Kejadian 11:27–32. Pelajaran dari Silsilah Abraham


Nats: Kejadian 11:27–32. Pelajaran dari Silsilah Abraham
Oleh: Sdr. NT. Prasetyo, S.Sos.

Kejadian 1–11 berbicara tentang asal-usul alam semesta dan manusia secara umum. Sedangkan mulai pasal 12, sejarah keselamatan melalui Israel, mulai dibicarakan. Dan tokoh pertama yang menjadi nenek-moyang dalam sejarah keselamatan melalui Israel adalah Abram/Abraham.

Menarik, karena mengawali catatan tentang Abram/Abraham, Alkitab mencatat, “Sarai itu mandul, tidak mempunyai anak” (ayat 30). Ini menjadi sebuah tema utama yang mewarnai kehidupan Abram/Abraham seterusnya. Suatu kondisi yang pada zaman itu dianggap sebagai tanda “tidak diberkati” Tuhan.

Kondisi “tidak diberkati” ini kemudian dikontraskan dengan janji Allah kepada Abraham. Allah berjanji bahwa oleh keturunan Abraham, semua bangsa di bumi akan memperoleh berkat (Kejadian 22:17). Memang dalam konteks Abraham, keturunan yang dimaksud adalah Ishak. Namun dalam Surat Galatia 3:16, Paulus menyatakan bahwa yang dimaksud dengan keturunan disini adalah Yesus Kristus.

Allah setia pada janjiNya dan mewujudkannya bagi Abraham, dengan mengubah kondisi Abraham yang “tidak diberkati” menjadi “terberkati”. Kejadian 25:11 mencatat satu kalimat penting, “Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu.” Perhatikan, ada peralihan dari keadaan “Sarai mandul” menjadi “Allah memberkati Ishak”. Ada peralihan dari kondisi “tanpa berkat” menjadi “Allah memberkati.” Allah terbukti setia pada janjiNya dan terbukti sanggup mewujudkan berkat keselamatanNya bagi umatNya. Dalam hal ini, kesetiaan janji Allah dikaitkan dengan berkat Allah yang merupakan kebutuhan ultimat manusia, yaitu KESELAMATAN.

Kesetiaan Allah pada janjiNya kepada Abraham itu, terbukti pula dari kehidupan kita –bangsa-bangsa lain di muka bumi– yang pada akhirnya memperoleh berkat dari keturunan Abraham itu. Dan Allah hendak terus menggenapi janjiNya itu kepada banyak orang-orang lain dari bangsa-bangsa itu. Allah telah memakai Abraham dan Sarai, karena itu bagaimana dengan kita? Akankah kita menyerahkan diri kita untuk dipakai Tuhan membuktikan kesetiaan janjiNya kepada orang-orang lain dari bangsa-bangsa itu? Dalam kesetiaanNya, Ia sanggup mengubah keadaan “tidak diberkati” menjadi “yang diberkati“.

Kepada jemaat aku kemudian mengatakan, “Pak Citra hanyalah salah satu dari ribuan orang yang telah mengalami pengalaman dimana Allah telah terbukti setia menepati janjiNya.” Dan berkaitan dengan perayaan ulangtahun beliau, yang bisa jemaat lakukan adalah, “meneladani teladan yang Pak Citra telah tinggalkan, dimana dalam pelayanannya, Allah telah menunjukkan diriNya sebagai Allah yang setia menepati janjiNya.”

Bersyukur karena seorang jemaat merasa diberkati dengan kotbah ini. Sementara seorang rekan rohaniwan yang lain mengatakan bahwa melalui kotbah ini, Tuhan memberikan peneguhan kedua atas pergumulan yang sedang ia gumuli. Puji TUHAN.

(Disampaikan Ibadah Syukur dalam rangka Peringatan Hari Ulangtahuan Pdt. Yusuf Citra, Minggu/4 Mei 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s