1 Petrus 2:18-25. Gaya Hidup Baru Meresponi Konteks Penempatan Allah


Nats: 1 Petrus 2:18-25
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. 19 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. 20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. 21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. 22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. 23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. 24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. 25 Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Saya merenungkan kehidupan saya, dan melihat bahwa seringkali Tuhan menempatkan saya ke tempat yang bertentangan dengan rancangan dan kehendak saya, namun kemudian terbukti bahwa pilihanNya adalah yang terbaik. Berkali-kali dalam sejarah kehidupan saya, saya mengalami seperti itu:

1. Setelah lulus dari SMP (sebuah SMP swasta Katolik), saya berencana mendaftar masuk ke sebuah SMA (sebuah SMA swasta Katolik) yang cukup favorit di kota tempat saya tumbuh, dengan motivasi utama untuk bisa bersama seorang perempuan yang saya taksir. Tapi dalam rencanaNya, Tuhan justru menempatkan saya di sebuah sekolah negeri (biang tawuran) di kota itu, yang mayoritas masyarakat sekolahnya tentu beragama non-Kristen. Dan uniknya, justru di tempat itulah saya pertamakalinya mengambil keputusan untuk percaya dan beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, dan di tempat itulah saya belajar menundukkan diri kepada otoritas yang tidak seiman dengan saya.

2. Setelah lulus dari SMA, kerinduan saya untuk sekolah teologi tiba-tiba hilang begitu saja. Dan Tuhan mengijinkan saya untuk masuk ke sebuah institut dalam bidang jurnalistik; ke dalam sebuah lingkungan yang mayoritas tidak seiman dengan saya. Namun disitulah, lagi-lagi saya belajar menundukkan diri kepada otoritas yang tidak seiman dengan saya.

3. Setelah lulus dari institut tersebut, saya kembali rindu untuk menempuh pendidikan teologi. Saya mendaftar masuk ke sebuah seminari, tapi saya tidak diterima. Saya kecewa kepada Tuhan selama hampir satu tahun. Setahun kemudian saya mendaftar masuk ke sebuah sekolah teologi yang lebih mahal secara finansial dan lebih kompetitif di masa itu, dan saya diterima. Keputusan saya untuk masuk sekolah teologi tidak didukung oleh keluarga, dan hanya mama saya, satu-satunya yang mendukung keputusan saya itu. Beliau mengatakan, “Maju terus, kalau memang ini rencana Tuhan, Ia akan sediakan (uang)!” Dan benar saja, saya dapat menjalani studi di sekolah teologi tersebut, dan melalui sekolah itu pula akhirnya saya bertemu wanita yang kini menjadi isteri saya. Namun setahun saya menjalani studi, mama saya meninggal dunia, dengan demikian beliau tidak pernah satu kali pun melihat saya berkotbah di atas mimbar.

4. Oleh pimpinan sekolah saya, saya diutus ke Australia, rencananya untuk melayani sebuah jemaat Indonesia di Australia. Namun setengah tahun saya mengurus visa, tidak juga berhasil mendapatkan approval dari pihak imigrasi Australia. Bukan karena nama saya berbau Arab, tapi karena saya belum memiliki ijazah kelulusan (karena waktu itu saya memang belum diwisuda). Saya pun akhirnya diutus oleh pimpinan sekolah untuk melayani di Papua. Sebuah keputusan yang mengejutkan rekan-rekan di Australia juga. Bagaimana pun menurut mereka, daerah tempat saya akan melayani di Australia adalah sebuah kota besar, sedangkan Papua – menurut bayangan kami waktu itu – masih hutan.

5. Pengalaman lain, terkait dengan istri saya. Saya pernah mengungkapkan kemarahan kepada salah satu pimpinan lembaga yang kepadanya istri saya memiliki ikatan dinas. Saya mengungkapkan kekecewaan kepada salah satu pimpinan lembaga itu – yang sebetulnya juga teman saya di seminari – mengapa istri saya tidak ditempatkan saja di kota yang sama dengan saya, yaitu di Kota Jayapura? Mengapa istri saya ditempatkan di Kabupaten, sedangkan saya suaminya, ada di Kotamadya. Saat itu saya terlalu emosi dan tidak mampu memahami kehendak Tuhan, padahal kini kami sadar bahwa banyak pembentukkan Tuhan telah Tuhan ijinkan terjadi setelah istri saya mengajar di daerah Kabupaten ini.

