2 Timotius 3:15. Selepas SMA


Nats: 2 Timotius 3:15. Selepas SMA
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ketika anak-anakku sekalian melaksanakan upacara penamatan SMA pada sore hari ini, apa yang dapat kami pesankan kepada kalian semua, kecuali tiga hal ini:

Pesan pertama, bersyukurlah atas panduan iman Kristiani yang telah Anda terima selama ini.

Apa pentingnya panduan iman bagi kehidupanmu? Kisah berikut ini mungkin bisa memberikan gambaran bagi Anda. Ada seorang pendidik Kristen bernama Daniel E. Egeler, menuliskan pengalamannya ketika dahulu ia menempuh pendidikan S-3 di Amerika Serikat, dan harus berhadapan dengan profesor Sosiologi yang tidak percaya Tuhan.

Profesor itu memiliki pandangan bahwa berpegang pada ajaran gereja, berarti sama saja kita bunuh diri secara intelektual. Bagi sang profesor, iman dan intelek, tidak dapat diperdamaikan.

Akhirnya, ia bertumbuh menjadi seseorang yang tidak percaya Tuhan; ia tidak percaya Alkitab sebagai Firman Allah. Profesor ini menikah tiga kali, dan menjadi ayah. Tetapi ia tidak pernah menyediakan bagi anaknya suatu dasar moral (dan dasar iman) yang dapat menolong anaknya untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat di dalam hidup ini. Profesor ini tidak percaya adanya kebenaran yang absolut/mutlak, dan ia berpendapat bahwa anaknya dapat ia lepas begitu saja, dan membiarkan anaknya itu menemukan sendiri tuntunan-tuntunan moral bagi dirinya.

Dengan sikap yang begitu, apa akibatnya? Anak laki-lakinya dari pernikahannya yang ketiga ini, terlibat dalam pemakaian obat-obatan terlarang sehingga harus direhabilitasi. Mengapa? Karena anak ini tidak memiliki panduan moral (dan keagamaan) yang dapat menolong dia mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam hidup ini. Pada akhirnya, profesor yang tidak percaya Tuhan ini, sadar, bahwa keputusannya untuk membiarkan anaknya mencari panduan moral sendiri, adalah keputusan yang salah. Pandangan hidupnya terbukti sebagai pandangan hidup yang gagal. Setiap orang perlu dituntun secara moral; setiap orang memerlukan tuntunan iman.

Dalam suatu kesempatan, sang profesor yang tidak percaya Tuhan itu berdialog dengan Daniel yang Kristen. Di akhir dialog, ia berpesan kepada Daniel, “Anakku, jangan sampai hilang apa yang kamu punya (yaitu iman Kristen). Saya hanya berharap saya bisa melakukan lompatan iman yang sama, tetapi saya takut melakukan bunuh diri intelektual.” Lukas 18:24 mencatat perkataan Yesus, “Betapa sulit bagi orang kaya masuk ke sorga.” Dan tampaknya, betapa sulit pula bagi orang pintar untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sang profesor, lebih memilih untuk mengorbankan iman dan moralitas absolut, di atas altar ilmu pengetahuan.

Dari kisah di atas kita dapat merenungkan, bahwa adanya panduan moral dan iman itu sangatlah penting! Ketika Rasul Paulus sudah mendekati masa-masa akhir pelayanan dan kehidupannya, ia menuliskan pesan-pesan terakhir kepada Timotius, anak didiknya. Dan dalam 2 Timotius 3:15, salah satu pesan yang Paulus tuliskan adalah, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

Yang Paulus tuntut dari Timotius bukanlah agar Timotius mengingat pelajaran-pelajaran filsafat yang mungkin Timotius pernah dengar! Yang Paulus tuntut dari Timotius bukanlah agar Timotius mengingat pelajaran-pelajaran bisnis yang mungkin pernah Timotius agar dapat sukses di masa depan! Yang Paulus tuntut dari Timotius adalah agar Timotius ingat, bahwa dari kecil ada Kitab Suci, yang telah menjadi penuntun dalam kehidupan moral dan iman.

Dalam kehidupan iman; dalam konteks relasi dengan Allah Pencipta, Firman Allah telah menuntun Timotius kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus. Timotius memiliki identitas yang jelas, yaitu sebagai anak Allah yang mewarisi Kerajaan Sorga, karena apa? Karena ada Kitab Suci yang menuntunnya.

