Kisah Para Rasul 8:26-40. Belajar dari Filipus tentang Empat Hal dalam Tugas Penginjilan


Nats: Kisah Para Rasul 8:26-40
Oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

(Klik PDF Disini)

Di dalam nats yang kita bahas pada hari ini kita berjumpa dengan tokoh pekabar Injil bernama Filipus. Ada dua nama Filipus di Alkitab, yang pertama adalah nama salah seorang dari 12 murid Yesus, dan yang seorang lagi –yang akan kita kenal hari ini– adalah salah seorang dari 7 orang pilihan yang dicatat dalam Kis. 6:1-7. Dalam Kis. 6:1-7 dikisahkan bahwa orang-orang Kristen Yahudi berbahasa Yunani, complaint (mengeluh) kepada para rasul, karena pembagian makanan terhadap janda-janda Kristen yang berkebangsaan Yunani, telah diabaikan oleh saudara-saudara seiman mereka yang berbahasa Ibrani. Menindaklanjuti complaint itu maka keduabelas rasul akhirnya memilih dan menetapkan 7 orang pelayan meja yang penuh Roh Kudus dan berhikmat, untuk mengurus masalah tersebut. Dan dari 7 orang itu, yang terkemuka ada dua, yaitu Stefanus, dan Filipus (yang kita bahas kisahnya hari ini). Setelah Kis. 6, tokoh Filipus yang penuh Roh Kudus dan berhikmat ini, dapat kita temukan lagi dalam Kisah Para Rasul pasal 8, dan mulai dari pasal 8 ini, perannya sebagai pemberita Injil semakin kelihatan.

Dari pengalaman kehidupan dan pelayanan Filipus dalam Kisah Para Rasul 8:26-40 ini, kita akan belajar beberapa hal tentang tugas penginjilan (mengingat topik kita pagi ini adalah tentang penginjilan):

1. Tugas Penginjilan berlangsung karena janji Tuhan.

Seorang sarjana Alkitab menyatakan bahwa surat Kisah Para Rasul yang kita baca hari ini dapat diringkaskan dalam 1 ayat, dan ayat tersebut adalah Kisah Para Rasul 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Malam ketika saya sedang mempersiapkan kotbah ini, saya merasa mendapatkan penyingkapan, bahwa sebetulnya ada koneksi/hubungan antara Kisah Para Rasul 1:8 dengan Kis. 8:1-40 yang kita baca hari ini.

Di dalam Kisah Para Rasul 1:8 ada sebuah janji dari Tuhan Yesus, bahwa murid-muridNya akan menjadi saksiNya di Yerusalem (lingkup terkecil); di Yudea (lingkup lebih besar lagi); lalu di Samaria (lingkup yang lebih besar lagi); hingga ke ujung bumi (lingkup dunia). Yang menarik adalah, kalau kita membaca Kisah Para Rasul 8 ayat 1 saja, hal itu sudah mulai digenapi. Dicatat dalam Kis. 8:1, “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” Apakah Saudara melihat adanya pola yang menarik disini? Kis.1:8 menjanjikan; sedangkan Kis.8:1 mulai menggenapi.

Paruh pertama dari pasal 8 mencatat lebih detil lagi tentang bagaimana Injil diberitakan dan diterima di Samaria. Tokoh yang Tuhan pakai adalah Filipus. Ternyata kematian syahid temannya yang bernama Stefanus, menjadi semacam bunyi gong, tanda dimulainya penganiayaan atas orang-orang Kristen. Akibat terjadi penganiayaan di Yerusalem, orang-orang Kristen –kecuali para rasul– terpencar dari mulai Yudea hingga Samaria.

Filipus adalah salah satu orang Kristen yang tersebar itu. Pasal 8:4-5 mencatat, “Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria (sekarang Nablus) dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.” Tidak hanya berhenti sampai di Samaria, kita baca lebih lanjut di dalam pembacaan kita hari ini, tepatnya di ayat 26 dan 29, Tuhan (melalui malaikat dan Roh Kudus-Nya) mengutus Filipus pergi untuk memberitakan Injil kepada seorang pejabat asal Etiopia. Pejabat Etiopia ini adalah seorang kepala perbendaharaan Sri Kandake, Ratu negeri Etiopia.

