1 Korintus 14. Karunia untuk Berkata-kata dengan Bahasa Roh


Nats: 1 Korintus 14.
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Di kalangan gereja tertentu kita menjumpai fenomena adanya orang-orang yang –menurut mereka– mendapatkan karunia untuk berkata-kata dengan Bahasa Roh. Saya sendiri (dan isteri) bertobat dan menyerahkan diri (percaya) kepada Tuhan Yesus melalui pelayanan dari orang-orang Kristen yang “getol” mempraktekkan “karunia bahasa Roh.” Saya pribadi mengaku PERNAH berdoa dengan berkata-kata dalam satu bahasa yang orang tidak pahami; suatu perkataan-perkataan yang mungkin di kalangan Kristen tertentu disebut sebagai “karunia bahasa Roh.”

Saya sendiri melihat ada dua masalah yang menjangkiti gereja-gereja di seluruh dunia terkait dengan karunia berkata-kata bahasa Roh ini:

1. Banyak gereja-gereja yang anti terhadap bahasa Roh dan menganggap bahasa Roh sudah tidak ada lagi di zaman ini.

2. Sebaliknya, banyak gereja-gereja yang mempraktekkan karunia bahasa Roh dengan SANGAT TIDAK TERTIB dan MENYALAHGUNAKANNYA, misalnya dengan menjadikannya sebagai ukuran dari kerohanian seseorang atau mengajarkannya sebagai sebuah rumusan yang dihafalkan. Studi saya atas kitab suci membuktikan bahwa apa yang dipraktekkan gereja-gereja tersebut juga keliru!

Ada hal-hal yang perlu saya tekankan berkenaan dengan topik Bahasa Roh ini:

1. “Bahasa Roh/lidah” (Yun.: glossolalia) adalah “salah satu karunia rohani.” Artinya: Bahasa Roh adalah pemberian cuma-cuma dari Allah Roh Kudus; Perhatikan frasa, “Roh memberikan” (1 Kor.12:4 – 6, 8, dst.).

2. Dan bahasa Roh hanya SALAH SATU dari banyak karunia lainnya. Jadi, ada banyak karunia dan terserah Roh Kudus hendak memberikan karunia yang satu atau karunia yang lain kepada siapa pun yang Ia kehendaki. Kita dapat mengusahakan (misalnya dengan meminta) karunia ini, tapi itu semua terserah kepada Sang Pemberi. Karunia bahasa Roh BUKANLAH karunia wajib yang harus dimiliki oleh semua orang-orang Kristen.

Seperti apakah “karunia bahasa Roh” itu?

1. Karunia bahasa Roh ditujukan kepada Allah, dan bukan kepada manusia (1 Kor.14:2).

2. Ketika seorang jemaat berdoa dengan menggunakan karunia bahasa Roh, tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya, karena oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia (1 Kor.14:2). Kalaupun ada yang menafsirkan bahasa Roh sehingga dipahami dan membangun jemaat, TETAP yang menjadi sasaran dari doa tersebut adalah Allah, bukan manusia! Sekali lagi: Berdoa dalam bahasa Roh ditujukan kepada Allah, dan bukan kepada manusia!

3. Ketika seseorang berdoa dengan menggunakan karunia bahasa Roh, ia berdoa dengan rohnya, tetapi bukan dengan akal-budinya (1 Kor.14:14). Bagian ini menyiratkan kepada kita bahwa karunia bahasa Roh TIDAK BISA dihafalkan atau diajarkan!!! Karunia bahasa Roh BUKAN mantra!

Ada dua bentuk karunia bahasa Roh:

1. Bahasa asing tapi masih merupakan bahasa dari salah satu suku bangsa yang ada di dunia (Kis. 2:4, 8 – 11).

2. Bahasa asing yang tidak ada sama sekali di dunia ini. Seorang sarjana Alkitab bernama Gordon D. Fee menyatakan bahwa kemungkinan yang ada di Jemaat Korintus adalah bahasa dalam jenis ini; suatu bahasa yang dapat dikategorikan sebagai “bahasa malaikat” (1 Kor.13:1). Walaupun ada juga pandangan yang menyatakan bahwa ungkapan “bahasa malaikat” disini adalah ungkapan hiperbola/melebih-lebihkan untuk menekankan pentingnya kasih. Namun melihat dari konteks perikop sebelum dan sesudahnya, nampaknya pandangan Gordon D. Fee bisa kita terima.

Penerima karunia bahasa Roh adalah orang-orang Kristen, atau tepatnya orang-orang yang telah mengaku percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus (1 Kor.12:1 – 3); orang-orang yang statusnya adalah “anak-anak Allah” (Gal.4:6; Roma 8:15). Jadi, orang-orang yang beragama bukan Kristen, tidak dapat dikatakan memiliki karunia rohani. Itu sebabnya, setelah para rasul menginjili sekelompok orang, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus itu menunjukkan tandanya dengan mempraktekkan karunia bahasa Roh (Kis.10:46 dan Kis.19:6). Data ini dapat memberi petunjuk kepada kita bahwa karunia rohani hanya diberikan kepada mereka yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, apapun latarbelakang suku mereka (Yahudi maupun non-Yahudi).

