Kolose 1:28-29. Menjadi Dewasa dalam Emosi


Nats: Kolose 1:28-29. Menjadi Dewasa dalam Emosi
Oleh: Pdt. Reggie.

Aku beribadah di GKRI Petra, Jakarta. Pembicara pagi itu, Pdt. Reggie. Natsnya dari Kol.1:28–29. Beliau menyatakan bahwa apa yang sungguh-sungguh dipergumulkan Paulus adalah bagaimana seorang Kristen mencapai kesempurnaan/kedewasaan dalam Kristus.

Berkaitan dengan emosi, beliau menyinggung soal elemen-elemen perasaan:
(1). Emosi,
(2). Sense/citarasa, dan
(3). Mood.

Beliau mengingatkan beberapa ayat kepada jemaat:
a. Mazmur 4:5, “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.”
b. Mazmur 37:8, “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
c. Kol.3:8a, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.”
Marah ada yang tidak merupakan dosa, namun Alkitab sendiri tidak menganjurkan marah. Segala sesuatu yang tidak terkontrol adalah dosa, karena itu kendalikan amarahmu.

Ada dua hal yang menentukan nilai kemarahan kita:

1. Mengapa kita marah.

Jenis-jenis marah:
(a). Berkaitan dengan ego, misalnya: ketersinggungan;
(b). karena keletihan fisik/mental (ini berkaitan dengan keterbatasan manusia);
(c). karena terdesak; dan
(d). karena alasan mendidik (ini adalah marah yang baik).

2. Bagaimana mengungkapkan kemarahan.

Kita harus memperhatikan cara. Ada dua bentuk marah yang tidak dianjurkan:
(a). Agresif yang meledak-ledak. Dalam hal ini perlu diingatkan bahwa orang marah, belajar dari oranglain.
Marah supresif (pasif-agresif).
(b). Tidak menampakkan marah, namun kata-katanya tajam. Orang yang terbiasa dengan bentuk ini, sulit berhasil berelasi dengan oranglain.

Sementara itu pula, ada dua bentuk marah yang dianjurkan:
(1). Dikomunikasikan dengan kata-kata yang baik.
(2). Marah yang diredakan. Dirasionalisasikan atau belajar memikirkan kepentingan oranglain.
Solusi: Mazmur 37:1, 3, “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang,” dan “Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

Ada empat poin yang perlu kita perhatikan:

1. Ambil keputusan: Jangan marah lagi.

Yakobus 1:19, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” Ingat! Marah itu kebiasaan, polanya sama.
Amsal 4:23 bersifat preventif, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Ingat! Penyakit yang tidak ada symptomps-nya, berbahaya.

2. Hidup dekat dengan Tuhan, supaya makin mirip dengan Tuhan.

3. Aktif berbuat baik.

Mazmur 37:3, 21, “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,” dan “Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah.
Efesus 4:31 – 32, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Belajarlah senyum dan menyapa!

4. Ekspresikan kalau memang marah.

(a). Akui bahwa kita marah.
(b). Beritahukan alasan mengapa kita marah.
(c). Apabila tidak siap, jangan dibicarakan dulu.

(Disampaikan pada Ibadah Umum GKRI Petra Jakarta, Minggu/30 Januari 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s