Kandake adalah gelar, seperti juga Firaun. Kandake adalah gelar untuk ratu negeri Etiopia yang mengerjakan aktivitas kenegaraan sehari-hari untuk mewakili raja negeri Etiopia yang sesungguhnya. Ternyata di dalam kerajaan Etiopia tersebut, raja dianggap suci dan aktivitas kenegaraan dapat mencemari kesuciannya, karena itu Sri Kandake, atau Ratu negeri Etiopia-lah yang melaksanakan aktivitas kenegaraan sehari-hari.

Kepala perbendaharaan dari Sri Kandake yang diinjili Filipus itupun kemudian bertobat. Ia percaya kepada Tuhan Yesus. Dan di ayat 39, kemudian dicatat, “Ia (pejabat Etiopia itu) meneruskan perjalanannya dengan sukacita.” Injil tidak lagi terbatas pada Yerusalem, Yudea, dan Samaria saja. Kini, melalui Filipus, Injil telah keluar dari batas Samaria dan menuju ujung bumi, menggenapi janji Tuhan dalam Kis.1:8.

Filipus, sesuai namanya yang memiliki arti “penerobos”, telah dipakai Tuhan untuk membawa Injil masuk menerobos kepada orang-orang non-Yahudi, dan ini berarti Filipus adalah pendahulu Rasul Paulus. Nantinya, Rasul Paulus-lah yang akan Tuhan utus kepada orang-orang non-Yahudi. Tapi pada waktu Filipus memulai pelayanan penginjilannya ini, Paulus belum menjadi Kristen dan masih menganiaya orang Kristen.

Demikian kita telah belajar, yaitu bagaimana janji Tuhan dalam Kis.1:8 digenapi dalam Kis.8:1 dst. Kita yang saat ini mengerjakan tugas pemberitaan Injil adalah orang-orang yang sedang menggenapi janji Tuhan dalam Kis.1:8. Upaya penginjilan kita saat ini sedang menggenapi janji Tuhan bahwa kesaksian kita akan Kristus akan sampai ke ujung bumi.

Ada banyak versi tentang ujung bumi. Di zaman Paulus, ujung bumi menunjuk pada Spanyol. Ada pula yang menunjuk pada Papua; tetapi akhir-akhir ini ada pula yang mengatakan Yerusalem. Saya pribadi berpendapat, ketika Yesus berjanji bahwa kesaksian kita akan sampai ke ujung bumi, itu artinya bahwa kesaksian kita akan bersifat mendunia atau global. Dalam Matius 24:14 dicatat firman Yesus, “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

Bulan ini adalah Bulan Penginjilan. Setiap Hari Minggu selama bulan ini, kita telah mendengar khotbah-khotbah tentang penginjilan. Semoga semuanya itu menguatkan kita dalam kita mengerjakan tugas-tugas penginjilan kita. Saya pribadi memiliki empat tugas pokok sementara ini:
1. Tugas pokok di gereja (menangani dua komisi, satu rayon, belum lagi pelayanan-pelayanan rutin dan non-rutin selebihnya).
2. Mengurus rumahtangga bersama isteri tercinta.
3. Menyelesaikan kewajiban-kewajiban perkuliahan yang harus dikerjakan secara mandiri maupun tatap muka.
4. Terkait dengan misi dan penginjilan, saya berusaha memberi waktu untuk membantu menyunting; menerjemahkan; dan menyebarluaskan traktat-traktat atau artikel-artikel yang telah ditulis oleh misionaris-misionaris Barat di pedalaman. Sementara ini, saya tidak dimungkinkan untuk pergi jauh sampai ke pedalaman, namun itulah yang bisa saya lakukan, yaitu membantu pelayanan literatur para misionaris.
Dan terkait dengan tugas pokok yang keempat ini, melalui khotbah hari ini saya diingatkan untuk bersyukur, karena Tuhan berkenan memakai saya untuk menggenapi Kis.1:8 (meski hanya melalui pekerjaan menyunting dan menerjemahkan).

Kita tidak lagi di fase Yerusalem; atau di fase Yudea; atau di fase Samaria. Saat ini kita sedang berada dalam fase terakhir dari pekerjaan pemberitaan Injil. Dan berdasarkan Matius 24:13, ini berarti kita sedang berada di masa-masa menjelang kesudahan zaman. Marilah di masa-masa terakhir ini, sementara kita mengerjakan tugas pemberitaan Injil kita dalam berbagai bentuknya, kita menaikkan syukur kepada Tuhan karena Tuhan berkenan menggenapi firmanNya dalam Kis.1:8 melalui kita dan karya-karya pelayanan kita.

