Matius 26:36-56. Karya Kristus Mengajar Kita pula untuk Hadapi Tantangan dengan Berdoa (Versi Kedua)


Nats: Matius 26:36-56
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Baru saja kita merayakan Chinese New Year, Imlek. Menurut penanggalan China, sekarang adalah Tahun Ular Air. Orang mengatakan, pada tahun ular air, banyak tantangan; kelicikan; dsb. Namun bagi kita orang Kristen, segala sesuatu yang terjadi, baik ataupun buruk, ada di dalam kedaulatan Allah yang Mahabaik.

Saya tidak tahu tantangan apa yang akan Bapak/Ibu/Saudara hadapi pada hari-hari ke depan ini. Bagi Anda para siswa kelas 3 SMA, mungkin tantangan itu berwujud Ujian Nasional. Pemerintah telah membuat cara-cara sehingga pelaksanaan Ujian Nasional tahun demi tahun makin ketat, sehingga jauh dari kecurangan. Tahun ini saja, paket soal tidak lagi tertulis di atas kertas, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat langsung tahu paket soal berapa yang ia miliki. Hanya mesin scanner yang tahu. Ini membuat pihak-pihak yang terbiasa bermain curang menjadi cukup dibuat putus asa.

Berbicara tentang Ujian Nasional membuat saya teringat pengalaman saya beberapa tahun lalu, ketika saya sebagai guru agama, dimintai tolong oleh pihak Sekolah Kristen Kalam kudus untuk membantu menjadi Guru Pengawas Ujian Nasional. Saat itu, saya dimintai tolong untuk menjaga Ujian Nasional di sebuah sekolah swasta. Pada hari pertama, saya menggagalkan sebuah usaha ketidakjujuran di sekolah tersebut. Namun tindakan “berani” saya ini bukannya tanpa pergumulan. Untuk datang kembali di hari kedua, saya cukup gentar. Saya teringat pengalaman ayah saya puluhan tahun lalu ketika ia menjadi guru SMA, dan ia pernah hampir dikeroyok oleh para siswanya. Saya berpikir, bagaimana kalau hal tersebut terjadi pula pada diri saya di hari kedua. Ini adalah sebuah tantangan bagi saya.

Kita semua pun mungkin menghadapi banyak tantangan yang beragam. Tapi bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi tantangan itu? Dan bagaimanakah kita dapat memperoleh kekuatan menghadapi tantangan-tantangan itu? Hari ini kita akan belajar dari Tuhan Yesus sendiri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Mari kita membaca dua perikop di bawah ini dan membayangkannya sebagai dua buah adegan dari sebuah cerita. Ketika kita membaca kedua adegan ini, saya mohon Bapak/Ibu/Saudara merenungkan dalam hati, gambaran tokoh Yesus seperti apa yang ditampilkan dalam masing-masing adegan.

Adegan pertama: Yesus seperti apa yang Anda lihat?

36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani.

Taman Zaitun artinya, “Pemerasan minyak”. Letak Taman Getsemani terletak di lereng Gunung Zaitun. Dan Taman Getsemani adalah tempat untuk memeras minyak dari tanaman atau belukar zaitun. Tanaman Zaitun adalah lambang perdamaian. Kalau kita ingat, pada zaman Nuh, Tuhan murka kepada manusia, lalu menimpakan hukuman air Bah ke atas muka bumi. Milyaran, bahkan mungkin trilyunan, anak-anak panah berbentuk air, Tuhan curahkan ke atas muka bumi. Belum lagi air keluar dari dalam tanah. Selama 40 hari dan 40 malam, Tuhan memurkai bumi dan segala isinya. Hanya satu keluarga yang selamat dengan menaiki bahtera, yaitu keluarga Nuh. Lalu Tuhan teringat kepada keluarga Nuh, dan banjir pun surut. Dari tingkap atas bahtera, Nuh mengeluarkan dua ekor burung, yaitu gagak dan merpati. Burung merpati kembali ke bahtera dengan membawa sepucuk daun Zaitun. Tanda Allah tidak lagi memurkai bumi ini. Itu sebabnya, sampai saat ini, ada lembaga-lembaga perdamaian menggunakan lambang burung merpati dengan sepucuk daun Zaitun di paruhnya. Allah tidak lagi murka, dan busurnya Ia gantung di langit (kini kita melihatnya sebagai pelangi). Tuhan telah menggantung senjataNya, dan tidak lagi memurkai manusia.

