Bulan: April 2013

Yosua 18:1-28. Menilai Situasi di dalam Kepemimpinan Ilahi

Posted on Updated on


Nats: Yosua 18:1-28
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ayat 1 mencatat, “Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka.” Dapatkah Saudara menunjukkan lokasi Silo di peta? (Lihat Daerah Efraim).

Map-Canaan-Twelve-Tribes (1)

Dalam ayat 1 ini disinggung tentang Kemah Pertemuan atau Tabernakel. Tabernakel bukanlah tempat dimana umat Allah berkumpul untuk beribadah bersama, melainkan tempat dimana Allah sendiri berjumpa –dengan membuat janji, dan bukan kebetulan– dengan umatNya. Di dalam Tabernakel ada Tabut Perjanjian (The Ark of Covenant). Dan Tabernakel tetap ada di Silo hingga masa Samuel (1 Samuel 4:3).

Ayat 2 mencatat, “Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka.” Ketujuh suku yang dimaksud adalah Benyamin, Simeon, Zebulon, Isakhar, Asyer, Naftali, dan Dan.

Apa kata Yosua kepada mereka? Ayat 3 mencatat, “Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: ‘Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?’” Apa maksudnya menduduki? Penaklukkan Kanaan harus diikuti dengan pendudukkan, yang mensyaratkan adanya sebuah survei (tiga orang dari setiap suku), lalu satu pembagian yang adil, dan kemudian satu penaklukkan sepenuhnya atas tanah itu (hal ini dipraktekkan oleh umat Israel. Lihat ayat 4-5 dan 8-9). Karenanya harus dibedakan antara perang-perang nasional untuk menduduki yang dipimpin oleh Yosua, dengan perang-perang suku meski juga untuk menduduki (Hakim 1-2).

Perhatikan! Bahkan ketika para pemimpin yang saleh seperti Yosua masih hidup, bangsa Israel sudah bermalas-malasan. Tuhan sudah melimpahkan berkatNya atas bangsa Israel, mereka tinggal mengeksekusi. Tapi mereka bermalas-malasan untuk melakukannya. Mengapa? Karena sikap puas diri. Mereka berpikir bahwa prestasinya sudah cukup baik, sementara Tuhan berkata belum. Lebih dari 40 tahun sebelumnya, mereka melakukan sebaliknya, ketika Tuhan bilang jangan maju, mereka malah berinisiatif maju (lihat Bilangan 14:39-45). Bangsa Israel tidak mau menuruti pimpinan Tuhan, lebih senang melakukan apapun yang benar menurut pandangannya sendiri.

Apa yang mereka lakukan ini sudah merupakan dosa isteri Adam beribu-ribu tahun sebelumnya, sebagaimana dicatat dalam Kitab Kejadian pasal 3. Setelah ular menggodanya, apa catatan Alkitab tentang isteri Adam? “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya” (Kejadian 3:6). Steve Jeffery, Mike Ovey, dan Andrew Sach, menulis, “Pemberontakan Hawa pada dasarnya adalah tindakan menggunakan otonomi, di mana ia menempatkan imannya bukan pada apa yang telah Allah nyatakan, melainkan pada penilaiannya sendiri terhadap situasi tersebut.”

Menghadapi suatu situasi dengan menempatkan iman kita pada penilaian kita sendiri terhadap situasi tersebut, bukan berdasarkan penilaian Tuhan, itulah ancaman yang selalu mengintai kehidupan umat Tuhan di sepanjang abad dan tempat. Dalam kasus bangsa Israel di zaman Yosua, mereka melakukan semua itu, bahkan ketika masih ada pemimpin-pemimpin yang saleh. Mereka melihat situasi, dan menilainya berdasarkan penilaian sendiri, lalu memilih untuk bermalas-malasan.

Yosua memerintahkan bangsa itu untuk mengeksekusi berkat Tuhan. Dan ayat 6 pun mencatat perintah Yosua, “Kamu catat keadaan negeri itu dalam tujuh bagian dan kamu bawa ke mari kepadaku; lalu aku akan membuang undi di sini bagi kamu di hadapan TUHAN, Allah kita.” Mungkin melalui Imam Besar sebagai petugas resmi tertinggi untuk membuang undi. Kemungkinan mereka menggunakan Urim dan Tumim (Kel.28:30; 1 Samuel 2:28). Lebih lanjut pada ayat 7, Yosua menjelaskan, “Sebab orang Lewi tidak mendapat bagian di tengah-tengah kamu, karena jabatan sebagai imam TUHAN ialah milik pusaka mereka, sedang suku Gad, suku Ruben dan suku Manasye yang setengah itu telah menerima milik pusaka di sebelah timur sungai Yordan, yang diberikan kepada mereka oleh Musa, hamba TUHAN.” Warisan orang-orang Lewi adalah pelayanan keimaman (lihat Yos.13:14 dan Ulangan 18:1-8).

Membaca ayat 6 ini tidakkah kita tersadarkan, sementara suku-suku Israel bermalas-malasan, para pelayan Tuhan pun terancam telantar. Semakin lama bangsa Israel bermalas-malasan untuk menetapkan batas-batas tempat tinggalnya, semakin lama pula para pelayan Tuhan mendapatkan tempat tinggal yang pasti, mengingat mereka harus tinggal tersebar di antara semua suku. Dan kalau pekerjaan para pelayan Tuhan terhambat, maka pelayanan kepada Tuhan pun terhambat.

Pada ayat 11-28 dicatat tentang wilayah yang diperuntukkan bagi Suku Benyamin. Perhatikan bahwa daerah hasil undi yang diperuntukkan bagi Suku Benyamin dan Dan (19:40-48) merupakan sebuah zona pemisah antara Suku Yehuda dan Suku Efraim, dua suku dominan di Israel. Kedua suku itu, yaitu Benyamin dan Dan, akan memainkan satu peran yang signifikan di dalam lingkaran kisah di Kitab Hakim-hakim (bdk. Hak. 3:12-36; 13:1-16:31).

Pada Kitab Hakim-hakim ini mencatat dua epilog (Bagian akhir dari sesuatu yang dibicarakan, yaitu pasal 17-18 tentang Mikha dan berhalanya dalam pengaruhnya kepada Suku Dan, serta pasal 19-21 tentang pengalaman mengerikan seorang Lewi di wilayah Suku Benyamin). Kedua epilog ini memiliki kesamaan:

1. Melibatkan orang Lewi yang melintas diantara Betlehem (di Yehuda) dan Efraim, melewati batas Benyamin-Dan.
2. Kedua epilog mencatat adanya 600 pejuang (yaitu mereka yang memimpin Suku Dan, dan mereka yang selamat dari antara Suku Benyamin).

Kedua epilog ini dicatat untuk memberikan gambaran kemerosotan yang terjadi di zaman Hakim-hakim, karena tidak adanya raja atau pemimpin. Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (suatu kalimat yang dicatat berulang-ulang di sepanjang Kitab Hakim-hakim). Dan kemerosotan mereka itu sebetulnya sudah dimulai dari zaman Yosua sebagaimana dicatat dalam Yosua 18 ini. Ada pemimpin saja mereka sudah malas, apalagi kalau tidak ada kepemimpinan?!

Semua ini memberikan kepada kita beberapa pelajaran:

1. Ketika Anda melihat situasi apapun, termasuk terkait kepemimpinan di atas Anda yang ada tanpa kepemimpinan yang rohani; jangan nilai situasi dengan sudut pandang Anda sendiri, melainkan berdoa dan minta pimpinan Tuhan!

Saya sendiri masih saja melakukan kesalahan ini. Ketika dahulu pihak yayasan pendidikan yang menaungi isteri saya menempatkan isteri saya untuk mengajar di Tangerang (sementara saya di Papua), saya marah-marah melalui email kepada pihak yayasan itu. Kemudian isteri saya dipindahkan ke Papua, tapi 26 km dari tempat saya tinggal. Itu pun saya marah-marah. Baru di kemudian hari saya tahu bahwa ada rencana Tuhan yang baik. Kini saya jadi malu kalau karena peristiwa itu.

