Ulangan 6:4-9. Mendidik Lewat Hidup


Ulangan 6:4-9. Mendidik Lewat Hidup
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Jika orang Kristen memiliki Pengakuan Iman Rasuli sebagai pengakuan imannya, maka orang Israel memiliki Ulangan 6:4-5 yang dikenal sebagai SHEMA Israel. Shema sendiri adalah bahasa Ibrani yang artinya “dengarlah”. Disebut Shema, karena memang rumusan pengakuan itu diawali dengan seruan “Dengarlah.”

Dalam ayat 4 dinyatakan bunyi SHEMA tersebut, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Kata Esa disini berbeda pengertiannya dengan Esa sebagaimana dipahami dalam Agama Islam. Kata Esa disini berasal dari bahasa Ibrani “ekhad”, dan kata yang sama digunakan dalam Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu (ekhad) daging.

Jadi kata Esa dalam Ulangan 6:4 dapat dipadankan dengan kesatuan suami dan isteri. Jadi dalam keesaan TUHAN ada kejamakan [Dan dalam kejamakan itu ada relasi yang eksklusif (jangan ada Allah lain padamu!), seperti halnya suami-isteri memiliki relasi yang eksklusif].

Orang-orang Kristen mengakui bahwa Ulangan 6:4 adalah Firman Allah. Kita menerima Perjanjian Lama adalah Firman Allah. Karena itu, kita pun mengakui bahwa pewahyuan bahwa TUHAN Allah kita itu Esa. Kalau orang bertanya, “Ada berapa Allahnya orang Kristen?” Kita dengan tegas menjawab, “Allah kita itu Esa!” Tapi keesaan disini dipahami berbeda dengan keesaan menurut Agama Islam. Orang Islam mungkin memahami Esa sebagai tunggal, tapi kita memahami kata Esa sebagai kesatuan dalam kejamakan.

Dalam Perjanjian Baru, kejamakan ini menjadi lebih tegas diwahyukan. Karena itu kita mengenal konsep Allah Tritunggal, yaitu Allah yang Esa, menyatakan diriNya dalam Tiga Pribadi yang berbeda. Allah Bapa bukan Allah Anak; Allah Anak bukan Allah Roh Kudus; dan Allah Roh Kudus bukan Allah Bapa. Namun ketiganya ini ada dalam relasi kasih yang satu dan tidak mungkin terpisahkan.

Karena itu, ketika harus berbicara soal kasih, maka orang Kristenlah yang paling mengerti, karena Allahnya telah meneladankannya. Kalau dalam kekekalan itu, Allah hanya tunggal dan sendirian; maka ketika dikatakan bahwa Ia mengasihi, maka apa buktinya? Mengasihi itu perlu adanya subyek dan obyek! Harus ada obyek yang dikasihi. Allah yang dipercaya orang Kristen adalah Allah yang dari sejak kekekalan adalah Tritunggal. Kalaupun Ia tidak menciptakan manusia, Ia tidak akan kesepian. Di dalam kekekalan, Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, saling mengasihi dengan kasih yang kekal. Itu sebabnya, ketika Allah itu menciptakan manusia, manusia mendapatkan pola bagaimana mengasihi, dari Allah sendiri.

Di ayat 5, SHEMA juga berbunyi, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Orang Kristen mungkin untuk mengasihi karena Allah yang mereka sembah meneladankan lebih dahulu bagaimana mengasihi. Terhadap Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi umatNya, maka umatNya pun diperintahkan untuk mengasihi Allah!

Tetapi Allah itu abstrak; tidak terlihat! Lalu bagaimana manusia dapat secara konkret menyatakan kasihNya kepada TUHAN Allah? Ayat 6-7 menunjukkannya kepada kita, “Apa yang kuperintahkan kepadamu hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya….” Jadi bagaimana wujud konkret kita mengasihi TUHAN Allah? Dengan memperhatikan Firman Allah dan mengasihi sesama kita, secara khusus anggota keluarga kita sendiri, yaitu anak-anak kita.

