Kejadian 3. Decreation


Kejadian 3. Decreation
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Di dalam Alkitab dinyatakan empat titik penting dalam sejarah manusia, yaitu:
(1). Creation/Penciptaan;
(2). Fall/Decreation/Kejatuhan/Pembalikkan Ciptaan;
(3). Redemption/Penebusan dalam Kristus Yesus; dan
(4). Glorification/Pemuliaan.
Inilah adalah isi iman Kristen; yang merupakan keunikan iman Kristen, dan ini membedakan iman Kristen dari agama dan kepercayaan lain.

Sekarang kita akan mempelajari lebih detil tentang Kejatuhan Manusia ke dalam Dosa. Kejadian 2:4b–5 mencatat, ”Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu.”

Menarik untuk diperhatikan bahwa:
1. Akhirnya, semak pertamakali dicatat keberadaannya, sebagai bagian dari kutukan Tuhan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa – Kej. 3:17–18.
2. Tumbuhan di padang pertamakali dicatat keberadaannya, sebagai bagian dari kutukan Tuhan akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa – Kejadian 3:17–18. Ini menunjukkan kegersangan bukanlah bagian rencana Allah.
3. Hujan yang pertamakali jatuh ke atas bumi dicatat keberadaannya, sebagai bagian dari hukuman Tuhan atas kejahatan penghuni bumi di zaman Nuh – Kejadian 7:4.
4. Orang yang mengusahakan tanah dapat kita temukan pertamakali dalam figur Kain yang kemudian dikutuk Tuhan, karena membunuh adiknya, Habel – Kejadian 4:2, 12.

Singkatnya, dari Kejadian 2:4b–5 kita diberitahu bahwa ketika Tuhan Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada dosa (Belum ada semak dan padang gersang; belum ada hujan untuk menghukum keberdosaan; belum ada kutukan terhadap manusia, sebagaimana yang terjadi terhadap Kain). Pada saat belum ada dosa itulah, Tuhan menciptakan manusia. Allah memberikan Taman Eden sebagai rumah manusia pertama (Kej.2:7–8).

Allah kemudian menjalin relasi dengan manusia ciptaanNya itu melalui sebuah Kovenan (Perjanjian) Kerja; menyatakan bahwa Adam harus “mengusahakan dan memelihara taman (Eden) itu” dan kepada Adam, Tuhan berfirman, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej.2:15 – 17).

Perlu diperhatikan! Ketika Allah memberikan perintah ini, Perempuan belum dijadikan, sehingga tidak mendengar langsung larangan itu. Kejadian 2:25 mencatat, “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.” Ketika dosa belum masuk kedalam hidup manusia, ketelanjangan baik secara jasmani maupun rohani, bukanlah sesuatu yang memalukan. Ini terjadi karena memang, baik secara jasmani maupun rohani, tidak ada satu kelemahan pun yang perlu membuat manusia malu. Semua ada dalam kondisi baik, benar, dan suci. Tidak ada pikiran jahat atau kotor yang dapat membuat oranglain malu, dan tidak ada kejahatan moral yang perlu ditutup-tutupi. Ada kemuliaan Allah yang terpancar dengan jernihnya dari kehidupan manusia. Kita akan melihat kemudian, bagaimana akhirnya kemuliaan ini merosot akibat dosa, sebagaimana yang tercantum dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan (merosot) kemuliaan Allah.

Perlu diperhatikan bahwa dalam Kejadian 2:25 dicatat kalimat, “manusia dan isterinya itu.” Jadi, setelah Tuhan membentuk Perempuan dari tulang rusuk Adam, Tuhan kemudian memberkati mereka. Demikian Adam dan Perempuan menjadi suami–isteri, dan barulah setelah Tuhan memberkati mereka, mereka diperintahkan (baru diijinkan) untuk beranak-cucu!

Iblis memakai ular untuk memperdaya manusia dan memancing manusia untuk melawan perintah Allah. Kejadian 3:1 mencatat bahwa ular adalah binatang yang paling cerdik, dan dalam kecerdikannya ular kemudian menipu Perempuan, mungkin sebagai strategi serangan dengan memperhitungkan bahwa Perempuan bukanlah pendengar pertama yang mendengarkan langsung larangan Allah.

Kejadian 3:6 mencatat bahwa Perempuan memakan buah dari pohon terlarang, lalu memberikannya kepada suaminya. Ternyata sudah dari sejak mulanya, Perempuan dapat menjadi sosok yang dapat sangat melemahkan daya pertahanan laki-laki.

Lalu darimanakah dosa itu berasal? Kejadian 3:6 menyiratkan bagaimana Hawa memiliki keinginan untuk memakan buah terlarang dan terpikat olehnya. Jadi keinginan menjadi awal dosa. Yakobus 1:14–15 mencatat, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Namun kekristenan tidak mengajar kita untuk menyingkirkan segala keinginan, melainkan menyediakan diri agar keinginan kita dikuduskan bagi Allah, sehingga keinginan kita selaras dengan kehendak Allah.

(Disampaikan dalam Sekolah Minggu Dewasa GK Kristen Kalam Kudus Jayapura, 2008. Telah disunting untuk kepentingan blog ini).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s