2. Ketika Anda sudah mendapatkan pimpinan Tuhan dalam menilai situasi tertentu, taati, lakukan, dan jalani. Percaya Tuhan membuat segala sesuatu di bawah kepemimpinanNya dan waktuNya, baik adanya!

(Disampaikan dalam Persekutuan Doa Pagi, Unit SDK Kalam Kudus Jayapura, Rabu/1 Mei 2013)

Yohanes 21:1-14. Yesus, Teladan Kita Melayani

Posted on Updated on


Nats: Yohanes 21:1-14
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Masih dalam masa raya Paskah yang berakhir pada Hari Pentakosta, Mei besok, kita kembali belajar dari kisah-kisah di seputar kebangkitan Tuhan Yesus. Hari ini kita belajar dari Yohanes 21:1-14, yang dalam Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, diberi judul perikop, “Yesus Menampakkan Diri kepada Murid-muridNya di Pantai Danau Tiberias.”

Ada pertanyaan yang dapat kita ajukan! Mengapa para murid kembali ke Tiberias atau Galilea? Hendak apakah mereka di Galilea? Ada orang yang mengatakan bahwa para murid ini tidak tahu harus melakukan apa setelah penampakkan Yesus yang pertama kepada mereka, maka mereka pun kembali kepada hidup lama mereka; kembali kepada pekerjaan mereka, yaitu menjala ikan!

Namun apabila kita lebih teliti membaca Alkitab, maka kita akan menemukan jawabannya. Kalau kita ingat, rangkaian kotbah-kotbah pada minggu-minggu sebelumnya, Yesus menampakkan diri kepada para perempuan, dan salah satunya adalah kepada Maria Magdalena. Tokoh Maria Magdalena ini sangat menarik, karena ada tujuh catatan tentang dirinya, dan enam diantaranya menunjukkan pengiringannya kepada Yesus di masa-masa susah. Kepada para perempuan ini, Yesus memberikan perintah sebagaimana dicatat dalam Matius 28:10, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudaraKu, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Jadi, Yesus “janjian/nge-date” dengan para muridNya, untuk ketemu di Galilea.

Lalu kisah pun berlanjut dengan Yesus menampakkan diri kepada para muridNya. Ia menembus pintu yang terkunci dan hati yang tertutup dan penuh ketakutan. Yesus mengubahnya menjadi sukacita, dan mengarahkan gerak jiwa para murid yang semula centripetal (istilah Fisika yang menunjukkan gerak menuju pusat atau ke dalam) dan preoccupied dengan ketakutannya sendiri, menjadi gerak jiwa yang centrifugal (gerak menuju ke luar atau menjauhi pusat), dengan mengutus mereka. Dalam kisah seterusnya kita berjumpa tokoh Tomas. Tokoh Tomas ini menjadi contoh dari seseorang yang gerak jiwanya centripetal. Ia menjauhkan diri dari persekutuan dengan saudara seiman, dalam sikap sinisnya. Tapi hari ini, kita akan belajar tentang tokoh yang memiliki gerak jiwa yang berkebalikan dari Tomas, yaitu tokoh dengan gerak jiwa centrifugal; yang bergerak ke luar; mau melayani oranglain. Siapakah Dia?

Alkitab mencatat bahwa Yesus menampakkan diri di pantai Danau Tiberias, sebutan lain untuk Danau Galilea. Namun sebelum itu, dicatatlah peristiwa Petrus yang pergi untuk menangkap ikan. Murid-murid lain (Tomas atau Didimus yang namanya berarti “kembar”, Natanael, anak-anak Zebedeus, dan dua orang murid lainnya, kemungkinan Andreas dan Filipus) pun menyatakan ikut. Namun semalaman menjala ikan, mereka tidak menangkap ikan. Ketika hari mulai siang, sementara mereka sudah kembali ke dekat pantai, dari pantai Yesus berteriak kepada mereka dan bertanya, “Hai anak-anak (dalam bahasa aslinya, anak-anak kecil), adakah kamu mempunyai lauk-pauk (ikan)?” (ayat 5). Jawab para murid, “Tidak ada!” Lalu Yesus berkata lagi kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh” (ayat 6). Lalu mereka menebarkan jalanya dan mereka tidak dapat lagi menarik jalanya karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus (kemungkinan Yohanes) berkata, “Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar itu, ia lalu mengenakan pakaiannya sebab ia telanjang (tentu bukan telanjang bulat), lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain pun menyusul ke pantai membawa ikan-ikan mereka (ayat 1-4).

Apabila kita membaca ayat 6, kita melihat bahwa Yesus telah melayani para murid dengan menolong mereka mendapatkan ikan. Yesus menolong para murid dengan mujizatNya, sehingga para murid mendapatkan banyak sekali ikan. Dan ini adalah pelayanan pertama Yesus kepada mereka.

Pada ayat 9 kemudian dicatat, “Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.” Ketika para murid ke pantai, mereka menemukan bahwa Yesus sedang mengolah sarapannya sendiri. Yesus sudah memiliki ikanNya sendiri. Entah darimana Ia mendapatkan ikan. Apakah Yesus sebelumnya memancing; ataukah Ia membelinya; ataukah Ia menciptakan ikan tersendiri, kita tidak jelas. Satu hal yang pasti, Yesus sudah memiliki sarapanNya sendiri.

Ayat 9 ini membuat kita berpikir, lalu mengapa Yesus tadi bertanya, “Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk (ikan)?” (ayat 5). Ketika Yesus menanyakan hal ini, siapa sebetulnya yang ada dalam pikiran Yesus? DiriNya sendiri? Tidak! Yesus bertanya begitu bukan karena Ia sedang mencari sesuatu untuk menjadi sarapanNya. Yesus bertanya begitu dengan pikiran yang mengarah kepada kepentingan murid-muridNya. Ia mencari tahu apakah murid-muridNya memiliki sesuatu untuk dijadikan sarapan atau tidak. Ketika para murid itu mengatakan, tidak ada lauk, maka Ia pun membantu mereka mendapatkannya.

Di pantai, Yesus kemudian berkata, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Seandainya Yesus itu kita gambarkan sebagai tuan rumah yang menyediakan makanan, maka para murid sedang Ia undang untuk berbagian menjadi tuan rumah dalam makan bersama pagi itu. Yesus kemudian mengolahkan ikan yang para murid bawa. Ia memasakkannya (menggoreng atau membakarnya) bagi mereka.

Alkitab mencatat bahwa para murid menangkap 153 ekor ikan besar. Banyak orang memperlakukan angka ini sebagai sesuatu yang simbolik. Tapi cukuplah bagi kita untuk mengartikan bahwa ketika kita taat kepada Yesus, Yesus akan memberkati kita kita dengan melimpah.

Ayat 12 kemudian mencatat perkataan Yesus, “Marilah dan Sarapanlah.” Lalu di ayat 13 dicatat, “Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu.” Yesus melayani para muridNya.

Sungguh menarik, karena di dalam konteks Injil Yohanes, kematian dan kebangkitan Yesus dihimpit oleh dua peristiwa tentang Yesus yang melayani:
1. Dalam Yohanes 13. Mencatat Yesus membasuh kaki murid-muridNya. Suatu pekerjaan seorang pembantu, untuk menyambut seorang tamu yang datang. Dan peristiwa ini terjadi dalam konteks makan malam.
2. Dalam Yohanes 21. Mencatat Yesus menolong para murid memperoleh makanan; mengolahkannya; dan menyuguhkannya bagi mereka. Dan peristiwa ini terjadi dalam konteks sarapan atau makan pagi.