Dalam konteks moral, Firman Allah telah dan akan terus, “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17). Timotius memiliki panduan moral dan iman dari sejak kecilnya, yang menolong dia untuk dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan baik.

Mendengar kisah Daniel tadi, seharusnya anak-anakku sekalian menyadari bahwa Anda memiliki alasan yang baik untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Kalian yang tumbuh dan besar di Papua, memiliki akses yang sangat mudah untuk dapat mengenal dan belajar Firman Tuhan dari sejak muda. Bahkan mungkin orangtua kalian yang Kristen telah memperkenalkan Alkitab Firman Allah dari sejak kalian masih kanak-kanak. Dan lebih khusus lagi, kalian telah berkesempatan untuk mengecap pendidikan di satu sekolah Kristen yang dalam tiga tahun terakhir ini, telah berupaya mengintegrasikan iman Kristen dan mengintegrasikan kebenaran Alkitab, ke dalam kurikulum pembelajaran yang ada (meski masih perlu banyak pembenahan).

Anak-anakku, sadarkah kalian? Kesempatan untuk menempuh pendidikan di lembaga yang mengintegrasikan Firman Tuhan dengan elemen-elemen pendidikan lainnya, belum tentu akan kalian dapatkan dengan mudahnya di kemudian hari:
• Kalau kalian mau mencari tempat pendidikan dengan manajemen kelas yang kreatif, tidak perlu repot-repot cari di sekolah Kristen. Kalau motivasimu hanya ingin mencari manajemen kelas yang kreatif, kalian pun bisa mendapatkannya di sekolah-sekolah negeri binaan Muhamadiyah di luar sana.
• Kalau kalian mau mencari tempat pendidikan yang memiliki jadwal-jadwal ibadah siswa dan jadwal-jadwal konseling yang khusus, juga tidak perlu repot-repot cari di sekolah Kristen. Dahulu ketika saya sekolah di SMA Negeri pun, kami yang Kristen diberi waktu khusus untuk ibadah, yaitu setiap Jumat Siang, dan guru BP pun selalu siap kapan saja untuk ditemui.
Tapi yang menjadi anugerah besar buatmu adalah, ketika Kamu berkesempatan, menempuh pendidikan di sekolah dimana terdapat integrasi Firman Tuhan ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Dan adanya integrasi itu tercermin, tidak hanya dari isi kurikulumnya, tapi juga dari karakter personil-personilnya; dari mulai ketua yayasannya, guru-gurunya, sampai dengan petugas kebersihan dan satpamnya, dan itu semua hanya dapat kalian peroleh di sekolah Kristen.

Jadi anak-anakku, inilah keunikan sekolah Kristen! Adanya integrasi Firman Tuhan di dalam Kristus! Dan selama tiga tahun belakangan ini kalian sudah sedikit-banyak mengecapnya, meski kamipun sebagai penyelenggara pendidikan masih harus terus melakukan banyak pembenahan di sana-sini. Tapi setidaknya, kalian punya alasan untuk bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan yang telah Tuhan berikan!

Pesan Kedua, waspadalah terhadap tantangan semangat jaman ke depan.

Paulus pernah menulis kepada jemaat di Efesus demikian, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis” (Efesus 6:11). Jadi apa tantangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan kita? “Tipu muslihat” yang keluar dari pikiran iblis.

Kemanakah tipu muslihat itu diarahkan? Kepada pikiran-pikiran manusia! Dengan tipu muslihatnya, iblis menipu pikiran manusia, sehingga pikiran manusia membangun siasat dan membangun keangkuhan, yang menentang pengenalan akan Allah, di dalam Kristus Yesus. Jadi orang-orang yang tidak percaya Allah; dan yang tidak percaya Yesus Kristus, adalah orang-orang yang pikirannya termakan tipu muslihat iblis. Dan gawatnya, pikiran manusia dapat membentuk pikiran/semangat jaman, sehingga akhirnya, pikiran/semangat jaman kita pun adalah pikiran/semangat jaman yang menentang pengenalan akan Allah.

Apalagi dengan bombardir teknologi-komunikasi yang berkembang begitu pesat. Seorang futuris bernama Alvin Toffler, pernah membagi periode perkembangan kebudayaan manusia ke dalam tiga fase: (1) Fase pertanian; (2) Fase Industri; dan (3) Fase Teknologi-Komunikasi. Dalam konteks Indonesia, perkembangan kebudayaan kita belum lagi tuntas di fase pertanian dan industri, tapi kita sudah langsung diperhadapkan pada gempuran perkembangan teknologi-komunikasi.

