Yehezkiel 26:1-21. Kesombongan Tirus


Nats: Yehezkiel 26:1-21
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

Ada saatnya dimana anak-anak Tuhan gagal atau jatuh, dan harus menerima pukulan atau hukuman dari Tuhan. Ada saatnya ketika itu terjadi, orang disekeliling kita mensyukuri apa yang kita sedang alami. Hal semacam itu pernah dialami oleh umat Tuhan, bangsa Yehuda, yang negaranya beribukota di Yerusalem.

Sebagai umat Allah mereka telah memberontak kepada Tuhan, dan Tuhan pun menghukum mereka. Bagaimana cara Tuhan menghukum mereka? Tuhan menggerakkan bangsa Babilonia dengan rajanya bernama Nebukadnezar, datang ke Negeri Yehuda, dan menaklukkan Yehuda. Banyak orang-orang Yehuda diangkut ke pembuangan. Ada diantara rombongan yang diangkut itu adalah orang-orang saleh, seperti Yehezkiel.

Nama Yehezkiel berarti “Allah akan menguatkan”. Ia hidup seangkatan dengan Nabi Yeremia dan Daniel. Ayat 1 memberikan kepada kita catatan sebagai berikut, “Pada tahun kesebelas, dalam bulan yang tertentu, pada tanggal satu bulan itu, datanglah firman TUHAN kepadaku.” Firman Tuhan datang kepada Yehezkiel ketika Yehezkiel ada di pembuangan. [Apabila Yeremia melayani di Tanah Yudea, maka] Yehezkiel melayani di negeri pembuangan.

Apa isi Firman Tuhan kepada Yehezkiel? Firman Tuhan mengatakan, “Hai anak manusia, oleh karena Tirus berkata mengenai Yerusalem: Syukur! Sudah rusak pintu gerbang bangsa-bangsa itu; ia akan beralih kepadaku, sehingga aku menjadi penuh, tetapi ia menjadi reruntuhan.” Dari ayat ini kita melihat hinaan atau cemoohan yang dilontarkan orang-orang Tirus kepada umat Allah! Mereka mensyukuri kemalangan yang sedang dialami umat Allah. Mereka menghina umat Allah.

Bangsa Tirus menghina umat Allah dengan mengatakan, “Sudah rusak pintu gerbang bangsa-bangsa itu; ia akan beralih kepadaku.” Pada zaman dahulu banyak kerajaan-kerajaan membangun tembok-tembok dan pintu-pintu gerbang mengelilingi kota-kota mereka, termasuk juga Kerajaan Yehuda dengan ibukotanya Yerusalem. Namun ketika Nebukadnezar datang dan merusak pintu-pintu gerbang Yerusalem, bangsa Tirus mencemooh.

Kerajaan Tirus sendiri terletak di pesisir, bersebelahan dengan Kerajaan Israel. Ada bagian Kerajaan Tirus yang berada di daratan (continent) dan ada yang di pulau tersendiri. Dan disinilah, Kerajaan Tirus disebut sebagai pintu gerbang menuju laut. Mereka mensyukuri dirusaknya pintu gerbang Yerusalem, karena itu akan membawa keuntungan bagi Tirus, itu sebabnya mereka berkata, “sehingga aku menjadi penuh.” Kini orang beralih memandang pada pintu gerbang Tirus; pintu gerbang menuju laut; negara tetangga mereka tidak akan lagi menjadi saingan mereka.

Tetapi bagaimana jawaban Tuhan atas kesombongan Tirus? Tuhan berfirman di ayat 3, “Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku menjadi lawanmu, hai Tirus. Aku akan menyuruh bangkit banyak bangsa melawan engkau, seperti lautan menimbulkan gelombang-gelombangnya.” Tirus menyombongkan diri dengan kekayaan mereka. Kalau Kamu membaca pasal 27, maka Kamu dapat menemukan bahwa bangsa Tirus berdagang (barter) dengan banyak bangsa. Tarsis berdagang dengan Tirus; Yawan, Tubal dan Mesekh berdagang dengan Tirus, Rodos, Edom, Yehuda dan Israel, Damsyik, Dedan, Arab dan bani Kedar, Syeba dan Raema, Asyur, Kilmad, banyak bangsa berdagang dengan Tirus.