Perhatikan sekali lagi, dua peristiwa yang menghimpit ini, terjadi dalam konteks makan bersama. Dalam kebudayaan Yahudi, makan bersama adalah tanda persekutuan. Itu sebabnya, orang Yahudi pernah mengkritik Yesus yang makan bersama para pelacur dan pemungut cukai. Jadi, di dalam dua nats tadi, Yesus bersekutu dengan murid-muridNya. Dan Teladan yang Yesus tunjukkan dalam kedua peristiwa makan bersama tadi adalah “melayani”. Jadi dahulu, sebelum Yesus mati dan bangkit, Dia melayani. Dan sesudahnya, setelah Yesus mati dan bangkit, Ia tetap melayani. Seolah Yesus hendak berkata, “Aku masih, seperti yang dulu!”

Ini tidak perlu mengherankan bagi kita, karena memang dalam Matius 20:28 dicatat, “Anak Manusia (Yesus Kristus) datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Perhatikan bahwa ada dua hal yang menjadi panggilan hidup Yesus, melayani dan menjadi tebusan bagi banyak orang. Sebetulnya, karya Yesus untuk menjadi tebusan bagi banyak orang adalah puncak pelayanan Yesus. Dan karya Yesus ini sangat unik, dan tidak seorang pun dapat menirunya; tidak seorang pun dapat melakukannya. Karena itu, pemberitaan tentang Pribadi Yesus, tidak dapat dipisahkan dari pemberitaan tentang karyaNya. Dan pemberitaan tentang karyaNya, pastilah mengingatkan kita akan PribadiNya. Kita mungkin dapat meneladani Yesus dalam hal melayani, tapi hanya Yesus yang dapat memberikan nyawaNya untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Kalau kita mati disalib, itu mungkin terjadi karena nyolong ayam, atau nyolong barang orang (sesuatu yang sangat mengerikan apabila sampai disalibkan), tapi Yesus mati disalib untuk menebus dosa-dosa kita, lalu Ia bangkit untuk keselamatan kita.

Kalau kita merenungkan Yohanes 21 ini, dimana dan kapan Yesus melayani? Apakah Yesus melayani dalam konteks pelayanan Sinagoge atau rumah ibadah? Kalau kita perhatikan, Yesus melayani membasuh kaki, juga mengupayakan pengadaan, pengolahan, dan penyajian makanan. Semua pekerjaan ini identik dengan pekerjaan seorang pembantu, yang harus menyambut tamu, belanja ke pasar, memasakkan makanan buat majikan, dan menyuguhkannya di meja makan. Ini adalah pekerjaan keseharian. Jadi Yesus memberi teladan melayani dalam konteks keseharian. Yesus memberi teladan melayani dan melakukan pekerjaan-pekerjaan seorang pembantu.

Ini semua mengajarkan kepada kita agar kita berhati-hati dengan bahaya sikap dikotomi, yaitu sikap memisahkan, seolah aktivitas di gereja baru bisa disebut pelayanan, sedangkan di luar gereja, itu bukan pelayanan dan kita bisa bersikap sesuka-suka hati kita; mencari nafkah sesuka-suka hati kita; berpikir siapa yang hendak makan; berpikir siapa yang hendak kita curangi dalam bisnis kita. Tidak bisa demikian! Seluruh hidup kita adalah pelayanan. Melayani adalah panggilan hidup Yesus. Demikian juga kita yang mengatakan hendak menjadi serupa Yesus, harus menjadikan jiwa pelayan sebagai identitas. Itu bukan sekadar fungsi kita di gereja. Karena itu kita tidak bisa berpikir bahwa saya sudah sekian persen memberikan waktu kita di gereja, maka sekian persen lainnya adalah milik kita; atau kita berpikir bahwa sekian persen harta kita adalah milik Tuhan, dan selebihnya milik Tuhan. Tidak bisa demikian.

Di dalam Lukas 17:10 dicatat perkataan Tuhan Yesus, “Demikianlah juga kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Jadi, ketika kita telah mengerjakan suatu tindakan pelayanan, mungkin bagi orang itu adalah tindakan yang hebat, tapi bagi kita itu biasa saja. Tidak perlu ada yang disombongkan karena memang itu sudah sewajarnya kita lakukan. Sebagai contoh, Sekolah Kristen Kalam Kudus Jayapura terkenal dengan kejujuran para gurunya dalam mengawasi Ujian Akhir Nasional. Banyak sekolah tidak suka dengan Kalam Kudus karena integritas kita. Tapi kita tidak boleh sombong. Itu memang sudah sewajarnya begitu. Justru mereka yang curang itulah yang tidak wajar. Jadi waspada dengan motivasi kita. Kalau Anda adalah seorang bos, ketika Anda melakukan suatu tindakan melayani, lakukan itu bukan untuk sok merakyat atau mencari muka.

Bagaimana dengan praktek keseharian kita? Misalnya di tengah-tengah keluarga. Kita para laki-laki sering bersikap ingin menjadi bos. Mungkin disini ada isteri-isteri yang mengeluh karena suaminya tidak mau membantu pekerjaan rumah. Tapi saya pribadi belajar untuk sadar, isteri saya telah bekerja dari Senin sampai Jumat; dari pagi sampai sore. Sabtu saya berusaha memberi dia waktu istirahat. Hari Minggu dia masih membantu saya pelayanan di gereja. Jadi saya harus sadar dan tanpa perlu disuruh, menyediakan waktu, misalnya Senin, untuk mencuci pakaian di rumah yang sudah agak banyak itu. Apa salahnya?

Dalam hal ini saya justru belajar dari tokoh Habibie lewat film Habibie dan Ainun. Dalam film itu ditampilkan sosok Habibie yang gentle sekali atau lembut sekali kepada isterinya. Itu di film, saya tidak tahu dalam kenyataannya. Saking cintanya kepada isterinya, ia sampai menuliskan kisah mereka ke dalam sebuah buku dan difilmkan. Bahkan ia sedang menuliskan buku yang kedua tentang isterinya.

Bagaimana sikap kita kepada anak-anak kita? Saya pernah menyaksikan satu film India. Perfilman India memang sedang mengalami perkembangan dan memunculkan karya-karya yang bagus sekali. Dan saya adalah rohaniwan yang senang nonton film, tapi bisa dipertanggungjawabkan. Dalam satu film itu dikisahkan tentang seorang anak SD penderita Disleksia bernama Ishaan. Disleksia adalah suatu keadaan akibat adanya masalah di otak atau syaraf otak anak. Anak itu tidak dapat membaca atau menulis dengan baik. Di dalam pandangannya, huruf-huruf itu seperti menari-nari. Ia tertukar, misalnya, antara huruf d dengan p atau angka 4 dengan angka 7. Tetapi orangtua dan gurunya tidak mengetahui masalahnya. Mereka mengira ketidakmampuan Ishaan disebabkan karena dia malas, tidak disiplin, nakal, dan mereka pun hanya bisa mencelanya, memarahinya, menghukumnya, menghakiminya. Mereka tidak tahu bahwa Ishaan mengalami Disleksia. Bahkan Ayah Ishaan pun kemudian mengasingkannya dan mengirimnya ke sebuah sekolah berasrama. Sampai kemudian datanglah seorang guru muda yang ganteng yang mungkin pernah belajar tentang siswa kebutuhan khusus. Guru muda bernama Nimbush itu kemudian mendidik Ishaan. Dan sang ayah pun suatu hari mendatangi Nimbush untuk memberitahu bahwa isterinya telah mencoba mencari di internet tentang apa itu Disleksia. Sang ayah mengatakan bahwa ia memberitahu hal ini kepada Nimbush agar Nimbush tahu bahwa mereka peduli kepada Ishaan. Tapi Nimbush kemudian memberitahu kepada sang ayah bahwa perhatian harus ditunjukkan melalui sentuhan dan kasih sayang yang dinyatakan. Lalu Nimbush menceritakan tentang satu suku di Kepulauan Salomon. Suku di pulau berniat membuka ladang. Tapi mereka tidak membakar atau menebangi pohon-pohon di hutan. Yang mereka lakukan adalah mengelilingi hutan itu lalu bersama-sama mengucapkan sumpah-serapah; hujatan; kata-kata kotor; kata-kata negatif, dan pepohonan di hutan itu pun layu sendiri. Kalau pohon saja layu apalagi manusia; apalagi anak-anak kita.