2. Tugas Penginjilan adalah tugas pengutusan berdasarkan pimpinan Allah.

Dalam Kis.8:26-40 kita membaca adanya sebuah pola berulang yang dengan jelas dicatat dalam praktek penginjilan Filipus. Untuk bisa memberitakan Injil kepada pejabat Etiopia tersebut, Filipus dua kali diperintahkan oleh Allah.

Perintah pertama, Allah berikan kepada Filipus melalui malaikat. Dalam ayat 26-27a kita membaca, “Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: ‘Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.’ Jalan itu jalan yang sunyi. Lalu berangkatlah Filipus.” Perintah pertama ini diberikan Allah kepada Filipus, melalui malaikat.

Setelah Filipus berada di jalan sunyi yang ditunjuk malaikat, pejabat Etiopia –yang kita sudah singgung tadi– melewati jalan itu. Ia duduk di atas keretanya, dan tentu dengan diiringi pasukan pengawal. Ayat 27-28 mencatat peristiwa itu, “Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca (dengan bersuara) kitab nabi Yesaya.” Dicatat bahwa pejabat ini pulang dari ibadah di Yerusalem. Mungkin orang-orang dari Etiopia ini telah mewarisi pengetahuan tentang Allah Israel sebagai hasil kunjungan Ratu Sheba ke Kerajaan Salomo ribuan tahun sebelumnya. Dan ayat 29 kemudian mencatat, “Lalu kata Roh kepada Filipus: “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”” Lagi-lagi Allah mengutus Filipus, kali ini melalui Roh KudusNya.

Ada dua macam pengutusan dalam misi dan penginjilan. Pengutusan yang lebih bersifat umum telah diucapkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya dalam Matius 28:19-20 yang bunyinya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Kita biasa menyebut ini sebagai Amanat Agung (Mandat Injil).

Namun dalam praktek pemberitaan Injil kita, ada pula pengutusan-pengutusan yang bersifat khusus, dan ini terjadi di dalam pimpinan Allah, terutama melalui Roh Kudus-Nya, sebagaimana dialami oleh Filipus. Ketika kita mendengar pimpinan Allah melalui Roh Kudus atau saya singkat dengan istilah “pimpinan Roh Kudus”, janganlah kita berpikir bahwa hal-hal seperti ini adalah dominasi orang Kharismatik saja. Sikap dikotomis seperti inilah yang membuat kita jatuh pada satu ekstrim yang akhirnya betul-betul membuat pelayanan kita miskin dengan perkara-perkara heran yang dari Tuhan.

Bagi kita, Alkitab Firman Allah adalah standar dan otoritas tertinggi dan terakhir bagi pengajaran dan kehidupan orang Kristen (ingat prinsip Sola Scriptura atau Hanya Alkitab). Tapi ketika saya berbicara tentang pimpinan Roh Kudus, maka pimpinan yang dimaksud bukanlah hadirnya wahyu-wahyu baru yang menggantikan atau menyaingi Kitab Suci. Tidak demikian! Maksudnya pimpinan Roh Kudus adalah tuntunan yang Roh Kudus berikan kepada kita secara spesifik untuk mengerjakan perkara-perkara tertentu, di dalam terang Firman Allah. Pimpinan Roh Kudus itu dapat berupa kesan yang Tuhan munculkan di hati; ingatan-ingatan akan Firman Tuhan di dalam batin atau pikiran; suara lembut yang berbisik di dalam hati kita; melalui suara yang bersifat audible (dapat didengar telinga) namun sesuai prinsip Firman Tuhan; atau bahkan melalui mulut-mulut sesama kita (seperti yang terjadi dalam kasus Kayafas, Sang Imam Besar, dalam Yoh.11:49-51). Kita tidak boleh membatasi pekerjaan Roh Kudus untuk menuntun kita, termasuk di dalam pemberitaan Injil, sehingga kita dapat melihat pekerjaan-pekerjaan heran karena Ia sendirilah yang mengerjakannya melalui kita.