Demikian seringkali kita sulit melihat kehendak Tuhan; kita sering mengeluh dan tidak mengerti mengapa Tuhan menempatkan Tuhan di tempat tertentu; dan lebih lagi, sulit bagi kita untuk tunduk pada otoritas di tempat dimana Tuhan telah menempatkan kita.

Dalam kotbah kali ini, fokus utama yang diajukan oleh pengundang untuk saya bahas adalah terutama ayat 19. Kalau kita lihat konteks dekatnya, maka konteks pembahasan ayat 19 ini adalah tentang relasi antara tuan/majikan dengan hambanya (bahasa Yunaninya “oiketai” yang bisa menunjuk pada “budak”, tetapi bisa juga menunjuk pada “orang sewaan” atau “pekerja bayaran”). Dan kalau seandainya “oiketai” dalam ayat ini menunjuk kepada budak, ini mungkin menimbulkan pertanyaan bagi kita. Apakah ini berarti rasul Petrus mendukung sistem perbudakan? Di dalam Alkitab kita melihat bahwa gereja mula-mula tidak menghapuskan sistem perbudakan yang ada di dalam konteks masyarakatnya. Namun gereja dengan tegas menyatakan relasi seperti apa yang harus dijalani antara majikan dengan budaknya. Demikian kita dapat membaca adanya teks-teks Alkitab yang menentang perilaku yang semena-mena terhadap para budak. Jadi gereja pada abad mula-mula, tidak menghapus sistem perbudakan dari luar, namun melakukannya dari dalam, yaitu dimulai dari hati manusia melalui Injil. Namun sekali lagi, belum tentu “oiketai” disini bicara mengenai seorang budak, melainkan bisa juga menunjuk kepada seorang pekerja bayaran atau orang sewaan.

Relasi majikan dan hamba yang disinggung dalam ayat 18 ini pun – dalam konteks keseluruhan Surat 1 Petrus ini – hanyalah salah satu bentuk relasi yang disinggung. Bentuk lainnya yang juga disinggung adalah relasi antara warganegara terkait sikap tunduknya kepada pemerintah; isteri-isteri terkait sikap tunduknya kepada suami; dan orang-orang muda terkait sikap tunduknya kepada orang-orang yang lebih tua.

Dan lebih spesifik lagi, Rasul Petrus – melalui surat ini – hendak menuliskan pesan penting kepada “orang-orang Kristen” yang ada dalam berbagai bentuk relasi itu agar orang-orang Kristen menampilkan satu gaya hidup yang baru di tengah-tengah dunia yang jahat ini. Pesan penting atau gaya hidup seperti apa yang hendak Petrus nasehatkan? Dalam konteks perikop yang kita baca ini, pesan pentingnya terdapat di ayat 19-20, “Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah (atau berkenan kepada Allah).”

Dari dua (2) ayat ini, kita dapat menemukan tiga (3) poin penting yang sering diulangi Petrus, lagi dan lagi, dalam suratnya ini:

1. Gaya hidup “sadar akan (kehendak) Allah”.

Ini adalah topik yang diulangi lagi dan lagi dalam Surat 1 Petrus ini. Kita diajar untuk sadar bahwa ada Allah. Allah yang bagaimana? Yang berdaulat atas kehidupan manusia! Berdaulat untuk apa? Untuk memelihara kehidupan, secara khusus kehidupan umat kepunyaanNya. Disini kita mulai menyentuh satu doktrin yang disebut sebagai doktrin providensia Allah atau doktrin pemeliharaan Allah.

Para pekerja yang menjadi sasaran surat Rasul Petrus ini, mungkin ada yang bertanya-tanya, “Salahkah saya bekerja di bawah majikan yang tidak baik ini?” Dan seandainya yang bertanya itu adalah seorang budak, maka pertanyaan tinggallah pertanyaan, karena tidak mudah bagi seorang budak itu, untuk lepas begitu saja dari tuannya. Namun baik kepada para pekerja yang berada di bawah naungan majikan yang baik maupun yang buruk, Rasul Petrus berkata, “tunduklah dengan penuh ketakutan kepada yang mempekerjakan kamu.” Dan apa alasan Rasul Petrus berpesan seperti ini? Karena providensia Allah! Karena pemeliharaan Allah! Bukan sebuah kebetulan pekerja itu berada di bawah majikannya, baik yang ramah maupun yang kejam.