Perkembangan teknologi-komunikasi memungkinkan Anda mengakses segala bentuk informasi, dari mulai yang bersifat sampah sampai pada yang bersifat kekal. Sampah-sampah seperti apa yang dapat kalian dapatkan dari pikiran/semangat jaman ini?

Saya pernah menyaksikan film James Bond, 007 yang berjudul “Skyfall”. Dalam film itu, seorang musuh James Bond menggambarkan kehidupan kita ini seperti kehidupan tikus-tikus di ladang petani. Pada suatu hari petani itu membuat sebuah jebakan tikus, dengan meletakkan sebongkah umpan makanan yang diletakkan di atas drum berisi cairan minyak. Seekor tikus mendekati umpan itu, lalu terjatuh ke dalam drum berisi cairan minyak itu. Tikus kedua juga mengalami hal yang sama. Demikian seterusnya dengan tikus ketiga, keempat, dan seterusnya. Pada akhirnya banyak tikus terjebak di dalam drum berisi cairan minyak itu.

Apa yang kemudian petani lakukan? Membakar tikus-tikus dalam drum itu sampai mati? Tidak. Ia membiarkan para tikus itu ada di dalam drum itu berhari-hari. Akhirnya, tikus-tikus itu saling memakan demi bertahan hidup. Tikus-tikus itu menjadi mahluk agresif yang memakan sesamanya sendiri. Sampai akhirnya tersisa beberapa tikus saja.

Lalu apa yang petani lakukan dengan tikus-tikus yang tersisa? Membunuh mereka? Tidak juga. Tikus-tikus yang telah berubah agresif itu dilepaskan ke ladangnya, dan justru menjadi pemangsa dari teman-temannya sesama tikus. Akhirnya, di ladang itu, tersisa hanya dua tikus saja. Dan dua tikus ini pun harus saling menghabisi demi bertahan hidup. Pada akhirnya, hanya akan tersisa satu tikus saja.

Kalau bukan karena adanya Firman Tuhan yang menopang dan menjadi panduan, bukankah sifat dasar kita sebagai manusia pun akan berubah menjadi seperti tikus-tikus tadi? Pikiran/semangat jaman ini mendorong kita untuk bersaing dan saling mengalahkan, mengejar jabatan, uang, popularitas, padahal Firman Tuhan mengatakan, “Tuhan yang mengangkat dan Tuhan yang menurunkan.” Pikiran/semangat jaman ini mendorong kita kepada segala bentuk pemuasan hawa nafsu, padahal Firman Tuhan mengatakan, “manusia hidup tidak hanya dari roti saja.”

Berapa banyak diantara kita yang mampu mengatasi semua gempuran informasi itu tanpa memiliki panduan moral dan iman yang jelas? Setiap manusia memerlukan tuntunan untuk dirinya. Semua gempuran informasi melalui teknologi-komunikasi dapat mengombang-ambingkan kita kesana-kemari, dan dapat mengkaramkan kapal iman kita! Dan di dalam semua gempuran gelombang informasi semacam itu, kita butuh batu karang tempat kita menautkan jangkar iman kita sehingga kita tidak terhanyut ke lautan lepas.

Batu karang itu adalah Kristus dan FirmanNya! Batu karang itu terletak di bawah lautan, tidak terlihat oleh mata, namun teguh menopang setiap jangkar iman orang percaya, sehingga kapal kehidupan Anda tidak hanyut dan terhilang di tengah-tengah lautan kehidupan yang ganas dan membuat putus asa ini. Batu karang itu juga digambarkan Alkitab terletak di dataran pantai, dan ketika Anda mau membangun rumah imanmu di atas batu karang itu (dan bukannya di atas bagian pantai yang berpasir), maka rumah imanmu pun tidak akan pernah roboh dihantam gelombang kehidupan yang ganas. Batu karang itu, yaitu Kristus dan FirmanNya, memberikan pondasi yang kokoh bagi bangunan imanmu.

Pesan ketiga, jangan pernah lupakan apa yang penting yang telah engkau sendiri terima, yaitu pendidikan Kristen.