Dalam sebuah kesempatan kotbah di daerah Arso, saya mengingatkan jemaat tentang dua hal yang sangat penting untuk kita kembangkan dalam spiritualitas kita; yang harus kita latih terus-menerus, mengingat “roh memang penurut, tapi daging lemah” (Matius 26:41). Dua hal tersebut adalah:
a. Bergaul dengan Alkitab, Firman Tuhan. Kita membaca, merenungkan, bermeditasi. Lagipula dalam kesaksian kita, apalagi yang kita hendak sampaikan selain isi Firman Allah.
b. Bergaul dengan Roh Kudus. Kita melatih kepekaan mendengarkan tuntunanNya. Mengijinkan Roh Kudus menegur dosa dan kesalahan kita. Mengijinkan Roh Kudus untuk mengingatkan kita akan Firman yang Yesus ucapkan. Mengijinkan Roh Kudus menghibur kita dalam kesusahan kita. Mengijinkan Roh Kudus menolong kita berdoa. Bahkan mengijinkan Roh Kudus memberikan tuntunan spesifik untuk karya penginjilan tertentu.
Kedua hal ini harus senantiasa kita latih, dan memang seumur hidup kita, kita tidak akan pernah berani untuk mengaku “sudah terlatih” dalam perkara-perkara ini.

Filipus memberikan dirinya untuk mengalami pimpinan yang spesifik dari Roh Kudus dalam pelayanan penginjilannya. Suatu perkara yang sama yang juga dialami kelak oleh Rasul Paulus sebagaimana dicatat dalam Kis.16:6-7, “Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.”

Tuhan Yesus memang berjanji bahwa kita akan bersaksi sampai ke ujung bumi, tapi tidak berarti bahwa kita boleh bersaksi ke segala tempat semau kita. Ternyata niat luhur saja tidak cukup. Mengikuti pimpinan Roh Kudus adalah satu hal yang sangat penting, mengingat hal yang paling mendasar dari teologia kita adalah “kedaulatan Allah” (dasar theologi Reformed). Paulus dan timnya mungkin melihat Asia dan Bitinia memiliki prospek yang bagus sebagai tempat untuk perkembangan kekristenan. Tapi dari pengalaman Paulus kita belajar bahwa penginjilan atau penanaman gereja baru atau penempatan Pos PI baru, tidak bisa sekadar berdasarkan pertimbangan “prospek” saja. Sebagai manusia kita bisa “menilai, mempertimbangkan, bahkan mendoakan” suatu wilayah, tetapi pada akhirnya mengikuti pimpinan Roh Kudus adalah kata terakhir.

Dari pengalaman Filipus kita juga belajar pelajaran lain tentang mengikuti pimpinan Roh Kudus ini. Dalam Kis.8:4-25 kita dapat membaca “buah luarbiasa” dari pelayanan Filipus di Samaria. Di sana Filipus memberitakan Injil, dan Tuhan menyertai dia dengan kuasa mujizat. Hasilnya adalah satu kota mengalami sukacita bessar (ayat 8). Di dalam Perjanjian Baru, sukacita biasa dikaitkan dengan keselamatan. Jadi ada satu kota di Samaria mengalami Kebangunan Rohani melalui pelayanan “KKR”-nya Filipus. Sebetulnya Filipus hanya menuai apa yang beberapa tahun sebelumnya telah ditabur oleh Yesus sendiri (baca Yoh.4). Dahulu Yesus pernah menginjili seorang perempuan Samaria dan orang sekampungnya. Kini Filipus datang lagi kepada orang Samaria, dan menuai apa yang dahulu Yesus sudah tabur. Banyak orang menjadi percaya Yesus dan butuh dibimbing, sampai-sampai Rasul Petrus dan Rasul Yohanes (yang dahulu pernah berniat meminta api turun dari langit untuk membakar orang-orang Samaria – Lukas 9:54) datang untuk mengajarkan tentang Roh Kudus kepada orang-orang Samaria, lalu memberitakan Injil ke wilayah sekitar.

Yang mengherankan adalah, pada ayat 26, Allah –melalui malaikatNya– datang kepada Filipus dan mengutusnya pergi ke jalan sunyi, untuk menginjili…berapa orang? Hanya satu orang Etiopia! Dapatkah Saudara membayangkan? Filipus diminta meninggalkan jiwa-jiwa yang jumlahnya satu kota, demi menginjili satu orang saja. Di dalam kedagingannya, mungkin Filipus dapat membuat alasan di hadapan Tuhan, “Tuhan, bukankah jiwa-jiwa di Kota Samaria lebih banyak jumlahnya? Bukankah secara hitung-hitungan Matematis, pelayanan di Kota Samaria adalah pelayanan yang lebih berdampak? Mengapa jiwa-jiwa yang masih perlu dibimbing di Kota Samaria harus saya tinggalkan hanya demi menemui satu orang di tempat sunyi ini? Tidakkah Tuhan akan membuang-buang waktu kita semua?

