Drama Natal “Allah Telah Mengasihi Kita” (2012)


Drama Natal

Judul: Allah Telah Mengasihi Kita
Naskah ditulis oleh: Ev. NT. Prasetyo, M.Div.

ADEGAN I:

Slide pembuka. Musik pembuka; lampu mati.

Lampu kemudian menyala. Slide menunjukkan gambar kantor. Jean sudah duduk di kantor redaksi. Monolog Jean.

Jean: “Orang memanggilku Jean, sang wartawati. Namaku melegenda, bukan melalui kecantikanku, bukan melalui kelebihan hartaku, melainkan karena buah penaku. Ya, aku suka menulis…dan surat kabar menjadi wadahku menyuarakan realita…. Suatu pekerjaan bergengsi dan membanggakan, namun tidak untuk saat ini…tidak untuk saat dimana surat kabar tempatku bekerja tidak l agi diminati orang….

Kepala Redaksi (Bos) memasuki ruangan dengan wajah kesal.

Bos: “Jean…Jean…Jean! Sang wartawati yang melegenda!” Bos mengungkapkan sindiran sambil menggelengkan kepala lalu membanting satu eksemplar koran.

Tiras Jean…. Tiras! Tiras kita turun! Kamu tahu artinya itu? Pembaca kita berkurang! Tulisanmu tidak lagi getting their attention! Tidak lagi menarik perhatian mereka! Kamu sadar apa artinya itu Nona??? Penurunan tiras berarti penurunan jumlah pemasang iklan! Dan kamu tahu apa lagi artinya itu? Biaya operasional kita semakin diperketat? Dan kamu tahu arah-arahnya? Pengunduran diri tenaga potensial, bahkan pengurangan wartawan! Mau kemana kita Jean??? Mana kualitas tulisanmu??? Mana instink detektifmu??? Basi…, basi! Yang Kamu tulis basi…! Kamu tahu itu???

Jean: “Seperti Bos tidak pernah jadi orang lapangan saja?! Ide tidak datang dari sorga secara gratis, Bos!

Bos: “Kalau ide dari sorga tidak didapat secara gratis! Kamu bayar!!! Ide penting Jean! Turun lapangan setiap hari; buka mata; perbarui kartu perpustakaanmu! Tiras Jean…! Tiras! Kamu mau kita bangkrut?!

Jean: “Ah, Bos silahkan liat daftar ide saya! Mati semua Bos! Ide mati semua! Tapi bukannya saya tidak berusaha!

Bos: “Saya tidak mau tahu! Kamu kolumnis andalan surat kabar ini! Saya tidak mau melihat batang hidungmu masih berada di belakang meja siang ini! Bemalamlah di jalanan! Cari hal menarik untuk diberitakan kepada masyarakat kota ini!

Bos hendak keluar dengan kesal! Tidak berapa lama ia memalingkan tubuhnya dan kembali berkata-kata kepada Jean sambil menudingkan jarinya ke arah Jean.

Jean…, jangan rusakkan masa raya Natal dan akhir tahun saya dengan berita buruk!

Bos pun pergi dengan kesal.

Jean: “Tapi bos….

Bos berlalu pergi dengan mengibaskan tangannya. Jean lalu membanting jaketnya…, berkacak pinggang sambil terdiam…. Lalu mengambil jaketnya dengan kesal dan menendang angin dengan kesalnya, lalu berjalan keluar.

ADEGAN II:

Slide memperlihatkan gambar pemandangan kota yang beralih dari siang ke malam secara perlahan. Musik Natal syahdu mengalun. Jean kembali masuk panggung, kemudian berdiri bersandar ke tembok. Berkali-kali ia menghela nafas, bersandar pada tembok sambil menatap pemandangan sekitar, lalu berjalan tak tentu arah. Monolog Jean.

Bukan masa raya Natal yang menyenangkan bukan?! Ya, dan menghabiskan waktu di luar ruangan yang pengap menjadi pilihan terbaik untuk kuhabiskan hingga malam tiba.”

Slide menunjukkan foto sebuah gedung gereja. Jean berjalan-jalan di panggung sambil melihat sekeliling, dan melihat sebuah gedung gereja (memandang foto di slide).

Di masa kecil, gereja menjadi lingkungan aku bertumbuh. Meski kini aku bukan lagi seseorang yang terlalu beragama, tapi nampaknya…tidak ada salahnya aku masuk ke dalam gedung gereja itu, mencari keteduhan batin di tengah keheningan malam-malam menjelang Natal.

