Rabu Abu sebagai Momentum Awal Menggantungi Doa Bapa Kami


Pengantar Singkat tentang Kalender Gerejawi

Allah telah berkarya atas umatNya “di dalam rangkaian waktu”. Umat Allah pun memperingati dan merayakan karya Allah yang telah berpuncak pada karya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus itu, melalui penyelenggaraan ibadah-ibadah dan perayaan-perayaan secara sinambung dan berkala.

Jadwal perayaan-perayaan dan ibadah-ibadah yang dilaksanakan berdasarkan karya kehidupan dan penyelamatan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus itu disebut Kalender Gerejawi, meskipun sebenarnya ada bermacam-macam istilah yang dipakai oleh gereja atau umat Kristen untuk menyebut Kalender Gereja, misalnya antaralain: Tahun Liturgi, Tahun Kristen, Tahun Rohani, atau juga Hari Raya Gerejawi.

Mengacu dari buku yang ditulis Rasid Rachman, secara garis besar ada tiga masa di dalam Kalender Gerejawi:

1. Masa Raya Paskah:

– Rabu Abu (awal perendahan diri selama 40 hari, tanpa memperhitungkan hari-hari Minggu, hingga Minggu Kebangkitan).
– Minggu Palem (memperingati Yesus masuk ke Yerusalem dengan dielu-elukan).
– Kamis Putih (memperingati malam perjamuan terakhir Yesus dengan para murid).
– Jumat Agung (memperingati kematian Yesus di atas kayu salib).
– Sabtu sunyi.
– Minggu Kebangkitan, sebagai awal Masa Raya Paskah.
– 40 hari kemudian, peringatan kenaikan Tuhan Yesus.
– 10 hari setelah kenaikan adalah peringatan Pentakosta (mahkota Masa Raya Paskah).

2. Masa Raya Natal.

– Minggu-minggu Adven.
– Natal Pertama (24 Des) dan Natal pagi (25 Des).
– Hari Minggu setelah Natal.
– 1 Januari.
– Epifania.

3. Masa Biasa.

– Bagian I: Berlangsung antara Masa Epifania hingga Rabu Abu.
– Bagian II: Berlangsung antarea Pentakosta hingga Adven.

Tidak hanya cukup sebagai suatu peringatan dan perayaan, karya Allah yang dirayakan dan diperingati melalui Kalender Gerejawi itu pun memberi dampak pada kehidupan kita saat ini melalui kerja kuasa Roh Kudusnya. Donna Fletcher Crow, seorang penulis Kristen, menyatakan bahwa seperti siklus yang Tuhan berikan kepada benih-benih untuk beristirahat, ditanam, tumbuh, dan dituai, demikianlah manusia membutuhkan siklus musim-musim untuk pertumbuhan rohani. Manusia membutuhkan struktur, kita memerlukan peristiwa-peristiwa untuk menandai perjalanan hari-hari kita.

Donna Crow menulis bahwa mengikuti Kalender Gerejawi benar-benar merupakan cara yang sepenuhnya berbeda untuk memahami perjalanan waktu. Mengikuti Kalender Gerejawi berarti hidup tiap-tiap hari dalam kaitannya dengan kehidupan Yesus Kristus dahulu ketika Ia hidup dan berkarya di bumi. Memelihara Kalender Gerejawi mengkontraskan kita dengan komunitas dunia ini, karena waktu dalam gereja Kristen, ditentukan oleh kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus, bukan oleh hari-hari libur sipil atau nasional.

Artikel singkat berikut ini semoga dapat menjadi awal yang bermanfaat untuk kita mengenal sedikit demi sedikit isi Kalender Gerejawi tersebut di atas, dimulai dari Hari Raya Rabu Abu dan 40 hari setelahnya. Semoga beberapa aksi konkret yang dituliskan di bawah ini, dapat dimanfaatkan untuk semakin menghayati karya Allah melalui Yesus Kristus dan membangun spritualitas kita.

