Amsal 31:1-31 & 2 Tim.1:5; 3:15. Kenangan akan Mama


Nats: Amsal 31:1-31 & 2 Tim.1:5; 3:15
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Salah seorang dosen, seorang konselor, pernah menyatakan bahwa mungkin 90% anak-anak kita memiliki ambiguitas atau perasaan mendua dalam dirinya terhadap orangtuanya. Satu sisi anak-anak itu merasa cinta; sayang; dan bergantung pada orangtuanya, namun pada saat yang sama, di sisi lain mereka juga merasa jengkel bahkan benci kepada orangtuanya. Mungkin anak-anak kita pun sedang, atau mungkin belum mengalami hal itu.

Saya pun pernah mengalami hal itu terhadap orangtua saya, namun saat ini [dalam rangka memperingati Mother’s Day International], saya secara khusus akan menceritakan perkara-perkara baik yang luarbiasa yang Mama saya telah lakukan dalam hidupnya. Ada terlalu banyak hal-hal baik yang Mama saya telah kerjakan yang bisa saya ceritakan, dan saya tidak tahu darimana saya harus memulainya. Tapi sebagaimana adanya seorang ‘pendeta’, saya akan menyaksikannya dengan membahas bagian-bagian Firman TUHAN sebagai kerangka acuan.

Slide2
Slide3
Slide4

Apakah Anda menanamkan nilai-nilai seperti yang ditanamkan kepada para teroris, yaitu untuk menganiaya, mencincang, atau melakukan hal-hal jahat lainnya kepada para penganut agama lain? Atau apakah Anda menanamkan nilai-nilai kerjasama dan penghargaan di dalam diri anak Anda, terhadap penganut agama lain; menanamkan nilai-nilai kerjasama tapi tanpa mengkompromikan iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus Kristus?

Slide5
Kita masih bersyukur apabila para pembantu kita memiliki nilai-nilai yang sama dengan kita; nilai-nilai yang baik. Tapi bagaimana jikalau tidak?
Slide6

Ada ekspresi “cinta” yang nampak seperti cinta, tapi sebetulnya bukan cinta, melainkan nafsu. [Para mama pun seringkali memberi teladan yang salah dengan mengekspresikan kasih yang tidak tepat kepada anak, misalnya dengan memanjakan anak berlebihan. Ingat, sampai anak berusia 9 tahun, itu adalah masa-masa perebutan otoritas. Anda berhasil menunjukkan Andalah yang berotoritas, atau anak-anak Anda yang membuat Anda tunduk kepada mereka. Seringkali orangtua merasa telah mengekspresikan kasih yang tepat kepada anak-anaknya, padahal sebetulnya orangtua sedang menghancurkannya].

Slide7

Mama saya telah memberi teladan, yaitu mengasihi melampaui batasan diri. Seingat saya, meskipun Mama saya sibuk menolong oranglain dari pagi sampai pagi, dalam keberadaannya sebagai bidan –bahkan tidak jarang ketika ada pasien di malam hari yang membutuhkan pertolongan pun, dia akan bantu juga– seingat saya, saya tidak pernah mengeluhkan perhatiannya kepada diri saya. Sesibuk-sibuknya Mama saya, dia tetap memberikan dirinya untuk menyatakan kepeduliannya kepada anak-anaknya.

Mama saya juga memberi teladan untuk mengasihi melampaui batasan suku dan ras. Bagi kami, orang-orang dari Suku Jawa yang identik dengan sikap halus; lembut; tertutup, adalah tidak mudah bagi kami untuk menerima keberadaan orang dari suku lain yang mungkin lebih terbuka; blak-blakkan; ceplas-ceplos, untuk menjadi anggota keluarga. Namun ketika salah seorang kerabat saya hendak menikah dengan orang yang berbeda suku, sementara anggota keluarga besar kami cenderung tidak setuju atau keberatan dengan rencana pernikahan itu, orangtua saya menjadi tempat untuk orang mendapatkan pembelaan. Asalkan pernikahan itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, yaitu ketika yang dia nikahi itu seiman dan orang yang takut akan Tuhan, dan yang bersangkutan juga sudah saling cocok, mengapa kita harus menentangnya?

Selayaknya orangtua yang mempedulikan kesejahteraan anaknya, Mama saya memang pernah mengungkapkan harapannya agar anak-anaknya menikah dengan pasangan yang sama-sama berasal dari suku Jawa. Bagaimana pun orangtua tidak ingin anaknya mengalami masalah yang terlalu banyak dalam hal adaptasi dengan pasangan yang berbeda budaya. Namun Mama saya menyatakan, kalaupun akhirnya anaknya mendapatkan pasangan yang berbeda suku, ia akan tetap mendukung.

