Ibrani 6. Kemurtadan


Nats: Ibrani 6. Kemurtadan
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Pengantar
Kemurtadan adalah sebuah fenomena dalam Kekristenan. Namun apa sebetulnya kemurtadan? Apa yang terjadi pada diri seseorang yang murtad? Melalui tulisan singkat ini penulis hendak menjelaskan apa sebetulnya kemurtadan itu. Penulis juga hendak menjelaskan hubungan antara kemurtadan dan keselamatan orang percaya. Melalui tulisan ini, penulis hendak membela pandangan bahwa keselamatan orang percaya tidak mungkin hilang.

Beberapa Pengertian
George Eldon Ladd menulis bahwa menurut pandangan tradisional, Surat Ibrani ditujukan kepada komunitas Yahudi Kristen (kemungkinan) di Roma (13:24) yang sedang dihadapkan pada penganiayaan. Komunitas Yahudi tersebut terancam untuk murtad (apostasy) dari imannya kepada Kristus dan kembali kepada Yudaisme. Peringatan penulis terhadap bahaya kemurtadan ini tersebar dalam seluruh bagian Surat Ibrani, yaitu pada 2:1-4; 3:7-4[:11]; 5:11-6:12[20]; dan 10:19-39.1 Dale Moody dalam bukunya yang berjudul Apostasy menambahkan 12:1-29.2

Dalam Ibrani 6:6 tertulis, “…namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” Dave Hagelberg menyatakan bahwa “menyalibkan lagi Anak Allah” berarti “berpikir bahwa salib layak bagi Yesus.” Hagelberg sebelumnya menjelaskan bahwa ketika Yesus disalibkan oleh umat Israel, mereka menganggap salib itu layak untuk Dia. Dan setelah mereka bertobat, mereka berpaling dari pikiran itu dan merasa bahwa salib itu sangat tidak layak bagi Tuhan Yesus. Kalau mereka murtad berarti mereka memihak (lagi) kepada orang-orang yang setuju dengan penyaliban Kristus. Ini menunjukkan bahwa mereka sudah mengeraskan hati.3

Sedangkan John Owen menjelaskan frasa “menyalibkan lagi Anak Allah” dengan menulis bahwa mereka tidak dapat benar-benar menyalibkan Yesus; mereka melakukan itu kepada diri mereka sendiri secara moral.4 Melalui kemurtadan mereka, mereka memperlihatkan bahwa mereka setuju dengan orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus. Tidak ada lagi ketidakhormatan yang lebih besar dari ini. Dosa mereka lebih besar daripada orang-orang Yahudi yang secara historis telah menyalibkan Yesus.5

Menurut Owen, dalam kasus kemurtadan, tidak ada korban pengganti, baik di Perjanjian Lama, maupun di Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, orang yang murtad akan mati tanpa belas kasihan. Demikian juga di bawah Injil. Orang yang murtad dari Kristus tidak akan menemukan korban pengganti bagi dosa-dosanya. Allah akan membuangnya dan menghancurkannya. John Owen menyatakan bahwa satu-satunya pengorbanan Kristus yang telah terjadi adalah untuk menyelesaikan masalah dosa umatNya di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, dan juga bagi dosa-dosa mereka yang tidak ada korban penggantinya menurut hukum. Contoh dosa semacam ini adalah pembunuhan dan perzinahan. Karena itu Daud yang telah melakukan dua dosa ini berkata, “Karena Engkau tidak menghendaki persembahan, bahkan sekiranya aku hendak memberikannya.” (Mzm. 51:18). Namun pengorbanan Kristus adalah untuk menebus dosa-dosa ini juga. Korban Kristus lebih dari mampu untuk menebus setiap orang yang paling berdosa. Jika orang-orang berdosa mengabaikan satu-satunya pengorbanan ini, mereka menjatuhkan kesalahan kepada diri mereka sendiri. Di sini kita melihat bahwa pandangan Owen tentang arti frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, sama dengan pandangan Hagelberg.

John Brown menjelaskan bahwa frasa ini semakin menunjukkan kekejaman dari kejahatan yang mereka lakukan. Frasa ini menunjukkan bahwa kejahatan mereka adalah sesuatu yang tak termaafkan dan secara terbuka telah memproklamasikan bahwa Yesus adalah penipu. Seolah-olah mereka hendak menyatakan, “Bapa kami telah melakukan hal yang tepat dengan membawa Dia, orang yang tak beriman, kepada salib.” Demikianlah mereka mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan para penyalib Yesus.6