Bagaimana dengan praktek bergereja kita? Sebelum kebaktian di mulai, apakah Anda mau menyalami atau menyapa jemaat yang baru atau baru pertama kali Anda kenal? Anda bisa mencoba menyapa dan bertanya, “Sepertinya saya belum kenal Anda, boleh saya berkenalan?” Kita bisa menemaninya beberapa menit lalu kembali duduk di bangku kita, dan menyiapkan hati untuk beribadah. Ini bukan tugas majelis saja. Bahkan kadang majelis saja lupa melakukannya. Ini juga bukan tugas rohaniwan saja. Ini panggilan untuk kita semua. Kita tidak perlu menunggu untuk menerima jabatan dahulu, baru kemudian melayani. Marilah kita menciptakan komunitas gereja yang penuh kehangatan.

Bagaimana di dunia pekerjaan kita? Saya mempunyai sebuah cerita yang lucu, tapi waktu saya mengalaminya, sebetulnya tidak lucu. Suatu hari, ketika dilaksanakan kegiatan Kelas Yohanes [untuk anak-anak sekitar gereja], karena guru-guru tidak banyak yang hadir, saya dimintai tolong untuk menggantikan mengajar kelas 5 SD. Saya dimintai tolong untuk mengajar satu pelajaran yang sebetulnya tidak saya benci, hanya saja membuat saya trauma, yaitu Matematika. Dengan percaya diri saya mulai berbicara kepada anak-anak itu. Saya memberikan peraturan-peraturan kelas selama saya mengajar. Setelah itu saya membuka lembaran soal latihan Matematika yang disediakan pengurus.

Saya panik! Mengapa? Karena soal Matematikanya tentang pecahan, dan saya tidak mengerti soal pecahan. Yang mana pembilang dan yang mana penyebut, saya sudah lupa. Tapi saya juga gengsi untuk memberitahu anak-anak bahwa saya tidak bisa. Karena itu saya bertanya kepada rekan pengajar di kelas lain, yang mana penyebut. Lalu saya mencari akal, bagaimana agar bisa bertanya kepada guru di kelas lain. Kebetulan papan tulis yang ada pada saya tidak ada penghapusnya. Lalu saya mengatakan kepada anak-anak bahwa saya hendak mencari penghapus. Lalu saya pergi bertanya kepada guru lain, bagaimana mengerjakan soal pecahan itu. Sambil memperhatikan isi kertas yang saya sodorkan, guru itu lalu berkata, “Sebentar, Pak, saya pikir dulu!” “Waduh!” kata saya dalam hati. “Kalau saya terlalu lama meninggalkan kelas, anak-anak bisa bertanya, ‘Pak guru, kok, lama sekali mengambil penghapus?’”

Setelah saya tahu cara mengerjakan soal-soal pecahan itu, saya lalu kembali ke kelas dan dengan bersemangat, mengajak mereka mengerjakan soal-soal pecahan itu sambil bermain. Saya mengajarkan kepada mereka cara mengerjakan soal-soal pecahan itu. Tapi sepanjang kelas itu berlangsung, saya berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong jangan sampai ada yang tanya, ‘Pak Guru, mengapa angka itu ada di situ?’” Saya sadar saya sedang dalam kondisi menjadi guru yang tidak baik, karena saya hanya mengajar cara saja. Padahal seorang guru yang baik, harus siap juga untuk mengajar konsep; menjelaskan mengapa sesuatu itu bisa begitu! Dan kalau guru pun tidak bisa menjawab, maka ia harus menjadi fasilitator dan bukannya gudang ilmu; ia harus bersedia meng-improve atau meningkatkan diri dengan mencari jawaban lalu belajar bersama para siswanya. Mungkin ada diantara Anda yang berkata, “Ah, itu, khan, teori! Dalam realitanya, yang penting bagi kita adalah nilai ulangan siswa-siswa kita baik, orang tua senang, guru pun senang.” Tapi kita adalah guru-guru Kristen di dalam pendidikan Kristen! Kita pun tidak bisa begitu saja memarahi anak kalau mereka bertanya “mengapa?!”

Tidak hanya menularkan konsep! Guru Kristen yang baik juga harus menularkan nilai-nilai. Kita ingin anak-anak kita menjadi anak yang disiplin. Dan kalau saya merenungkan, ada dua hal yang penting dilakukan:

1. Aturan. Tapi peraturan adalah sesuatu yang mengurung atau membingkai kita dari luar saja. Peraturan memberikan batas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Manusia harus tetap diberi aturan karena kalau tidak bisa menjadi liar. Tapi itu tidak cukup! Orang bisa saja taat aturan selama ada di dalam, tetapi begitu keluar, menjadi liar.

2. Menanamkan nilai-nilai (values). Kita harus belajar menularkan nilai-nilai kepada anak kita. Nilai-nilai itulah yang akan mengubah dari dalam.

Kita harus memiliki nilai-nilai yang sama. Saya tahu Anda berasal dari latarbelakang yang berbeda; cita-cita yang berbeda; ambisi yang berbeda; sekolah yang berbeda; bahkan motivasi yang berbeda. Saya tahu tidak mudah untuk memiliki kesamaan nilai, tapi bukannya tidak mungkin! Kalau salah satu guru mengajarkan, “Jangan mengunyah-ngunyah di saat kebaktian!” Lalu guru yang lain cuek saja bahkan memberi pengumuman di depan sambil mengunyah-ngunyah, maka teladan guru yang mana yang akan diikuti anak? Anak akan bingung! Demikian jika ayah berkata A dan ibu berkata B, lalu teladan mana yang hendak diikuti! Harus ada kesatuan nilai-nilai.

Baru-baru ini isteri saya mengungkapkan kesedihannya dan menangis di depan saya, karena tahun ini ia harus meninggalkan tempat ia bekerja selama tiga tahun terakhir ini, untuk mengikuti suami. Ia sedih harus meninggalkan teman-temannya yang selama ini telah melayani dengan nilai-nilai yang sama; yang selama tiga tahun mereka melayani, mereka telah mengubahkan satu masyarakat! Bahkan kini, anak-anak yang masih tinggal di dalam honai, bisa bersikap hormat di tempat ibadah dan memiliki prestasi akademik yang meningkat. Sebagai isteri seorang rohaniwan, kemana pun suami pergi, ia harus mendampingi. Entah saya ke kota besar, entah ke pedalaman, bahkan juga kalau ke luar angkasa. Itu sebabnya dahulu sebetulnya ia tidak mau menikahi seorang hamba Tuhan. Ia tahu itu tidak mudah. Dia pernah bergumul tapi pergumulannya sudah lama selesai. Jadi, kini tidak ada penyesalan. Suatu hari saya berkata kepada dia, “Seandainya kamu tidak menikahi saya, mungkin kamu akan lebih kaya dari sekarang!” Tapi dia menjawab, “Saya tidak menyesal.” Itulah pelayanan dia sebagai seorang isteri.

Tuhan kita, Yesus Kristus, dahulu melayani murid-muridNya, namun setelah kematian dan kebangkitanNya, Ia tetap melayani. Bagaimana dengan kita? Marilah kita melayani! Dahulu ketika pertamakali kita mengenal Tuhan, kita melayani. Kini kita pun tetap melayani. Dan ke masa yang akan datang pun kita akan terus melayani. Amin.

(Disampaikan dalam Kebaktian Umum I-III GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/28 April 2013)

Yohanes 20:24-29. Thomas, Contoh Orang dengan Gerak Jiwa Centripetal

Posted on Updated on


Nats: Yohanes 20:24-29
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Malam ini kita belajar dari pengalaman tokoh Tomas yang disebut juga Didimus (ayat 24). Tokoh ini sangat terkenal karena sikap tidak percayanya. Namun menurut Anda, apakah sikap ragu-ragu itu selalu salah? Dan apakah segala sesuatu senantiasa harus dibuktikan baru kita dapat percaya?

