Ia juga menulis, “work is not only a privilege but a solemn service we offer to God…. We work hard at our task so that God might be honored.”

Tanah yang dikutuk TUHAN Allah adalah tanah yang harus dikelola oleh para petani. Bukan sekadar supaya tanah itu menjadi subur, tetapi terlebih dari itu, supaya menjadi produktif. Di dunia modern, ilmu yang khusus mempelajari topik ini disebut edophologi, yaitu “tanah dipelajari dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman” (Sarwono Hardjowigeno, 1987). ‘Tanah’ sendiri memiliki pengertian “kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman.”

Kesuburan tanah menunjuk pada “mutu kemampuan suatu tanah untuk menyediakan anasir hara, pada takaran dan kesetimbangan tertentu secara sinambung, untuk menunjang pertumbuhan suatu jenis tanaman pada lingkungan dengan faktor pertumbuhan lainnya dalam keadaan menguntungkan” (Poerwowidodo Mas’ud, 1993). Singkatnya, kesuburan tanah menunjuk pada kualitas ketersediaan hara pada tanah.

Tanaman memerlukan setidaknya 16 zat hara untuk dapat bertumbuh normal. Tiga jenis zat diambil dari udara (Karbon, Hidrogen, dan Oksigen), dan 13 zat lagi diserapnya dari tanah. Dari ketiga belas zat ini, enam diantaranya dibutuhkan dalam jumlah yang cukup banyak (disebut unsur Makro), yaitu Nitrogen (N); Fosfor (P); Kalium (K); Sulfur (S); Calsium (Cs); dan Magnesium (Mg). Namun dari enam ini, ada tiga yang mutlak diperlukan oleh tanaman, yaitu Nitrogen, Fosfor, dan Kalium (Zat-zat selain keenam zat ini disebut unsur mikro) (Tim Redaksi Trubus, 1990).

Apabila kesuburan tanah menunjuk pada kualitas ketersediaan hara pada tanah, maka produktivitas tanah menunjuk pada “kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan suatu tanaman (atau sekuen tanaman) yang diusahakan dengan sistem pengelolaan tertentu” (Poerwowidodo Mas’ud, 1993). Singkatnya, produktivitas tanah menunjuk pada kualitas potensi tanah untuk menghasilkan.

Baik tanah subur maupun tanah produktif sama-sama penting. Perumpamaan Tuhan Yesus dalam Matius 13 dan Lukas 8 tentang Penabur menunjukkan hal ini. Namun yang menjadi tujuan akhir dari petani bukanlah sekadar supaya tanahnya subur, melainkan supaya tanahnya produktif.

Dalam perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan, Ia menyampaikan bahwa benih ditaburkan ke atas empat jenis tempat: (1). Pinggir jalan; (2). Tanah berbatu; (3). Tanah dengan semak duri; dan (4). Tanah yang baik (subur). Pada dua tempat pertama, benih itu tidak tertanam dan tidak bertumbuh. Sedangkan pada dua tempat yang berikutnya, benih itu bertumbuh, tapi menghasilkan dua akhir yang berbeda: (1). Benih yang ditabur di tanah yang bersemak duri tidak berbuah (tidak produktif); dan (2). Benih yang ditabur di tanah yang baik (subur) berbuah (produktif). Jadi, tanah subur adalah modal dasar penting yang harus ada untuk menghasilkan tanah yang produktif. Tanah yang subur dan tanah yang produktif, keduanya sama-sama penting. Namun tanah produktif-lah yang menjadi tujuan akhir setiap petani.

Poerwowidodo menulis bahwa “Tanah yang subur akan produktif jika dikelola dengan tepat, menggunakan teknik pengelolaan dan jenis tanaman yang gayut” (1993). Jadi, pengelolaan menjadi faktor penting yang mengubah kesuburan menjadi produktivitas. Ini berarti si petani memiliki peran yang sangat penting untuk mengubah tanah yang subur menjadi tanah yang produktif. Dan saya pikir inilah sebetulnya kondisi awal Manusia pertama, yaitu Adam, di Taman Eden. Ketika TUHAN Allah mengaruniakan kepada dia perintah untuk berkuasa atas seluruh bumi dan menaklukkannya (Kejadian 1:26-28), serta untuk mengusahakan dan memelihara Taman Eden (Kejadian 2:15), saya percaya kondisi tanah (sebelum kejatuhan manusia itu) ada dalam kondisi “sungguh amat baik” kesuburannya (Kejadian 1:31). Dan tugas Adam (ditolong oleh isterinya) adalah untuk mengolah tanah yang “sungguh amat baik” kesuburannya itu menjadi produktif.

Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, mandat TUHAN Allah kepada manusia tidak pernah dicabut. Hanya saja bedanya, kini pengelolaan tanah menuju tanah yang produktif itu harus dikerjakan dengan susah payah dan berpeluh; kekhawatiran dan ketamakan dunia (yang digambarkan sebagai semak-duri), serta segala bentuk dosa, membayangi (tetapi jangan sampai mengalahkan) manusia ketika mereka mengerjakan pekerjaannya.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa; tanah dikutuk oleh TUHAN Allah. Secara fisik, kondisi tanah tidak lagi ramah kepada manusia. Itu sebabnya, tanah tidak senantiasa berwujud kesuburan, namun ada yang berbatu-batu, ada yang bersemak duri, bahkan ada juga yang begitu asamnya sehingga tanah menjadi tidak produktif.

Kadar keasaman tanah menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi kelancaran tanaman untuk menyerap unsur makanan dari tanah, sehingga tanaman dapat kelihatan merana, meskipun kita merasa telah memberinya cukup pupuk. Kadar keasaman ini disebabkan oleh kadar (kepekatan) ion Hidrogen yang beredar dalam tanah (dan satuan yang digunakan dalam pengukurannya adalah pH, dari Bahasa Perancis, ‘puissance negative de H’, atau dalam Bahasa Inggris, ‘potential of Hidrogen’). Singkatnya, pH menunjuk pada derajat keasaman. Tanah bersifat netral jika pH-nya menunjuk pada angka 7,0. Bersifat asam jika pH-nya kurang dari 7,0. Dan bersifat basa jika pH-nya lebih dari 7,0. Namun tanah yang pH-nya menunjuk pada angka 6,5 masih dapat dikategorikan sebagai tanah yang ‘beres’ (Tim Redaksi Trubus, 1990).

Surat-surat kabar nasional di Indonesia pernah diramaikan dengan berita-berita terkait lahan gambut. Daerah yang bertanah gambut sering bersifat asam. Tanah gambut adalah “tanah yang berasal dari sisa tanaman, baik yang telah lapuk, sedang lapuk, maupun belum lapuk, yang masih bisa diusahakan, yang tebalnya tidak lebih dari 130 cm. Tanah gambut yang lebih tebal malah sulit diusahakan, karena sisa bahan organik yang ada susah diurai lebih lanjut menjadi unsur hara bagi tanaman.” Daerah yang bercurah hujan tinggi; daerah rawa; dan daerah pasang surut pun, biasanya bersifat asam karena sering tergenang air, sehingga proses penguraian bahan organik terhambat atau terhenti (Tim Redaksi Trubus, 1990). Semua kondisi tanah ini menyulitkan petani untuk menghasilkan tanah yang produktif.

Membaca kesulitan-kesulitan yang dihadapi petani sebagaimana dipaparkan di atas, tidak heranlah jika kemudian Paulus menggambarkan kehidupan petani sebagai kehidupan ‘kerja keras’. Bagaimana pun, tanah yang harus diolahnya adalah tanah yang telah dikutuk oleh TUHAN Allah akibat keberdosaan manusia sendiri. Namun pada saat yang sama, mandat TUHAN Allah yang memerintahkan manusia menguasai dan menaklukkan bumi, tidak pernah dibatalkan. Mandat itu memang telah dirusakkan oleh dosa, tapi tidak dibatalkan oleh TUHAN Allah. Bahkan, di kemudian hari TUHAN Allah menyatakan janji pemeliharaannya, “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai….” (Kejadian 8:22); dan itu berarti, selama bumi masih ada, petani masih harus terus bekerja keras (dan bahkan kerja kerasnya menjadi contoh untuk Timotius teladani), sampai kelak TUHAN Allah menggenapi janjiNya akan adanya langit dan bumi yang baru (Wahyu 21).

(Oleh Ev. NT. Prasetyo, M.Div.)

Sumber:

Afriastini, J.J. Suplir. Jakarta: Penebar Swadaya, 1991.
Hardjowigeno, Sarwono. Ilmu Tanah. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa, 1987.
Mas’ud, Poerwowidodo. Telaah Kesuburan Pratt, Jr., Richard L. Designed for Dignity: What God Has Made It Possible for You to Be. Phillipsburg, New Jersey: P & R Publishing, 1993.
Tanah
. Bandung, Angkasa, 1993.
Trubus, Tim Redaksi. Mengapur Tanah Asam. Jakarta: Penebar Swadaya, 1990.
Trubus, Tim Redaksi. Pupuk Akar. Jakarta: Penebar Swadaya, 1990.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s