Mama saya juga memberi teladan untuk mengasihi melampaui batasan agama. Dahulu kami tinggal di wilayah Cibinong, sekarang ini menjadi ibukota Kabupaten Bogor. Di wilayah itu, mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama lain, yang seringkali bersikap sangat fanatik terhadap penganut agama lainnya. Namun tinggal di wilayah seperti itu, keluarga kami termasuk keluarga yang dihormati orang-orang di lingkungan sekitar, meskipun kami Kristen. Mengapa? Salah satunya adalah karena pengabdian Mama saya sebagai bidan, yang sangat baik. Mama saya mau menolong siapa saja pasiennya yang membutuhkan, tanpa membeda-bedakan latarbelakang agamanya.

Mama saya juga memberi teladan untuk mengasihi melampaui batasan tingkat ekonomi dan pendidikan. Dahulu kami tinggal di wilayah Cibinong, yang saat itu belum semaju sekarang. Dahulu masih banyak wilayahnya adalah hutan dan padang ilalang. Kami tinggal di wilayah yang masih bersuasana desa. Mama saya sebagai Pegawai Negeri Sipil, ditempatkan di wilayah itu untuk merintis sebuah rumahsakit yang saat ini menjadi sebuah rumahsakit besar di Cibinong. Karena waktu itu kami belum memiliki rumah sendiri, kami pun harus tinggal di bangsal rumahsakit. Dan seringkali, bangsal rumahsakit adalah tempat yang cukup angker. Jadi keluarga kami sudah mengalami gangguan-gangguan setan, meskipun karena kami anak-anak Tuhan, Tuhan tidak membiarkan setan menyentuh kami. Di tempat yang masih bersuasana desa itu, Mama saya mengabdi dengan luarbiasa melayani orang-orang desa yang miskin dan membutuhkan pertolongan, baik di rumahsakit maupun kemudian di tempat praktek pribadinya. Dan tak jarang, para pasiennya tidak sanggup membayar, dan Mama saya pun tidak memungut biaya persalinan dari mereka. Dan ada saja dari antara orang-orang desa itu membalas jasa Mama saya dengan memberikan buah-buahan atau hasil bumi.

Inilah contoh teladan-teladan yang telah Mama saya tunjukkan. Dan jangan pikir anak-anak Bapak/Ibu tidak merekam apapun teladan yang Bapak/Ibu telah tunjukkan. Perkataan dan perbuatan Bapak/ibu sekalian, sadar atau tidak sadar terekam dan ditiru oleh anak-anak. Dahulu Mama saya adalah seorang pekerja keras, dan kini saya merasakan bahwa sifat itu juga mengalir dalam diri saya, sampai-sampai terkadang isteri saya harus menegur untuk mengingatkan saya. Dahulu papa saya sering menegur anak-anak mengenai kebersihan rumah. Saya tidak suka kalau papa sudah menegur seperti itu. Namun entah bagaimana, ketika saya sudah menikah; ketika saya menegur isteri saya soal kebersihan rumah, ternyata gaya papa saya juga saya praktekkan kepada isteri saya. Saya sendiri langsung merasa heran setelahnya, “Kok, gaya saya mirip ayah saya, ya?” Jadi jangan pikir anak-anak tidak merekam teladan yang Bapak/Ibu tampilkan.

Buah kebaikan Mama saya, tidak hanya kami rasakan selama Mama saya masih hidup. Bahkan setelah Mama saya sudah meninggal dunia pun, kami, anak-anaknya masih mengalami dampak dari kebaikan Mama kepada oranglain.

Suatu ketika saya pergi ke seorang penjahit untuk menjahitkan kain. Penjahit itu mengenali saya sebagai anak Bu Bidan Rudhiasri. Dan kepada saya, ia berkata, “Aduh, orang baik seperti Bu Asri, kok, matinya cepat, ya?” Saya anggap itu sebagai sebuah pujian.

Di lain kesempatan, saya naik angkot (atau kalau di Papua disebut Taxi). Saya duduk di sebelah supir, dan saya berkata kepada supir bahwa saya akan turun di Blok A. Baru mengatakan Blok A saja, supir itu langsung mengenali saya dan bertanya, “Anaknya Bu bidan Asri, ya?” Begitu dia mengetahui saya adalah anaknya Bu Bidan Asri, ketika saya turun ia menolak untuk dibayar. Karena kebaikan hati Mama saya, bahkan ketika saya naik angkot pun, gratis; orang menolak untuk dibayar.