Apabila segala sesuatu senantiasa harus dibuktikan, maka kita sulit hidup! Dalam banyak hal kita memerlukan dasar untuk berpijak. Ketika kanak-kanak, guru mengajarkan kepada kita bahwa Aceh ada di sebelah Barat Indonesia! Kita tidak harus membuktikannya lebih dahulu dengan terbang ke Aceh, baru setelah itu kita percaya! Ketika guru mengajarkan hal itu, kita percaya saja. Kita juga diajarkan bahwa bumi itu bulan (walau tidak betul-betul bulat), dan kita percaya saja! Saya harus percaya bahwa isteri saya adalah manusia dan bukan robot yang terbungkus kulit manusia, kalau saya mau memiliki relasi seperti apa adanya sekarang dalam pernikahan. Jadi tidak semua hal dalam hidup ini harus dibuktikan!

Dan apakah sikap ragu-ragu selalu salah? Kenyataannya, dengan adanya keragu-raguan, Anda lalu terdorong untuk mencari tahu! Karena Anda mencari tahu, maka ilmu pengetahuan pun dapat berkembang! Sikap ragu-ragu seringkali dapat diperlukan [bahkan dalam beberapa kasus dapat menyelamatkan kita dari bahaya]. Namun sebatas manakah sikap ragu-ragu itu boleh ada dalam diri kita! Sikap ragu-ragu melewati batas ketika keragu-raguan itu tidak lagi membuat kita percaya kepada Tuhan.

Dalam konteks Tomas, mengapa dia begitu menunjukkan sikap tidak percaya? Apa yang dapat kita pelajari dari keadaan jiwanya? Saya merenungkan bahwa Yohanes pasal 11 dapat menolong kita untuk lebih mengenal pribadi Tomas.

Dalam Yohanes 11 dikisahkan bahwa orang yang Yesus kasihi, yaitu Lazarus, sakit keras. Setelah sekian waktu, Yesus kemudian memutuskan untuk ke Yudea dan mengunjungi Lazarus. Murid-murid Yesus memperingati Dia bahwa baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Dia dengan batu! (ayat 8). Tetapi Yesus berkeras untuk tetap mengunjungi Lazarus. Dan mendengar jawaban itu, Tomas memberi respon sebagaimana dicatat di ayat 16, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” Menurut beberapa orang, respon ini merupakan wujud iman percaya dan keberaniannya, tetapi menurut saya, kalimatnya ini lebih bernada sinis!

Jadi, Tomas adalah pribadi yang sinis. Orang yang sinis adalah orang yang memandang segala sesuatu dalam kacamata yang negatif. Ia cenderung tidak memikirkan yang baik dari lingkungan sekitarnya. Ia adalah orang yang memiliki ukurannya sendiri tentang sekelilingnya, dan ketika sekelilingnya tidak terlihat seperti yang ia harapkan, ia akan memandangnya sebagai sesuatu yang tanpa harapan.

Tomas juga mungkin memandang komunitasnya, komunitas murid-murid Yesus, sebagai kumpulan orang-orang yang putus asa dan tanpa harapan. Sepeninggal Yesus, ia mungkin berpikir, “Buat apa aku kumpul-kumpul dengan orang-orang tak berpengharapan ini! Kami sudah kehilangan pemimpin; mereka sudah kehilangan pemimpin. Buat apa lagi bersama?” Mungkin itu alasan mengapa Tomas tidak terdapat diantara kelompok murid-murid Yesus, ketika Yesus pertamakali berjumpa dengan mereka setelah kebangkitanNya. Ia lebih memilih menarik diri dari persekutuan.

Murid-murid Yesus yang lain kemudian memberitahu Tomas, bahwa Yesus sudah bangkit. Dan masih dalam sinismenya, Tomas menjawab, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (ayat 25). Delapan hari kemudian, para murid itu berkumpul, kali ini Tomas ada bersama mereka. Mungkin ia berpikir, “Yah, apa salahnya berada bersama teman-temanku yang tanpa harapan ini, mungkin pula hantu Yesus akan muncul pula dan terbukti bahwa mereka berhalusinasi saja.”

Dan benar, Yesus muncul. Dan Yesus berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (ayat 27). Dan Tomas yang sinis itu pun sampai mengucapkan satu kalimat yang menjadi puncak dari Injil Yohanes ini, karena dicatat menjelang Injil Yohanes berakhir, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (ayat 28). Sebuah kalimat yang penting, yang diucapkan oleh seorang yang sinis.

Kalau kita ingat renungan yang saya sampaikan Jumat lalu, tentang penampakkan Yesus yang pertama kepada para muridNya sebagaimana dicatat di Yohanes 20:19-23, kita belajar bahwa Yesus masuk menembus pintu rumah dan pintu hati yang terkunci. Membuat para murid yang egois dan memiliki gerak jiwa centripetal (mengarah ke dalam), akhirnya bergerak keluar (centrifugal) dan diutus Tuhan. Dalam nats yang kita pelajari malam ini, kita berjumpa dengan tokoh Tomas, yang memiliki gerak jiwa yang centripetal. Namun hari Minggu besok di mimbar gereja, saya akan mengkotbahkan tentang tokoh lain, yang memberikan teladan bagi kita untuk menjadi orang yang memiliki gerak jiwa centrifugal; melayani oranglain.

Nama Tomas sendiri berarti kembar. Nama lainnya yang disebut tiga kali dalam Injil Yohanes, yaitu Didimus, juga berarti kembar. Tapi Alkitab tidak mencatat identitas saudara kembarnya. Ada yang mengatakan bahwa namanya Yudas. Tapi kita tidak pasti tentang hal ini. Namun dari ketiadaan informasi dari saudara kembar Tomas, ini menjadi semacam celah bagi kita untuk berefleksi, jangan sampai kita menjadi saudara kembar identiknya Tomas, yaitu memiliki kemiripan dalam sinisme. Sebaliknya, biarlah kita menjadi saudara kembar yang tidak identik dan memiliki sifat kebalikannya, yaitu percaya; berpikir positif; tidak sinis.

Adakah kita sinis dan berpikir, “Ah, suamiku tidak mungkin berubah! Isteriku tidak mungkin bertobat! Lingkunganku tidak mungkin berubah!” Padahal tidak ada yang tidak mungkin untuk Tuhan ubahkan! Dengan kuasaNya, Tuhan sanggup mengubah keluarga atau lingkungan kita! Kita harus belajar percaya, karena “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1).

(Disampaikan dalam Persekutuan Rayon Filadelfia, GK Kalam Kudus Jayapura, Jumat/26 April 2013)

Hidup sebagai Umat Kovenan Baru

Posted on Updated on


Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Allah berelasi dengan umatNya di dalam bentuk Perjanjian/Kovenan. Di Taman Eden, Allah menjalin relasi Perjanjian Kerja dengan Adam (Hosea 6:7). Namun manusia merusak relasi itu ketika ia melanggar perintah Allah untuk pertamakalinya.