Dicatat dalam ayat 7 istilah “mengajarkan”! Mengapa istilah yang dipakai adalah istilah mengajar? Bukankah istilah mendidik lebih baik? Apa bedanya mengajar dan mendidik? Seorang Psikolog menjelaskan bahwa mengajar itu hanyalah sebatas transfer of knowledge, sedangkan mendidik pada hakekatnya adalah relasi. Jadi harus ada relasi antara pendidik dan yang dididik. Ini berbicara juga masalah keteladanan yang dapat diberikan oleh pendidik kepada yang dididik. Jika demikian, apakah ini berarti Firman TUHAN hanya mengajarkan sesuatu yang dangkal saja? Sesuatu yang bersifat transfer of knowledge saja?

Kalau kita membaca ayat 7-9, maka kita mendapati bahwa transfer of knowledge disini juga melibatkan keseluruhan hidup si pendidik. Ini dapat kita baca dari kalimat, “membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu, dan pada gerbangmu.” Jadi Firman Tuhan itu harus dibicarakan saat di dalam rumah; di luar rumah; ketika hendak tidur; maupun ketika bangun tidur. Jadi dalam seluruh aktivitas kita ketika terjaga, Firman TUHAN harus senantiasa diajarkan.

Dalam Ulangan 11:18-20 juga dicatat, “Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring, dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” Jadi, si pendidik sendiri harus menaruh Firman Allah dalam hati dan jiwanya sendiri, sebelum mengajarkannya kepada peserta didik.

Dari dua bagian ayat ini, kita memahami bahwa perintah untuk mengajarkan Firman Allah dalam Kitab Ulangan ini, melibatkan keseluruhan hidup si pendidik juga, dan menuntut adanya sebuah keteladanan. Si pendidik sendiri, dalam hal ini orangtua, harus hidup dalam Firman Allah. Jadi proses transfer of knowledge yang terjadi sebetulnya bersifat pendidikan, dan tidak hanya bersifat pengajaran kognitif belaka.

Orang-orang Yahudi memahami bagian Firman ini secara harafiah. Mereka betul-betul mempraktekkan untuk mengikatkan Firman Tuhan pada lengan dan dahi mereka. Dalam upacara agama Yahudi tertentu, ada kotak kecil berisi Firman Tuhan yang diikatkan di dahi mereka. Namun ini tentu bukan yang dimaksudkan Firman Tuhan disini. Tangan melambangkan kerja, sedangkan dahi melambangkan pikiran. Jadi dalam pikiran dan tindakan/kerja kita, kita harus hidup dalam Firman Tuhan.

Kata kunci lain yang penting dari bagian ini adalah kata “berulang-ulang”. Sebetulnya dalam teks Ibraninya, frasa “berulang-ulang” tidak ada. Dalam teks Ibrani, kalimatnya hanya berbunyi “Haruslah engkau mengajarkannya”. Hanya saja, dalam kata “mengajarkannya”, tenses/penanda waktu yang digunakan menunjukkan tindakan yang berlangsung terus-menerus. Karena itu, penerjemah LAI menegaskan kata mengajarkan dalam ayat ini, dengan frasa “berulang-ulang.”

Frasa “berulang-ulang” disini hendak menekankan bahwa proses pendidikan itu harus betul-betul mengakibatkan adanya nilai-nilai yang terukir (impress) dalam diri peserta didik. Orang dewasa saja perlu diperingatkan secara berulang-ulang, apalagi anak-anak. Kita manusia memang sering lupa, melupakan, atau pura-pura lupa. Karena itu, seringkali ada bagian Firman Tuhan yang sudah berkali-kali kita dengarkan, tetapi toh senantiasa penting untuk diajarkan lagi dan lagi.

Jadi, dari semua pelajaran ini, kita belajar beberapa hal. Pertama, kita mampu mengasihi karena Allah telah terlebih dahulu memberikan teladan kita untuk mengasihi. Kedua, wujud konkret kita untuk belajar mengasihi, dimulai dengan belajar mengasihi orang-orang terdekat kita, secara khusus anak-anak kita. Dan ketiga, mengasihi anak-anak kita diwujudkan dengan mendidik mereka secara intens, dan melibatkan seluruh hidup serta keteladanan kita.

(Disampaikan dalam persekutuan Rayon Filadelfia GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/17 Mei 2013).

One thought on “Ulangan 6:4-9. Mendidik Lewat Hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s