Kejadian 3:15. Protoeuanggelion: Sebuah Janji Induk


Nats: Kejadian 3:15
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Kehidupan terbagi ke dalam empat titik: (1) Creation/Penciptaan; (2) Decreation/Kejatuhan; (3) Redemption/Penebusan; (4) Recreation/Pemulihan segala sesuatu. Melalui tulisan John Eldredge kita belajar bahwa keempat titik ini seolah tertanam di dalam diri manusia, sehingga kalau kita memperhatikan film atau cerita-cerita yang dibuat manusia, terkandung keempat titik ini: (1) Ada kondisi awal yang baik; (2) Muncul masalah atau tokoh jahat; (3) Datang penyelamat atau tokoh jagoan; dan (4) Pemulihan segala sesuatu. Walaupun sekarang ini muncul genre film yang membuat akhir kisahnya menggantung, tapi pada umumnya unsur-unsur di atas ada di dalamnya.

Pembahasan kita sekarang ini terkait dengan titik kedua dan ketiga, karena Kejadian 3:15 (“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya“) terjadi segera setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Manusia pertama telah melanggar perintah Tuhan, namun dalam Kejadian 3 hanya dua yang dikutuk, yaitu ular dan tanah. Manusia pertama dan isterinya tidak dikutuk oleh Tuhan, tapi tinggal di tanah yang terkutuk dengan ancaman ular yang terkutuk. Tuhan mengutuk ular sehingga ular menjalar dengan perutnya. Saya pernah bertanya pada dosen Amerika saya, apakah sebelum dikutuk, ular memiliki kaki atau tangan? Dosen saya tidak tahu dan tidak tertarik untuk berspekulasi.

Tuhan mengutuk ular dan mengatakan bahwa debu akan menjadi makanannya, dan debu disini melambangkan kematian. Pada akhirnya memang kematian (hukuman), itulah yang akan menjadi bagian ular (iblis).

Lalu sampailah kita pada Kejadian 3:15. Seorang Bapak Gereja yang hidup di abad kedua setelah Kristus bernama Irenaeus, menyebut ayat ini sebagai Protoeuanggelion. Proto artinya pertama (seperti pada kata prototype atau tipe yang pertama) dan euanggelion artinya kabar baik; berita sukacita. Jadi, protoeuanggelion artinya Injil yang Pertama.

Dalam konteks yang sempit, yang disebut Injil adalah keempat kitab pertama dalam Perjanjian Baru (Matius; Markus; Lukas; Yohanes). Keempat kitab ini pantas disebut Injil karena berisi tentang pribadi, kehidupan, dan karya Yesus Kristus yang menebus dan menyelamatkan umatNya. Tapi ternyata jauh sebelum Yesus turun ke dunia; dan jauh sebelum keempat kitab Injil ditulis, sudah ada kabar baik yaitu Kejadian 3:15.

Ada yang menyebut Kejadian 3:15 ini sebagai janji induk, karena dari janji induk ini, berkembang janji-janji berikutnya, misalnya kepada Nuh, Abraham, Musa, Daud, para nabi, dan puncaknya tergenapi dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus. Mendengar istilah “janji” tentu kita membayangkan ada sebuah yang baik. Sama seperti ketika Anda berjanji kepada pacarmu untuk menemaninya sepanjang malam ini di telepon atau janji untuk setia pada isterimu. Tapi dalam Kejadian 3:15 ini, kita justru membaca sebuah janji adanya permusuhan. Bukankah ini lebih tepat disebut sebagai sebuah ancaman?