Manusia kini berada di bawah hukuman/murka Allah (Yohanes 3:18, perhatikan kata “telah berada di bawah hukuman”). Namun berkali-kali pula Allah berinisiatif menjalin relasi kasih dengan umatNya, pertama-tama melalui perjanjian dengan Nuh, lalu dengan Abraham dan keturunannya, kemudian dengan Musa, dengan Daud, dengan Salomo, dan pada akhirnya menjanjikan Perjanjian/Kovenan Baru dalam Yeremia 31. Itu sebabnya, Alkitab Kristen dibagi menjadi dua: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) dikelompokkan ke dalam Perjanjian Baru. Namun sebetulnya,Kovenan/Perjanjian Baru barulah dimulai pada titik ketika Yesus Kristus mati di atas kayu salib. Darah Kristus, yaitu darah Kovenan Baru, menjadi meterai dan meneguhkan Kovenan yang Baru (Lukas 22:19 – 20; 1 Kor.11:23 – 26). Janji yang ditawarkan dalam Kovenan Baru ini adalah “kelegaan/istirahat/rest” (Matius 5:1 – 16; 11:28 – 30; Efesus 2:8 – 9). Dan Kewajiban yang harus dipenuhi dalam Kovenan Baru adalah “memikul salib bersama Kristus” (Matius 5:17 dst.; 11:28 – 30; dan Efesus 2:10).

Lalu apa maksud perkataan Yesus dalam Matius 5:17 – 20? F.F. Bruce menjelaskan bahwa bagi Tuhan Yesus, Hukum Taurat memang adalah pernyataan dari kehendak Allah, dan itu bersifat kekal dan tidak bisa diubah. Namun itu semua menjadi genap di dalam Pribadi dan kehidupan Kristus sendiri (Roma 10:4). Karena itu umat Kovenan Lama diperingatkan Tuhan untuk menganggap serius Taurat Tuhan (ayat 19 – 20), karena ketika Tuhan Yesus menggenapkan semua hukum itu, itu pun merupakan tindakan yang serius.

Jadi, kita yang sekarang hidup sebagai Umat Kovenan Baru, harus memfokuskan pandangan kita hanya kepada Yesus Kristus yang telah menggenapi Taurat itu! Sebagai contoh: Perintah untuk menguduskan Hari Sabat, bukannya dibatalkan, namun telah digenapi di dalam Kristus yang adalah Sabat (peristirahatan) kita yang kekal. Dan karena kita berfokus pada Kristus, maka kita berkumpul pada hari Minggu, karena Tuhan Yesus bangkit pada Hari Minggu. Begitu pulalah dengan segala aturan-aturan hukum lainnya, semua telah digenapi dalam Tuhan Yesus, karena itu yang berlaku bagi kita sekarang adalah Hukum Kristus (1 Kor.9:21; Galatia 6:2).

Jadi, F.F. Bruce menuliskan dua pelajaran bagi kita saat ini, yaitu bahwa:

(1). Cara yang benar untuk menaati hukum yang mana pun juga ialah dengan memenuhi tujuan untuk apa hukum itu diberikan.

Dalam poin ini, saya bisa menjelaskan bahwa hukum-hukum yang bersifat aturan upacara, aturan keagamaan tentang harta benda, atau juga hukum sipil dalam Perjanjian Lama, tidak lagi menjadi semacam aturan legal yang harus dilakukan secara literal dalam kehidupan umat Kovenan Baru. Meski demikian, Perjanjian Lama bukannya tidak berguna, karena isi Hukum Taurat bukannya dibatalkan, melainkan digenapkan! Yang menjadi pokok dari kehidupan umat Kovenan Baru adalah “semangat/spirit” yang mendasari hukum-hukum itu! (yaitu Hukum yang Utama dan Terutama, Matius 22:36 – 40; dan Kaidah Kencana/Golden Rule, Lukas 6:31). Jadi umat tidak boleh terjebak kepada legalisme.

(2). Tuhan Yesus menyatakan bahwa ketaatan atau ketidaktaatan pada Hukum Taurat dimulai dari dalam hati manusia.

Kita sebagai umat Kovenan Baru, kini hidup di bawah Hukum Kristus (1 Kor.9:21; Galatia 6:2). Hukum moral yang ada di Perjanjian Lama (seperti misalnya: hormati orangtua dan jangan mencuri) tetap berlaku, di dalam pengertian, bahwa kini kita menghidupinya sebagai ekspresi dari “Firman yang tertulis dalam batin manusia.”

Di dalam Galatia 6:2 dicatat salah satu penggenapan dari Hukum Kristus, yaitu “bertolong-tolongan dalam menanggung bebanmu.” Apa artinya ini? Artinya adalah bahwa umat Kovenan Baru yang hatinya telah terukir dengan Firman Allah (2 Kor.3:3; Yeremia 31:33 – 34), tidak akan membiarkan sesamanya menanggung beban kesulitan seorang diri (atau tidak akan membiarkan pekerjaan Tuhan telantar tanpa dukungan dana; tidak akan membiarkan hari-hari raya keagamaan terabaikan akibat kekurangan dukungan finansial; dst.). Firman yang terukir dalam batin orang percaya mendorongnya untuk cenderung membantu apa yang perlu untuk memajukan Kerajaan Allah dan menolong sesama yang membutuhkan. Mengapa demikian? Karena Firman Allah yang hidup di dalam batin orang tersebut tidak akan membuat orang tersebut tinggal diam, sebaliknya mendorong dia untuk melakukan sesuatu sebagai ekspresi kasih Kristus yang ada di dalam dirinya.

Inilah hebatnya Kovenan Baru. Di dalam Kovenan Lama, Firman Tuhan itu terukir di atas loh-loh batu. Namun di dalam Kovenan Baru, Roh Kudus mengukirkan Firman Tuhan itu di dalam hati umat pilihan Allah (2 Kor.3:3; Yeremia 31:33 – 34). Dengan kata lain, Firman Allah tinggal di dalam hati dan hidup orang percaya; berdenyut; bergerak; di tengah-tengah denyutan nadi dan gerak nafas orang percaya. Firman yang terukir di dalam hati itulah yang memampukan umat Kovenan Baru mengakui bahwa 100% hartanya adalah milik Allah; 100% waktunya adalah milik Allah; dan “dengan hati” mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melayani Allah.

Terkait soal persembahan waktu, misalnya. Orang yang hidup dalam Kovenan Baru akan melihat bahwa semua hari adalah milik Tuhan, dan akan mempergunakan waktu yang ada secara arif dan saksama (Efesus 5:15 – 16). Sebuah artikel menulis,”Tanyalah pada diri anda, berapa jumlah waktu yang benar-benar anda gunakan untuk mengurus masalah kerjaan di kantor, selain waktu yang habis karena macet, ngobrol/nge-gosip,melamun, atau ngobrol dengan teman sekantor untuk membicarakan persoalan yang tidak ada kaitannya dengan urusan pekerjaan!?” Pertanyaan ini penting diajukan karena, “Mereka yang ngantor, belum tentu sungguh-sungguh bekerja, dan mereka yang tidak ngantor, belum tentu tidak bekerja!” Fenomena membuang-buang waktu di kantor ini, bisa terjadi di kantor mana saja! Di kantor kepresidenan, kantor pemerintahan, kantor perusahaan swasta, kantor guru di sekolah, bahkan di kantor gereja. Karena itu kita harus berhati-hati untuk menilai “kerja” seseorang berdasarkan kehadirannya menurut jadwal dan tempat tertentu. Sekali lagi: Mereka yang ngantor, belum tentu sungguh-sungguh bekerja, dan mereka yang tidak ngantor, belum tentu tidak bekerja!

Kalau ungkapan ini saya terapkan dalam konteks kehidupan rohaniwan yang melayani di gereja, misalnya, maka: tidak ngantor bukan berarti tidak melayani. Ada gereja tertentu yang menggilir jadwal ngantor rohaniwannya. Misalnya, hari Senin dan Rabu yang bertugas ngantor adalah rohaniwan A, dan hari Selasa dan Kamis yang bertugas ngantor adalah rohaniwan B. Apakah ini berarti, di luar jam ngantor itu, rohaniwan-rohaniwan tersebut berhenti melayani?! Tentu tidak otomatis demikian bukan?! Bukankah “di luar jam ngantor” pun seorang rohaniwan tetap bersedia mengunjungi dan melayani jemaat?! Jadi penekanan saya disini adalah: Kita harus berhati-hati untuk menilai “kerja” seseorang berdasarkan kehadirannya menurut jadwal dan tempat tertentu. Sekali lagi: Mereka yang ngantor, belum tentu sungguh-sungguh bekerja, dan mereka yang tidak ngantor, belum tentu tidak bekerja! Dalam semua ini, setiap orang percaya yang hidup dalam Kovenan Baru akan “dengan hati” mempergunakan waktu yang ada secara arif dan bijaksana.