Slide8

Mama saya memberikan teladan bagaimana mengasihi melampaui batasan waktu. Ajarkan keterampilan-keterampilan dasar kepada anak-anak Bapak/Ibu sekalian. Para ayah, ketika Anda memperbaiki kendaraan dengan membawanya ke bengkel, sekali-kali ajaklah anak laki-lakimu dan biarkan dia melihat-lihat mesin mobil dan sebagainya. Para ibu pun dapat mengajarkan keterampilan-keterampilan dasar yang perlu kepada anak-anak perempuannya.

Dari sejak kecil, kami, anak-anak sudah dilatih bekerja mengerjakan pekerjaan rumah. Saya ditugaskan oleh orangtua saya untuk setiap pagi membersihkan; menyapu halaman rumah kami yang waktu itu masih cukup luas. Waktu itu saya sering merasa jengkel ketika pagi-pagi sudah disuruh menyapu halaman. Tapi, saya toh melakukannya juga. Ada saatnya tetangga yang melintas memuji saya dan berkata, “Aduh, Mas Teguh rajin, ya!” Itu bonus pujian dari tetangga. Hati saya pun senang. Tapi tetap saja ketika setiap pagi disuruh menyapu halaman, saya merasa jengkel dan melakukannya dengan malas-malasan.

Adik dan Kakak saya perempuan juga memiliki tugasnya sendiri dalam melakukan pekerjaan rumah. Jadi dari kecil, kami sudah diberi tanggungjawab untuk pekerjaan-pekerjaan rumah.

Meskipun orangtua saya sudah berusaha melatih saya, tapi karena saya malas-malasan, akibatnya saya rasakan juga ketika saya sudah besar. Ketika saya pemuda, saya masuk ke asrama, karena menempuh sekolah Alkitab. Di asrama, saya harus melakukan segala pekerjaan sendiri, dan tidak mungkin saya membawa Mama saya tinggal bersama-sama di asrama. Pasti malulah saya! Saya harus mencuci pakaian sendiri; melipat dan menyetrika pakaian sendiri; dan sebagainya. Tapi karena saya sebelumnya malas-malasan ketika dilatih bekerja oleh orangtua saya, hasilnya saya tidak menguasai keterampilan dasar hidup.

Suatu ketika saya mengepel lantai dengan menggunakan deterjen yang salah. Akibatnya, lantai yang saya pel menjadi putih semua. Senior saya di asrama marah-marah kepada saya. Bahkan untuk melipat pakaian pun, seorang teman memanggil saya dan mengajarkannya kepada saya. Saya masih beruntung karena saya masuk asrama yang membentuk saya. Tapi bagaimana jika anak-anak Bapak/Ibu tidak mengalami pembentukan seperti saya di asrama? Apakah mereka hanya akan bisanya mengandalkan pembantu?

Sekarang kita melihat teladan dalam Perjanjian Baru.

Slide9
Slide10

Seperti Timotius yang memiliki Lois, neneknya yang saleh, dan Eunike, ibunya yang mengasihi Tuhan, saya pun mirip demikian. Sayangnya saya tidak berhasil menyalin foto nenek saya yang saleh itu dari akun Facebook saya, karena koneksi modem saya sangat lambat. Mama saya sering menceritakan kepada saya tentang ibunya atau nenek saya, yang saleh. Dahulu sebagai laki-laki, kakek saya pernah melakukan sebuah kesalahan, namun nenek saya tetap setia kepada kakek saya, dan terus mendampingi kakek saya sampai kakek saya meninggal karena kanker. Nenek saya telah menunjukkan sebuah teladan kasih, pengampunan, dan kesetiaan yang luarbiasa. Ketika nenek saya berdoa, seperti biasa dilakukan seorang Jawa, ia berdoa dengan bahasa yang ketika kita mendengarnya, Allah itu terdengar begitu agung; sesosok Raja yang sangat dihormati.

Slide11

Mama saya telah memberikan teladan iman yang tulus ikhlas. Selepas saya menempuh pendidikan S-1 dalam bidang Jurnalistik, saya merasa terpanggil untuk melanjutkan studi untuk diperlengkapi menjadi hamba Tuhan. Saya tidak lanjut menjadi seorang wartawan, melainkan hendak menjadi ‘wartawan’-nya Tuhan. Saya pun menyatakan niat saya untuk mendaftar ke sekolah Alkitab.