Baru-baru ini, seorang teman guru isteri saya, dipukul oleh wali siswanya yang masih SD. Menurut cerita, teman guru isteri saya ini menghukum satu siswa untuk berdiri di luar ruangan kelas, dengan maksud agar siswa itu merenungkan kesalahan yang diperbuatnya. Tapi anak ini kemudian mengancam teman guru isteri saya itu, dan berlari pulang lalu memfitnah gurunya sendiri. Keluarga siswa ini marah dan menelepon pihak sekolah. Pihak sekolah menerima teleponnya dengan baik dan mengira persoalan sudah teratasi. Ternyata, beberapa waktu kemudian datang dua orang anggota keluarga siswa ini, langsung masuk ke dalam ruangan kelas, dan di hadapan murid-murid lainnya, ia melayangkan dua kali bogem mentah (tinju) ke perut teman guru isteri saya itu. Jadi ancaman siswa SD itu betul-betul diwujud nyatakan. Inilah yang disebut ancaman.

Bukankah Kejadian 3:15 lebih tepat disebut ancaman? Bagi iblis, ayat ini memang merupakan sebuah ancaman, tapi bagi kita yang telah jatuh dalam dosa, ini adalah kabar baik. Ada sebuah janji bahwa keturunan perempuan (dalam Alkitab berbahasa Inggris menggunakan kata ganti orang kedua tunggal, yaitu “he“) akan meremukkan kepala ular, meskipun ular akan meremukkan tumitnya.

Ayat ini digenapi dalam pribadi, kehidupan, dan karya Tuhan Yesus Kristus. Di atas kayu salib, Yesus mati menebus dosa-dosa kita. Ia menggantikan kita yang seharusnya menanggung murka Allah, dan sebaliknya, kebenaran Kristus dikenakan/diperhitungkan kepada kita. Jadi ada sebuah substitusi; ada korban pengganti yang menggantikan kita menanggung murka Allah.

Ada sesama kita beragama lain yang sampai detik ini, setiap setahun sekali masih mempersembahkan korban binatang untuk beroleh pengampunan dosa. Namun hal yang demikian tidak kita lakukan lagi karena Yesus telah menjadi “Anak Domba Allah” yang menghapus dosa dunia. Ia telah mati menggantikan kita menanggung hukuman Allah.

Akibat kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa, semua keturunan manusia ada dalam kuasa dosa. Darah hewan tidak bisa menghapus dosa-dosa kita. Manusia harus digantikan oleh manusia. Yesus datang ke dunia sebagai manusia tanpa dosa yang menggantikan kita manusia berdosa.

Karena korban Kristus itu, kini kita diperdamaikan dengan Allah Bapa. Itu sebabnya ketika Yesus mati di kayu salib, tirai Bait Allah terbelah menjadi dua dari atas ke bawah. Allah telah mendamaikan diriNya dengan kita ciptaanNya yang telah jatuh, melalui perantaraan korban Kristus di atas kayu salib. Ada sebuah nyanyian rohani Kristen yang syairnya kurang tepat untuk kita nyanyikan, karena syairnya mengatakan, “bawaku untuk menyembahMu, di balik tirai yang suci.” Kalau orang Yahudi yang tidak percaya Yesus, menyanyikan lagu ini, mungkin masih tepat. Tapi bagi kita orang Kristen, tidak ada lagi tirai yang membatasi kita dengan Allah. Tirai itu telah robek menjadi dua.

Bangunan Bait Allah pun tidak kita perlukan lagi, itu sebabnya tahun 70 Masehi Tuhan menghancurkannya dan kini di atasnya berdiri bangunan Masjid. Apabila tanah bekas bangunan Bait Allah dibangun menjadi bangunan apa pun, tidak masalah bagi kita. Karena Kristus dan TubuhNya, yaitu kita, adalah Bait Allah itu sendiri. Ingat ayat Firman Tuhan mengatakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Korintus 3:16).

Kini kita telah memiliki perantara untuk langsung berelasi dengan Allah Bapa. Dahulu, orang Yahudi harus melalui perantaraan Imam Besar. Itupun hanya satu tahun sekali seorang Imam Besar dapat masuk ke balik tirai, ke Ruang Mahasuci di Bait Allah, untuk berdoa kepada Allah. Namun Surat Ibrani mengatakan bahwa Kristus telah menjadi Imam Besar kita. Kini kita memiliki akses langsung untuk bersekutu dengan Bapa di sorga melalui perantaraan Tuhan Yesus Kristus.