Terkait dengan melayani Allah: Hidup dalam Kovenan Baru juga berarti tidak lalai mempergunakan karunia yang ada (1 Tim 4:14)! Dan dengan segenap karunia yang Roh Kudus karuniakan kepada kita, kita melayani Allah. Sebagai contoh: Pdt. Jonathan Edward adalah seorang tokoh Kebangunan Rohani tahun 1700-an di Amerika, namun penilaian pribadinya terhadap dirinya sendiri adalah bahwa “dia bukan seorang yang pandai bercakap-cakap dan [hanya] dengan berkotbah dan menulis-lah, dia dapat melakukan kebaikan paling besar untuk jiwa-jiwa manusia dan memajukan tujuan-tujuan Kristus.” Kira-kira seperti itu pulalah saya menggambarkan diri saya. Coba saja Anda coba berargumentasi dengan saya, maka yakinlah bahwa saya akan cenderung “gagap” dan tidak dapat membela diri dengan argumentasi yang baik. Namun melalui sarana kotbah serta menulislah (dan bukannya debat) saya – berharap – dapat lebih banyak memberikan manfaat bagi hidup orang-oranglain dan memajukan tujuan-tujuan Kristus, karena memang itulah karunia dan talenta saya. Bagaimana dengan Saudara?!

Demikianlah, hidup sebagai umat Kovenan Baru berarti hidup berfokus pada Tuhan Yesus Kristus saja! Dan hukum apa yang memerintah hidup kita saat ini? Hukum Kristus?! Bagaimana kita melaksanakannya?! Dengan memikul salib bersama Kristus, dan Firman yang tertulis dalam batin kita itulah yang akan terekspresi keluar dengan kekuatan Roh Kudus. Dan ujung dari semuanya itu adalah: REST (Istirahat yang kekal di dalam Tuhan).

(Dimuat dalam Warta Jemaat GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/13 November 2011. Sudah direvisi untuk blog ini)

Senyap

Posted on


Temaram memaksa sukma
Merenggut kerlipan cahaya di semesta kecil
Hidup akankah hidup?
Entah

Sampai Saudari terhenyak sadar
Bahwa petang telah datang
Melati mewarna
Sibuk menggubah nada
Entah

Senyap
Yang ada hanya senyap

(Desember 2009)

1 Korintus 14. Karunia untuk Berkata-kata dengan Bahasa Roh

Posted on Updated on


Nats: 1 Korintus 14.
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Di kalangan gereja tertentu kita menjumpai fenomena adanya orang-orang yang –menurut mereka– mendapatkan karunia untuk berkata-kata dengan Bahasa Roh. Saya sendiri (dan isteri) bertobat dan menyerahkan diri (percaya) kepada Tuhan Yesus melalui pelayanan dari orang-orang Kristen yang “getol” mempraktekkan “karunia bahasa Roh.” Saya pribadi mengaku PERNAH berdoa dengan berkata-kata dalam satu bahasa yang orang tidak pahami; suatu perkataan-perkataan yang mungkin di kalangan Kristen tertentu disebut sebagai “karunia bahasa Roh.”

Saya sendiri melihat ada dua masalah yang menjangkiti gereja-gereja di seluruh dunia terkait dengan karunia berkata-kata bahasa Roh ini:

1. Banyak gereja-gereja yang anti terhadap bahasa Roh dan menganggap bahasa Roh sudah tidak ada lagi di zaman ini.

2. Sebaliknya, banyak gereja-gereja yang mempraktekkan karunia bahasa Roh dengan SANGAT TIDAK TERTIB dan MENYALAHGUNAKANNYA, misalnya dengan menjadikannya sebagai ukuran dari kerohanian seseorang atau mengajarkannya sebagai sebuah rumusan yang dihafalkan. Studi saya atas kitab suci membuktikan bahwa apa yang dipraktekkan gereja-gereja tersebut juga keliru!

Ada hal-hal yang perlu saya tekankan berkenaan dengan topik Bahasa Roh ini:

1. “Bahasa Roh/lidah” (Yun.: glossolalia) adalah “salah satu karunia rohani.” Artinya: Bahasa Roh adalah pemberian cuma-cuma dari Allah Roh Kudus; Perhatikan frasa, “Roh memberikan” (1 Kor.12:4 – 6, 8, dst.).

2. Dan bahasa Roh hanya SALAH SATU dari banyak karunia lainnya. Jadi, ada banyak karunia dan terserah Roh Kudus hendak memberikan karunia yang satu atau karunia yang lain kepada siapa pun yang Ia kehendaki. Kita dapat mengusahakan (misalnya dengan meminta) karunia ini, tapi itu semua terserah kepada Sang Pemberi. Karunia bahasa Roh BUKANLAH karunia wajib yang harus dimiliki oleh semua orang-orang Kristen.

Seperti apakah “karunia bahasa Roh” itu?

1. Karunia bahasa Roh ditujukan kepada Allah, dan bukan kepada manusia (1 Kor.14:2).

2. Ketika seorang jemaat berdoa dengan menggunakan karunia bahasa Roh, tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya, karena oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia (1 Kor.14:2). Kalaupun ada yang menafsirkan bahasa Roh sehingga dipahami dan membangun jemaat, TETAP yang menjadi sasaran dari doa tersebut adalah Allah, bukan manusia! Sekali lagi: Berdoa dalam bahasa Roh ditujukan kepada Allah, dan bukan kepada manusia!

3. Ketika seseorang berdoa dengan menggunakan karunia bahasa Roh, ia berdoa dengan rohnya, tetapi bukan dengan akal-budinya (1 Kor.14:14). Bagian ini menyiratkan kepada kita bahwa karunia bahasa Roh TIDAK BISA dihafalkan atau diajarkan!!! Karunia bahasa Roh BUKAN mantra!

Ada dua bentuk karunia bahasa Roh:

1. Bahasa asing tapi masih merupakan bahasa dari salah satu suku bangsa yang ada di dunia (Kis. 2:4, 8 – 11).

2. Bahasa asing yang tidak ada sama sekali di dunia ini. Seorang sarjana Alkitab bernama Gordon D. Fee menyatakan bahwa kemungkinan yang ada di Jemaat Korintus adalah bahasa dalam jenis ini; suatu bahasa yang dapat dikategorikan sebagai “bahasa malaikat” (1 Kor.13:1). Walaupun ada juga pandangan yang menyatakan bahwa ungkapan “bahasa malaikat” disini adalah ungkapan hiperbola/melebih-lebihkan untuk menekankan pentingnya kasih. Namun melihat dari konteks perikop sebelum dan sesudahnya, nampaknya pandangan Gordon D. Fee bisa kita terima.

Penerima karunia bahasa Roh adalah orang-orang Kristen, atau tepatnya orang-orang yang telah mengaku percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus (1 Kor.12:1 – 3); orang-orang yang statusnya adalah “anak-anak Allah” (Gal.4:6; Roma 8:15). Jadi, orang-orang yang beragama bukan Kristen, tidak dapat dikatakan memiliki karunia rohani. Itu sebabnya, setelah para rasul menginjili sekelompok orang, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus itu menunjukkan tandanya dengan mempraktekkan karunia bahasa Roh (Kis.10:46 dan Kis.19:6). Data ini dapat memberi petunjuk kepada kita bahwa karunia rohani hanya diberikan kepada mereka yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, apapun latarbelakang suku mereka (Yahudi maupun non-Yahudi).