Tapi disinilah kita perlu belajar tentang “kedaulatan Allah” di dalam upaya pekabaran Injil kita. Allah sendirilah yang empunya domba. Dialah Sang Gembala yang baik. Kita semua hanya pekerja-pekerjaNya. Dalam Matius 9:36, Tuhan melihat banyak orang terlantar seperti domba yang tak bergembala. Tapi Yesus tidak kemudian mengatakan, “mintalah gembala!” Tidak! Mengapa? Karena sudah ada satu Gembala yang baik, yaitu Yesus sendiri! Tugas kita sebagai pekerja adalah menuntun tuaian-tuaian itu untuk menemukan Sang Gembala yang baik. Dan ini kita kerjakan di dalam pimpinan Roh KudusNya.

Pimpinan Roh Kudus senantiasa mencerminkan isi hati Sang Gembala yang melihat bahwa satu domba sekalipun berarti. Lukas 15:4-5 menyatakan isi hati Sang Gembala yang baik, “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira.” Dan dalam kisah Filipus ini, kita melihat bahwa pejabat dari Etiopia itu adalah satu domba yang terhilang namun dikasihi itu.

Demikian kita belajar, dalam pekerjaan penginjilan kita, pimpinan spesifik dari Allah adalah penting. Melalui Roh Kudus-Nya, Allah memimpin kita, dan pimpinanNya itu melampaui “gambaran prospektif” kita; melampaui “jumlah atau kuantitas jiwa-jiwa”. PimpinanNya adalah berdasarkan karakterNya sendiri, yaitu mengasihi domba-dombaNya yang terhilang, meski hanya satu.

3. Tugas Penginjilan di dalam pimpinan Allah tidak meluputkan kita dari rintangan dan penderitaan.

Kalau kita kembali mengingat Kis.1:8, dikatakan disana bahwa para murid Yesus menjadi saksi dari mulai Yerusalem hingga ke ujung bumi adalah ketika Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus. Tapi dalam realisasinya di Kis.8:1, para murid Yesus menjadi saksi dari mulai Yerusalem dst. adalah ketika merebak penganiayaan. Jadi dalam Kis.1 dan Kis.8 terdapat sebuah paralel, dan Roh Kudus diparalelkan dengan penganiayaan. Roh Kudus turun ke atas kita maka kita menjadi saksi; aniaya turun ke atas kita maka kita juga menjadi saksi.

Ini memberikan kepada kita sebuah pelajaran bahwa adanya pimpinan Roh Kudus tidak otomatis melepaskan kita dari penganiayaan atau penderitaan, apalagi dalam konteks pemberitaan Injil. Bukankah Injil yang kita beritakan itu sendiri bukanlah berasal dari dunia ini; bahkan dianggap kebodohan oleh dunia ini?

Filipus sebagai pemberita Injil nampaknya menyadari kebenaran ini. Itu sebabnya, ketika malaikat Tuhan menyuruhnya pergi ke jalan yang sunyi, dan meninggalkan pelayanannya yang “sukses” di Kota Samaria, kita hanya membaca satu respon dicatat di Kis.8:27a, “Lalu berangkatlah Filipus.” Filipus mengalami mirip seperti Abram, yang diperintahkan keluar dari zona nyamannya, tanpa tahu pasti jalan di depannya. Padahal malaikat tidak memberitahukan kepada Filipus, mengapa Filipus harus ke jalan yang sunyi itu. Jalan yang sunyi dalam teks bahasa Inggrisnya adalah “desert” atau gurun. Sebuah lambang bahaya di Perjanjian Lama. Mengapa ia harus kesana, dan siapa yang harus ia temui, tidak jelas! Tapi Filipus taat saja!