Tindakan Yesus masuk ke Taman Getsemani adalah sebuah tindakan simbolik yang penuh makna. Apabila tanaman zaitun adalah lambang perdamaian, maka Yesus adalah Raja Damai. Namun bagaimana dengan pernyataan Yesus dalam Matius 10:34-36, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Ketika Anda mengambil keputusan untuk percaya dan mengikut Tuhan Yesus, orang-orang terdekatmu mungkin akan membencimu. Saya pernah mengenal dua orang, satu dari Pakistan, dan satu lagi dari Afganistan. Mereka baru saja lari dari negara mereka, dan mengungsi ke Indonesia. Tinggal di tempat penampungan, di Indonesia, mereka mulai mencari iman yang baru; iman yang sejati. Mereka mulai pergi ke gereja. Namun ini bukannya tanpa tantangan, bahkan dari teman-teman sebangsa mereka. Jadi, damai seperti apa yang Yesus bawa?

Yesus datang utamanya untuk membawa pendamaian bagi kita dengan Allah. Beberapa ayat berikut ini menyatakan hal itu:
• Roma 3:25, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya.
• Roma 5:11, “Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
• 2 Kor.5:18-19, “Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.
• Kolose 1:20, “…oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.”
• 1 Yoh.2:2, “Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.
• 1 Yoh.4:10, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”
Dan banyak ayat-ayat lain yang menyatakan tentang pendamaian yang Kristus lakukan bagi kita. Ia telah mati di kayu salib menebus kita, sehingga kita diperdamaikan dengan Allah. Ada sebuah rekonsiliasi. Re = kembali; konsili = pertemuan. Jadi ada persekutuan kembali antara kita dengan Allah. Ketika Yesus mati memperdamaikan kita dengan Allah, tirai bait suci terbelah dua dari atas ke bawah, menunjukkan bahwa tidak ada lagi pemisah antara kita dengan Allah, karena Yesus menjadi perantara kita.

Ketika ada di Taman Getsemani, Yesus berada di tempat pemerasan minyak. Sebagaimana tanaman Zaitun diperas menghasilkan minyak, dan memberikan manfaat bagi dunia, demikian juga kehidupan Yesus “diperas” sedemikian rupa; Yesus menderita, dianiaya, bahkan mati di kayu salib, namun itu semua membawa manfaat bagi umat kepunyaanNya, yaitu keselamatan atau hidup kekal.

Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.”
37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,

Yesus membawa murid-muridNya ke Taman Getsemani. Lalu Ia memilih tiga orang lagi, yaitu inner-circle-Nya, untuk mendampingi Dia melangkah sedikit lebih jauh lagi. Tiga orang yang diberi kehormatan mendampingi Yesus ini adalah tiga orang yang berkarakter kurang baik. Petrus dengan impulsifitasnya; cepat berbicara atau bertindak tanpa dipikirkan matang-matang; juga Yohanes dan Yakobus yang “sumbu pendek”; pernah suatu kali karena jengkel dengan orang-orang Samaria, mereka berkata kepada Tuhan, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Lukas 9:54). Namun Tuhan tahu bahwa ketiga orang ini adalah calon-calon pemimpin; dan akan menjadi orang-orang penting di kemudian hari. Dan terhadap ketiga orang ini, Tuhan memberi kepercayaan untuk belajar bergumul bersamaNya. Namun apakah ketiga orang ini memberi respon yang baik? Kita akan melihat nanti! Satu hal yang pasti, Yesus sendiri merasakan kesedihan dan kegentaran malam itu; dan Ia mengijinkan ada oranglain menemani Dia.

38 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Disini kita melihat kerapuhan Yesus. Ia sedang memperlihatkan diriNya sebagai manusia yang sejati. HatiNya sangat sedih, dan seperti mau mati rasanya. Saya tidak tahu apakah Saudara pernah mengalami pengalaman pergumulan berat, sampai mau mati rasanya. Mungkin Saudara yang sedang patah hati dapat merasakan perasaan yang seperti itu.

39 Maka Ia maju sedikit,….

Luk. 22:41, “Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya.”

…lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku….”

Lihat Kamus Alkitab, “Piala atau cawan kadang-kadang dipandang sebagai lambang nasib atau penderitaan manusia [Mzm. 75:9]. Minum cawan berarti: menerima kesengsaraan [Yer.49:12; Mat.20:22]. Juga dapat dipakai dalam arti: tempat yang berisi dengan murka Allah [Yes.51:17; Yer.25:15; Why.15:7; 16:1, dsb.]”. Jadi Yesus tahu bahwa Dia harus menerima cawan murka Allah. Murka Allah atas manusia berdosa akan ditimpakan seluruhnya kepada Dia. Yesus harus mati menanggung dosa manusia; Dia yang menerima hukuman, padahal seharusnya kitalah yang dihukum dan menerima murka Allah.

