Matius 26:30 dan Markus 14:26. Persembahan dan Pelayanan Musik bagi TUHAN (Bagian Pertama)


Nats: Matius 26:30 dan Markus 14:26
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Saya tidak memiliki latarbelakang pendidikan musik gerejawi, namun saya harus menyampaikan materi ini karena desakan kebutuhan. Jadi apa kompetensi saya untuk menyampaikan materi tentang pelayanan musik gerejawi, secara khusus tentang pemimpin pujian? Saya berpikir setidaknya saya memiliki pengalaman “learning by doing” sejak remaja. Saya sudah mempraktekkan sendiri memimpin pujian, baik seperti yang dipraktekkan dalam kalangan Kharismatik maupun seperti yang dipraktekkan dalam persekutuan-persekutuan Perkantas. Selebihnya saya membaca buku-buku dan bertukar pikiran dengan isteri saya yang memiliki pengalaman memimpin pujian di hadapan ribuan orang.

Bagian Firman Tuhan yang saya hendak sampaikan di bagian awal pembahasan ini, saya peroleh secara “tidak sengaja”. Sabtu kemarin, saya seharusnya memimpin persekutuan doa pagi di gereja. Namun saya datang terlambat akibat saya memakan waktu sedikit terlalu lama untuk mencari dimana saya telah meletakkan STNK motor saya. Pdt. Yeremia pun menggantikan saya menyampaikan kotbah. Dan di dalam kedaulatan Tuhan, ternyata saya mendapatkan bahwa ayat Firman Tuhan yang beliau sampaikan, tepat untuk saya sampaikan sebagai dasar pembahasan materi tentang persembahan dan pelayanan musik ini.

Di dalam ayat ini kita membaca, “Sesudah menyanyikan nyanyian pujian (Yun. humneo), pergilah Yesus dan murid-muridNya ke Bukit Zaitun” (Mat.26:30). Dari beberapa bagian ini, kita dapat melihat beberapa hal:

1. Lembaga Alkitab Indonesia menggunakan istilah “nyanyian pujian” atau dalam bahasa Inggrisnya “hymne”, dari bahasa Yunani “humneo”. Mengapa disebut “nyanyian pujian” dan bukan “lagu pujian”? Ada perbedaan antara “nyanyian” dengan “lagu”:
a. Nyanyian: Suatu perpaduan yang harmonis antara lagu dan syair dengan arti yang tertentu.
b. Lagu: Perpaduan yang harmonis antara nada dan irama (tanpa syair), misalnya: siulan; petikan gitar.
Jadi, nyanyian mengandung syair, sedangkan lagu tidak. Nah, cetusan ekspresi isi hati yang diungkapkan dalam bentuk lagu dan nyanyian, disebut “musik”. Musik sendiri dibagi menjadi dua:
a. Musik instrumental: Musik yang bersumber dari alat-alat musik yang menghasilkan bunyi.
b. Musik vokal: Musik yang bersumber dari suara manusia.

2. Apa yang Yesus dan murid-muridNya nyanyikan?
Biasanya, nyanyian hymne Paskah yang dinyanyikan adalah Mazmur 113–118 dan juga Mazmur 136, yang oleh orang Yahudi disebut “Hallel Agung”. Pembagiannya:
a. Mazmur 113–114 dinyanyikan sebelum makan.
b. Dan sebagai penutup ibadah mereka menyanyikan Mazmur 115–118.
Disini Nyanyian “Mazmur” diterjemahkan sebagai “Hymns”, namun dalam tulisan-tulisan Paulus “Mazmur” dan “Hymns” dibedakan.

3. Pembedaan di masa Rasul Paulus (Efesus 5:19 dan Kolose 3:16).

…dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur (Psalms), kidung puji-pujian (Hymns) dan nyanyian rohani (Spiritual Songs). Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati” (Ef. 5:19)

Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur (Psalms), dan puji-pujian (Hymns) dan nyanyian rohani (Spiritual Songs), kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu” (Kol. 3:16)

Jadi ada tiga bentuk nyanyian:
a. Mazmur
b. Hymne
c. Nyanyian Rohani

4. Apa yang dapat kupelajari tentang Mazmur?
Ini adalah satu bentuk nyanyian Alkitabiah, yaitu nyanyian yang syairnya merupakan gubahan langsung dari suatu perikop atau pasal dalam Alkitab. “Mazmur” (Ibr. mizmowr) diiringi dengan sebuah instrumen, dengan hati-hati disusun.