Sambil memasukkan tangannya ke kantong celananya, Jean berjalan menuju pintu gereja.

ADEGAN III:

Slide menunjukkan foto ruangan kebaktian gereja.

Ningsih, seorang tunawisma, sedang memainkan musik malam kudus dengan pianonya. Jean terperangah dari kejauhan lalu berjalan mendekat, lalu duduk di dekat Ningsih.

Ningsih: “Menikmati malam ini?” Sambil menghentikan permainan pianonya, Ningsih bertanya pada Jean.

Jean: “Yah, tidak terlalu!” Jean menjawab sambil tersenyum. “Permainan yang bagus!

Ningsih: “Terimakasih.” Mereka terdiam, lalu Ningsih memecah pembicaraan. “Tahun 1818.”

Jean: “Maaf. Maksud Anda?

Ningsih: “Tahun 1818. Itu tahun dimana syair lagu ini ditulis oleh seorang asisten pendeta bernama Joseph Mohr, dan digubah nadanya oleh seorang guru SD yang juga adalah organis gereja bernama Franz Gruber.

Jean: “Wow, kamu tahu sejarah rupanya.

Ningsih: “Tidak banyak. Tapi memang membaca sejarah telah membuka mata saya memandang jejak-jejak kehebatan Tuhan dalam riwayat kemanusiaan!

Jean: “Well, aku bukan orang yang terlalu religius.

Ningsih: “Itu menurut kamu…. Tapi kepada apa atau siapa kamu mengandalkan hidupmu, kamu sedang beragama dan mengarahkan imanmu kepada apa atau siapa itu!

Jean: “Kalau begitu Jurnalistik adalah agamaku! Dan yang aku tahu aku butuh ide tulisan bagus malam ini juga!

Ningsih: “Manusia hidup bukan dari tulisan saja….

Jean: “Apa artinya…?

Ningsih: “Kamu pernah dengar Abraham Kuyper?

Jean: “Siapa itu?

Ningsih: “Mantan perdana menteri Belanda. Tapi ia juga adalah seorang pakar Alkitab yang baik, dan … seorang wartawan!

Jean: “Lalu?

Ningsih: “Ia pernah mengajarkan, tidak ada satu area pun di dalam kehidupan kita, dimana Kristus tidak bertahta. Yah, kira-kira seperti itu! Sebagai pribadi yang menguasai banyak bidang, ia sadar, di atas semuanya itu…ada Yesus Kristus yang menjadi Raja! Menjadi Penguasa seluruh aspek kehidupan!

Jean: “Kamu bermaksud mengajak aku untuk melihat Yesus Kristus sebagai penguasa kehidupanku? Yah, kamu mudah mengatakannya jika hidupmu baik-baik saja!

Ningsih: “Kamu pikir hidupku baik-baik saja?

Jean: “Menurutmu sendiri?

Ningsih: “Mungkin, malam ini kamu lebih beruntung dari aku! Bisa tidur di ranjang yang nyaman, menikmati makan malam yang meskipun sederhana namun memberi kehangatan, dan memiliki deretan buku di rak untuk menemanimu menghabiskan malam.

Jean: “Memangnya…, kamu sendiri bagaimana?

Ningsih: “Kamu boleh melihatnya, kalau kamu mau!” Ningsih pun beranjak dari piano, lalu mengambil buntalan-buntalan barangnya, dan beranjak pergi.

Jean: “Hei, tunggu! Kamu mau kemana? Tunggu saya!” Jean pun pergi menyusul Ningsih.

ADEGAN IV:

Slide memperlihatkan gambar emperan toko di malam hari. Ningsih masuk ke panggung, menaruh buntelan barangnya, lalu mempersiapkan tempat tidur dari kardus-kardus.

Jean: “Kamu…, kamu tunawisma? Tidak punya tempat tinggal? Piano tadi???

Ningsih: “Dahulu aku tinggal di rumah susun di ujung jalan. Sejak kebakaran besar bulan lalu, nasib kami menjadi tidak jelas. Entah, dimana pemerintah daerah ketika itu semua telah terjadi. Kini disinilah tempat aku menghabiskan malam setiap harinya. Tempat ini lumayan hangat. Dan…Pak Pendeta di gereja tadi berbaik hati mengijinkan aku bermain piano di malam-malam tertentu. Ia juga kadang membiarkan aku berteduh dan tidur di bangku gereja, serta membawakan aku makan malam. Tapi, pada malam-malam yang lain, aku lebih memilih tempat ini untuk meletakkan kepala.”