Ketika kita berbicara tentang “karunia bahasa Roh/lidah,” kita berbicara dalam konteks “DOA” (1 Kor.14:14). Ada beberapa hal penting terkait dengan doa:

1. Orang Kristen harus senantiasa berdoa di dalam Roh Kudus (1 Tes. 5:16 – 18; Efesus 6:18). Perhatikan, ayat ini TIDAK mengatakan bahwa “kita harus senantiasa berdoa di dalam karunia bahasa Roh.” Berdoa dengan menggunakan karunia berkata-kata bahasa Roh hanyalah SALAH SATU WUJUD dari “berdoa di dalam Roh Kudus,” tapi bukan SATU-SATUNYA WUJUD yang harus ada.

2. Berdoa di dalam keheningan (berdiam diri) pun bisa merupakan wujud berdoa di dalam Roh Kudus (Roma 8:26 – 27). Ada saatnya persoalan hidup begitu menekan jiwa kita, sampai-sampai untuk berkata-kata pun kita tidak sanggup. Pada saat seperti inilah, dalam “diamnya kita,” Roh Kudus di dalam hati kita berdoa untuk kita kepada Allah Bapa di sorga.
Lalu apa artinya berdoa “di dalam Roh Kudus”? Artinya: Kita berdoa sesuai kehendak Allah (bdk. Roma 8:27).

Apa tujuan Allah Roh Kudus memberikan karunia ini? Untuk kepentingan bersama; untuk membangun tubuh Kristus (1 Kor.12:7, 12; 1 Kor.14:26). Namun demikian perlu kita ingat lagi, frasa “untuk kepentingan bersama” tidak berarti bahwa tujuan dari doa yang menggunakan bahasa Roh itu adalah manusia! Sekali lagi, bukan! Tujuannya tetaplah Allah! Hanya saja, oranglain yang mendengarnya dan kemudian mendengar tafsiran atas bahasa Roh itu, dapat menjadi terbangun, walaupun ucapan-ucapan doa itu tidak ditujukan kepadanya, melainkan kepada Allah!

Kalau kita menerima karunia berdoa dalam bahasa Roh, kita dapat belajar meneladani Paulus, yaitu:

1. Mengucap syukur kepada Allah (1 Kor.14:18);

2. Berdoa supaya kepada kita juga diberikan karunia untuk menafsirkan karunia bahasa roh itu sehingga jemaat dapat dibangun (1 Kor.14:5, 13);

3. Jika dalam perkumpulan jemaat kita mendapatkan karunia bahasa Roh, karunia itu harus diekspresikan secara tertib (bergantian), batas maksimal orang yang bisa menyampaikannya adalah tiga orang (1 Kor.14:27). Jadi, orang TIDAK BOLEH mengucapkan bahasa Roh beramai-ramai seperti yang dipraktekkan gereja-gereja tertentu di masa sekarang ini.

4. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkan bahasa Roh, hendaklah orang yang mendapat karunia bahasa Roh itu berdiam diri dalam pertemuan jemaat, dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah (1 Kor.14:28). Pada prinsipnya Paulus mengajar kita agar dalam pertemuan jemaat, kita harus “lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa Roh” (1 Kor.14:19).

5. Jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh. Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan tertib (1 Kor.14:39 – 40). Salah satu bentuknya, dalam pertemuan jemaat tidak boleh ada orang yang berbahasa Roh secara bersamaan atau lebih dari tiga orang! Tidak boleh demikian.

6. Karunia Roh Kudus BUKANLAH karunia yang paling utama untuk dikejar (1 Kor.14:1). Paulus mengatakan bahwa ada karunia lain yang lebih utama untuk dikejar, yaitu karunia bernubuat.

7. Karunia-karunia rohani BUKANLAH jalan yang paling utama bagi orang Kristen (1 Kor.12:31). Jalan yang paling utama bagi orang Kristen adalah KASIH (Yun.: Agape). Kasih adalah salah satu aspek dari BUAH ROH (Gal.5:22 – 23). Jadi, orang Kristen harus mengutamakan BUAH ROH ketimbang KARUNIA ROH. Mengapa “kasih” adalah jalan yang utama? Karena karunia bahasa Roh akan lenyap ketika Yang Sempurna (Tuhan Yesus Kristus) datang dan kita melihat muka dengan muka dengan-Nya (1 Kor.13:8 – 12). Tetapi kasih tidak berkesudahan.

Kesimpulan:

1. Karunia bahasa Roh masih ada dan baru akan lenyap ketika Tuhan Yesus datang kembali ke dunia.

2. Karunia bahasa Roh harus dipraktekkan secara sopan dan tertib.

3. Yang terutama harus dikejar orang Kristen adalah BUAH ROH, secara khusus KASIH.

(Disampaikan dalam Ibadah Tunas Remaja GK Kalam Kudus, Jayapura, Minggu, 20 November 2011)

1 Korintus 15:3-8. Kebangkitan Kristus dalam Sejarah

Posted on Updated on


Nats: 1 Korintus 15:3-8
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Kebangkitan Kristus adalah doktrin yang sangat penting dalam kekristenan. Surat 1 Korintus 15:3-4 menyatakan, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” Namun doktrin ini bukannya tanpa tantangan. Berikut ini beberapa tantangan, tapi sekaligus dukungan para sarjana tentang fakta sejarah kebangkitan Kristus.

Slide1
Slide2
Slide3
Slide4
Slide5
Slide6
1 Korintus 15:3-8
Slide8
Slide9

Alkitab menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus adalah sebuah peristiwa historis. Paulus mengindikasikan hal ini dengan menyaksikan adanya saksi mata atas peristiwa tersebut. Dalam 1 Korintus 15:5-8, Paulus menulis, “bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.”

Sebagaimana telah kita lihat, dalam sejarah selalu ada upaya-upaya untuk menunjukkan bahwa kebangkitan itu tidak pernah terjadi. [Bahkan di zaman para rasul sendiri, bertentangan dengan kesaksian Paulus yang mencatat bahwa Yesus telah menampakkan diri kepada Petrus dan kepada murid-muridNya, beberapa tahun sebelumnya, para pemimpin Yahudi telah merekayasa sebuah cerita bahwa mayat Yesus telah dicuri oleh murid-muridNya (Matius 28:11-15)]. Ada orang menuduh bahwa para murid hanya berhalusinasi tentang Kristus yang bangkit. Tapi sulit untuk membayangkan bahwa ada lima ratus orang lebih, berhalusinasi tentang hal itu. Ada juga orang yang menuduh bahwa para murid membuat berita bohong tentang Kristus yang bangkit. Namun sangat mengherankan jika ternyata banyak sekali murid Yesus yang sampai berani menderita, bahkan sampai mati, demi sebuah berita bohong. Paulus mati dipenggal oleh Kaisar Nero karena berita kebangkitan itu. Petrus mati disalib terbalik karena berita kebangkitan itu. Para rasul lain meninggal dengan berbagai cara yang mengerikan di wilayah yang tersebar di belahan bumi ini. Hanya Yohanes yang mati wajar, itupun masih melewati penderitaan dan siksaan karena imannya akan kebangkitan Kristus. Lebih masuk akal jika berita itu ternyata adalah benar, sehingga mereka berani menderita dan mati deminya.

Ketika di Athena Paulus memberitakan tentang kebangkitan orang mati kepada para cendekiawan dan filsuf Yunani, Kisah Para Rasul 17:32 mencatat respon para pendengarnya, “Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: ‘Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu’.” Berita kebangkitan memang bukan berita yang mudah dipercaya, namun justru itu berita yang sangat penting dalam iman Kristen. Dan seperti dinyatakan oleh Pannenberg, kebangkitan Kristus adalah sebuah peristiwa yang ada dalam sejarah. Iman Kristen adalah iman atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sejarah. Orang bisa menyelidiki bukti-bukti sejarah apakah apa yang disaksikan oleh Alkitab benar atau tidak, meskipun iman kita tidak tergantung oleh bukti-bukti itu.

(Disampaikan dalam Ibadah Komisi Remaja GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/April 2012)