Dan ketika kita mengucapkan “di dalam nama Yesus” dalam doa-doa kita, itu bukan menjadi semacam kalimat mantra. Bukan! Kalimat itu menunjukkan pengakuan kita bahwa Kristuslah perantara kita, bukan imam manusia, pastor, pendeta, bukan siapapun.

Yesuslah keturunan perempuan sebagaimana dijanjikan dalam Kejadian 3:15. Surat Galatia 3:16 menyinggung kembali soal “keturunan” kepada Abraham. Dan keturunan disini menunjuk pada satu orang, yaitu Yesus Kristus. Kalau kita ingat, Yesus sendiri juga turun ke dunia melalui rahim seorang perempuan. Ia menjadi sama seperti kita, menjadi manusia. Hanya manusia yang bisa menggantikan manusia. Hewan tidak bisa menggantikan manusia di hadapan Allah.

Dalam pembahasan Kejadian 3:15 ini, ada tiga bagian Alkitab lainnya yang saya hendak bahas:

1. Injil Yohanes 8:44, “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”

Kepada orang-orang Yahudi yang memusuhiNya, Yesus mengatakan bahwa sesungguhnya mereka adalah keturunan iblis/ular. Mereka adalah keturunan ular, terbukti karena mereka tidak hidup dalam kebenaran. Dan siapakah iblis itu? Dia adalah pembunuh manusia. Seorang penafsir bernama Matthew Henry menyatakan bahwa setan adalah pembenci segala ciptaan Allah yang baik, termasuk manusia. Iblis adalah Bapa segala dusta, dan manusia yang termakan dustanya, menjadi manusia yang menjadi anak-anak dari si pembenci manusia.

2. Surat 1 Yohanes 3:8-10, “…barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.”

Dalam ayat ini kita diingatkan kembali bahwa iblis berdosa dari mulanya. Tetapi Anak Allah, yaitu Tuhan Yesus Kristus, menyatakan diriNya untuk membinasakan perbuatan-perbuatan iblis. Bukankah dalam Kejadian 3:15 telah dinyatakan tentang ini, yaitu bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular?

Meremukkan kepala adalah suatu tindakan yang berakibat fatal, yaitu kematian. Di dalam kepala ada otak. Dan otaklah yang memberi komando kepada semua bagian atau organ-organ tubuh lainnya, agar menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik. Kalau otak ini mengalami kerusakan berat lalu tidak berfungsi baik, padahal jantung, paru-paru, ginjal, dan lain-lainnya masih dapat berfungsi baik, maka dalam dunia medis orang itu dianggap seperti sayur. Hidup tapi mati karena tubuhnya hanya tergeletak begitu saja. Nah, bayangkan kalau kepala diremukkan?! Itu tidak hanya berarti kehilangan komandan, tapi betul-betul berarti kematian.

Ini berbeda dengan meremukkan tumit. Meremukkan tumit tidak akan menghasilkan akibat yang sefatal meremukkan kepala. Dengan demikian ayat ini hendak menubuatkan bahwa kehancuran yang iblis alami jauh lebih fatal ketimbang apa yang dialami keturunan perempuan, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Yesus nampak seperti kalah dan terhina ketika Dia disalibkan. Padahal melalui penderitaan dan pengorbanan Yesus, muncul kemuliaan dan kemenangan.

Pada detik Yesus mati di kayu salib, terjadi penebusan dosa. Iblis kehilangan orang-orang dalam cengkeramannya, karena Yesus Kristus telah membayar hutang hukuman kepada Allah BapaNya, lunas (bukan membayar hutang kepada setan). Karena itu digambarkan dalam film The Passion of The Christ, iblis berteriak karena mengalami kekalahan ketika Yesus mati di kayu salib.