Sadarkah Bapak/Ibu/Saudara, bahwa keberadaan kita di tempat ini bukanlah sebuah kecelakaan sejarah?! Bukanlah sebuah kebetulan Allah menempatkan Bapak/Ibu/Saudara di tempat ini; dalam konteks ini; dan dalam waktu ini! Mungkin kita memandangnya kehadiran kita sekarang ini disini dan sekarang ini adalah sebuah kesalahan, tapi di dalam kendali Tuhan, Tuhan punya tujuan.

Ingatkah Anda tentang kisah Naaman dalam 2 Raja-raja 5? Ayat 2 menyatakan, “Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman.” Seorang gadis muda tertawan dan diculik ke negeri asing. Di negeri asing ia menjadi seorang pelayan. Apabila Anda mengalami seperti gadis itu, bagaimana kira-kira perasaan Anda? Takut? Meratapi nasib? Mungkin hal-hal itu pernah dilakukan gadis muda Israel yang diculik itu!

Tapi bukan episode itu yang kemudian dicatat Alkitab, melainkan episode ketika sang gadis muda ini bersaksi kepada bangsa yang menawannya; kepada majikannya. Karena kesaksiannya itu, dikemudian hari, Naaman (sang panglima perang Kerajaan Aram) pun percaya dan menyembah Allah Israel (2 Raj.5:17).

Mungkin untuk seketika waktu lamanya, gadis muda itu tidak mengerti, mengapa hal buruk terjadi atasnya? Mengapa ia harus berada di bawah kekuasaan seorang majikan asing? Namun di dalam providensia-Nya, Allah punya rencana bagi umatNya; sebuah rencana yang tak terpikirkan oleh manusia.

2. Gaya hidup “melakukan pekerjaan dengan baik”.

Ini juga merupakan topik yang diulang lagi dan lagi oleh Petrus dalam Surat 1 Petrus ini. Seorang tokoh (thx chandra utk koreksinya) pernah mengucapkan satu kalimat doa yang terkenal berikut ini, “Lord, grant me the strength to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference” (Terjemahannya kira-kira sebagai berikut, “Tuhan, berikan saya kekuatan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat aku ubah, dan hikmat untuk mengetahui perbedaannya“).

Banyak hal tidak dapat kita ubah dalam hidup kita, dan seringkali termasuk diantaranya adalah “keadaan”. Ada saat dimana kita dapat mengubah keadaan, tapi ada saat pula dimana kita tidak memiliki kuasa sama sekali untuk mengubah keadaan. Pada saat itulah, kita perlu belajar berdoa seperti Fransiskus dari Asisi, “Lord, grant me the strength to accept the things I cannot change” (Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah). Kekuatan untuk menerima apa yang tidak bisa diubah, mungkin itu pulalah yang dibutuhkan oleh para pekerja di zaman Petrus.

Tapi ketika “keadaan” di sekitar kita sepertinya tidak mungkin diubah, ada satu yang dapat diubah, yaitu “respon kita terhadapnya.” Disinilah doa Fransiskus Asisi kembali penting, yaitu meminta agar Tuhan memberikan kepada kita “the courage to change the things I can” (keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat aku ubah), yaitu “responku terhadap situasi”.

Ketimbang menyesali nasib terus-menerus; atau bahkan merancangkan sebuah kejahatan terhadap para majikannya, Petrus menasehati para pekerja Kristen untuk belajar melakukan hal baik terkait pekerjaannya. Seperti halnya yang dialami oleh gadis muda Israel yang menjadi pelayan isteri Naaman, siapa tahu melalui hal baik yang kita lakukan, keluar hal-hal baik berikutnya yang memang sejak semula Allah telah rancangkan untuk terjadi melalui kita.

