Matius 26:30. Persembahan dan Pelayanan Musik bagi TUHAN (Bagian Kedua)


Nats: Matius 26:30
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Dalam pertemuan pertama, kita belajar bahwa dalam Matius 26:30 dicatat bahwa Yesus menyanyikan nyanyian pujian bersama-sama murid-muridNya. Yesus tetap memuji Allah BapaNya, bahkan meskipun Ia tahu bahwa setelah itu Ia akan menderita. Yesus bernyanyi bukan untuk egoisme diri, melainkan jelas tujuannya, yaitu kepada Allah BapaNya. Inilah salah satu hal yang akan kita pelajari dalam pertemuan kedua ini.

Apa itu ibadah? Untuk memahami apa itu ibadah, Bob Kauflin menulis bahwa kita harus menjawab tiga pertanyaan berikut ini:
1. Siapa kita di hadapan Allah? Orang berdosa yang sangat berdosa, dan memerlukan penebusan dari Tuhan. Ketika Yesus mati di kayu salib, Ia menebus kita sehingga murka Allah pun tidak akan menimpa kita. Ia menyelamatkan kita, bahkan memperhitungkan kebenaranNya ke atas kita.
2. Siapa yang kita kasihi? Apakah kita mengasihi Allah, di dalam Kristus Yesus, yang telah beranugerah menyelamatkan kita bukan karena kebaikan kita, namun karena kemurahan hatiNya? Ataukah kita memiliki berhala lain yang hendak kita sembah? Uang, jabatan, diri kita sendiri, pengakuan oranglain, dsb.
3. Tujuan hidup? Kita beribadah karena tujuan hidup kita adalah menikmati dan memuliakan Allah selama-lamanya (lihat pertanyaan pertama Katekismus Westminster).

Bob Kaflin juga menjelaskan tentang tugas kehormatan para pemimpin ibadah:
1. Menolong orang-orang untuk bersyukur dan memusatkan perhatian mereka kepada Yesus, Juruselamat, yang tiada bandingnya, yang sudah mati menggantikan kita, yang sudah menaklukkan dosa, maut, dan kematian kekal.
2. Menolong orang-orang mencapai tujuan mereka diciptakan, yaitu menyembah dan memuliakan Allah yang hidup. Seperti ditulis Kauflin, “Dan ibadah bermakna bagi setiap pemimpin ibadah karena tidak ada kehormatan yang lebih tinggi daripada memimpin orang-orang untuk menatap kebesaran Allah.”
3. Menolong orang-orang untuk belajar kebenaran tentang Tuhan; belajar doktrin (apa yang diajarkan) dan teologi (belajar tentang Tuhan). Seandainya suatu saat Anda bertemu dengan tetangga. Tetangga itu memuji-muji anak Anda. Dia mengatakan, “Wah, Calvin itu hebat, ya! Pintar memainkan piano; suka membaca puisi; dan sangat pendiam.” Padahal kenyataannya, anak Anda yang bernama Calvin itu justru tidak bisa main piano sama sekali; lebih senang berolahraga ketimbang membaca (apalagi baca puisi); dan merupakan sosok yang ceria, bukannya pendiam. Tapi tetangga Anda terus saja memuji Calvin dengan “doktrin di otaknya” bahwa Calvin adalah anak yang terampil memainkan piano; suka membaca puisi; dan sangat pendiam. Doktrin tetangga Anda tentang Calvin salah. Mungkin Anda menghormati tetangga Anda, tetapi tentu Anda akan lebih senang jika tetangga Anda memiliki doktrin yang benar tentang Calvin. Jadi kita lihat, bahwa doktrin tetap penting. Menyatakan suatu kebenaran apa adanya adalah penting.

Ada tiga hal yang harus diingat oleh para pemimpin ibadah:
1. Jangan mencuri kemuliaan Tuhan. Bob Kauflin menulis, “Jangan menggenggam sesuatu pun bagi diri Anda. Ini satu-satunya cara hidup yang berkenan bagi seorang pemimpin ibadah.”
2. Hati-hati dengan berhala yang mengancam setiap pemimpin ibadah, sebagaimana tercermin dalam kalimat Bob Kauflin berikut ini, “Hidup saya sarat upaya untuk menarik perhatian orang-orang terhadap talenta, keahlian, dan usaha yang saya kerahkan.” Kauflin menulis lagi, “…yang paling perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin ibadah bukan soal mempersiapkan lagu, menciptakan aransemen musik yang kreatif, atau memiliki alat musik tercanggih. Hal yang paling perlu diperhatikan ialah keadaan hatinya.
3. Jangan hanya mempersiapkan pengetahuan dan skill Anda! Bob Kauflin menulis, “Tantangan Anda yang terbesar berkaitan dengan apa yang Anda sendiri bawa ke mimbar setiap Minggu. Hati Anda.”

