Kesaksian-kesaksian Disekitar Proses Pembuatan Film The Passion of the Christ


625706_438048099606120_257499100_n

Kita semua pasti tahu tentang film “THE PASSION OF THE CHRIST”, sebuah film yang sudah menjadi berkat bagi begitu banyak orang. Banyak kisah menarik dan kejadian luar biasa yang terjadi selama pembuatan film tersebut. Antara lain mujizat yang dialami oleh tokoh utamanya … dan juga tentang salah seorang pemainnya yang kemudian menerima YESUS sebagai Tuhan & Juru Selamat pribadinya, karena ia tersentuh akan kisah penyaliban YESUS tersebut.

Berikut ini adalah kesaksian dari JIM CAVIEZEL, aktor Hollywood pemeran JESUS CHRIST dalam Film ‘The Passion of the Christ’, “Ternyata memerankan tokoh YESUS tidak segampang naskah yang ada. Hampir saja aku mundur dari peran ini, tapi TUHAN memampukan aku memerankan Dia dalam film ini!”

JIM CAVIEZEL adalah seorang aktor Hollywood yang memerankan peran-peran biasa dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya adalah ketika ia berperan sebagai seorang prajurit di dalam sebuah film perang yang berjudul “The Thin Red Line”, itupun hanya salah satu peran dari begitu banyak aktor besar yang juga turut berperan dalam film kolosal tersebut.

Peran JIM CAVIEZEL dalam ‘The Thin Red Line’ sebagai seorang prajurit yang penuh kharisma, baik hati, ramah dan rela berkorban, menarik perhatian MEL GIBSON yang sedang mencari & menunggu aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Come on … Dia ini TUHAN, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran TUHAN dan memerankannya? – Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, ‘Hallo, ini MeL’, kata suara dari telpon tersebut. ‘MeL siapa?’, tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu MEL GIBSON, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar – MeL kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, MeL kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang TUHAN YESUS yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia.
MeL juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan MeL kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood. Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut.

Adalah hal yang lumrah jika aktor yang memerankan YESUS di Hollywood, tidak akan dipakai lagi di film-film lain, karena sudah menjadi rahasia umum kalau bisnis pertunjukan di Hollywood dikendalikan oleh sekelompok ‘orang Yahudi’ yang memiliki pengaruh yang besar. Orang-orang Yahudi itu bisa saja membenci saya dan dalam sekejap menamatkan karir saya di dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menunggu keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan pada MeL, ‘MeL, apakah kau memilihku karena inisial namaku sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur YESUS ketika Dia disalibkan?’ MeL menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini adalah sebuah kebetulan yang agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. MeL memilih saya murni karena peran saya di ‘The Thin Red Line’.

Saya menarik nafas dan berkata, ‘Baiklah MeL, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul Salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih Salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini !’

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Berbagai pertanyaan membingungkan saya, ada banyak referensi mengenai YESUS dari sudut pandang yang berbeda-beda. Saya tidak tahu apa yang Dia rasakan atau apa yang Dia pikirkan.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang YESUS banyak lakukan yaitu lebih banyak BERDOA, memohon tuntunan-Nya untuk melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini, memerankan Dia yang begitu besar. Saya bukanlah seorang yang mempunyai ‘hubungan yang dekat dengan TUHAN’, walaupun saya lahir dari keluarga Katolik yang taat, dan kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga juga terus saya ikuti.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya. Di make-up selama 8 jam tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk sambil minum kopi sementara saya berdiri dengan kostum kasar yang sangat tidak nyaman, yang menyebabkan gatal-gatal dan menambah tekanan pada emosi saya.

Salib yang digunakan diusahakan se-asli mungkin seperti yang dipikul YESUS saat itu. Saat mereka meletakkan Salib itu di pundak saya, saya merasa kaget dan berteriak kesakitan. Para kru mengira, itu adalah akting yang sangat baik, mereka tidak tahu kalau saya benar-benar kesakitan.