5. Apa itu Nyanyian Rohani?
Ini adalah nyanyian yang syairnya tidak bersumber pada satu perikop tertentu dalam Alkitab, melainkan bersumber pada refleksi iman Kristen sehubungan dengan pergumulan iman atau tujuan beribadah. “Nyanyian-nyanyian” (Yun. Oodai; Ibr. Shiyr) adalah bagian-bagian syair sukacita terkait subyek-subyek suci; kontras dengan kesukariaan lagu-lagu kafir dari perayaan-perayaan yang tidak bermoral (Amos 8:10).

Pendampingnya adalah “melody of the heart” (nyanyian hati), bukan alat musik kecapi.

6. Apa itu hymne?
Bahasa Ibrani “hymne” adalah “tehilliym” yang menunjuk pada “pujian langsung kepada Allah” (Lihat Kis. 16:25, “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka”; Yak. 5:13, “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!”). Tidak terbatas pada penyembahan/ibadah gerejawi; namun digunakan juga untuk meriangkan suasana orang-orang Kristen di dalam perayaan-perayaan sosial.

Karakteristik Hymne:
a. Isinya Alkitabiah dan doktrinal. Ada acuan kepada Firman Tuhan hampir di setiap ayat dan barisnya.
b. Mengandung karakter “personal”, karena berdasarkan pengalaman rohani. Tapi ketika penulis menceritakan pengalaman rohaninya, ia mengkaitkannya dengan doktrin-doktrin Kristen.
c. Menampakkan keyakinan yang penuh sukacita. Sayangnya, saat ini lagu hymne diidentikkan dengan suasana gloomy (sendu).
d. Penekanan pada Pribadi dan Karya Tuhan Yesus Kristus.
Tokoh dari Inggris yang sangat terkenal telah mewariskan lagu-lagu hymne yang begitu banyak dan bermutu adalah Charles Wesley. Ada hymne yang dianggap bermutu tinggi, seperti karya-karya Charles Wesley, dan ada yang dianggap kurang. Meski demikian, hymne memiliki karakteristik yang lebih kaya daripada nyanyian rohani.

Beberapa orang umumnya menerima, bahwa pengakuan iman dalam 1 Tim.3:16 berbentuk hymne, “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan’.”

Secara teknis penulisan syair, terdapat karakteristik berikut:
a. Kalimat-kalimat pendek yang tidak berhubungan; dengan kata-kata yang disusun mirip;
b. hampir di dalam jumlah suku kata yang sama;
c. anak-anak kalimat ada dalam bentuk paralel yang disusun secara berlawanan (ini adalah prinsip penggubahan/pengarangan syair Ibrani);
d. masing-masing keduanya membentuk satu pasang yang mengkontraskan surga dan bumi; dan susunannya dibalik di dalam setiap pasangan yang baru, daging dan roh, malaikat-malaikat dan orang-orang kafir;
e. anak-anak kalimat yang pertama dan yang terakhir saling berkorespondensi, “menyatakan diriNya dalam rupa manusia . . . diangkat dalam kemuliaan.”

7. Alasan kita menaikkan musik untuk Tuhan.
Yesus memuji Tuhan meskipun Ia tahu sebentar lagi akan menderita (baca Matius 26:31 dst.). Musik memang merupakan ekspresi hati (Yak. 5:13, “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!”), tapi dalam kehidupan iman, musik juga bertujuan untuk memuliakan dan menceritakan tentang Allah, dalam kondisi apapun (Kis. 16:25, “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka”). Dalam kedua kondisi ini, baik susah maupun senang, memuji Allah harus dilakukan secara sungguh-sungguh, sehingga sikap kita tidak didikte oleh mood kita.

Secara garis besar, ada dua alasan mengapa gereja/jemaat bernyanyi:
a. Alasan aklamasi (aspek vertikal). Jemaat bernyanyi dan bermusik karena hendak memberikan respon iman (berupa puji-pujian/ucapan syukur) atas karya penyelamatan yang sudah dikerjakan Allah di dalam Yesus Kristus. Nyanyian jemaat/gereja lebih bersifat doxologis (puji-pujian kepada Allah atau pemuliaan Allah).
b. Alasan proklamasi (aspek horizontal). Jemaat bernyanyi dan bermusik karena hendak memberitakan (memberi kesaksian) kepada orang-orang lain di sekitarnya tentang perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib, dengan memuji Allah secara serentak atas karya keselamatan yang dikerjakanNya di dalam Yesus Kristus.