Menurut William L. Lane,7 frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, dalam bahasa aslinya merupakan kata Yunani yang berbentuk present participle, yaitu anastaurountas (menyalibkan lagi [Anak Allah]). Kata ini bersifat memperkuat nuansa yang ada di dalam kata Yunani berbentuk aorist participle, yaitu parapesontas (murtad). Lane menyatakan bahwa kata parapesontas ini sepadan/sinonim8 dengan kata apostenai (murtad). Bentuk aorist dalam kata parapesontas mengindikasikan satu momen yang menentukan dari suatu komitmen menuju kemurtadan. Kemurtadan menuntut satu penolakan yang tegas atas karunia Allah. Apa yang digambarkan dalam ayat enam ini adalah satu ekspresi yang menunjuk kepada setiap bentuk peralihan dari iman kepada Anak Allah yang tersalib. Ini bisa jadi berbentuk tuntutan untuk kembali kepada pengakuan dan praktek Yudaisme atas desakan massa yang kejam, sehingga melakukan penyangkalan publik atas iman di dalam Kristus demi keuntungan pribadi.

Berkenaan dengan frasa “menyalibkan lagi Anak Allah”, William Barclay menjelaskan bahwa penulis Ibrani melihat salib sebagai satu peristiwa yang membuka jendela ke dalam hati Allah. Sehingga, dosa tidak hanya menghancurkan hukum Allah; melainkan kembali dan kembali, menghancurkan hati Allah. Demikianlah, ketika kita berdosa, kita menyalibkan Kristus lagi.9

Kemurtadan dan Keselamatan
Menurut Moody, Kamus Webster’s mendefinisikan apostasy sebagai “penolakan satu iman keagamaan” atau “meninggalkan kesetiaan sebelumnya.” Alkitab Revised Standard Version menterjemahkan kata parapesontas menjadi commit apostasy yang secara literal berarti “telah jatuh/kalah/berhenti” (dari kata “para”, sepanjang; dan kata “pipto”, jatuh).10 Moody menggunakan kata apostasy berdasarkan kata Yunani berbentuk aorist infinitive, apostenai (commit apostasy11/departing or falling away from the living God), dalam 3:12. Sedangkan Hagelberg menulis bahwa murtad sama artinya dengan “jatuh dari (Allah)”. Dari segi tata bahasa, frasa ini adalah sebuah rantai yang terdiri dari lima aorist participle, yaitu diterangi, mengecap, menjadi, sekali lagi mengecap, dan akhirnya murtad.12

Moody juga mengutip Watson E. Mills13 yang menyatakan bahwa dalam Kitab Yeremia, kata Yunani apostasai (apostasy) diterjemahkan sebagai meshubah dan mendominasi tujuh bab pertama dalam Kitab Yeremia. Karena itu Moody menyatakan bahwa dapat dipastikan bahwa penulis Ibrani mendapatkan istilah apostasia ini dari Nabi Yeremia.14 Namun dalam bukunya, Moody juga mencatat tentang usaha beberapa orang untuk membela pandangan bahwa kata Yunani, apostasy, tidak memiliki pengertian sebagaimana yang dipahami sekarang dalam bahasa Inggris. A.T. Robertson menyatakan bahwa teks Yunani terang-terangan menyangkal kemungkinan pembaruan dari seseorang yang murtad dari Kristus. Ini adalah gambaran yang parah dan tidak dapat diperhalus.

H.H. Hobbs mencoba untuk membuktikan kesalahan dari pandangan Robertson dengan mengatakan bahwa penulis Surat Ibrani berasumsi bahwa mereka yang dideskripsikan sebagai orang yang telah “diperbarui” di dalam “pengalaman spiritual yang asli” namun kemudian murtad, adalah mereka yang beresiko menahan pertumbuhan rohani, sebagaimana orang-orang Kristen Yahudi ini di dalam resiko untuk jatuh dari tujuan utama mereka di dalam perilaku dan pelayanan Kristen.15

Borchert berargumen bahwa kata murtad di dalam Ibrani 6:6 tidak sama dengan yang digunakan dalam Ibrani 3:12 dimana kata Yunani, apostenai, berarti jatuh. Adalah benar bahwa aorist participle, parapesontas, digunakan dalam 6:6 dan aorist infinitive, apostenai, dalam 3:12, namun kata-kata ini memiliki arti yang cenderung sama. Tidak ada perbedaan di dalam pengalaman “jatuh” dalam 3:12 dengan “telah jatuh” dalam 6:6. Alkitab Revised Standard Version tidak salah.16 Demikian ada dua pandangan berkenaan dengan pengertian kata murtad dalam Surat Ibrani. Ahli-ahli seperti H.H. Hobbs melihat kata murtad ini sebagai suatu keadaan yang beresiko menahan pertumbuhan rohani, sedangkan ahli-ahli seperti Dale Moody, Hagelberg, bahkan Alkitab Revised Standard Version, melihat bahwa kata murtad ini berarti terpisah dari Allah yang hidup.