Tugas Pemimpin Nyanyian Jemaat terkait dengan latihan:
1. Sadar bahwa latihan bersama pemusik itu penting. Peran musik dalam mengiringi nyanyian ibadah sangat penting untuk membangun suasana ibadah. Namun iringan musik dapat pula merusak suasana ibadah bila tidak disiapkan dengan baik. Itu sebabnya, latihan itu penting!
2. Berdoa; meminta pimpinan Tuhan untuk pelayanan yang akan dikerjakannya, supaya mempermuliakan nama Tuhan dan membangun jemaat.
3. Bersama pemusik memilih instrumen yang tepat untuk lagu tersebut. Ingat tidak semua nyanyian perlu atau dapat diiringi dengan alat musik organ, piano, atau gitar. Juga tidak semua nyanyian dapat diiringi dengan band. Ada cukup banyak nyanyian jemaat yang jauh lebih indah jika dinyanyikan oleh Paduan Suara saja, atau secara a cappella (tanpa iringan), atau hanya dengan iringan perkusi sederhana.
4. Melatih diri untuk menyanyi sesuai tempo sebenarnya dari suatu nyanyian jemaat. Tempo adalah cepat lambatnya sebuah lagu dinyanyikan. Sebetulnya, tempo nyanyian jemaat tidak ditentukan oleh pemain musik, pemandu nyanyian, atau bahkan oleh jemaat, melainkan oleh lagu itu sendiri. Namun pada prakteknya, tempo ditentukan juga oleh akustik gedung gereja (berapa panjang gaungnya) dan besar-kecilnya jemaat. Semakin panjang gaung suatu ruangan dan semakin besar jumlah jemaat, semakin lambat temponya, juga sebaliknya. Karena itu, yang paling utama dalam penentuan tempo adalah syair dan karakter lagu. Apakah syairnya merupakan pujian, doa, atau ratapan? Pesan apa yang ingin disampaikan? Dalam hal ini, pemimpin nyanyian jemaat maupun pemusik harus memahami lebih dahulu lagu-lagu yang akan dinyanyikan, sehingga keindahan dan kemegahannya dapat ditampilkan dengan baik.
5. Jantung dari musik adalah Pengalimatan. Hal ini berhubungan erat dengan pengalimatan (frasering) dan memberi kesempatan kepada umat untuk mengambil nafas di akhir tiap kalimat. Jika pengiring tidak memberi kesempatan untuk mengambil nafas saat menyanyi, umat terengah-engah. Pesan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan baik. Frasering adalah cara untuk mengungkapkan kalimat (musik) tersebut, sehingga musik menjadi lebih hidup dan dapat dimengerti. Jika kita mengerti isi dari syair tersebut, maka kita dapat merenungkan dan menyimpannya dalam hati.
6. Perhatikan tonalitas. Tonalitas adalah nada dasar dari tiap lagu. Tidak memperhatikan hal ini, dapat merusak suasana ibadah. Tentang penggunaan nada dasar juga terindikasi dalam Mazmur 6:1 dan 12:1, yaitu dalam frasa, “Lagu yang ke delapan” (Ibrani: benninot al-hasminit).
7. Perhatikan intro. Intro menentukan kapan umat mulai menyanyi. Intro harus dimainkan sesuai tempo yang tepat dan jemaat harus menyanyi dengan tempo yang sama. Intro tidak boleh terlalu panjang atau terlalu pendek (umumnya tidak kurang dari 2 bar, dan tidak lebih dari 4 bar). Biasanya intro merupakan gabungan dan cuplikan awal lagu (untuk mengingat jemaat tentang melodi lagu tersebut) dan cuplikan dari akhir lagu (agar jemaat mudah memulainya). Sebaiknya intro dimainkan secara sederhana, karena apabila terlalu rumit, akan menyulitkan jemaat.
8. Perhatikan interludium. Interludium (atau biasa disebut saja interlud) adalah jembatan yang menghubungkan antara bait yang satu dengan lainnya. Fungsinya untuk:
1) Mengisi kekosongan jika syair nyanyian sudah selesai padahal petugas kolekte belum selesai mengumpulkan kolekte;
2) Untuk memberikan kesempatan umat beristirahat (mengambil nafas) ketika menyanyikan nyanyian-nyanyian yang panjang dengan nada-nada tinggi;
3) Digunakan ketika pemusik hendak menaikkan ketinggian nada.
Jangan asal memenggal bait dari nyanyian yang dinyanyikan berdasarkan kebiasaan saja. Kalau syair nyanyian tersebut berkaitan dari bait 1 hingga bait 3, maka jangan asal penggal saja sebelum bait 3.

