Pengkotbah 9:18. Karakter Dapat Diandalkan dalam Keluarga


Nats: Pengkotbah 9:18
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Saya akan membacakan materi pengembangan karakter yang telah Ev. Evi siapkan bagi kita sebagai berikut:
Karakter dapat diandalkan di dalam keluarga mencangkup:
a. Berkomitmen untuk bertahan bersama meskipun mengalami kesulitan finansial dan konflik pribadi.
b. Orangtua mewujudkan kesetiaan dengan tetap pergi bekerja dan mencari penghasilan bagi keluarga.
c. Anak-anak menyelesaikan pekerjaan rumah mereka setiap hari.
d. Menolong anggota keluarga menghindari komitmen yang tidak mampu mereka penuhi.
e. Saling menjaga dan melindungi dari hal-hal yang akan merusak: Secara fisik maupun rohani.
f. Anggota keluarga memenuhi janji kepada satu sama lain.

Saya mencoba memikirkan bagian Firman TUHAN apa yang dapat kita renungkan dalam kaitannya dengan topik pagi ini, dan saya mengajukan Pengkotbah 9:18 sebagai bahan perenungan kita. Di bawah judul perikop yang berbunyi ‘Hikmat Lebih Baik daripada Kuasa‘, ayat 18 menyatakan, “Hikmat lebih baik daripada alat-alat perang, tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.

Sebelum kita merenungkan ayat ini lebih lanjut, saya hendak menjelaskan bahwa secara umum, orang berpendapat bahwa ada tiga tahapan perkembangan kedewasaan seseorang.

Pertama, tahap bergantung (dependence). Ini adalah tahap yang dihidupi kanak-kanak. Mereka sangat bergantung pada oranglain dalam banyak hal; makan perlu disuapi; mandi perlu dimandikan; dsb.

Tahap kedua adalah tahap mandiri (independence). Ini adalah tahap orang dewasa. Orang dewasa dalam tahap ini mampu mengerjakan banyak hal sendirian. Namun orang kemudian menemukan bahwa banyak orang kemudian merasa terlalu mandiri, dan menjadi sombong, merasa tidak perlu bantuan oranglain. Mereka pun berubah menjadi orang dewasa dengan pribadi kekanak-kanakkan. Karena itu orang memikirkan ada tahap ketiga, yaitu tahap mutual interdependency (saling bergantung namun saling menguntungkan).

Orang dengan tahap mutual interdependency adalah orang dewasa yang di satu sisi dapat bersikap mandiri, namun di sisi lain tetap sadar bahwa dirinya membutuhkan oranglain. Ia menjadi pribadi yang bisa bekerja sama dengan oranglain.

Topik pengembangan karakter yang kita bahas hari ini terfokus secara khusus kepada keluarga; suatu kelompok masyarakat yang kecil, namun lebih dari satu orang. Dalam kelompok kecil ini, anak harus belajar mengembangkan sikap mampu diandalkan dalam banyak aspek. Mereka harus dilatih menjadi orang yang memiliki kemampuan bekerjasama atau mutual interdependency. Dan dari sedari kecil, kita sudah melatihnya.

Satu hal yang perlu berkali-kali diingat-ingat adalah terkait sikap anak-anak ketika memasuki ruang ibadah. Meskipun guru terlambat mendampingi, anak-anak harus terus dilatih agar mereka sanggup bersikap tertib. Kita orang tua saja masih perlu diingatkan berulang-ulang, apalagi anak-anak. Kita harus terus mengingatkan mereka agar dapat diandalkan untuk bersikap sopan dalam ruang ibadah.

Ketika kita menyampaikan materi pengembangan karakter ini kepada mereka, kita mungkin dapat juga menceritakan ilustrasi berikut ini:

Seorang penjual vaccum-cleaner pergi ke sebuah desa di pinggir kota. Di sana ia menjual produk vaccum-cleanernya kepada seorang ibu. Kepada ibu itu ia mengatakan bahwa vaccum-cleaner ini sangat hebat dan kuat. Bahkan seandainya saja si penjual tidak memeganginya, vaccum-cleaner ini tidak hanya akan menyedot debu di ruangan ibu itu, tetapi juga bahkan karpet-karpet ibu itu pun akan tersedot.

Belum lagi ibu itu meresponi kata-kata si penjual, penjual vaccum-cleaner itu sudah menyatakan lagi bahwa ia akan mendemonstrasikan kehebatan vaccum-cleaner yang dijualnya. Ia lalu mengambil debu dan menebarkannya di atas karpet ibu itu. Belum selesai, ia pun merogoh kantung bajunya dan menebarkan sampah di atas karpet ibu itu. Dengan percaya diri, penjual itu menjanjikan bahwa jika mesin vaccum-cleanernya tidak berfungsi seperti yang ia janjikan, ia akan memakan semua debu dan kotoran di atas karpet itu dengan sendok.

Ibu itu pun kemudian memandang tajam kepada si penjual. Lalu ibu itu berkata, “Nah, kalau begitu mulailah memakan debu dan kotoran itu dengan sendok, karena rumah saya tidak ada aliran listriknya!” (Dengan kata lain, vaccum-cleaner itu tidak dapat dicoba karena tidak ada arus listrik di rumah itu).

Tentu saja, kalau si penjual itu dapat diandalkan, ia seharusnya menepati janjinya untuk memakan debu dan kotoran di atas karpet ibu itu. Dari ilustrasi ini, anak-anak kita ajar agar mereka dapat berhati-hati dengan janji yang mereka buat, agar mereka dapat hidup sebagai orang yang dapat diandalkan.

Ayat yang kita baca tadi menyatakan, “tetapi satu orang yang keliru dapat merusakkan banyak hal yang baik.” Anak-anak harus diajar untuk sadar bahwa ketika orangtua telah menciptakan suatu sistem rumahtangga yang baik, maka anak-anak harus berhati-hati dalam bertingkahlaku, karena satu saja anggota rumahtangga yang keliru, dapat merusakkan banyak hal baik yang telah dibangun oleh orangtua. Kalau orangtua punya anak tiga, berarti ada tiga potensi kekeliruan yang dapat merusak semua hal baik dalam rumahtangga. Anak-anak harus belajar untuk menjadi pribadi yang dapat diandalkan oleh orangtua mereka, dan mengembangkan sikap saling bergantung yang saling menguntungkan antara anggota keluarga.

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi Guru Unit SDK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/16 Mei 2013).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s