Praktek Rabu Abu dalam Sejarah

Donna Crow menulis bahwa Apostolic Tradition of Hippolytus yang ditulis ± 200 M melaporkan secara terperinci tentang upacara-upacara Puasa menjelang Paskah. Di Roma berlangsung praktek dimana, orang-orang Kristen baru, memulai sebuah periode penyesalan publik pada hari itu. Mereka mengenakan baju dari kain karung, dan tetap terpisah dari kontak sosial, hingga mereka diperdamaikan kembali dengan komunitas Kristen pada hari Kamis putih (hari Kamis, tepat sebelum Jumat Agung). Pada abad ke-6 (500-an M), Paus Gregorius I menambahkan praktek memerciki para petobat dengan abu, yang menyebabkan hari itu disebut Rabu Abu.

Lebih lanjut Donna Crow menulis bahwa dalam jurnal tertanggal 27 Februari 1745, John Wesley menulis, “(Hari Rabu Abu). Setelah doa-doa publik, jemaat kecil di rumah kami bertemu bersama-sama. Segala kesalahpahaman dijernihkan, dan kami semua sepakat untuk memulai dari awal lagi.” Dan belakangan, Wesley mengutip, “Berkumpul untuk hari Rabu Abu” dari The Book of Common Prayer, “Tuhan yang Mahakuasa, yang mengampuni dosa-dosa mereka yang menyesal, ciptakan dan jadikanlah di dalam kami, hati yang baru dan menyesal; agar kami, yang meratapi dosa-dosa kami, dan mengakui betapa celakanya kami, kiranya beroleh maaf dan pengampunanMu yang sempurna, melalui Yesus Kristus Tuhan kami.” Setelah kita dengan sepenuh hati mengucapkan doa seperti di atas, mulai dari Rabu Abu dan sepanjang 40 hari perendahan diri setelahnya, kita dapat belajar mengembangkan kehidupan doa kita dengan mengacu pada doa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri.

Demikian menurut Crow, pada masa Rabu Abu, kita memikirkan pengorbanan Tuhan kita, dan belajar berdoa sesuai pola yang telah diajarkanNya, yang terkenal disebut sebagai “Doa Bapa Kami”. Kita juga dipimpin untuk meneladani kehidupanNya dengan cara-cara yang lebih aktif melalui tindakan-tindakan pengorbanan berpuasa, dan memberikan derma.

Doa Bapa Kami sebagai Model Doa

Donna Crow menulis bahwa dalam menggunakan Doa Bapa Kami sebagai model di dalam masa Rabu Abu, kita perlu mempertimbangkan fungsi yang dicapai oleh tiap-tiap frase:

Fungsi Tiap Frase Doa Bapa Kami

Menggantungi Doa Bapa Kami

Menurut Donna Crow, istilah “menggantungi Doa Bapa Kami” berasal dari Carl Staple Lewis. Maksud dari istilah ini adalah bahwa kita menggantungkan permohonan-permohonan kita sendiri, di bawah frasa demi frasa dari isi Doa Bapa Kami. Bayangannya adalah seperti kita menggantungi sebuah pohon dengan hiasan-hiasan saat Natal – bukan untuk mengubah sifat pohon itu, melainkan untuk menjadikannya sebagai sifat kita sendiri.

Berikut ini gambaran konkretnya:

Doa Bapa Kami

Donna Crow mengingatkan, iika kita berdoa mengikuti model di atas, jangan khawatir jika ada area-area yang kosong dari daftar kita atau ada hal-hal yang masih belum terpikirkan. Nantikanlah bimbingan Roh Kudus untuk membimbing kita dalam kehidupan doa kita (Roma 8:26).

(Oleh Ev. NT. Prasetyo, M.Div.)

Sumber:

Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003).

Donna Fletcher Crow, Seasons of Prayer (Musim-musim Doa): Menemukan Kembali Doa-doa Klasik di Sepanjang Kalender Kristen, terj. Jennifer E. Silas (Batam Centre: Santo Press, 2003).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s