9. Pemimpin nyanyian jemaat perlu mengingatkan pemusik agar volume alat musik elektronik, tidak mendominasi nyanyian jemaat. Volume musik yang terlalu keras akan membuat umat berteriak dalam menyanyi, atau sebaliknya membuat jemaat diam karena mereka tidak bisa mendengar suaranya. Para pemain musik perlu menyadari fungsinya sebagai pengiring, bukan “artis” yang perlu ditonjolkan kemampuan musiknya. Pemusik perlu menolong umat agar dapat memuji Tuhan dengan baik. Besar kecilnya ruangan sangat perlu diperhatikan. Dalam ruangan kecil, tidak diperlukan suara iringan musik yang keras.

Tugas Pemimpin Nyanyian Jemaat ketika memimpin menyanyi di hadapan jemaat:
1. Berdoa syukur bersama-sama seluruh pelayan ibadah sebelum dan sesudah ibadah.
2. Perhatikan motivasimu! Anda bertugas “memimpin jemaat bernyanyi” bukan untuk tampil solo bak artis, atau untuk pamer kemampuan bernyanyi atau memimpin, dan juga bukan untuk berkotbah.
3. Perhatikan ketegasan dan kejelasan suara, serta isi pesanmu. Sebagai pemimpin, suara Anda harus tegas, jelas, dan memotivasi. Ingat tugas Anda adalah memimpin. Anda melupakan hal ini, berarti Anda berdosa membuang waktu jemaat dengan ibadah yang tidak tertib, dan justru memancing jemaat untuk berolok-olok dan menghina Tuhan melalui perilaku mereka. Nada suara yang pertama kali keluar dari mulut Anda harus meyakinkan dan mantap, karena hal ini sangat penting dan menentukan.
4. Mengajak/memotivasi jemaat dengan kalimat-kalimat positif. Lakukan, misalnya, dengan membacakan Mazmur 117, “Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!” Jangan mengancam, menyindir, atau merendahkan jemaat.
5. Tersenyumlah, tapi jangan bermain-main senyum kepada jemaat; jangan terlalu banyak menoleh-noleh ke arah pemain musik atau layar power point, dan jangan hanya menunduk malu. Terlalu sering atau terlalu lama menunduk menyiratkan ketidakjujuran dan keragu-raguan.
6. Perhatikan bahasa tubuh. Jangan berdiri dengan miring dan malas-malasan. Jangan melipat tangan sebelah atau keduanya, di depan perut. Jangan berkacak pinggang. Biarkan tangan Anda terbuka, luwes, tidak ragu mengangkat tangan. Perhatikan cara bertepuk tangan Anda, karena bisa ditiru jemaat.
7. Apabila diperlukan, beritahukan secara singkat sejarah munculnya sebuah nyanyian.
8. Mengajarkan kepada jemaat bagaimana caranya menyanyikan nyanyian yang sulit atau lagu baru, dengan baik dan benar, sehingga maksud dan pesan yang ingin disampaikan oleh nyanyian tersebut dapat tercapai. Sebaiknya dilakukan di awal sekali, 5 menit sebelum kebaktian dimulai (sebelum saat teduh). Ketika ibadah sudah berlangsung, dan jemaat salah menyanyikan nyanyian, Anda dapat menghentikan jemaat dan mengajarkan yang benar.
9. Apabila Pemimpin Nyanyian Jemaat memutuskan untuk memimpin menyanyikan hymne, sebaiknya bait yang dinyanyikan tidak melompat-lompat, misalnya dari bait 1, melompat ke bait 3, dst. Jika baitnya cukup banyak, pemimpin jemaat untuk menyanyikannya dengan variasi, misalnya bait 1 dinyanyikan oleh seluruh jemaat, bait 2 oleh kaum perempuan, bait 3 oleh kaum pria, bait 4 oleh paduan suara, bait 5 kembali oleh seluruh jemaat. Sebetulnya ini juga berlaku untuk semua nyanyian. Hati-hati pengulangan kalimat terakhir lagu. Pemenggalan kalimat harus tepat, kalau tidak dapat terjadi seperti berikut ini, “Keluarga Kerajaan Allah” menjadi “Keluarga Kera…; Keluarga Kera…; Keluargaan Kerajaan Allah!
10. Merangkap fungsi sebagai Master of Ceremony (MC), yaitu memimpin jalannya acara mengikuti susunan acara berikut ini:
1) Perkenalkan nyanyian baru dan mengajarkannya kepada jemaat (kalau ada). Manfaatkan lima menit sebelum mulai ibadah.
2) Saat teduh. Jemaat berdiam diri, mempersiapkan diri, sambil diiringi instrumental musik. Iringan musik ini disebut preludium. Musik yang dimainkan hendaknya bersifat tenang dan meditatif.
3) Votum dan salam. Votum adalah sebuah pernyataan iman bahwa kalau kita masih dapat beribadah pada hari ini, maka itu semua adalah karena pertolongan Tuhan. Biasanya terambil dari Mazmur 124:8, “
Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Lalu dilanjutkan dengan salam, yang biasanya seperti yang terdapat dalam 1 Kor.1:3, “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.