“…tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Disini kita membaca bahwa di dalam kerapuhanNya, Ia tetap memilih untuk taat kepada BapaNya.

40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur….

Siapa murid-murid yang tertidur ini? Mereka yang dalam Markus 14:31 pernah sesumbar dengan mengatakan bahwa mereka tidak akan menyangkal Yesus dan berani mati bagi Yesus. Namun jangankan untuk mati bagi Yesus, berjaga dalam doa saja mereka tidak dapat, dan mereka lebih memilih tidur.

Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?

Ini adalah sebuah sindiran keras bagi Petrus. Karena Petruslah yang dalam impulsifitasnya pernah berkata, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Matius 26:33).

41 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Inilah satu kalimat kunci yang penting bagi kotbah saya hari ini. Yesus berpesan kepada murid-muridNya untuk berjaga-jaga dan berdoa. Ketika kemudian Yesus mengatakan “roh memang penurut, tetapi daging lemah”, itu tidak hanya menunjukkan kelemahan daging para murid, namun juga daging kemanusiaan Yesus. Daging kita ini adalah “makanan” setan. Melalui daging kita ini, setan mencobai kita agar kita jatuh. Setan membangkitkan keinginan-keinginan melalui daging kita ini. Tubuh kita yang tadinya diciptakan untuk memuliakan Allah, kini menjadi alat setan untuk menjatuhkan kita. Yesus dalam kemanusiaanNya yang sejati, sadar itu, karena itu Ia memperingatkan kepada para muridNya, berjaga-jaga dan berdoalah.

42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”

Yesus kembali memohonkan hal yang sama kepada BapaNya.

43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.

Dalam Lukas 22:45, dikatakan bahwa “mereka sedang tidur karena dukacita.” Seringkali mata kita bisa menjadi terlalu berat oleh karena air mata atau dukacita atau beban berat. Kita tidak lagi bisa memandang ke atas; memandang kepada Allah, dan memilih untuk hanyut; tertidur secara rohani, ketimbang untuk berdoa meminta kekuatan Allah. Sesungguhnya apa yang dilakukan para murid ini menjadi cerminan kehidupan semua kita.

44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.

Yesus mengucapkan doa yang itu juga. Di dalam Alkitab, apabila ada suatu pernyataan diulangi, berarti ada penekanan penting; ada sebuah keadaan urgent; sesuatu itu harus dan pasti terjadi. Dan sementara Yesus berdoa, dalam Luk. 22:43-44 dicatat, “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah”. Seorang malaikat muncul untuk menguatkan Yesus. Hanya seorang malaikat; dan bukan banyak malaikat dengan sebuah aksi militer untuk membela Yesus. Hanya seorang malaikat, itu pun hanya untuk menguatkan Yesus. Mengapa? Karena Yesus sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Dan mungkin karena begitu depresinya, peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

Sekali lagi di dalam adegan ini, kita melihat sosok Yesus yang begitu rapuh; lemah. Ia merasakan ketakutan selayaknya manusia yang sejati. Ia bukan setengah dewa dan setengah manusia, seperti Hercules. Ada pula bidat-bidat sebagaimana dikatakan dalam 2 Yohanes 1:7, “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.” Ada bidat yang mengatakan bahwa Yesus hanya kelihatannya saja seperti manusia. Tetapi Yesus sepenuhnya manusia sejati. Ia adalah manusia yang Ilahi. Penulis Kitab Ibrani menyatakan tentang Yesus, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15). Yesus harus menjadi manusia sejati, karena hanya dengan demikian Ia dapat layak menggantikan kita. Hanya manusia sejati yang dapat menggantikan manusia sejati untuk menanggung murka Allah. Dan lebih lagi, Yesus adalah manusia sejati yang tidak berdosa.

45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah.”

Lukas 22:47 mencatat bahwa “Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang.

“Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

Dari adegan pertama ini: Yesus seperti apa yang Anda lihat? Saya pribadi melihat satu sosok Yesus yang begitu manusiawi; begitu rapuh, namun mau tetap taat dengan panggilan hidupNya, yaitu datang ke dunia untuk menuju salib.

Adegan kedua: Yesus seperti apa yang Anda lihat?

47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.