Dengan melakukan ini, kita tidak akan “wasting time for nothing“, melainkan justru menjadi sarana Tuhan mendatangkan kebaikan yang lebih besar lagi. Dalam Surat 1 Petrus ini, Petrus bahkan memberikan sebuah visi (kemungkinan) yang lebih hebat lagi. Dengan berbuat baik, musuh-musuh Kekristenan tidak dapat memfitnah kita (1 Petrus 2:12; 3:16); dan bahkan pada waktunya, mereka akan memuliakan Bapa kita di sorga (2:12). Dan hebatnya lagi, Tuhan mengerjakan ini semua melalui kita. Sekali lagi, penting bagi kita memilih untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik, ketimbang larut menghabiskan waktu dalam perasaan mengasihani diri sendiri.

Mungkin tempat dimana Tuhan menempatkan kita saat ini bukanlah tempat yang sesuai keinginan kita. Tapi Tuhan tidak melemparkan kita begitu saja seperti seseorang melemparkan dadu di papan roulette sampai dadu itu berhenti di angka tertentu. Sebaliknya, Tuhan “menempatkan” kita dalam konteks spesifik tertentu, sesuai kedaulatanNya. Dan di tempat itu, marilah kita hidup meneladani Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hadir memberikan manfaat di tengah-tengah konteks kehidupan dimana kita ditempatkan. Ingat Taman Getsemani? Tindakan Yesus masuk ke dalam taman itu adalah sebuah tindakan simbolik yang menggambarkan seperti kehidupan Yesus harus menjadi. Getsemani artinya pemerasan zaitun, dan seperti tanaman Zaitun diperas sehingga menghasilkan minyak yang berguna bagi dunia, demikian juga kehidupan Yesus terperas sedemikian rupa sehingga membawa manfaat bagi dunia.

Siswa-siswa yang kita layani tidak pernah dapat memilih siapa guru yang akan mengajar mereka. Karena itu mari kita bersikap adil kepada mereka. Siapapun guru yang ditempatkan pemerintah atau lembaga tertentu untuk mengajar di sekolah ini, membawa dampak bagi kehidupan para siswa itu. Kalau guru-gurunya baik, mereka akan jadi baik. Kalau guru-gurunya baik, seperti Bapak/Ibu/Saudara sekalian, maka mereka pun akan menjadi baik, dan saya sendiri telah mendengar bagaimana perubahan positif telah terjadi di sekolah ini. Namun jika saja, pemerintah daerah tidak melanjutkan kontrak dengan lembaga dimana Bapak/Ibu/Saudara bernaung, lalu Anda semua dipulangkan ke Jawa atau ke daerah asal masing-masing, lalu sekolah ini tidak lagi menjadi sekolah percontohan, ya, sudah, mau bagaimana lagi. Yang penting dalam waktu yang ada ini; dalam waktu yang singkat ini, mari kita menggarap ladang ini dengan sebaik-baiknya, dan “just do it!”; mengenal kehendak Allah dan mengerjakan pekerjaan baik demi bersikap adil kepada para siswa itu juga. Biarkan hidup kita menjadi seperti zaitun yang terperas demi memberi manfaat bagi dunia.

3. Gaya hidup “menderita karena perbuatan baikmu, bukan karena kejahatan”.

Ini juga salah satu topik yang diulangi lagi dan lagi dalam Surat 1 Petrus ini. Ada satu hal yang harus kita pahami tentang penderitaan. Dalam situasi apapun, baik ataupun buruk menurut versi kita, selama kita masih hidup di dunia yang sudah jatuh dalam kuasa dosa ini, penderitaan adalah bagian hidup yang tidak akan pernah terpisahkan dari kita! Lain halnya jika kita telah mencapai langit dan bumi baru yang telah Allah sediakan bagi setiap kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, di sana tidak ada lagi penderitaan dan air mata.

Sekarang yang menjadi pilihan bagi kita selama hidup di dunia ini, bukanlah: “Menderita atau Tidak Menderita“, melainkan, “Menderita karena kebaikan, atau menderita karena kejahatan?” Dengan tegas Rasul Petrus menasehatkan, “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah” (ayat 20).