4) Untuk mengawali ibadah, pilihlah nyanyian yang mengajak umat untuk memasuki ibadah; mengajak umat untuk menghadap Allah. Misalnya judul-judul nyanyian berikut ini: ___________________________________________________________________________. Alangkah lebih baik, jika jemaat diajak untuk berdiri dan berekspresi.
5) Doa pembuka berisi juga pengakuan dosa dan mohon pengampunan Tuhan. Karena itu lebih baik jika nyanyian sesudah doa itu bersifat pengakuan dosa atau pengampunan dosa. Misalnya: ___________________________________________________________________
6) Pembacaan Mazmur yang bersifat ajakan bagi umat untuk memuji Tuhan, misalnya Mazmur 117:1, “Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!” Alangkah lebih baik, jika jemaat tetap berdiri dan berekspresi.
7) Puji-pujian berikutnya berisi “tentang” Tuhan. Ini menjadi satu bentuk ajakan atau kesaksian bagi oranglain. Sebaiknya jemaat sudah dipersilahkan untuk duduk, karena jika jemaat berdiri terlalu lama, mereka akan kelelahan ketika mendengarkan Firman Tuhan. Nyanyian jemaat yang ada misalnya ______________________________________________________
8) Kesaksian (pujian ataupun cerita). Batasi paling lama 3 menit saja. Sebaiknya mereka yang hendak bersaksi dihubungi lebih dahulu sebelum ibadah dimulai, dan diingatkan tentang batas waktu kesaksian. Jika ternyata dia bersaksi melebihi batas waktu, pemimpin nyanyian jemaat dapat memberikannya kertas berisi tulisan untuk mengingatkan bahwa waktunya sudah habis.
9) Setelah itu, nyanyikanlah nyanyian-nyanyian yang ditujukan langsung “kepada” Tuhan. Ini menjadi satu bentuk doa yang dinyanyikan, karena kita langsung berbicara kepada Tuhan. Misalnya nyanyian-nyanyian berikut ini: ___________________________________________
10) Pengakuan Iman Rasuli diikrarkan. Pemimpin Nyanyian Jemaat mengajak seluruh jemaat untuk bangkit berdiri.
11) Nyanyian Jemaat menyambut Firman Tuhan. Tema nyanyian yang sesuai adalah yang berhubungan dengan peran Firman Tuhan dalam hidup orang Kristen, atau ungkapan permohonan agar hati kita disiapkan menerima benih Firman Tuhan, atau ungkapan bahwa kita siap dibentuk dan diajar oleh Tuhan. Syairnya harus mengandung kata ganti orang kedua tunggal, misalnya Engkau, Kau, Mu. Misalnya nyanyian-nyanyian dengan judul berikut ini: ___________________________________________________________________________.
12) Kotbah/diskusi.
13) Nyanyian Jemaat mengiringi Kolekte. Tema nyanyian yang sesuai adalah yang berhubungan dengan persembahan umat. Misalnya nyanyian: _____________________________________.
14) Doa persembahan sekaligus doa syafaat. Sebaiknya dinaikkan oleh seorang petugas piket (misalnya pembina yang piket hari itu, atau oleh majelis bidang komisi).
15) Nyanyian Jemaat sebelum mengakhiri ibadah. Biasanya dinyanyikan menjelang pengucapan berkat. Nyanyian ini bersifat mengutus umat kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Oleh sebab itu, nyanyian terakhir ini harus bersifat mendorong, memberi semangat, membarui tekad dan komitmen sebagai umat Allah yang masih harus hidup di dalam dunia. Atau yang berisi janji dan penyertaan Tuhan dalam hidup umatNya. Misalnya judul nyanyian berikut ini: ________________________________________________________________________
16) Doa Berkat dan Pengutusan. Biasanya oleh rohaniwan, misalnya Pendeta, penginjil, atau pengkotbah. Jika tidak ada ketiganya, majelis bidang komisi dapat dimintai tolong untuk melakukannya (tanpa mengucapkan doa berkat).
17) Pembacaan warta jemaat.
18) Nyanyian Jemaat untuk yang berulangtahun. Nyanyian yang biasa digunakan hendaknya yang mengandung pesan-pesan rohani. Misalnya nyanyian: ________________________________. Kegiatan ini kemudian disambung dengan mendoakan yang ulangtahun.
11. Jangan asal meminta jemaat berdiri dan duduk. Perhatikan ketentuan yang sudah ditetapkan. Ini dapat membuat kesal jemaat, dan merusak suasana ibadah.
12. Jangan mengkritik para pemain musik atau membantah mereka di depan umum. Jangan pula menggelengkan kepala ketika mendengar anggota tim musiknya (cantoria) melakukan kesalahan.
13. Dalam ibadah kontemporer (ibadah masa kini yang lebih bebas), penggunaan tanda-tanda tangan/jari juga penting diketahui, sebagai sarana komunikasi antara pemimpin nyanyian jemaat dengan pemusik pengiring. Ada enam (6) kode kunci yang harus Anda ketahui dalam memimpin pujian, pelajari dan laksanakan ketika Anda melayani sebagai seorang worshipleader, sebagai berikut:

a.  Kode dengan satu jari yaitu jari telunjuk, artinya lagu dimulai dari awal lagi. Kode ini biasa hanya berlaku bagi tim musik. Agar jemaat dapat mengikuti, Anda harus ucapkan atau lagukan bait pertamanya lagu itu.

b.  Kode dengan dua jari yakni jari telunjuk dan jari tengah, artinya lagu dinyanyikan dari bagian reff-nya. Agar jemaat dapat mengikuti, Anda juga harus mengucapkan bait pertama dari bagian reff-nya.

c.  Kode dengan tiga jari yakni jari tengah, manis dan kelingking, artinya lagu dimulai pada bagian ending-nya/akhir lagu. Agar jemaat dapat mengikuti, Anda juga harus  mengucapkan bait lagu yang menjadi ending-nya.

d.  Kode dengan tangan dikepal, artinya lagu berhenti, otomatis musik juga berhenti. Tapi jangan lupa, Anda juga harus menggunakan dengan cara, maksud dan nada yang baik. Anda bisa mengatakan “ok /ya kita stop sebentar, bisa juga karena ingin supaya nadanya dinaikan/diturunkan, Anda meminta tim musik memainkan irama lain, atau menyanyi tanpa musik, dll” secara enjoy, agar semuanya dapat mengikuti maksud Anda.

e.  Kode dengan menunjuk jempok ke atas, artinya nadanya dinaikkan satu. Hal terjadi karena nada yang diambil itu rendah. Ini khusus untuk tim musik.

f.  Kode dengan menunjukkan jempol ke bawah atau jari kelingking ke bawah artinya nadanya diturunkan karena tinggi. ini juga khusus bagi tim musik.

g.  Kode dengan menunjukkan jempol dan jari kelingking, artinya masuk ke INTERLUDE/BRIDGE.