Perhatikan, rombongan yang membawa pedang dan pentung itu adalah suruhan para imam kepala; para tua-tua Yahudi; keduanya adalah kelompok orang yang bergaul erat dengan Kitab Suci. Orang-orang yang bergaul erat dengan Firman yang tertulis; justru sedang menganiaya Firman yang menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus. Saya pernah mengkotbahkan di tempat ini dua hal penting dalam mengikut Tuhan: (1) Bergaul dengan Firman Tuhan; dan (2) Bergaul dengan Roh Kudus. Perhatikan kalimat ini, “Orang yang bergaul dengan Alkitab, belum tentu bergaul dengan Roh Kudus; namun orang yang bergaul dengan Roh Kudus, sewajarnya, pasti bergaul dengan Alkitab”. Seorang dosen saya asal Amerika Serikat mengatakan bahwa orang-orang yang sangat ahli dan menguasai Alkitab dalam bahasa-bahasa aslinya, justru adalah orang-orang Atheis. Ini artinya, mereka bergaul dengan Alkitab, namun tidak bergaul dengan Roh Kudus. Sebaliknya, kalau ada orang yang mengaku bergaul dengan Roh Kudus, maka ciri utamanya, harusnya dan wajarnya adalah “tekun belajar Alkitab”.

48 Orang yang menyerahkan Dia

yaitu Yudas Iskariot.

telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia

49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi”,

Guru.

lalu mencium Dia.

50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman”

Kawan, tapi tidak dalam hubungan yang intim.

“untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.
51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus.

Yoh. 18:10 menyebut namanya, yaitu Simon Petrus.

…mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar

Yoh. 18:10 menyebut namanya, yaitu Malkus

sehingga putus telinganya.

Petrus telah berinisiatif untuk bertindak! Ia memperlihatkan keberaniannya. Ia mungkin berpikir dan berharap, segera setelah ia bertindak, Yesus akan memberi komando kepada kesepuluh murid lainnya untuk membantu dia. Atau Yesus memberi komando kepada para malaikat untuk menolong Petrus. Namun respon Yesus yang kemudian, sungguh membuatnya ciut; tidak percaya; shock; kecewa….

52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.”

Petrus mungkin kaget dan tidak menyangka! “Apa? Yesus menyuruh menyarungkan pedangnya? Kok, kini malah aku yang merasa terancam, ya? Yesus mengatakan barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang! Bukankah itu ancaman buatku?” Mungkin pikiran-pikiran semacam ini muncul dalam pikiran Petrus. Ia betul-betul tidak percaya dengan respon Yesus yang begitu tenang, cool, damai, dan teduh. Yesus pun berkata lagi kepada Petrus….

53 Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?

Satu pasukan atau satu legion = 6000 orang. Jadi, 12 legion malaikat = 72.000 malaikat. Yesus sanggup mendatangkan lebih dari 72.000 malaikat untuk membantunya, namun dalam peristiwa di Taman Getsemani ini, hanya diceritakan satu malaikat. Dalam peristiwa di Taman Getsemani ini, hanya diceritakan satu malaikat menguatkan Yesus, dan bukan 72.000 malaikat untuk membantu Yesus dengan kekuatan militer. Yesus berkata lagi kepada Petrus…

54 “Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”
55 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku.
56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.

Yesus dua kali berbicara tentang penggenapan Kitab Suci. Ia memiliki panggilan hidup yang jelas. Ia tahu bahwa Ia datang untuk menuju salib. Dan dengan kekuatan yang Ia peroleh dari BapaNya melalui sarana doa, Ia taat menggenapi panggilan hidupNya. Disini kita melihat sosok Yesus yang begitu tenang; teduh; dan damai. Yoh. 18:5-9 mencatat betapa tenangnya Yesus menyambut orang-orang yang hendak menangkapNya, “Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: “Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: “Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Maka Ia bertanya pula: “Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka: “Yesus dari Nazaret.” Jawab Yesus: “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: “Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa”.” Dua kali Yesus menjawab dengan tenang kepada para penangkapNya, “Akulah Dia”. Jikalau Yesus begitu tenang; damai; dan teduh, bagaimana dengan para muridNya?

Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Mereka yang tidak berdoa, tidak memiliki kekuatan rohani untuk menghadapi tantangan di depan. Dan terbukti, semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri, dan Yesus pun kini seorang diri.

Demikian dari dua adegan ini, kita melihat dua sikap Yesus. Di adegan pertama kita melihat Yesus yang nampak begitu rapuh dalam kemanusiaan sejatiNya, namun di adegan kedua kita melihat Yesus yang nampak begitu tenang; teduh; dan damai. Apa rahasia kekuatan Yesus? Bagaimana Ia memperolehnya? Saya belajar bahwa ayat 41 menjadi kunci penting bagi kita, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Doa menjadi sarana yang Tuhan Allah sediakan untuk kita beroleh kekuatan daripadaNya.