Pada akhirnya, Petrus pun memberikan teladan untuk hal ini melalui kehidupannya sendiri. Dahulu, Yesus pernah berkata kepada Petrus, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki” (Yohanes 21:18). Dan di masa tua Petrus, hal ini pun tergenapi. Menurut tradisi, suatu hari Petrus sedang berjalan keluar dari Roma untuk menghindari penganiayaan. Lalu di tengah perjalanan, ia berjumpa Yesus. Dengan heran, Petrus pun bertanya kepada Yesus, “Quo vadis, Domine?” (artinya: Mau kemana, Tuhan?). Dan Yesus pun menjawab, “Hendak ke Roma, untuk disalibkan kedua kalinya.” Mendengar jawaban Yesus, Petrus pun menjadi malu. Ia pun segera kembali menuju Roma, dan disanalah Petrus kemudian ditangkap oleh penguasa Romawi. Hukuman mati dengan disalib adalah hukuman terburuk bagi orang-orang non-Romawi, dan inilah bentuk hukuman mati yang menanti Petrus. Tapi Petrus pun kemudian meminta lagi agar ia diijinkan untuk dapat disalibkan terbalik, karena ia merasa tidak layak disalib seperti Tuhannya.

Keberanian Petrus untuk menderita demi kebaikan, semata-mata adalah untuk meneladani Tuhannya, Yesus Kristus. Dan menurut Petrus, itupun merupakan panggilan kita. Di ayat 21, Petrus menulis, “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” Berbicara mengenai jejak, saya teringat video tentang beruang es di sebuah siaran ilmu pengetahuan. Di atas es, tertinggal lubang-lubang jejak ditinggalkan oleh beruang es itu. Mengikuti jejak Yesus berarti kita menempatkan kaki kita di lubang-lubang jejak yang ditinggalkan langkah kaki Yesus. Petrus telah mendahului kita untuk meneladani Kristus, dan kini giliran kita untuk mengikuti Petrus, meneladani Kristus, Tuhannya dan Tuhan kita juga.

Memang kita tidak harus menjalani nasib yang sama dengan Petrus. Kita tidak harus mati di kayu salib, apalagi dengan posisi terbalik seperti rasul besar itu. Tapi kita diminta untuk menjejak di jejak-jejak yang sama yang telah Yesus Kristus tempuh, yaitu bagaimana, “22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. 23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. 24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.

Dari tiga (3) ayat ini, kita dapat menemukan dua (2) gaya hidup Yesus Kristus yang patut kita teladani:

1. Tuhan kita, Yesus Kristus, menderita, tapi tidak berdosa.

Ketika kita terancam oleh sesuatu, ada kecenderungan dalam diri kita untuk berbohong demi menyelamatkan diri. Pernahkah Saudara mengalami sendiri hal itu? Pernahkah Anda membuat dalih-dalih tertentu demi menyelamatkan diri Anda sendiri dari kesulitan-kesulitan tertentu? Pada saat itu Anda memilih, “Ah, saya akan mengatakan bla…bla…bla…, supaya saya tidak terjebak pada kesulitan yang lebih banyak lagi.

Ada semacam dorongan berdosa dalam diri kita untuk bersikap seperti Abram. Ingatkah Anda kisah Abram? Dalam Kejadian 12 dicatat bagaimana Abram berbohong kepada Raja Mesir demi menyelamatkan dirinya sendiri. Ia hampir saja kehilangan isterinya yang cantik, Sarai, jika saja Tuhan tidak intervensi menolong Abram. Tapi ironisnya, Bapak Orang Beriman yang juga adalah sahabat Allah ini, sekali lagi mengulangi kesalahannya, bahkan ketika namanya telah diubah menjadi Abraham (ada “h” disana, satu kata Ibrani yang menunjuk pada sehembus nafas Allah). Dalam Kejadian 20, sekali lagi, kali ini di hadapan Abimelekh, dia berdusta tentang isterinya, demi menyelamatkan nyawanya. Bapak orang beriman yang bernama Abraham, telah menunjukkan dirinya sebagai orang yang betul-betul kurang iman. Sekali lagi, ia hampir kehilangan isteri yang dicintainya, seandainya saja Tuhan tidak turun tangan menyelamatkannya (lagi!).