Salib itu sungguh berat, mustahil orang biasa untuk memikulnya namun saya mencoba sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah mencoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa Salib yang berat itu. Saya melolong kesakitan, meminta pertolongan. Para kru tetap mengira bahwa itu adalah akting yang luar biasa, ketika saya mulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan memberi saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti ‘setan’ karena memaki dan menyumpah seperti itu, tapi saya hanya manusia biasa yang tak mampu menahannya. Saat dalam masa pemulihan, MeL mendatangi saya. Dia bertanya apakah saya masih ingin melanjutkan film ini, ia berkata bahwa ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film ini.

Saya berkata pada MeL, saya tidak tahu kalau Salib yang dipikul TUHAN YESUS seberat dan semenyakitkan itu. Tapi kalau TUHAN YESUS mau memikul Salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini.

Maka mereka mengganti Salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan Salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan Salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan YESUS. Saya gemetar menghadapi adegan itu, karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Sekali waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu Salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit yang dapat mengakibatkan kematian, yang disebabkan oleh kedinginan yang amat sangat), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, penyakit dan kecelakaan membuat saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan ke adegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia.

Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk BERDOA.Hanya untuk BERDOA, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana YESUS sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu Salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas langit. Tapi MeL tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca seperti itu sangat identik dengan cuaca saat YESUS disalibkan.

Saya ketakutan tergantung diatas kayu Salib itu, selain kami ada di bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri, (setan tampaknya tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini).

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil dan meneriakkan nama saya. Saat saya membuka mata, semua kru berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak, ‘Dia sadar! … Dia sadar!’ Mustahil bagi manusia selamat dari hantaman petir berkekuatan jutaan volt, tapi perlindungan TUHAN terjadi disini.

‘Apa yang terjadi?’ tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas Salib itu dan mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus dan rambut saya berasap, berubah menjadi seperti model Don King. Sungguh sebuah mujizat saya bisa selamat dari peristiwa tersebut.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, ‘Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? – Mengapa, semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan?’ Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat pada-Nya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat di tempat syuting itu memerankan YESUS, ‘Oh … itu sangat luar biasa … mengagumkan, tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata.’
Selama syuting film itu ada suatu hadirat TUHAN yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan TUHAN sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diri-Nya sendiri. Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan TUHAN dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali.

Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang Muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima YESUS sebagai TUHAN-nya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan TUHAN sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat TUHAN tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Sejak banyak bergumul BERDOA dalam film itu,, BERDOA menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda … AMIN. TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA.”

(Jim Caviezel)

Sumber: Roti Hidup

Iklan

6 thoughts on “Kesaksian-kesaksian Disekitar Proses Pembuatan Film The Passion of the Christ

  1. Many people ask : If Jesus is Lord why He didn’t come down from the cross ? The answer is it wasn’t nails that kept Him on the cross, it was Love. (Banyak org bertanya kalau Yesus itu Tuhan kenapa Dia tidak turun saja dari salib ? Jawabannya bukan paku yg membuat Dia tidak bisa turun dari salib, melainkan Kasih)

  2. Ping-balik: Kesaksian-kesaksian Disekitar Proses Pembuatan Film The Passion of the Christ | Pujian Penyembahan

  3. Dengan apakah kita dapat membalas selain puji dan sembah kepada-Nya yaitu Juruselamat yang telah rela menebus dosa kita manusia.

    Ingat, hanya Yesus yang ialah jalan menuju ke surga.

  4. Praise the LORD…
    Cinta-NYA yang begitu besar, sehingga Dia rela menjadi manusia, menderita dan mati di kayu salib. tapi banyak skali yg blom percaya pada-NYA..
    padahal DIA mati untuk kita semua sebaga manusia ciptaan-NYA. YESUS bukanlah manusia biasa tetapi DIA adalah Tuhan yang mau menjadi manusia seperti kita untuk menebus stiap dosa-dosa kita….
    Jadi, percayalah kepada-NYA, kembali lah ke jalan kebenaran-NYa.
    Jesus bless you

  5. “..;Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal…” yoh 2:16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s