Dan janji Tuhan dalam Roma 16:20 , “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” Jadi iblis menghancurkan tumit keturunan perempuan, tapi segera, Allah akan menghancurkan iblis di bawah kaki kita.

Surat 1 Yohanes 3:8-10 ini juga menyinggung tentang anak-anak Allah/keturunan ilahi, melawan anak-anak iblis/keturunan ular. Dicatat bahwa keturunan ular, tidak berbuat kebenaran, dan wujud konkretnya adalah “tidak mengasihi saudaranya.”

3. Kitab Kejadian 4-5.

Dari dua ayat sebelumnya kita telah membaca bahwa ada keturunan Ilahi dan ada keturunan iblis; ada anak-anak Allah dan ada anak-anak iblis. Jadi iblis bekerja, pertama-tama memakai ular, dan kemudian memakai manusia. Dan anak-anak iblis, tidak hidup dalam kebenaran, dan wujud konkretnya adalah dengan tidak mengasihi saudara.

Sejak Kejadian 3:15 diucapkan Allah, terjadi permusuhan kosmik antara keturunan ular melawan keturunan Ilahi. Dan segera setelah Kejadian 3:15 mencatat ancaman itu, permusuhan itu menjadi nyata melalui dua garis keturunan, yaitu: (1) keturunan Kain mewakili keturunan ular (Kejadian 4), dan (2) keturunan Set mewakili keturunan Ilahi (Kejadian 5).

Jadi setelah peristiwa Kejadian 3:15, Adam mendapatkan dua anak laki-laki, yaitu Kain dan Habel. Kain ini menunjukkan dirinya sebagai keturunan ular atau iblis karena ia membenci saudaranya dan membunuhnya. Ingat 1 Yohanes 3:10? Dinyatakan disitu bahwa keturunan iblis “tidak mengasihi saudaranya.” Ternyata, selain ular dan tanah, Kain adalah ciptaan ketiga yang dikutuk oleh Allah. Jadi sama seperti ular, Kain juga terkutuk.

Keturunan Kain pun menjadi cerminan keturunan ular. Kita dapat membaca daftar keturunan Kain dalam Kejadian 4:17-24. Kain mendapatkan anak bernama Henokh, lalu Kain mendirikan sebuah kota yang dinamai menurut nama anaknya. Jadi orientasi Kain adalah pada nama. Lalu setelah Henokh ada Irad, Mehuyael, Metusael, Lamekh. Lamekh ada manusia pertama yang dicatat Alkitab berpoligami. Dan dengan sombongnya ia berkata kepada kedua istrinya, “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat” (Kejadian 4:23-24). Jadi Lamekh, keturunan Kain ini, menyebarkan bau busuk kematian di dalam kehidupannya. Dan keturunan Kain pun terus berkembang, sampai akhinya di zaman Nuh, kejahatan mereka mempengaruhi anak-anak Allah, dan mengakibatkan dunia di zaman Nuh dihukum dengan air bah.

Berbeda dengan Kain yang mewakili keturunan ular, Adam kemudian memiliki anak lagi bernama Set sebagai ganti Habel. Dan keturunan Set ini mewakili keturunan perempuan; keturunan anak-anak Allah. Set memiliki anak bernama Enos. Di zaman Enos orang mulai memanggil nama TUHAN (Kejadian 4:26). Ini kebalikan dari Kain yang “membawa” orang untuk menyebut nama anaknya, Henokh, dan bukannya untuk menyebut nama TUHAN.

Keturunan Enos adalah Kenan, Mahalaleel, Yared, lalu Henokh. Henokh ini menjadi salah satu manusia di Alkitab (selain Elia) yang tidak mengalami kematian, melainkan diangkat Allah ke sorga. Dengan demikian, sebagai kebalikan dari Lamekh yang menyebarkan bau busuk kematian, Henokh justru meninggalkan semerbak harum kehidupan.