Kalau kita ingat, bertahun-tahun sebelumnya, Raja Daud bersahabat dengan Hiram, Raja Tirus. Ketika Daud mati dan Salomo menjadi raja Israel, Salomo tetap bersahabat dengan Hiram. Bahkan Salomo meminta bantuan Hiram untuk membangun Bait Allah. Mereka barter. Hiram mengirimkan kayu-kayu yang bagus, sedangkan Salomo mengirimkan gandum. Hiram mengirim, diantaranya, kayu Aras (Cedar). Sebuah kayu pohon yang besar dan tinggi, yang di dalam Ayub 40, ekor Dinosaurus (Behemot) digambarkan sebesar pohon Aras. Lalu Hiram, Raja Tirus, juga mengirimkan para tukang yang ahli untuk membantu Salomo membangun Bait Allah. Jadi ada persahabatan antara Tirus dan Yehuda. Tapi kini, ketika umat Allah dibuang, Tirus – yang rajanya tentu bukan lagi Hiram – menyombongkan diri dan mencemooh Yehuda.

Tapi Tuhan berkata, “Aku akan menyuruh bangkit banyak bangsa melawan engkau.” Kalau dahulu banyak bangsa berdagang dengan Tirus, dan karenanya Tirus menjadi kaya raja. Maka kini, Tuhan akan membangkitkan banyak bangsa untuk melawan Tirus akibat kesombongannya. Tidak hanya sampai disitu saja, Tuhan juga berkata, “seperti lautan menimbulkan gelombang-gelombangnya.” Apa maksudnya ini?

Kalau Kamu pernah naik pesawat, dari ketinggian kamu dapat melihat ke bawah dan mendapati pemandangan laut yang biru kehijauan dan ada buih-buih muncul dan lenyap. Kalau didekati ternyata itu gelombang laut. Jadi gelombang laut itu bergerak muncul tenggelam, namun dari ketinggian nampak seperti buih putih saja. Waktu Tuhan mengatakan, lawan Tirus akan seperti lautan menimbulkan gelombang-gelombang, itu artinya lawan Tirus akan muncul silih berganti. Baru satu muncul, lalu muncul yang lainnya, lalu muncul lagi yang lainnya, lalu muncul lagi musuh baru, demikian seterusnya. Jadi bangsa-bangsa itu melawan Tirus secara bergelombang. Ini membuat Tirus seperti orang yang sudah terkena tamparan, lalu ditendang pula, lalu ditonjok perutnya, lalu dikeplak kepalanya sampai benjol, dan seterusnya.

Di ayat 4, Tuhan mengatakan bahwa bangsa-bangsa itu, “Mereka akan memusnahkan tembok-tembok Tirus dan meruntuhkan menara-menaranya, debu tanahnya akan Kubuang sampai bersih dari padanya dan akan Kujadikan dia gunung batu yang gundul.” Tirus membangun tembok-tembok dan menara-menara di pesisir. Tapi Tuhan mengatakan bahwa itu semua akan dimusnahkan. Bahkan, Tirus akan menjadi “gunung batu yang gundul.” Suatu negeri yang tadinya kelihatan menghijau dengan pepohonan besar, kini menjadi gunung batu yang gundul.

Di ayat 5, Tuhan mengatakan tentang Tirus, “Ia akan menjadi penjemuran pukat di tengah lautan, sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH; ia akan menjadi jarahan bagi bangsa-bangsa.” Tirus menyombongkan diri dalam kekayaannya. Tapi Tuhan berkata, pulau Tirus akan menjadi tempat menjemur pukat. Pukat berguna untuk menangkap ikan. Jadi Tirus itu sudah seperti perairan untuk dijarah, dan di pulau Tirus itulah orang menjemur pukat.

Pada ayat 6, Tuhan mengancamkan pula, “Dan anak-anaknya perempuan, yang tinggal di daratan akan ditewaskan dengan pedang. Dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” Kemudian di ayat 7-11dicatat, “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membawa dari utara raja Nebukadnezar, raja Babel, raja segala raja untuk melawan Tirus dengan memakai kuda, kereta, pasukan berkuda, dan sekumpulan tentara yang banyak. Anak-anakmu perempuan yang tinggal di daratan akan dibunuhnya dengan pedang; ia akan menimbun tembok pengepungan dan menyusun alat-alat pendobrak dan memasang perisai melawan engkau. Tumbukan alat pendobraknya akan dilancarkan terhadap tembok-tembokmu dan menara-menaramu akan dirobohkan dengan beliung-beliungnya. Kudanya adalah begitu banyak, sehingga engkau akan ditutupi oleh abu; karena derap pasukan berkudanya dan kertak roda keretanya tembok-tembokmu akan gemetar, kalau ia memasuki pintu-pintu gerbangmu seperti orang memasuki kota yang sudah terbuka karena pendobrakan. Dengan kaki kuda-kudanya ia hendak menginjak-injak semua jalan-jalanmu, rakyatmu akan dibunuh dengan pedang, dan tugu-tugu yang kauandalkan akan dirobohkan ke tanah.” Dalam ayat 7 kita membaca tentang Raja Nebukadnezar yang dikirim Tuhan untuk menghukum Tirus.