Perlu diperhatikan agar ketika pemimpin nyanyian jemaat memberikan kode-kode ini kepada pemusik, tidak dilakukan terlalu mencolok sehingga dilihat jemaat, karena dapat mengalihkan perhatian jemaat (cukup mengganggu).
14. Apabila pemimpin nyanyian jemaat hendak meminta pemusik berimprovisasi ketika mereka memainkan melodi, perlu diingatkan kepada pemusik agar jangan sampai improvisasi tersebut:
1) Menyulitkan jemaat dalam memuji Tuhan.
2) Jangan sampai merenggut perhatian umat, sehingga umat hanya terkagum-kagum menyaksikan permainan musik, sehingga umat sendiri akhirnya tidak ikut memuji Tuhan.

15. Tetap tenang dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, jika tiba-tiba listrik mati, atau senar gitar putus, atau ketika pembicara datang terlambat, dan sebagainya. Kemampuan improvisasi dari pemimpin nyanyian jemaat sangat mempengaruhi suasana ibadah, ketika semua hal tidak diinginkan ini terjadi. Contoh kemampuan improvisasi:
1) Karena listrik mati dan layar powerpoint tidak dapat beroperasi, pemimpin nyanyian jemaat dapat mendiktekan syair nyanyian kalimat per kalimat, sementara bernyanyi.
2) Karena pembicara datang terlambat, pemimpin jemaat dapat mengajak jemaat untuk berdoa lebih panjang atau lebih banyak, sambil berselang-seling membacakan Mazmur. Jika pembicara ternyata batal datang, setidaknya jemaat telah membaca Firman Tuhan.
3) ___________________________________________________________________________

16. Pemimpin nyanyian jemaat hendaknya jangan berdiri di depan loudspeaker (pembesar suara) ketika sedang memegang mikrofon dalam kondisi menyala, karena dapat menimbulkan feedback.
17. Pemimpin nyanyian jemaat hendaknya memegang mikrofon dengan mantap; hindari sikap tangan atau jari yang tidak perlu, misalnya memegang mikrofon dengan jari manis dan jari kelingking di angkat.
18. Jangan mengetuk-ngetuk mig dengan jari ketika hendak mengetes apakah mig nyala atau tidak. Cukup mengatakan, “Tes…, tes…, satu, dua tiga!
19. Pakaian, perhiasan, make-up, dan rambut. Kenakan pakaian yang sopan dan rapi. Motif pakaian hendaknya tidak terlalu mencolok sehingga mengalihkan perhatian jemaat. Sangat disarankan memakai kemeja putih dan celana/rok hitam (atau yang berwarna gelap). Mengenakan jas dalam acara-acara khusus tertentu juga baik. Kenakan perhiasan seminimal mungkin (cukup anting sederhana dan cincin pertunangan/pernikahan). Make-up jangan terlalu tebal. Rambut dan poni dapat diikat. Usahakan jangan sampai Anda harus menyibak rambut ketika memimpin di depan, karena dapat mengalihkan perhatian jemaat.
20. Disiplin waktu adalah sesuatu yang sangat penting! Keterlambatan tidak hanya menunjukkan bahwa Kamu tidak menghormati Tuhan, namun juga menunjukkan bahwa Kamu tidak menghargai jemaat.

Sumber:
Bob Kauflin, Worship Matter, terj. Samuel E. Tandei. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010.
GKI, BPMS. Musik Dalam Ibadah Komisi Liturgi dan Musik Sinode GKI. Jakarta: Grafika KreasIndo, 2012.
Hibbert, Mike, dan Viv Hibbert. Pelayanan Musik, terj. Hariyono dan Xavier Q.P. Yogyakarta: Andi, 2001.
Mawane, M.Th. Gereja yang Bernyanyi: Menghidupkan Ibadah dengan Lagu. Yogyakarta: Andi, 2004.
Osbeck, Kenneth W. 101 Hymn Stories. Grand Rapids: Kregel Publications, 1982.
Suryana, Yusak I. Story Behind the Song Hymne & Kontemporer (Kisah di Balik Lagu). Jakarta: YIS Production, 2010.

https://pealtwo.wordpress.com/enam-kode-kunci-dalam-memimpin-pujian/

(Dikotbahkan dalam ibadah Komisi Remaja GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/10 Maret 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s