8. Pemimpin pujian dalam Alkitab.
a. Bacalah Kel.15:1-21. Siapa yang memimpin bangsa Israel menyanyi? Dan karena peristiwa apa? Jawab: Musa dan Maryam.
b. Bacalah Dalam 1 Taw.25:1-3. Dicatat bahwa Daud mengangkap para pemimpin musik ibadah, yaitu: Asaf, Heman, dan Yedutun. Pada zaman itu mereka disebut Menatseakh (pengangkat nyanyian, pemimpin biduan). Di zaman Daud juga dikembangkan antifonal (Berbalasan antara dua paduan suara/khorus, di sebelah kanan dan kiri.
c. Dalam perkembangannya, dalam kalangan Gereja Barat (maksudnya Gereja yang terletak di sebelah Barat kekaisaran Romawi dan berbahasa Latin, jadi bukannya berbahasa Yunani seperti Gereja yang terletak di sebelah Timur kekuasaan Romawi), pemimpin nyanyian jemaat mendapatkan sebutan Cantor (“cantate” artinya “menyanyi bersama”). Di kemudian hari, di gereja yang berbahasa Inggris, pemimpin nyanyian jemaat disebut Precenter (sebuah istilah yang familiar di telinga kita, bukan?).

Di kalangan Gereja Barat, pemimpin nyanyian jemaat adalah orang yang memiliki cantorship atau kemampuan untuk memimpin nyanyian jemaat dengan lengkap dalam ibadah. Mereka biasanya disebut procantor (dari bahasa Latin “pro” artinya “di depan/berdiri di depan atau berdiri untuk” dan “cantate”). Sedangkan tim dari pemimpin nyanyian jemaat ini disebut Cantoria.

Awalnya, prokantor adalah pemimpin paduan suara pertama yang memulai nyanyian antiphonal. Karena itu, prokantor dapat juga diartikan “yang menyanyi lebih dahulu.” Sesudah prokantor memimpin paduan suara pertama, maka pemimpin paduan suara yang kedua pun menjawabnya dalam nyanyian berbalasan. Pemimpin yang kedua ini disebut subcantor.

Di gereja-gereja yang menerapkan pola ibadah kontemporer (yang lebih bebas), tidak dikenal istilah prokantor, melainkan Song Leader/Pemimpin Pujian, dan juga singers. Istilah-istilah ini sebetulnya menggambarkan bagian-bagian tugas dari prokantor. Song Leader sendiri sebetulnya berbeda dengan MC (Master of Ceremony). Seorang Song Leader memimpin umat untuk memuji Tuhan. Sedangkan seorang MC menuntun hadirin untuk mengikuti suatu mata-acara ke mata-acara berikutnya dalam sebuah kegiatan upacara atau pesta. Sekarang ini juga muncul istilah lain, yaitu Worship Leader (pemimpin penyembahan), namun dalam makalah ini, istilah Song Leader saya gunakan untuk mencangkup pula tugas Worship Leader.

Di gereja-gereja yang menerapkan pola ibadah kontemporer, kedudukan paduan suara seringkali digantikan oleh (hanya) tiga atau empat orang yang berfungsi sebagai backing vocal (singers) atau penyanyi pendukung. Namun ada pula yang membentuk paduan suara dengan satu orang dirigen, yang kesemuanya berdiri di belakang song leader.