Ini berbeda dengan Tuhan kita, Yesus Kristus. Ketika Ia harus berhadapan dengan penderitaan, “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya” (ayat 22). Ayat ini juga makin meneguhkan kita bahwa Yesus Kristus, sungguh-sungguh wakil manusia yang layak untuk menggantikan kita menerima cawan murka Allah. Hanya manusia yang layak menggantikan manusia. Dan hanya manusia yang tidak berdosa, yang dapat memberikan nilai bagi kematian untuk menggantikan manusia lainnya itu.

Lebih lanjut di ayat 23 kita membaca, “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” Percayalah Saudara-saudara, ini bukanlah hal yang mudah untuk dipraktekkan! Natur kita sebagai manusia adalah condong untuk memuaskan death-instinct kita. Ketika kita terdorong untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, kita sedang menghidupi death-instinct atau instink kematian kita; sebuah naluri yang ingin menyebarluaskan kematian ketimbang kehidupan. Sebuah naluri seperti yang dimiliki oleh Lamekh dalam Kejadian 4:23-4, “Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” Melalui kehidupannya Lamekh menyebarluaskan bau kematian; menyebarluaskan sebuah death-instinct.

Salah seorang jemaat kami di GK Kalam Kudus Jayapura pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak gereja, dan ia sampaikan hal itu kepada Bapak Angkatnya, seorang misionaris asing. Dan jawaban misionaris ini begitu baik, “Kamu boleh marah, tapi jangan berbuat dosa!

Saya juga teringat ketika suatu hari -di masa kepemimpinan Pak Darma, Kepala Sekolah di SD Kampung Harapan ini- seorang orangtua murid yang salah paham, datang mengancam isteri saya sambil mengacung-acungkan parang. Ketika kemudian saya mendengar kabar bahwa isteri saya diperlakukan seperti itu, saya sebagai emosi cukup terpancing emosinya. Tapi Pak Darma kemudian mengatakan kepada saya, “Yah, serahkan saja masalah ini untuk diselesaikan pihak sekolah, Pak! Terkadang kita memang hanya bisa diam saja dan tampak seperti orang bodoh, tapi Tuhan Yesus saja yang tidak salah, diam saja waktu Dia dianiaya.

Belajar menyerahkan majikanmu kepada Allah yang menghakimi dengan adil, itulah yang Petrus kehendaki dari jemaatnya. Dan itu pula yang Tuhan kehendaki dari kita, yaitu untuk “Belajar menyerahkan kepada Allah, pihak-pihak yang memperlakukan kita dengan tidak adil, dan membiarkan Tuhan menghakiminya seturut keadilan Allah sendiri.” Mengapa menyerahkan kepada Allah itu penting? Karena ketika kita berusaha main hakim sendiri, itu berarti kita menjadikan diri kita Allah bagi diri kita sendiri. Maka pertolongan yang dapat kita peroleh, ya, hanya sebatas kemampuan kita itu saja! Pada detik kita main hakim sendiri, pada detik itulah Tuhan tidak lagi menjadi Tuhan bagi kita. Sebaliknya, ketika kita melepaskan hak kita dan menyerahkan penghakiman itu kepada Allah, kita sedang membuka diri untuk menerima pertolongan yang lebih besar, dan kita sedang memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan.

2. Tuhan kita, Yesus Kristus, menderita, tapi dari penderitaanNya keluar manfaat.

Ayat 24 mencatat tentang penderitaan Tuhan kita, Yesus Kristus, demikian, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Yesus menderita karena kebaikan. Ia dibenci oleh musuh-musuhNya bukan karena kesalahan yang Yesus telah lakukan, tapi karena kedengkian para musuh-musuhNya (Matius 27:18 dan Markus 15:10). Tapi penderitaan Yesus membawa manfaat bagi dunia.