Kalau kita ingat bagian awal tadi, kita sudah belajar bahwa umat Allah, bangsa Yehuda, dibuang oleh Tuhan ke Babilonia, ke negerinya Nebukadnezar. Dan ketika itu terjadi, Tirus mensyukuri kemalangan yang dialami umat Tuhan. Tapi apa yang terjadi kemudian? Bangsa Tirus telah mensyukuri umat Tuhan yang ditawan Nebukadnezar, tapi kini Tuhan mengirim Nebukadnezar pula untuk menaklukkan bangsa Tirus.

Ini memberi pelajaran buat kita. Jangan suka menghina saudara. Apalagi kalau Kamu tahu bahwa sesamamu adalah anak Tuhan, maka Tuhan yang menganggap umatNya bagaikan biji mataNya, tidak akan membiarkan umatNya itu diperlakukan seenaknya. Bukankah kita akan menjaga mata kita dari pasir? Demikian Tuhan akan membela umat kepunyaanNya. Cemooh yang Kamu lontarkan kepada sesamamu, bisa jadi akan kembali menimpamu sendiri. Misalnya Kamu mencemooh temanmu dan mengatainya kurus! Kamu mengatainya sebagai orang yang tidak diberkati Tuhan! Tapi hati-hati, bisa jadi di kemudian hari, kamu pun akan menjadi kurus! Kutukmu kembali menimpamu sendiri!

Pada ayat-ayat berikutnya, ayat 12-18, kita membaca, “Mereka akan merampas kekayaanmu dan menjarah barang-barang perniagaanmu; mereka akan meruntuhkan tembok-tembokmu dan merobohkan rumah-rumahmu yang indah; batumu, kayumu dan tanahmu akan dibuang ke dalam air. Aku akan mengakhiri keramaian nyanyianmu dan suara kecapimu tidak akan kedengaran lagi. Aku akan menjadikan engkau gunung batu yang gundul dan dengan demikian engkau akan menjadi penjemuran pukat, sehingga engkau tidak akan dibangun kembali, sebab Aku, Tuhanlah yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada Tirus: Apakah daerah pesisir tidak akan gemetar mendengar derum kejatuhanmu, kalau orang-orang yang berebahan mengerang karena pembunuhan bersimaharajalela di tengah-tengahmu? Semua pemuka bangsa-bangsa yang di tepi lautan akan turun takhta dan menjauhkan jubah-jubah kerajaannya dan menanggalkan pakaiannya yang berwarna-warna. Mereka akan diliputi kegentaran dan akan duduk di tanah; mereka akan gentar senantiasa dan kaget melihat engkau. Dan mereka akan mengucapkan suatu ratapan mengenai engkau dan akan mengatakan kepadamu: Bagaimana engkau, hai kota yang terpuja, hilang dari lautan, kota yang berkuasa di laut, engkau dengan pendudukmu, yang menimbulkan ketakutan pada penduduk di daratan? Sekarang, daerah pesisir jadi gentar pada hari jatuhmu, ya, daerah pesisir yang di tepi laut gempar mendengar kesudahanmu.” Disini kita membaca bahwa ada ungkapan-ungkapan tertentu yang sebelumnya telah diucapkan, diulangi dan diucapkan kembali. Misalnya tetang tembok-tembok, gunung batu yang gundul, juga tentang penjemuran pukat. Jika kita membaca ada Firman yang diulangi seperti ini, itu menegaskan bahwa bagian tersebut sangat penting; dan pasti akan terjadi.