Setelah Henokh ada Metusalah, lalu ada Lamekh (berbeda dari tokoh Lamekh yang jahat), lalu ada Nuh dan tiga orang anaknya. Di zaman Nuh ini, anak-anak Allah nampaknya terpengaruh oleh kejahatan keturunan Kain, sehingga semua manusia di zaman Nuh pun dimusnahkan Allah dengan air bah, kecuali Nuh dan keluarganya.

Dari semua pemaparan ini kita dapat merefleksikan dua hal:

1. Termasuk ke dalam keturunan yang manakah kita? Keturunan iblis atau keturunan anak-anak Allah?

Apakah kita mengasihi kebenaran ataukah tidak hidup dalam kebenaran? Apakah kita mengasihi saudara atau tidak? Rasul Paulus pernah mengajarkan kepada jemaat dalam Galatia 6:10, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

2. Apakah kita sudah hidup dalam Kebenaran, yaitu Kristus sendiri?

Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:16). Saya teringat pada lagu berjudul Lord I Lift Your Name on High. Dalam salah satu bagian syairnya ditulis tentang Yesus demikian, “You came from heaven to earth, to show the way….” Menurut saya, Yesus bukan sekadar “show the way” tapi bahkan “is the (only) way“! Yesus bukan sekadar tunjukkan jalan, tapi Dia sendirilah Jalan ke sorga. Dia juga mengatakan bahwa Dia adalah Kebenaran! Jadi kalau Anda hidup dalam kebenaran, berarti Anda hidup dalam Kristus.

Apakah Anda masih mengandalkan korban binatang untuk memohonkan pengampunan dosa? Yesus yang mati di kayu salib telah menebus dosa-dosa umatNya. Bertobatlah dan percayalah kepada Yesus, dan terimalah pengampunan atas dosa-dosa Anda! Hiduplah di dalam Kristus yang adalah Kebenaran, maka Anda akan beroleh hidup kekal, yaitu hidup berdamai dengan Pencipta Anda.

Saya pernah mengikuti kuliah tentang sains kognitif dan belajar tentang pikiran dan juga kerja pikiran manusia. Dalam buku teks yang wajib kami baca, dosen kami, Justin Barret, menjelaskan bahwa adalah keliru kalau kita berpendapat bahwa pikiran manusia itu seperti spons dan menyerap segala hal sama besarnya.

Menurut beliau, ternyata pikiran manusia tidak menerima segala hal sama besarnya. Ada hal-hal tertentu yang lebih sulit diterima pikiran manusia, tapi ada hal-hal yang secara natural lebih mudah diterima oleh pikiran manusia.

Mr. Barret lalu memberikan salah satu contoh, yaitu tentang ular. Ternyata ular adalah salah satu hal yang secara natural/alamiah, kognisi/pikiran manusia akan  cenderung untuk mengenalinya sebagai sesuatu yang identik dengan rasa ngeri. Dan menurut saya, bahkan bagi seorang pawang ular yang sudah sering tidur dengan ular sekalipun, sosok binatang yang disebut ular tetap merupakan sosok binatang yang dapat dengan cepat membangkitkan alarm peringatan bahaya di dalam diri. Bandingkan kecenderungan penerimaan pikiran kita terhadap hewan kelinci, atau bunga, atau kupu-kupu (kecuali bila ada kasus phobia tertentu dalam diri orang tertentu pula).

Apakah kecenderungan yang semacam ini terhadap ular ada kaitannya dengan kisah kejatuhan manusia di Kejadian 3? Saya tidak mau terlalu jauh menyimpulkan demikian, tapi berita yang terpenting adalah bahwa ada janji yang merupakan kabar baik bagi kita, dan itu digenapi dalam Pribadi dan Karya Tuhan Yesus Kristus.

(Dikotbahkan dalam persekutuan Komisi Pemuda GK Kalam Kudus Jayapura, Kamis/20 Maret 2013).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s