Penderitaan Yesus yang berpuncak pada kematianNya di atas kayu salib, telah melepaskan kita dari murka Allah. Itu terjadi karena Yesus “sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib“; Ia telah menggantikan kita padahal seharusnya kitalah yang menerima murka Allah. Tidak berhenti sampai disitu. KematianNya pun telah membuat kebenaranNya diperhitungkan kepada kita. Kini kita yang percaya kepadaNya, telah mati terhadap dosa, dan hidup untuk kebenaran. Dan ketika dikatakan bahwa “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh“, berdasarkan konteksnya hal itu menunjuk pada pemulihan kehidupan rohani kita di hadapan Allah Bapa. Melalui kematian Kristus, kita telah diperdamaikan dengan Allah. Antara kita dengan Sang Pencipta terjadi rekonsiliasi (Roma 5:10 dan Kolose 1:22). Itu sebabnya, ketika Yesus mati di kayu salib, tirai Bait Allah terbelah dua dari atas ke bawah. Artinya, karena tindakan dari pihak Allah, kini melalui Kristus kita beroleh akses langsung untuk bersekutu dengan Allah.

Jadi dari keseluruhan ayat dalam perikop ini, sekali lagi Petrus mengingatkan kepada jemaat; kepada orang-orang Kristen yang telah menanggalkan kehidupan lamanya; agar memiliki gaya hidup yang baru. Dalam ayat 25 Rasul Petrus sekali lagi mengingatkan identitas orang-orang Kristen yang menjadi sasaran suratnya. Ia menulis, “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.” Petrus bermaksud mengatakan, “Hai para pekerja, milikilah gaya hidup yang baru! Milikilah gaya hidup yang seperti Kristus!” Mengapa? Karena “Allah adalah Gembala-pemelihara jiwa kita.

Aplikasi:

Jadi dari keseluruhan ayat dalam perikop ini, sekali lagi Petrus mengingatkan kepada jemaat; kepada orang-orang Kristen yang telah menanggalkan kehidupan lamanya; agar memiliki gaya hidup yang baru. Dalam ayat 25 Rasul Petrus sekali lagi mengingatkan identitas orang-orang Kristen yang menjadi sasaran suratnya. Ia menulis, “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.” Petrus bermaksud mengatakan, “Hai para pekerja, milikilah gaya hidup yang baru! Milikilah gaya hidup yang seperti Kristus!” Mengapa? Karena “Allah adalah Gembala-pemelihara jiwa kita.

Allah sebagai Gembala-Pemelihara jiwa kita menantang kita, para pekerja, untuk melakukan dua B, yaitu “Buka dan Beri“:

1. Bukalah diri untuk menerima pembelaan Allah.

Kembali ke dalam pelukan Sang Gembala artinya membiarkan Dia yang berperang bagi kita. Orang yang dengannya kita bekerja, mungkin bisa menjadi serigala bagi kita. Masyarakat sekitar kita mungkin bisa menjadi singa-singa yang mengintai dan siap menerkam kita. Bahkan rekan-rekan kita sejawat pun bisa menjadi beruang-beruang yang berkali-kali mencakar kita. Namun di dalam semuanya itu, ingat! Kita hanya domba yang telah kembali ke pelukan Sang Gembala yang Baik. Tidak akan Sang Gembala itu membiarkan kita tanpa pembelaan! Hanya persoalannya kini, akankah kita membiarkan Sang Gembala Baik itu yang membela kita, ataukah kita hendak membalas kejahatan dengan kuat-gagah kita sendiri?!

2. Berikan diri untuk menapaki jalan yang Yesus tapaki.

Yesus telah memberikan teladan bagi kita. Kalau benar Dia telah menjadi Gembala Baik kita, maka jalan yang Ia telah tapaki, maka jalan itulah yang harus kita lewati! Di luar jalan itu, kita akan tersesat. Dia telah memberikan teladan, dan teladan itulah yang harus kita ikuti. Lakukan pekerjaan yang baik dimana pun Allah menempatkan Bapak/Ibu/Saudara sekarang ini! Kalau Anda harus menderita, maka biarlah Anda menderita karena Anda mengerjakan hal-hal yang baik, bukan menderita karena dosa dan kejahatan!

Nah, gaya hidup baru seperti apakah yang kita praktekkan?!

(Disampaikan dalam Ibadah Guru SD dan SMP Kampung Harapan-Lentera Harapan, Jayapura, Selasa/19 Maret 2013)

2 thoughts on “1 Petrus 2:18-25. Gaya Hidup Baru Meresponi Konteks Penempatan Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s