Mazmur 78:72 & Kolose 2:13. Melayani TUHAN dengan Gairah


Nats: Mazmur 78:72 & Kolose 2:13
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dalam persekutuan rohaniwan yang akan kita laksanakan setiap bulan pada waktu-waktu ke depan ini, kita akan bersama-sama mendiskusikan sebuah buku yang memang ditujukan secara khusus bagi para pendeta [bagian yang saya muat dalam blog ini hanyalah bab-bab yang saya sampaikan saja. Jadi tidak seluruh isi buku]. Mungkin ada poin-poin yang bisa jadi kita tidak setuju dari isi buku ini, tapi secara umum buku ini menyampaikan hal-hal penting yang perlu mendasari pelayanan seorang pendeta/rohaniwan.

Berikut ini biodata penulis buku ini:

Slide2

Berikut ini saya kutipkan beberapa komentar yang menarik tentang isi buku ini:

Slide3

Slide4

Ayat kunci yang mendasari isi buku ini – sebagaimana juga tercermin dari judul buku ini – adalah:

Slide5

Adapun daftar isi dari buku ini adalah seperti berikut ini. Secara bergantian, kita akan memimpin diskusi bab demi bab dari isi buku ini.

Slide6

Dalam Bab 1 ini, kita akan secara khusus membahas terlebih dahulu, hal paling mendasar dan yang sangat penting bagi pelayanan kita, yaitu relasi pribadi kita dengan Allah.

Slide7

Slide8

Slide9

Slide10

Orang mengatakan bahwa dalam sebuah relasi yang terpenting adalah kualitas, dan bukan kuantitasnya. Namun ada pula oranglain yang menyatakan bahwa pernyataan seperti ini adalah omong kosong. Untuk memiliki kualitas, Anda harus memberikan kuantitas yang cukup dalam berelasi. Bagaimana pun manusia adalah mahluk sosial.

Slide11

Slide12

Slide13

Slide14

Slide15

Slide16

Slide17

Seorang rohaniwan bukannya tidak boleh mencari bantuan dari internet. Hal itu sah-sah saja, misalnya jika Anda membutuhkan bantuan tafsiran Alkitab untuk menggali isi Alkitab yang harus Anda kotbahkan. Namun satu hal penting disini adalah, jangan hanya menyalin begitu saja isi kotbah di internet, tanpa kita sendiri mengolah dan menggumulinya.

Tidak semua orang memiliki karunia seperti yang saya miliki. Ketika saya membaca satu bagian Alkitab, saya dapat dengan cepat menemukan pola-pola dan hal-hal baik yang dapat saya jadikan penekanan untuk kotbah saya, tanpa saya harus membaca buku tafsiran ini dan itu. Itu terjadi karena pengetahuan dalam pikiran saya sudah terkristal sedemikian rupa, sehingga saya tinggal mengeluarkannya saja. Tapi ini bukan berarti bahwa persiapan tidak penting. Bahkan ada diantara kita yang membutuhkan waktu persiapan lebih panjang. Tapi ini juga tidak membuat kita memiliki alasan untuk menjadi tidak siap ketika mendadak harus berkotbah. Karena itu, Pdt. Bambang pernah memberi saran yang baik, yaitu untuk kita memiliki catatan saat teduh yang baik, agar sewaktu-waktu, catatan yang ada dapat menjadi bahan khotbah, jika kita diminta khotbah mendadak.

Slide18

Slide19

Slide20

Slide21

Saya sendiri memiliki pengalaman bahwa seringkali, jemaat awam memiliki cangkir rohani yang lebih melimpah daripada yang ada pada pendeta-pendeta. Salah seorang jemaat kita; seorang janda; pernah bersaksi bahwa dahulu ia – sementara menjaga toko – pernah berjumpa dengan seorang Hakim. Mentaati gerakan Roh Kudus dalam hatinya, janda ini pun kemudian memberi nasehat-nasehat rohani kepada Hakim itu, yaitu agar Hakim itu menjadi pejabat yang jujur dan adil. Hakim itu mengira janda ini adalah seorang pendeta. Janda ini berterus-terang bahwa ia hanyalah jemaat biasa saja. Tapi Hakim itu tetap tidak percaya, dan mengira bahwa janda ini adalah seorang rohaniwan. Seringkali, seorang awam bisa lebih kelihatan lebih rohani ketimbang kita yang berstatus rohaniwan. Seorang awam terkadang bisa lebih melimpah menyampaikan Firman Tuhan kepada orang-orang lain yang ditemuinya.

Slide22

Terus-terang, saya telah kehilangan banyak sensitifitas terhadap Allah dibandingkan dengan ketika saya awal-awal lahirbaru. Dahulu ketika saya baru bertobat, yaitu di masa remaja, saya begitu sensitif dengan Tuhan. Di pagi hari saya bisa berdoa berjam-jam. Saya menjadi begitu radikal menjadi murid Yesus. Ketika ada pendeta berkotbah di mimbar, saya pasti akan mendoakannya. Kini, bahkan ketika rekan sesama rohaniwan saya berkotbah, jarang sekali saya mau untuk mendoakannya.

Dahulu, bahkan sampai kepada hal-hal terkecil, saya begitu ekstrim. Saya rela berjalan jauh demi dapat menyeberang di tempat di mana ada zebra-cross; saya selalu membawa pakaian ganti dan payung kemana-mana sebagai tanda kesiapan menyambut perubahan cuaca yang tak terduga; dalam hal membuang sampah pada tempatnya saya sangat disiplin. Bahkan, saya begitu kelihatan salehnya, sampai-sampai seorang teman perempuan saja merasa kaget dan tidak percaya, ketika saya mengaku bahwa saya menyukai/naksir seseorang. Ia pikir saya ini sudah seperti malaikat; sangat holy; ada lingkaran basket di atas kepala saya. Begitu kudusnya! Tapi Alkitab mengingatkan kita Saudara-saudara, janganlah engkau terlalu saleh, tapi juga jangan terlalu fasik. Jadi orang Kristen jangan ekstrim! Wajar-wajar saja, tapi tetap radikal! Buku ini mengingatkan kita semua untuk kembali pada hal-hal mendasar dalam kehidupan kita.

Slide23

Slide24

Slide25

Slide26

Slide27

Slide28

Slide29

Slide30

Bagian terakhir dari setiap bab dalam buku ini, terdapat pertanyaan-pertanyaan yang dapat Anda diskusikan dengan rekan-rekan sekerja Anda di gereja masing-masing.

(Disampaikan dalam Persekutuan Rohaniwan Pusat dan Pos PI Gereja Kristen Kalam Kudus Jayapura, Senin/7 Mei 2013)

One thought on “Mazmur 78:72 & Kolose 2:13. Melayani TUHAN dengan Gairah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s