Apakah Filipus diminta ke gurun yang sunyi itu untuk retreat dan puasa 40 hari seperti Yesus? Mungkin Filipus teringat juga pada apa yang Yesus sendiri alami. Matius 4:1 mencatat, “Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Sebuah pimpinan Roh Kudus yang tidak menyenangkan bukan?! Tapi Filipus hanya taat saja! Ia tidak dicatat bertanya atau memberontak seperti Yunus! Ia hanya taat saja! Diminta pergi ke gurun yang sunyi; maka ia pun menuju kesana; tanpa dicatat adanya penundaan. Filipus pergi meninggalkan kesuksesan pelayanannya di kota. Ketaatannya yang segera mengingatkan kita kembali kepada teladan nenek moyang rohaninya, yaitu Abraham ketika diminta mengorbankan Ishak, dan Yusuf ketika diminta untuk menikahi Maria.

Tidak hanya satu kali, ayat 30 kembali mencatat sikap taat-penuh kesigapan yang Filipus miliki di hadapan Tuhan. Ketika Roh Kudus memerintahkan kepada Filipus, “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!” Apa respon Filipus? Alkitab mencatat, “Filipus segera ke situ.” Luarbiasa ketaatan dan kesigapan Filipus untuk hidup dipimpin Allah. Dikatakan di ayat 30, “segera”. Tidak dicatat kalimat, “agak beberapa lama” atau “nanti”. Tidak demikian! Di dalam bijaksana dan waktu Tuhan, yang Filipus lakukan adalah, “segera.

Pelajaran lain dapat kita pelajari juga dari pelayanan penginjilan Paulus sebagaimana yang sudah kita singgung tadi. Roh Kudus telah mencegah Paulus dan timnya merambah wilayah Asia dan Bitinia. Sebaliknya, melalui mimpi, Allah memimpin Paulus dan timnya untuk pergi memberitakan Injil ke Eropa. Dan kota Eropa pertama yang dikunjungi adalah Filipi. Tapi siapa sangka, di Filipilah, Paulus harus mengalami aniaya; pemenjaraan; dan pemasungan (Kis. 16:23-4). Secara daging, Paulus bisa saja menggugat Allah! “Tuhan, bukankah Roh Kudusmu yang mencegah saya ke Asia? Bukankah Engkau yang pimpin aku ke Eropa? Mengapa justru ketika aku mengikuti pimpinanMu, aku justru teraniaya?

Dari pengalaman Paulus kita belajar, bahwa tugas pemberitaan Injil yang kita kerjakan di dalam pimpinan Allah sekalipun, tidak meluputkan kita dari penderitaan dan aniaya. Ingat! Dalam konteks surat ini, Roh Kudus dan Aniaya adalah paralel.

Kalau demikian apa yang harus kita lakukan! Dari ketaatan Filipus kita melihat bahwa kemudian seorang pejabat Etiopia bertobat, dan melaluinya Injil dibawa ke Etiopia dan menggenapi Firman dalam Mazmur 68:31, “Etiopia bersegera mengulurkan tangannya kepada Allah.” Sedangkan dari ketekunan Paulus kita belajar bahwa sebuah keluarga, yaitu keluarga penjaga penjara, diselamatkan, dan dari Kota Filipi, Injil kemudian menyebar ke banyak wilayah Eropa lainnya dan bertahan hingga kini. Matthew Henry dalam tafsirannya atas perikop ini menulis, “Sometimes God opens a door of opportunity to his ministers in places very unlikely” (Kadang-kadang Allah membuka sebuah pintu kesempatan kepada para pelayanNya di tempat-tempat yang sangat tidak menjanjikan).

Ini semua mengajarkan kepada kita untuk belajar beriman dan percaya bahwa Tuhan lebih tahu apa yang Ia lakukan melalui kita. Dan respon yang paling tepat yang Ia kehendaki dari kita adalah bertekun. Ibrani 10:36 mengingatkan kita, “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

4. Tugas Penginjilan dilakukan untuk menyaksikan tentang Kristus dan karya-Nya.

Kita membaca dalam Kisah Para Rasul 8:30-31 kita membaca, “Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.” Disini Filipus mengerti mengapa Tuhan memerintahkannya ke jalan sunyi itu. Hati misinya langsung tergerak dan sadar bahwa untuk satu pejabat Etiopia inilah, Tuhan telah mengutus dirinya. Dengan inisiatif, Filipus menangkap peluang. Mendengar pejabat Etiopia itu sedang membaca Kitab Yesaya dengan bersuara, Filipus membuka pintu percakapan.