Ketika kita berbicara tentang “karunia bahasa Roh/lidah,” kita berbicara dalam konteks “DOA” (1 Kor.14:14). Ada beberapa hal penting terkait dengan doa:

1. Orang Kristen harus senantiasa berdoa di dalam Roh Kudus (1 Tes. 5:16 – 18; Efesus 6:18). Perhatikan, ayat ini TIDAK mengatakan bahwa “kita harus senantiasa berdoa di dalam karunia bahasa Roh.” Berdoa dengan menggunakan karunia berkata-kata bahasa Roh hanyalah SALAH SATU WUJUD dari “berdoa di dalam Roh Kudus,” tapi bukan SATU-SATUNYA WUJUD yang harus ada.

2. Berdoa di dalam keheningan (berdiam diri) pun bisa merupakan wujud berdoa di dalam Roh Kudus (Roma 8:26 – 27). Ada saatnya persoalan hidup begitu menekan jiwa kita, sampai-sampai untuk berkata-kata pun kita tidak sanggup. Pada saat seperti inilah, dalam “diamnya kita,” Roh Kudus di dalam hati kita berdoa untuk kita kepada Allah Bapa di sorga.
Lalu apa artinya berdoa “di dalam Roh Kudus”? Artinya: Kita berdoa sesuai kehendak Allah (bdk. Roma 8:27).

Apa tujuan Allah Roh Kudus memberikan karunia ini? Untuk kepentingan bersama; untuk membangun tubuh Kristus (1 Kor.12:7, 12; 1 Kor.14:26). Namun demikian perlu kita ingat lagi, frasa “untuk kepentingan bersama” tidak berarti bahwa tujuan dari doa yang menggunakan bahasa Roh itu adalah manusia! Sekali lagi, bukan! Tujuannya tetaplah Allah! Hanya saja, oranglain yang mendengarnya dan kemudian mendengar tafsiran atas bahasa Roh itu, dapat menjadi terbangun, walaupun ucapan-ucapan doa itu tidak ditujukan kepadanya, melainkan kepada Allah!

Kalau kita menerima karunia berdoa dalam bahasa Roh, kita dapat belajar meneladani Paulus, yaitu:

1. Mengucap syukur kepada Allah (1 Kor.14:18);

2. Berdoa supaya kepada kita juga diberikan karunia untuk menafsirkan karunia bahasa roh itu sehingga jemaat dapat dibangun (1 Kor.14:5, 13);

3. Jika dalam perkumpulan jemaat kita mendapatkan karunia bahasa Roh, karunia itu harus diekspresikan secara tertib (bergantian), batas maksimal orang yang bisa menyampaikannya adalah tiga orang (1 Kor.14:27). Jadi, orang TIDAK BOLEH mengucapkan bahasa Roh beramai-ramai seperti yang dipraktekkan gereja-gereja tertentu di masa sekarang ini.

4. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkan bahasa Roh, hendaklah orang yang mendapat karunia bahasa Roh itu berdiam diri dalam pertemuan jemaat, dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah (1 Kor.14:28). Pada prinsipnya Paulus mengajar kita agar dalam pertemuan jemaat, kita harus “lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa Roh” (1 Kor.14:19).

5. Jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan tertib (1 Kor.14:39 – 40). Salah satu bentuknya, dalam pertemuan jemaat tidak boleh ada orang yang berbahasa Roh secara bersamaan atau lebih dari tiga orang! Tidak boleh demikian.

6. Karunia Roh Kudus BUKANLAH karunia yang paling utama untuk dikejar (1 Kor.14:1). Paulus mengatakan bahwa ada karunia lain yang lebih utama untuk dikejar, yaitu karunia bernubuat.

7. Karunia-karunia rohani BUKANLAH jalan yang paling utama bagi orang Kristen (1 Kor.12:31). Jalan yang paling utama bagi orang Kristen adalah KASIH (Yun.: Agape). Kasih adalah salah satu aspek dari BUAH ROH (Gal.5:22 – 23). Jadi, orang Kristen harus mengutamakan BUAH ROH ketimbang KARUNIA ROH. Mengapa “kasih” adalah jalan yang utama? Karena karunia bahasa Roh akan lenyap ketika Yang Sempurna (Tuhan Yesus Kristus) datang dan kita melihat muka dengan muka dengan-Nya (1 Kor.13:8 – 12). Tetapi kasih tidak berkesudahan.

Kesimpulan:

1. Karunia bahasa Roh masih ada dan baru akan lenyap ketika Tuhan Yesus datang kembali ke dunia.

2. Karunia bahasa Roh harus dipraktekkan secara sopan dan tertib.

3. Yang terutama harus dikejar orang Kristen adalah BUAH ROH, secara khusus KASIH.

(Disampaikan dalam Ibadah Tunas Remaja GK Kalam Kudus, Jayapura, Minggu, 20 November 2011)

2 thoughts on “1 Korintus 14. Karunia untuk Berkata-kata dengan Bahasa Roh

  1. Sepertinya ada pertanyaan menggelitik dihati, sehingga kitong mau tanya, menurut bapak adakah perbedaan yang jelas antara Karunia berbahasa Roh dan berbahasa Roh.

    • Secara umum, seluruh hidup kita adalah karunia (pemberian). Diantara seluruh karunia Allah, ada pemberian2 khusus yg hanya diperoleh oleh Gereja Human (orang2 percaya/Kristen), yaitu karunia2 Roh, yg bertujuan membangun tubuh Kristus, diantaranya: Karunia Berbahasa Roh. Orang yang mempraktekkan karunia ini, secara singkat disebut “berbahasa Roh,” yaitu pada titik ketika ia sedang mempraktekkan karunia itu. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s