Dahulu, ada masa dimana kehidupan ekonomi keluarga kami cukup baik. Tapi akhirnya, rumah lain yang kami miliki kami jual, untuk membiayai pengobatan Mama yang sedang sakit. Dalam kondisi ekonomi keluarga yang sedang turun, saya merasa terpanggil untuk melanjutkan studi ke sekolah Alkitab. Saya mencoba mendaftar ke sebuah sekolah Alkitab di Jawa Timur, tetapi saya tidak diterima. Justru teman saya yang tidak lebih pintar Alkitab daripada saya, justru diterima. Selama satu tahun berikutnya, saya hidup kecewa kepada Tuhan. Tapi kemudian saya mencoba mendaftar kembali ke sebuah sekolah Alkitab, kali ini di Jakarta. Dan studi di sekolah itu membutuhkan biaya yang cukup besar, karena lokasinya di Jakarta. Keluarga saya berat untuk mendukung saya jika biaya yang dikeluarkan besar. Tapi Mama saya memberikan teladan iman yang tulus ikhlas. Dia mengatakan, “Kalau memang ini panggilan Tuhan, kamu maju saja terus. Soal biaya, nanti Mama yang upayakan.” Berbeda dengan Mama saya, bahkan pendeta pun tidak mendukung saya, dengan alasan orang-orang di sekolah Alkitab itu, mayoritas berasal dari suku lain yang berbeda dengan saya. Ternyata, saya diterima studi di sekolah Alkitab itu. Sekolah Alkitab itu luarbiasa sekali, karena tidak membedakan suku dan ras.

Mama saya juga memberikan teladan, yaitu memperkenalkan Kitab Suci sejak saya kanak-kanak. Mama dan papa saya, mungkin sekarang ini pengetahuan Alkitabnya tidak lebih hebat dari saya. Mungkin saya lebih banyak tahu. Tetapi dalam kesederhanaan mereka mengajarkan Kitab Suci kepada kami anak-anaknya. Orangtua saya mengajarkan bahwa kita diselamatkan adalah karena iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Mama-papa saya mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah karena perbuatan baik kita, melainkan karena iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus saja. Saya mengetahui semua itu bukan setelah ada di sekolah Alkitab, melainkan dari sejak kanak-kanak.

Memang ketika saya kanak-kanak, saya cukup nakal. Saya pernah menyiksa pembantu dengan mengurung mereka di kamar mandi, lalu mengguyurnya dari atas. Sungguh melanggar Hak Azasi Manusia. Mudah-mudahan anak-anak Bapak/Ibu tidak seperti saya dahulu. Meski demikian, Mama saya tidak henti-hentinya mengajarkan Kitab Suci kepada kami.

Dahulu, di sekolah minggu, saya paling pintar dan menguasai Alkitab. Kalau guru bertanya, saya bisa menjawabnya. Tapi saya baru betul-betul bertobat ketika duduk di bangku 1 SMA. Akan ada saatnya dimana di dalam diri anak-anak Bapak/Ibu sekalian, Firman Tuhan itu tiba-tiba “klik”, menjadi begitu hidup. Mungkin setelah mereka diinjili orang tertentu; atau setelah mereka mengalami hal-hal tidak mengenakkan tertentu atau teguran Tuhan tertentu; atau karena tidak naik kelas, dan sebagainya. Kalau saya sendiri, suatu ketika seorang alumni sekolah saya menginjili saya. Dan entah bagaimana, tiba-tiba semua Firman Tuhan yang pernah diajarkan orangtua saya, menjadi “klik”; menjadi begitu hidup.

Saya pun mengalami perubahan. Saya tiba-tiba rajin mencuci piring, dan membuat orangtua saya heran. Di pagi hari, saya merapikan seprei ranjang saya sendiri, dan mungkin itu membuat mama saya heran. Karena itu, tidak percuma Bapak/ibu mengajarkan Alkitab sejak dini kepada anak-anak Anda. Akan ada saatnya dimana Firman Tuhan itu “klik”; menjadi hidup dalam diri anak-anak Bapak/Ibu sekalian.

Mama saya juga mengingatkan papa ketika kami lupa untuk ibadah keluarga. Untuk khotbah pagi ini, saya lupa menampilkan foto ketika suatu kali kami sekeluarga duduk melingkar di lantai; di hadapan kami ada sate, dan sebelum santap bersama kami bersaat teduh bersama. Pada masa itu, kami pindah rumah tiga kali, dan tiga rumah yang kami tinggali lumayan angker. Ada saja gangguan kami alami, tapi keluarga kami tidak dibiarkan Tuhan disentuh oleh Setan. Ada ibadah keluarga, dan Tuhan memberi anugerah melindungi keluarga kami.

