Lukas 24:13-24. Waspada terhadap Kekecewaan


Nats: Lukas 24:13-24. Waspada terhadap Kekecewaan
Oleh:

Dalam chapel pagi hari ini, nats yang dibahas adalah Lukas 24:13–24. Bagian ini tidak dimuat dalam Injil lainnya. Kedua orang dalam nats ini menuju Emaus, namun tidak jelas tujuannya kemana. Mereka tinggal di Emaus. Jarak Yerusalem ke Emaus adalah sekitar 7 mil. Yesus hadir di tengah-tengah mereka, namun mereka tidak mengenali Yesus yang hidup itu dengan segera. Ayat 16 mencatat bahwa, “but they were kept from recognizing him.” Fokuskan pada ayat 19–24, tentang hal yang “kept them from recognizing him”, yaitu karena mereka kecewa bahwa harapan mereka selama ini tidak terpenuhi. Mereka mengharapkan Yesus akan menebus Israel (ayat 21). Namun Yesus malah mati, dan harapan mereka pun turut mati.

Aku lalu mendengar kesaksian tentang Alexander Dowie (?), seorang pengkotbah Karismatik, pelayanannya disertai mujizat-mujizat, ia ingin membangun desa Kristen, namun proyeknya gagal karena pemerintah menyegelnya, ia pun kecewa. Seperti inilah, murid-murid kecewa karena kebutuhannya tidak terpenuhi. Apakah pengenalan kita akan Allah hanya sebatas pemenuhan kebutuhan kita?

Seorang tua punya sahabat seekor kuda. Ditawar namun tidak dijual. Suatu hari, kudanya hilang. Orang-orang mencemooh karena kuda itu hilang. Namun ternyata kuda itu kembali dengan membawa beberapa kuda liar. Orang-orang memuji, karena kuda membawa kuda-kuda baru. Kuda liar kemudian dilatih. Ternyata anak dari orang tua ini patah kakinya karena jatuh dari kuda. Orang-orang heran mengapa nasib orangtua ini sial sekali. Namun suatu hari ada wajib militer. Semua anak laki-laki berangkat perang dengan terpaksa. Namun anak dari orangtua ini tidak, karena kakinya dalam kondisi patah.

Ketika ada kekecewaan, kemudian diikuti ketidakpercayaan. Tuhan menegur murid-muridNya, karena mereka berada di jalan yang salah. Pengenalan akan Allah adalah anugerah Allah (ayat 28–30). Hamba Tuhan yang tidak membaca Alkitab adalah crime (kejahatan), demikian dinyatakan Pdt. Yakub Susabda. Seperti orang naik sepeda, tidak boleh mandeg atau berhenti mengayuh, kalau tidak orang itu akan jatuh.

Beberapa aplikasi:
1. Kembangkan ketertarikan rohani. Kembangkan hasrat untuk memiliki relasi intim dengan Tuhan.
2. Kembangkan kehausan rohani. Perhatikan setiap momen penting.

(Disampaikan pada Ibadah Chapel Pagi, Senin/22 November 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s