Ulangan 34. Musa, Seorang Pemimpin Besar


Nats: Ulangan 34. Musa, Seorang Pemimpin Besar
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Ulangan pasal terakhir menyatakan bahwa setelah Musa, tidak ada lagi nabi yang seperti dia. Ini artinya Musa memiliki kepemimpinan/kehidupan “yang tiada duanya”. Namun apa yang menyebabkan predikat itu dapat dikenakan kepada Musa?

Bila kita membandingkan dengan Bung Karno, Sang Pemimpin Besar Revolusi di Indonesia, kita bisa menemukan setidaknya dua hal yang menjadikan seseorang itu mendapatkan predikat “pemimpin besar”:

1. Pertama, pribadi yang hebat.
2. Kedua, karya-karya yang hebat.

Baik Musa maupun Bung Karno memiliki keduanya.

Perbedaannya, predikat pemimpin yang hebat dengan karya yang hebat, diperoleh Bung Karno karena apa yang telah dicapainya sebagai pribadi. Sedangkan dalam kasus Musa, predikat pemimpin yang hebat dengan karya yang hebat itu dikenakan kepada Musa karena apa yang telah Allah kerjakan DI DALAM dan MELALUI Musa. Jadi bukan Musanya sebagai pribadi yang hebat, melainkan Allahnya.

Lebih spesifik lagi, Musa menjadi Pemimpin Yang Tiada Duanya karena:
1. Ia adalah pemimpin “yang dikenal Tuhan muka dengan muka” (Ulangan 34:10).
2. Melalui Musa, Allah melakukan perkara-perkara besar (Ulangan 34:11 – 12).

Jadi aplikasi apakah yang bisa kita pelajari dari keberadaan Musa sebagai Pribadi yang Tiada Duanya? Dari Musa kita bisa belajar bahwa untuk memiliki kehidupan “Yang Tiada Duanya” bagi seorang anak Tuhan, terkait dengan bagaimana Allah berkarya DI DALAM dan MELALUI kita. Singkat kata, bagaimana kita memiliki kehidupan “Yang Tiada Duanya” adalah terkait dengan bagaimana relasi kita dengan Tuhan.

Ulangan 18:15, 18–19 menubuatkan bahwa akan ada nabi lain yang muncul sama seperti Musa. Kita memahami ayat ini sebagai nubuatan tentang Yesus Kristus. Tentang Yesus Kristus, Perjanjian Baru mencatat:
Perkataan Yesus: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat. 11:27). Dalam konteks ini, Yesus mengungguli Musa, karena dalam Ulangan 34:10, masih nampak Allahlah yang lebih dominan mengenal Musa, sedangkan dalam Matius 11:27 ini, antara Anak dan Bapa memiliki pengenalan yang setara dan sama-sama dominan.

Pengakuan rasul Yesus, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Ayat ini saja sudah memberi petunjuk betapa Yesus nampaknya sudah mengungguli Musa dalam hal “karya”.

Kepada kita kini, Yesus disingkapkan sebagai Pribadi yang Tiada Duanya, dan Pribadi yang melakukan Karya Yang Tiada Duanya, sehingga apabila kita hendak memiliki kehidupan Yang Tiada Duanya, kita harus datang kepada Pribadi Yang Tiada Duanya yang jelas-jelas menungguli Musa dalam segala hal, yaitu Yesus Kristus.

(Disampaikan pada Ibadah Umum I & II GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/18 Mei 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s