Yohanes 3 & 4. Dua Hal Kontras yang Berujung Baik


Nats: Yohanes 3 & 4. Dua Hal Kontras yang Berujung Baik
Oleh: Prof. Simon Kistemaker

Prof. Kistemaker mengkotbahkan Yoh.3:1–21 tentang Nikodemus dan Perempuan di Tepi Sumur. Ada kontras yang menarik di sini.

Yoh. 3:1–21 mengidentifikasi Nikodemus sebagai sosok Farisi, intelek, tahu Firman Tuhan, terlibat di pemerintahan, berusia sekitar 70-an tahun. Sebaliknya, Yesus adalah seorang Guru yang Agung, berusia 30-an tahun, jauh lebih muda dari Nikodemus. Di dalam catatan-catatan Injil berikutnya, tokoh Nikodemus ini kelak menjadi tokoh yang berupaya membela Yesus ketika Yesus diperlakukan tidak adil. Dalam Yoh.7:50–51 dicatat gugatan Nikodemus, “Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?””. Juga Yoh.19:38–40 mencatat aksi cinta Nikodemus setelah peristiwa penyaliban Yesus, “Sesudah itu Yusuf dari Arimatea–ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi–meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.” Setelah peristiwa Pentakosta, Nikodemus ini tentunya adalah penginjil kepada kalangan Farisi.

Bila kita bandingkan Yohanes 3 dengan Yohanes 4, ada kontras disana. Di pasal 3, kita berjumpa Nikodemus, laki-laki, seorang Yahudi, dan seorang Farisi yang terhormat. Namun sebaliknya, di pasal 4, kita berjumpa seorang perempuan, orang Samaria, dan orang najis. Apa yang mengindikasikan bahwa ia adalah perempuan dengan moral tidak baik? Karena ia mengambil air siang hari dan bukannya sore hari bersama perempuan lain. Ia datang seorang diri. Ada indikasi ia dikucilkan. Dan dari pakaiannya, Yesus tahu bahwa dia bukan orang Yahudi.

Namun setelah perjumpaannya dengan Yesus, tiba-tiba si perempuan itu (sama seperti Nikodemus) menjadi pemberita Injil (Yoh.4:28–29). Tidak heran, setelah Pentakosta, Filipus pergi ke daerah Samaria, dan di Samaria, ia menemukan ada orang-orang percaya. Ini tentu buah pelayanan si perempuan Samaria.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel Pagi STTRI Indonesia, Senin/17 Januari 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s