Kemungkinan Murtad
Berkenaan dengan isu mengenai bisa-tidaknya orang yang sudah percaya, murtad, penganut Teologi Reformed berpegang pada Bab V dari Canons of Dort yang berjudul The Perseverance of the Saints (ketekunan orang-orang kudus). Judul ini bisa menjebak, karena yang sesungguhnya dibicarakan adalah pemeliharaan Allah kepada umatNya. Bab ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pemeliharaan Allah atas umatNya (Artikel 1-8), dan jaminan pemeliharaan bagi orang-orang percaya (Artikel 9-15).

Dalam artikel-artikel sebagaimana yang disebut di atas, Canons of Dort mengajarkan bahwa meskipun orang-orang percaya melakukan dosa bahkan sampai sebegitu seriusnya, namun Tuhan tidak membiarkan orang-orang percaya itu terhilang/kehilangan keselamatannya. Canons of Dort mengajarkan bahwa pemahaman ini hendak menunjukkan kesetiaan Allah dalam menyediakan dasar teguh yang aman kepada setiap orang percaya. Beberapa ayat-ayat yang digunakan, yaitu Mzm. 130:7; 103:15, 17; Rom. 8:39; Fil. 1:6; dan Yoh. 10:27, 28.17 Namun Ben Witherington III telah menulis satu buku yang kontroversial berjudul The Problem with Evangelical Theology: Testing the Exegetical Foundations of Calvinism, Dispensationalism, and Wesleyanism (Baylor University, 2005). Dalam buku tersebut Witherington menjelaskan bahwa sistem Calvinisme yang terkait dengan ide-ide predestinasi, anugerah yang tak dapat ditolak, dan khususnya ketekunan orang-orang kudus, memiliki kelemahan-kelemahan eksegetikal.

Menurut Witherington, dalam Surat Ibrani, terdapat peringatan kepada orang-orang Yahudi di Roma tentang bahaya kemurtadan, dan peringatan yang sangat kuat terlihat khususnya dalam Ibrani 6:1-6. Penulis Ibrani mengingatkan kepada semua orang Kristen Yahudi di Roma dan bukan kelompok-kelompok tertentu saja, ini jelas terlihat dari jalan dan alur dari argumen yang ada di Surat Ibrani. Orang Kristen yang dalam hidupnya hari ini memiliki jaminan keamanan kekal keselamatan, tentunya tidak memerlukan peringatan semacam itu. Dari sini terlihat bahwa penulis Surat Ibrani tidak berpikir bahwa ada orang-orang semacam itu; ia tidak berpikir bahwa seseorang tidak bisa hilang keselamatannya; tidak sampai seseorang itu berada aman di alam kekal.18

Seperti halnya Witherington, Hagelberg pun berpandangan bahwa orang percaya bisa murtad.19 Moody kemudian menulis bahwa Surat Ibrani mengajarkan tentang preseverance of the saints. Namun topik ini telah dipahami secara salah sebagai, “jaminan keamanan orang percaya”. Perubahan istilah ini diusulkan oleh J.R. Graves pada 3 Mei 1873. Murid-murid Graves mengadopsi konsepnya lalu memahaminya sebagai “keamanan kekal.” Demikian, topik tentang kemurtadan pun kemudian dihubungkan dengan “keamanan kekal” ini, termasuk oleh Moody sendiri. Berkenaan dengan ini, John Owen menuliskan satu pemikiran yang dapat menstimuli kita untuk mencoba mengambil sikap dengan lebih tegas, berkenaan dengan apakah keselamatan bisa hilang.

Topik kemurtadan dalam Surat Ibrani memang menimbulkan perdebatan. Namun John Owen menyatakan bahwa jika seseorang menemukan satu nats Alkitab yang istimewa, namun tidak mencoba untuk menjelaskannya dari terang keseluruhan Alkitab, ia bisa jatuh ke dalam kekeliruan.20 Ia kemudian menjelaskan Ibrani 6:4-6.21 Ia menyatakan bahwa untuk mempelajari nats ini, kita harus mencoba memperhatikan konteks, maksud penulis, dan apa yang ditekankan tulisannya. Berbicara tentang konteks, teks dimulai dengan kata “Karena”, yang memberitahukan kepada kita untuk melihat ke belakang dan mencari tahu mengapa kata-kata ini ditulis.