Bukankah ini merupakan satu keterampilan yang semua penginjil perlu miliki? Menangkap peluang! Bukan menangkap peluang untuk mengibarkan bendera organisasi! Tapi menangkap peluang untuk mengikuti isi hati Sang Gembala Agung untuk menyelamatkan domba milikNya yang terhilang, meski hanya satu.

Ternyata pejabat Etiopia itu sedang membaca Yesaya 53:7-8. Diceritakan, “Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya. Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi” (Kis.8:32-33). Ayat 34-35 mencatat, “Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: ‘Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?’ Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

Ketika membaca Yesaya 53, pejabat Etiopia itu dibuat heran. Ada satu figur yang digambarkan dalam Yesaya 53 itu sedang mengalami penderitaan. Ia mungkin tahu bahwa nabi-nabi di Perjanjian Lama memang sering mengalami penderitaan. Namun jika dua ayat dari Yesaya 53 itu berbicara tentang diri nabi Yesaya sendiri, maka sebetulnya kelanjutan dari ayat-ayat ini mengherankan dia karena figur yang menderita itu digambarkan menanggung kutuk akibat keberdosaan umat. Bunyi kelanjutan Yesaya 53:8 adalah sebagai berikut, “dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.” Disini kita menemukan sebuah konsep penebusan; sebuah konsep yang dalam theologi disebut “substitusi penal” (penjatuhan hukuman untuk menggantikan).

Meresponi pertanyaan pejabat Etiopia tersebut, Filipus tentu kemudian menjelaskan tentang kehidupan dan penderitaan Kristus. Ini masuk akal karena Yesaya 53:7-8 sebetulnya merupakan nubuatan tentang penderitaan Kristus yang diadili secara tidak adil oleh Sanhendrin dan Orang Romawi, lalu mati disalib untuk menebus dan menggantikan kita. Filipus tentu juga memberitakan tentang kebangkitan Kristus, bahkan sampai dengan pembaptisan. Ini terindikasi dari ayat 36-38, “Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” (Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah”). Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia.

Berita yang sama juga disampaikan kepada kita hari ini. Di masa raya Paskah ini, kepada kita diberitakan sebuah Injil; kabar baik. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berinkarnasi atau menjadi manusia, dan telah menjalani kehidupan sebagaimana yang Allah Bapa kehendaki; tidak tercemar oleh dosa dan kejahatan. Namun Dia di dalam kebenaranNya, menyerahkan diriNya untuk disiksa, bahkan mati disalibkan, menanggung kutuk dan murka Allah Bapa, akibat dosa dan kejahatan, yang seharusnya kita tanggung. Yesus Kristus, Sang Anak Allah, mati menggantikan kita menanggung hukuman penalty Allah. Inilah yang disebut substitusi penal atau penjatuhan hukuman untuk menggantikan. Dosa-dosa kita telah diperhitungkan kepada Yesus. Dan sementara kutuk dan hukuman Allah yang seharusnya kita terima, ditanggung oleh Yesus di kayu salib, kebenaranNya diperhitungkan kepada kita, sehingga kita semua yang percaya kepada Yesus, dipandang benar oleh Allah Bapa. Bukankah ini kabar baik bagi kita?! Mengutip pernyataan Filipus, “Adakah Saudara mau percaya dengan segenap hati bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang telah menanggung dosa Saudara dan memperhitungkan kebenaranNya kepada Saudara?

Pejabat Etiopia itu mau! Dan Kis.8:38 mencatat bagaimana ia memberi diri dibaptis oleh Filipus. Apa buah dari keputusannya? Ayat 39 mencatat, “Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.” Seperti biasa, Filipus memberi diri dipimpin Roh Allah. Ia menjadi seperti Elia ala Perjanjian Baru, karena baik Elia maupun Filipus, sama-sama pernah dilarikan oleh Roh Allah dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap. Tapi sebaliknya, hal luarbiasa terjadi terhadap pejabat Etiopia itu. Alkitab mencatat, “Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.” Di dalam Perjanjian Baru, sukacita dikaitkan dengan keselamatan. Dengan kata lain, kini pejabat Etiopia itu pulang ke negerinya sebagai orang yang sudah diselamatkan? Maukah Saudara pulang kembali ke rumahmu dengan sukacita yang sama dengan yang dialami pejabat Etiopia ini? Tidakkah Saudara rindu pulang dari kebaktian ini dengan menjadi orang yang diselamatkan dari kebinasaan kekal?