Mama saya mengajarkan Kitab Suci yang dapat memberikan hikmat. Hikmat itu berkaitan dengan bagaimana kita hidup di dunia ini. Melalui pengajaran Kitab Suci, Mama saya mengajarkan bagaimana kami berelasi dengan oranglain atau sesama. Dan juga, seperti yang sudah saya ungkapkan tadi, Mama saya mengajarkan Kitab Suci yang dapat menuntun kita kepada keselamatan di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Ketika saya wisuda S-1, Mama saya masih mendampingi. Tapi ketika Anda melihat foto wisuda S-2 saya, Anda akan melihat papa saya mendampingi saya dengan seorang perempuan muda. Itu bukan istri muda papa saya. Itu adalah foto kakak perempuan saya. Mama saya yang mendukung saya agar saya bisa masuk ke sekolah Alkitab, telah meninggal dunia pada tahun pertama saya studi di sekolah Alkitab. Waktu itu saya ditelpon agar segera pulang ke Bogor, dan saya pun melihat Mama saya di rumah sakit telah dipasangi selang di wajahnya. Pada tahun pertama saya studi di Sekolah Alkitab, mama saya berjuang memberi dukungan kepada saya, namun setelah beliau meninggal, pada tahun kedua ada gereja yang mendukung saya keuangan hingga saya selesai studi di sekolah itu.

Mama saya juga tidak dapat hadir ketika saya menikah. Ia tidak sempat melihat istri saya yang cantik dan menawan itu.

Slide14
Mama saya juga tidak pernah sempat melihat saya berkotbah selama ia hidup. Padahal ia yang mendukung saya masuk ke sekolah Alkitab, dan ia yang mengingatkan kepada saya, bahwa dahulu ketika saya masih bayi, saya telah diserahkan kepada Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan. Mama saya tidak pernah melihat buah dari apa yang ia doakan.
Slide15

Saya merasa seperti Ishak, anak Abraham. Pada tahun ketika Mama saya meninggal, beberapa bulan kemudian saya mengenal wanita yang sekarang menjadi isteri saya. Mama saya sebetulnya menghendaki saya menikah dengan orang yang sama-sama berasal dari suku Jawa. Tetapi saya menyukai wanita Tionghoa. Dan ternyata, doa kedua-duanya dijawab. Isteri saya sekarang ini, berdarah Jawa dan Tionghoa.

Dan yang luarbiasa apa yang adik perempuan saya pernah ucapkan kepada saya. Adik saya adalah satu-satunya penerus Mama saya menjadi seorang bidan. Ia pernah berkata, “Seandainya Mama masih hidup, pasti Mama senang sekali dengan Ci Lily.” Saya memang terkadang berpikir, mengapa Tuhan tidak beri kesempatan Mama saya untuk dapat hidup lebih lama sehingga bisa mengenal isteri saya. Tapi saya percaya tidak ada yang kebetulan di dalam Tuhan, semua ada dalam penentuan Tuhan. Saya juga tidak dengan sengaja mencari jodoh yang sama sifatnya dengan Mama saya, tapi di dalam penetapan Tuhan, saya mendapatkan isteri yang sifat kerjakeras dan kebaikan hatinya, seperti Mama saya. Isteri saya seorang guru SD di sekolah lain, dan dia mendidik anak-anak yang hampir kebanyakan berasal dari latarbelakang suku dan ras yang berbeda.

Apa nilai-nilai yang Bapak/Ibu hendak wariskan kepada anak-anak Bapak/Ibu sekalian? Jangan pikir anak-anak Anda tidak merekam teladan yang Bapak/ibu tampilkan. Mungkin Ibu-ibu sekalian dapat menjadi ibu yang lebih luarbiasa lagi melampaui Mama saya, entah sebagai wanita karier maupun sebagai ibu rumahtangga. Tapi di dalam semuanya itu, ingatlah bahwa ada nilai-nilai yang harus ibu-ibu sekalian wariskan di dalam Tuhan.

(Disampaikan dalam rangka peringatan Mother’s Day International, Unit TKK Kristen Kalam Kudus Jayapura, Sabtu/19 Mei 2013)

2 thoughts on “Amsal 31:1-31 & 2 Tim.1:5; 3:15. Kenangan akan Mama

  1. sangat bagus dan menyentuh pak cahyo..sy sampe terharu membacanya..karena mama sy juga memberi teladan yg baik buat sy, walau iya telah tiada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s