Ketika Kesederhanaan Ada di Tangan Tuhan


Januari 1850, seorang Inggris bernama Charles Haddon Spurgeon mengalami perjumpaan dengan Allah yang memerdekakan jiwanya, hanya melalui khotbah seorang pengkhotbah sederhana yang kurang terdidik di sebuah gedung gereja kecil. Seorang Spurgeon yang kemudian dikenal sebagai “Rajanya Para Pengkhotbah”, berjumpa dengan Allah hanya melalui sebuah kesederhanaan. Hampir bersamaan waktunya dengan Spurgeon, di daratan Belanda jiwa seorang intelektual bernama Abraham Kuyper, dimenangkan bagi Allah yang hidup, ketika ia melayani sebuah jemaat kecil yang sederhana pada tahun 1860-an. Demikian, seorang Kuyper yang kemudian dikenal sebagai Pendeta, Theolog, Jurnalis, dan Perdana Menteri, berjumpa dengan Allah yang hidup hanya melalui sebuah kesederhanaan.

Contoh-contoh di abad ke-19 ini bukanlah yang pertama. Bahkan hampir dua ribu tahun sebelumnya, Kitab Suci pun memberikan kesaksian yang serupa, tentang sepasang suami-isteri yang berprofesi hanya sebagai tukang kemah (Kis.18:3), yang telah Tuhan pakai untuk meluruskan jalan seorang terdidik dan fasih seperti Apolos. Surat Kisah Para Rasul 18:24-28 mencatat demikian, “Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Tuhan mampu memakai orang yang sesederhana apapun untuk menuntun jiwa menuju Terang Tuhan yang ajaib. Kesederhanaan yang sesederhana apapun, ketika berada di tangan Tuhan yang perkasa akan menghasilkan perkara-perkara yang luarbiasa dan ajaib. Surat 1 Korintus 1:25-29 mengingatkan kita, “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

Semua ini mengingatkan kita untuk tetap rendah hati di hadapan Allah yang Perkasa. Semua ini mengingatkan kita untuk menjaga diri agar tetap memiliki jiwa yang sederhana di hadapan Allah yang Luarbiasa. Di dalam segala kompleksitas kemajuan dan intelektualitas kita, ingatlah bahwa hanya Tuhan Allah yang memiliki segala-galanya. Amin

(Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s