Dari seluruh bagian ini, kita dapat menarik dua aplikasi untuk kita terapkan:

1. Berdoalah sementara Anda memenuhi panggilan Tuhan atas kehidupan Anda.

Yesus memiliki panggilan hidup yang jelas. Ia datang ke dunia untuk menuju salib. Lagu tema GK Kalam Kudus bulan ini berjudul, “Lord, I Lift Your Name on High”, syairnya mengatakan, “You came from heaven to earth to show the way, from the earth to the cross my debt to pay, from the cross to the grave, from the grave to the Sky.” Syair lagu ini mengajarkan kepada kita Doktrin Kristologi. Dan dari lagu ini kita melihat bahwa Yesus datang dari sorga menuju salib. Yesus mengerti bahwa untuk saliblah Ia turun ke dunia.

Setan berulangkali mengalihkan pandangan Yesus dari visi salib ini. Ketika iblis mencobai Yesus sebanyak tiga kali di padang gurun, iblis menawarkan jalan kemuliaan yang tidak melalui salib. Tapi Yesus menolaknya. Dikemudian hari, iblis berbicara melalui Petrus. Ketika Petrus mendengar bahwa Mesias harus menderita, Petrus menolak ide tersebut. Namun Yesus kemudian menghardik Petrus dengan perkataan, “Enyahlah engkau Iblis!” Dan saya percaya, pergumulan Yesus di Taman Getsemani adalah puncak pencobaan iblis. Pada momen inilah, Yesus harus berjuang keras melawan keinginan dagingnya yang tidak menghendaki untuk menempuh jalan kemuliaan melalui salib. Melalui daging, iblis berkata, “tidak perlu Engkau meminum cawan penderitaan ini!” Namun Yesus dalam ketaatan kepada BapaNya, berkata, “tetapi bukan kehendakKu, melainkan kehendakMu yang jadi.

Setiap Anda memiliki panggilan hidup masing-masing. Efesus 2:10 mencatat, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Allah telah mempersiapkan pekerjaan-pekerjaan baik untuk kita kerjakan, dan itulah panggilan hidup kita. Apapun bentuk panggilan Tahun bagi hidup Anda, baik sebagai rohaniwan, guru, pegawai negeri, pengusaha, ibu rumah tangga, dan sebagainya, Anda harus sadar bahwa ada tantangan untuk mengerjakan panggilan Tuhan bagi hidup Anda tersebut!

Seperti Yesus, hendaklah Anda mengandalkan kekuatan Bapa di sorga dan bukan kekuatan Anda sendiri. Dan sarana yang Tuhan telah sediakan untuk Anda dapat menerima kekuatan Tuhan adalah melalui doa. “Ndlosor” (bahasa Jawa), itulah kuncinya! Berlututlah, berdoalah, dan jadilah tenang dalam menghadapi setiap tantangan!

2. Berdoalah sementara Anda menghadapi tantangan dan pergumulan berat dalam hidup Anda.

Mungkin Anda juga sedang menghadapi banyak pergumulan berat. Suami yang berzinah; isteri yang selingkuh; anak-anak yang perilakunya tidak juga berubah; terlibat hutang; apapun masalah berat yang sedang Anda hadapi. Ingat sarana yang Tuhan telah sediakan untuk Anda beroleh kekuatan dariNya. Doa. Sekali lagi, berdoalah, dan jadilah tenang dalam menghadapi setiap tantangan!

Kembali kepada cerita saya di awal kotbah. Malam sebelum hari kedua tiba, saya berdoa kepada Tuhan. Saya cukup merasa gentar untuk datang kembali ke sekolah tempat saya mengawas Ujian Nasional. Bagaimana jika para siswa disana mengeroyok saya? Namun dengan kekuatan dari Tuhan, saya datang juga. Dan terbukti, tidak terjadi apa-apa. Mungkin kali ini, mereka “bermain lebih cantik“.

Beberapa waktu kemudian, keberanian saya menggagalkan upaya kecurangan membuat nama saya terkenal. Seorang guru senior yang turut mengawas di ruangan yang sama dengan saya di hari pertama, ditegur oleh salah seorang petinggi, “Mengapa Kamu tidak mencegah guru Kalam Kudus itu untuk berbuat demikian?” Namun jawaban guru senior itu mengharukan hati saya. Ia menjawab petinggi itu, “Pak, kalau ada anak kecil mengajarkan sesuatu yang benar, saya lebih memilih untuk mengikuti anak kecil ketimbang mengikuti orangtua tapi keliru!” Anda tidak akan pernah menyangka, keberanian Anda bertindak benar, menjadi inspirasi bagi oranglain.

(Dikotbahkan di Kebaktian Umum III GK Kalam Kudus Jayapura pada hari Minggu/10 Maret 2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s