Pesan ketiga ini bukan bermaksud mendorong Anda untuk senantiasa mengingat guru-guru Anda. Tidak! Pesan yang ketiga ini hendak mengingatkan kepada Anda bahwa keberadaan Anda juga adalah untuk melanjutkan tongkat estafet. Ketika generasi guru-gurumu mengakhiri tugas dan tanggungjawabnya, siapakah yang akan melanjutkan tugas dan tanggungjawab pendidikan Kristen? Kalau bukan Anda, anak-anakku, maka siapa lagi?

Seorang guru Kristen pernah memberikan kesaksian kepada saya, betapa pengaruh seorang guru terhadap kehidupan para muridnya, tidaklah kecil. Guru Kristen ini bercerita bahwa setiap kali ada siswanya yang terlambat masuk sekolah, ia berkata, “Ampun, deh! Ini lagi, terlambat lagi, terlambat lagi! Mau jadi apa Kamu?” Dan suatu hari ia terkejut, karena ketika ada beberapa muridnya yang terlambat, spontan, murid-muridnya yang lain; yang sudah datang lebih dahulu berkata, “Ampun, deh! Ini lagi, terlambat lagi, terlambat lagi! Mau jadi apa Kamu?” Jadi, sikap; gaya bicara; dan perkataan gurunya, ditiru persis oleh murid-muridnya.

Menjadi seorang guru, berarti mengambil kesempatan dan tanggungjawab, untuk menjadi orang-orang yang menanamkan pengaruh dalam kehidupan oranglain. Begitu besar pengaruh seorang guru, sampai-sampai dalam Yakobus 3:1 dikatakan, “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

Yakobus mengatakan, “Janganlah banyak”, artinya ada sedikit orang yang menjadi guru, dan sedikit orang itu memiliki tanggungjawab yang besar di hadapan Tuhan. Dan seandainya suatu hari kelak, ada di antara anak-anakku sekalian terpanggil dengan kuat untuk mengemban tugas dan tanggungjawab untuk menjadi seorang guru, bersyukurlah, dan jangan lupakan Sekolah Kristen Kalam Kudus di Jayapura! Dengan mengemban tanggungjawab pendidikan itu, berarti Anda termasuk sedikit orang yang akan melanjutkan tongkat estafet pendidikan Kristen di Indonesia, dan mungkin secara khusus pula, untuk melanjutkan tongkat estafet pendidikan Kristen di sekolah kita tercinta ini!

Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen telah membuka pintu untuk semua lulusan sarjana atau diploma 4 dari jurusan apapun dan dari fakultas apapun, bisa berprofesi sebagai guru. Jadi untuk menjadi guru, Anda tidak harus lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru); lulusan IKIP (Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan); atau fakultas pendidikan. Kalau Anda membaca Rubrik Opini Kompas tanggal 29 Mei 2013, undang-undang ini menimbulkan kejengkelan mereka yang berlatarbelakang pendidikan guru. Tapi, undang-undang tetaplah undang-undang. Dari lulusan jurusan manapun Anda, seandainya kelak Anda terpanggil menjadi seorang guru, berilah dirimu diperlengkapi untuk menjadi guru Kristen yang betul-betul mengerti filsafat pendidikan Kristen, dan abdikanlah dirimu untuk pendidikan Kristen di Indonesia.

Tetapi bagi Anak-anakku sekalian yang tidak terpanggil untuk menjadi guru, tetaplah mendukung pendidikan Kristen di Indonesia, dan di seluruh dunia. Melalui apapun profesi yang Anda tekuni dan lewat jabatan apapun yang Anda emban, tetaplah dukung pendidikan Kristen di Indonesia, dan di seluruh dunia. Bahkan kalau Anda berkenan, ingatlah pula, bahwa ada upaya-upaya pendidikan Kristen di Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura yang juga bisa Anda dukung! Ingatlah bahwa tongkat estafet pendidikan Kristen di Indonesia dan di Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura, harus ada yang melanjutkan!

Akhir kata, anak-anakku, tetaplah bersyukur! Sambut masa depan dengan berpegang pada Firman Tuhan! Dan siapakah diantara Kalian yang terpanggil untuk menjadi guru dan mendukung pendidikan Kristen di Indonesia? Jangan pernah lupa bahwa tongkat estafet untuk keberlangsungan pendidikan Kristen, juga ada di tangan kalian semua. Amin!

(Disampaikan pada Ibadah Penamatan Siswa Kelas XII SMA Kristen Kalam Kudus Jayapura, Kamis/30 Mei 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s