9. Tugas Pemimpin Nyanyian Jemaat saat memilih nyanyian:
a. Berdoa; meminta pimpinan Tuhan untuk pelayanan yang akan dikerjakannya, supaya mempermuliakan nama Tuhan dan membangun jemaat.
b. Jangan memilih nyanyian yang Anda benar-benar sulit kuasai.
c. Kita harus menghayati dan pandai menangkap maksud/pesan yang ingin disampaikan oleh sebuah nyanyian, agar dapat menempatkannya pada tempat yang tepat dalam susunan ibadah kita.
d. Ada prinsip “Melodi tunduk melayani syair”. Jadi jangan pilih nyanyian berdasarkan kegemaran, atau karena menurut Anda nadanya enak didengar.
e. Pilihlah nyanyian yang syairnya:
1) Berisi “tentang” atau “kepada” sesama manusia. Biasanya digunakan di bagian awal kebaktian.
2) Berisi “tentang” Allah dan ciptaanNya. Syairnya mengandung kata ganti orang ketiga tunggal, misalnya mengandung kata Dia dan -Nya. Biasanya digunakan di bagian awal kebaktian ataupun di bagian akhir sekali dari kebaktian (untuk nyanyian pengutusan/penutup ibadah).
3) Tertuju “kepada” Allah. Syairnya mengandung ganti orang kedua tunggal, misalnya Engkau, Kau, Mu. Digunakan di bagian pertengahan/puncak kebaktian.
f. Sebisa mungkin memahami latar belakang munculnya sebuah nyanyian. Membaca buku berjudul Story Behind The Song (Hymne & Kontemporer) karya Yusak I. Suryana (Jakarta: YIS Production, 2010), dapat menolong. Buku yang lain berjudul 101 Hymn Stories karya Kenneth W. Osbeck (Grand Rapids: Kregel Publications, 1982).
g. Tetapkan juga musik preludium (musik pengiring untuk saat teduh di awal kebaktian).
h. Sebisa mungkin tetapkan juga musik postludium. Postlodium adalah permainan musik di akhir ibadah, setelah ibadah selesai. Permainan di akhir nyanyian jemaat amat sangat jarang terjadi, namun permainan di akhir ibadah sangat disarankan. Sebaiknya dimainkan nyanyian pengutusan atau nyanyian yang gegap gempita untuk mengantar umat kembali ke dalam hidup sehari-hari, dan menjadi saksi Kristus di dalam dunia. Sementara postludium dimainkan, pemimpin nyanyian jemaat dapat meminta jemaat untuk saling bersalaman.
i. Pemimpin nyanyian jemaat meminta pemusik untuk mencari akord sebuah lagu sebelum latihan dimulai (hal ini kini bisa dilakukan dengan browsing internet), jika pemusik tidak mengetahui akord lagu yang hendak dimainkan.
j. Buat power point dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut:
1) Jangan menggunakan gambar latarbelakang yang terlalu ramai, terlalu berwarna-warni, jangan juga wajah orang tertentu, logo lembaga tertentu, gambar yang mengandung hak cipta, jangan juga mengandung unsur-unsur tulisan yang tidak mendukung ibadah, dsb. Jika ingin menggunakan gambar latarbelakang pemandangan, pilihlah yang warnanya tidak terlalu ramai.
2) Pilihlah bentuk huruf yang sederhana dan jelas dibaca dari kejauhan. Kalau bisa setiap minggu tidak berubah-ubah bentuk hurufnya.
3) Pilihlah warna huruf yang kontras dengan gambar latarbelakangnya, sehingga mudah dibaca.
4) Ukuran huruf jangan terlalu kecil.
5) Letakkan minimal, satu bait untuk satu kali tampilan layar. Jangan paksakan ada lebih dari satu bait dalam satu kali tampilan layar. Ini dapat menyebabkan tulisan menjadi terlalu kecil dan sulit dibaca.
6) Simpan file powerpoint dalam format yang dapat dibuka kembali dari laptop/komputer operator/gereja.

(Disampaikan dalam Kebaktian Komisi Remaja GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/3 Maret 2013)

Sumber:
A.R. Fausset, “Fausset’s Bible Dictionary,” Bible Works 8.
Frank Colquhoun, “Great Churchmen (No 8) Charles Wesley,” http://churchsociety.org/issues_new/history/wesleychas/iss_history_wesleychas_Colquhoun-HymnsCharacter.asp (diakses tanggal 2 Maret 2013).
GKI, BPMS. Musik Dalam Ibadah Komisi Liturgi dan Musik Sinode GKI. Jakarta: Grafika KreasIndo, 2012.
Hibbert, Mike, dan Viv Hibbert. Pelayanan Musik, terj. Hariyono dan Xavier Q.P. Yogyakarta: Andi, 2001.
Mawane. Gereja yang Bernyanyi: Menghidupkan Ibadah dengan Lagu. Yogyakarta: Andi, 2004.
Osbeck, Kenneth W. 101 Hymn Stories. Grand Rapids: Kregel Publications, 1982.
Suryana, Yusak I. Story Behind the Song Hymne & Kontemporer (Kisah di Balik Lagu). Jakarta: YIS Production, 2010.
Walter W. Wessel and Ralph Earle, “Matthew”, NIV Study Bible. Grand Rapids, Michigan: Zonderfan, 2002.

https://pealtwo.wordpress.com/enam-kode-kunci-dalam-memimpin-pujian/ (diakses tanggal 10 Februari 2015).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s