Jean: “Maaf, aku tidak tahu harus berkata apa!

Ningsih: “Well, kamu dapat duduk di sisiku barang sejenak, dan ikut aku menaikkan doa bagi dunia sebelum aku beranjak tidur….

Dengan gugup Jean mengikuti nasehat Ningsih, mulai melipat tangannya, sambil terus menatap Ningsih berdoa. Dan Ningsih pun mulai memanjatkan doa….

Musik mengalun. Sementara doa Jean dipanjatkan, slide menampilkan foto-foto tunawisma dan orang-orang menderita, dengan iringan lagu syahdu.

Ningsih: “Bapa kami yang di sorga….
Dikuduskanlah namaMu….
Datanglah KerajaanMu….
Jadilah kehendakMu…, di bumi seperti di sorga….
Berikan kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya….
Dan bersama-sama Kristus, PuteraMu, Juruselamat kami, kiranya Engkau menemani kami menyantap bagian kami….
Terimakasih atas PuteraMu yang telah memberikan diriNya sebagai Roti Hidup bagi kami….
Engkau, Kristus, telah menebus dosa-dosa kami di atas kayu salib nan hina cemar….
Kini kami menjadi kaya dan kenyang oleh karenaMu…, meski harta dan roti tiada nyata ada di hadapan kami untuk kami santap dengan mulut jasmani kami….
Namun kami kenyang karena keselamatan yang daripadaMu….
Engkau, Kristus, ada di tengah-tengah kami yang hina,
Engkau duduk bersama-sama kami yang terpenjara,
Engkau berdiri di depan pintu bersama kami yang meminta-minta sepotong roti….
Engkau berbaring diantara kami yang sakit….
Engkau berdiri di barisan penganggur yang antri di depan kantor penyalur tenaga kerja….
Engkau…dapat kami temui di sel-sel penjara, sebelum kami pergi ke gereja….
Engkau…dapat kami jumpai di bangsal rumah sakit, sebelum kami berdoa di depan altar….
Engkau…dapat kami temui di antara mereka yang lapar, sebelum kami membaca Alkitab kami….
Engkau…dapat kami jumpai diantara yang kecil, lemah, dan tersingkir, sebelum kami menggali Alkitab kami….
Engkau, kami temui di antara kuli-kuli; diantara mereka yang diliciki; diantara orangtua yang tua renta; diantara kami yang dilupakan; dan diantara semua orang yang bisa kami bantu….
Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan jangan bawa kami ke dalam pencobaan, melainkan lepaskan kami daripada yang jahat…. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan; dan kuasa; dan kemuliaan; sampai selama-lamanya, amin.

Ningsih: “Jean, terimakasih telah menemani aku malam ini!

Jean: “Mengapa kamu melakukan ini? Maksudku, dengan doamu tadi?

Ningsih: “Yang aku tahu, karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Selamat malam, Jean! Selama menyambut Natal! Ada banyak orang yang kisahnya perlu kamu wartakan kepada dunia….

Musik Natal dengan nada meninggi dan riang mengalun. Ningsih pun membuka selimutnya dan menutupi dirinya lalu berbaring tidur, meninggalkan Jean yang terdiam menatapnya dalam keheningan. Lampu meredup dan mati.

TAMAT.

9 thoughts on “Drama Natal “Allah Telah Mengasihi Kita” (2012)

  1. Berkarya terus ya pak Cahyo, jadilah berkat bagi orang lain, dan kami terus menunggu karya2 terbaik u/ acara Natal 2013 dan yg paling terdekat di acara SAL paskah pada bln April 2013. HORASSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS

    • Puji Tuhan kalau karya saya bisa menjadi berkat. Semoga menjadi berkat. Kalau Anda tidak keberatan, hasil akhir pementasan Anda dapat dikirimkan kepada saya untuk saya nikmati😛

  2. Mohon ijin Pak Pras. Saya akan pentaskan ini di Kalimantan Barat, dan tentu saja dengan menyebutkan bahwa Bapak penulis / pencipta naskah aslinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s