Kata-kata ini segera saja didahului oleh, ”Kalau Allah mengijinkan.” Kemudian dari ayat sembilan, Owen menemukan bahwa nats ini tidak ditujukan kepada orang-orang percaya. Bagaimana pun ia memberikan peringatan agar pembacanya tidak menjadi seperti itu. Ia menegur mereka karena mereka malas. Bukannya bertumbuh dan meningkat di dalam pengetahuan iman dan pengetahuan praktis, mereka hanya berjalan di tempat, kalau bukan dikatakan mundur. Penulis Ibrani pun memperingatkan pembacanya agar tidak menjadi orang yang kelihatannya hidupnya sudah menjadi baik, yang dikira orang telah meninggalkan hidup lama, namun ternyata mereka terpeleset dan jatuh. Tidaklah dinyatakan secara jelas apakah ada Kovenan Anugerah atas hidup orang-orang ini, atau tentang adanya tugas iman atau kepatuhan yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak dinyatakan sebagai orang-orang yang telah dibenarkan, disucikan, atau diadopsi menjadi anak-anak Allah. Kemudian, ketika penulis mendeklarasikan imannya dan kepercayaannya bahwa pembacanya bukanlah orang-orang yang berada di antara mereka yang telah ia gambarkan, ia menyatakannya atas tiga dasar:22
1. Orang percaya yang sejati memiliki ciri-ciri yang mendampingi anugerah keselamatan yang telah diterimanya. Hal-hal ini tidak terpisahkan dari keselamatan. Karenanya di dalam teks, tidak ada dari antara hal-hal ini yang tidak terpisah dari keselamatan.
2. Orang percaya sejati dikenali lewat ketaatan mereka dan lewat buah-buah iman dalam kehidupan mereka (ayat 10). Dengan demikian, penulis Surat Ibrani mendeklarasikan bahwa mereka berbeda dari orang-orang murtad yang digambarkan. Tidak ada orang-orang yang telah memiliki buah iman yang menyelamatkan dan kasih yang tulus, dapat binasa.
3. Orang percaya hidup d bawah pemeliharaan dan kesetiaan Tuhan, yang telah berjanji untuk memelihara mereka secara kekal. Namun Tuhan hanya berjanji untuk menjaga mereka yang ada di dalam kovenan anugerah, sehingag tidak binasa dalam kekekalan.

Kesimpulan
Peringatan penulis terhadap bahaya kemurtadan ini tersebar dalam seluruh bagian Surat Ibrani, yaitu pada 2:1-4; 3:7-4[:11]; 5:11-6:12[20]; 10:19-39; dan 12:1-29. Orang-orang yang murtad memperlihatkan bahwa mereka setuju dengan orang-orang Yahudi yang menyalibkan Yesus. Tidak ada lagi ketidakhormatan yang lebih besar dari ini. Dosa mereka lebih besar daripada orang-orang Yahudi yang secara historis telah menyalibkan Yesus. Saya pribadi berpandangan bahwa kata murtad dalam Surat Ibrani ini berarti terpisah dari Allah yang hidup. Dengan demikian terkait dengan persoalan keselamatan. Namun berlandaskan kepada pandangan John Owen, saya berpandangan bahwa keselamatan tidak bisa hilang, karena Ibrani 6:1-6 tidak ditujukan kepada orang percaya. Selain itu, Owen juga mengajarkan bahwa untuk memahami ketidakjelasan satu nats, kita harus mencari kejelasannya dari keseluruhan bagian Alkitab.

Endnotes:

1 George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1975), 571-2. Dale Moody, Apostasy (Greenville, South Carolina: Smyth & Helwys Publishing, Inc., 1991), 61.
2 Moody.
3 Dave Hagelberg, Tafsiran Ibrani dari bahasa Yunani (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1996), 37-38.
4 John Owen, Apostasy from the Gospel, ed. P.J.K. Law (Edinburgh & Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1992), 33.
5 John Owen, Hebrews: The Epistles of Warning (Grands Rapids, Michigan: Kregel Publications, 1977), 98.
6 John Brown, Hebrews (Edinburgh & Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1983), 293-4.
7 William L. Lane, Word Biblical Commentary: Hebrews 1-8, vol 47A, ed. David A. Hubbard, et.al. (Dallas, Texas: Word Books, 1991), 142.
8 Simon J. Kistemaker, New Testament Commentary: Exposition of the Epistle to the Hebrews (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1989), 163.
9 William Barclay, The Letter to The Hebrews (Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1960), 59.
10 Moody, 42.
11 BibleWorks 4.0. © 1998.
12 Hagelberg, 37.
13 Watson E. Mills dalam Mercer Dictionary of the Bible.
14 Moody, 25-27.
15 Moody, 42.
16 Moody, 42-43.
17 Cornelius Plantinga, Jr., A Place to Stand: A Study of Ecumenical Creeds and Reformed Confessions, 153-5.
18 Ben Witherington III, “The Problem with Evangelical Theologies,” interview by Mark Galli, Christianity Today (November 2005): 66.
19 Hagelberg, 37.
20 Owen, 1.
21 Owen, 3.

(Ditulis untuk memenuhi tugas matakuliah Studi Perjanjian Baru III di STTRII, yang diampu oleh Pdt. Andreas Simeon, M.Th., 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s