Adapun Filipus, Kis.8:40 mencatat, “Tetapi ternyata Filipus ada di Asdod. Ia berjalan melalui daerah itu dan memberitakan Injil di semua kota sampai ia tiba di Kaisarea.” Hidupnya adalah untuk memberitakan Injil dan itu akan terus dilakukannya. Di Kaisarea ia akan hidup 20 tahun lebih. Nampaknya ia menetap disana. Dan dalam Kis.21:8-9 kita dapat membaca, bahwa di masa-masa kehidupannya yang lanjut itu; dikala Filipus tidak kuat lagi berkeliling dari kota ke kota untuk memberitakan Injil, rumahnya ia buka untuk menyambut dan menampung para pemberita Injil yang muncul sesudah dia, diantaranya adalah Rasul Paulus dan dokter Lukas, yang menulis Surat Kisah Para Rasul ini.

Saya melihat tokoh Filipus ini luarbiasa sekali. Tidak hanya baik dalam tugas-tugas pelayanan jemaat; tetapi ia juga baik dalam tugas penginjilan; dan dalam mendidik anak-anaknya. Saya tahu tidak mudah bagi setiap orangtua –termasuk juga bagi para pekabar Injil atau rohaniwan– untuk menyeimbangkan waktu antara pelayanan di luar rumahtangga dengan pelayanan kepada anggota keluarga. Yang sering terjadi adalah orang jatuh ke salah satu ekstrim. Ada yang terlalu memperhatikan pelayanan di luar rumah dan mengabaikan keluarga; sebaliknya ada yang terlalu memperhatikan keluarga dan memanjakan anak-anaknya, sehingga kurang efektif dalam pelayanan di luar rumahtangganya.

Isteri saya yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar, memiliki seorang murid (kelas 1 SD) yang sering berulah; sering membuat masalah; tetapi kalau ijin tidak masuk sekolah, alasannya adalah “ikut ayah pergi pelayanan”. Ternyata, murid isteri saya ini adalah anak seorang rohaniwan atau anak pendeta. Anak ini empat bersaudara, dan ketiga saudaranya yang lain juga sering berulah. Kakaknya yang paling besar (sulung) pernah pinjam motor orang; lalu merusakkannya; dan kabur; tidak bertanggungjawab. Dan baru-baru ini, isteri dari pendeta ini datang ke sekolah isteri saya, lalu karena satu persoalan sepele, dia marah-marah, dan pergi sambil mengancam akan membakar sekolah tempat isteri saya bekerja. Sebagai catatan, ini isteri pendeta.

Jadi saya tahu, tidak mudah bagi seorang rohaniwan untuk menyeimbangkan waktu dan perhatian antara pelayanan di luar rumahtangga dan pelayanan kepada anggota keluarga. Dan melihat realita sulitnya bagi seorang rohaniwan untuk mendidik anak-anaknya sendiri, membuat saya merasa salut kepada Filipus. Filipus punya empat anak perempuan (tidak dicatat apakah dia memiliki anak laki-laki). Nampaknya Filipus pun sukses menginjili keempat puterinya, sehingga keempat puterinya itu pun menjadi pemberita Firman Allah; menjadi nabiah-nabiah. Meskipun keempat puterinya itu tidak menikah, dan dengan demikian Filipus tidak punya keturunan atau anak-cucu biologis dari keempat puterinya itu, tapi kini ia memiliki jutaan bahkan mungkin ratusan juta anak-cucu rohani, dan mungkin Saudara dan saya terhitung di dalamnya. Amin.

(Dikhotbahkan dalam Kebaktian Umum I-III GK Kalam Kudus Jayapura, Minggu/24 Februari 2013)

5 thoughts on “Kisah Para Rasul 8:26-40. Belajar dari Filipus tentang Empat Hal dalam Tugas Penginjilan

    • Istilah “injil” tidak selalu mengacu kepada “kitab tertentu”. Injil yang dimaksud ada dalam pengertian luas, yaitu “kabar baik” tentang Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit.

  1. Memberkati sekali pak. Pemberitaan Injil yang maha agung bukan ditujukan pada dominasi tertentu seperti karismatik saja, tapi merupakan mandat kepada seluruh murid Kristus. Sekarang tergantung pada masing-masing pribadi apakah ingin ikut turus dalam kebahagiaan Tuan dlm oenyampaian kabar baik tersebut.

    Salam penuaian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s