Ayat 19 menunjukkan kepada kita, “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada saat Aku menjadikan engkau kota reruntuhan, seperti kota-kota yang tidak berpenduduk lagi, kalau Aku menaikkan pasang samudera raya atasmu dan air banjir menutupi engkau.” Bukankah gambaran ini seperti sebuah Tsunami. Jadi jangan pikir bencana Tsunami baru terjadi baru-baru ini saja, misalnya di Jepang. Dari sejak zaman Alkitab, Tsunami bisa jadi sudah terjadi. Coba saja bayangkan, “air samudera raya naik“, lalu “air banjir menutupi“.

Ayat 20-21 menunjukkan kepada kita betapa Tuhan menyeret mereka turun sampai bumi yang paling bawah. Firman Tuhan berkata, “maka Aku akan menurunkan engkau, supaya engkau bersama-sama di sana dengan orang-orang yang turun ke liang kubur, kepada bangsa dahulu kala, dan Aku akan membuat engkau tinggal di bumi yang paling bawah seperti reruntuhan dahulu kala, bersama dengan orang-orang yang turun ke liang kubur, supaya engkau jangan lagi didiami orang, dan jangan tampil lagi di negeri orang-orang hidup. Aku menentukan bagimu akhir hidupmu yang mendahsyatkan dan engkau tidak terjumpa lagi. Engkau dicari orang, tetapi tidak ditemui lagi untuk selama-lamanya, demikianlah firman Tuhan ALLAH.” Jadi, kepada Tirus yang menyombongkan diri, Tuhan akan bertindak dan menyeret mereka turun, bahkan begitu rendahnya sampai dikatakan mencapai “bumi yang paling bawah.” Tirus menyombongkan diri dalam 1 ayat saja. Tapi Tuhan menyeret mereka Turun dengan 19 ayat.

Ini memberikan kepada kita sebuah pelajaran bahwa orang yang sombong, akan diseret turun oleh Tuhan hingga tempat yang paling rendah. Karena itu, jika kita mengalami suatu kemalangan, direndahkan orang, maka baiklah kita justru makin merendahkan diri kita di hadapan Tuhan. Maka Tuhan akan meninggikan tanduk kita. Sebaliknya, ketika kita meninggikan diri, disitulah Tuhan akan menyeret kita turun, sampai kita mengakui siapa Tuhan.

Jadi janganlah menyombongkan kekayaanmu; kepintaranmu; jabatan orangtuamu; semua itu akan diseret Tuhan turun. Ingat pujian yang syair refrainnya mengatakan, “Kami perlukan keajaibanMu…, Kami perlu Kau, Tuhan.” Dan ketika Kamu tidak mendengarkan kotbah karena ribut sendiri, misalnya, apakah itu menunjukkan bahwa Engkau merendahkan diri di hadapan Tuhan? Atau itu menunjukkan kesombonganmu, karena merasa tidak butuh Tuhan? Saya pribadi tidak suka marah-marah. Saya masih melihat ada anak-anak remaja yang menaruh perhatian kepada saya ketika saya berkotbah, dan untuk mereka inilah saya berkotbah. Tapi untuk mereka yang ribut sendiri, saya acuhkan saja. Dan kalau saya yang mengacuhkan, itu tidak terlalu berarti banyak buat Kamu, tapi bagaimana kalau Tuhan yang mengacuhkan kamu karena Kamu merasa tidak butuh Tuhan? Wah, itu bisa mengerikan sekali! Jangan-jangan yang berlaku buat kamu adalah syair lagu yang mengatakan, “Allah bangkit…musuh dikalahkan, umatNya dibebaskan.” Hanya saja kali ini, Kamulah musuh-musuhNya.

Demikian kita perlu mengingat dua hal untuk kita praktekkan:

1. Jangan menyombongkan diri, karena ketika Kamu melakukan itu, Tuhan mudah sekali untuk menyeret Kamu turun sampai “bumi yang paling bawah.” Disitulah Kamu baru menyadari, siapa sebetulnya Tuhan.

2. Jangan membalas ketika oranglain mencemooh Kamu. Semakin kamu merendahkan diri, semakin Tuhan akan mengangkat tandukmu pada waktunya. Justru ketika kamu membalas oranglain yang mencemooh Kamu, Kamu sudah berusaha mengandalkan kekuatanmu sendiri untuk mengangkat dirimu. Namun ketika Kamu meninggikan dirimu, Tuhan justru akan merendahkan Kamu. Karena itu biarkan Tuhan yang membela kita.

(Dikotbahkan dalam Ibadah OSIS Siswa SMP Kristen Kalam Kudus Jayapura, Jumat/1 Maret 2013).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s